Chapter 21
"Aku setuju dengan apa yang dikatakan Tuan Senapati, seorang bayi lebih aman berada dalam perlindungan ibunya sendiri. Setidaknya, di saat seperti ini musuh dapat saja berbuat hal-hal yang mengejutkan, misalnya dengan memecah kekuatan untuk menyerang Padepokan Pemecutan di saat kita sudah berada di Bukit Karang Gajah," kata Pendeta Gunakara memberikan pandangannya.
"Terima kasih, Tuan Pendeta. Hal itu memang belum pernah terpikirkan olehku," ujar Mahesa Amping kepada Pendeta Gunakara.
Sementara itu, Nariratih juga ikut memahami apa yang dikatakan oleh Pendeta Gunakara.
"Lama aku berada di lingkungan Padepokan Teratai Putih, aku memahami apa yang mereka pikirkan. Mereka akan melakukan begitu banyak siasat, meski kadang harus melepaskan rasa kemanusiaan," kata Nariratih mencoba memberi gambaran tentang orang-orang Padepokan Teratai Putih. "Dan aku menerima untuk tetap di sini, melindungi putraku," lanjut Nariratih dengan wajah riang.
Mahesa merasa lega dengan sikap Nariratih yang terakhir, yang menerima untuk tidak ikut ke Bukit Karang Gajah.
"Aku gembira Nyi Nariratih dapat menerima untuk tidak ikut bersama kami," kata Mahesa Amping kepada Nariratih.
"Mudah-mudahan mereka tidak terpikirkan tentang apa yang dipikirkan Tuan Pendeta, tapi setidaknya ada aku di sini menjaga putraku sendiri," ujar Nariratih sambil mendekap Mahesa Muksa dengan lebih erat lagi, sepertinya takut akan kehilangan buah hatinya itu.
"Bolehkah aku menggendong putramu?" tanya Pendeta Gunakara kepada Nariratih.
Terlihat Nariratih menatap Mahesa Amping sekejap, memohon pertimbangannya. Namun, belum lagi Mahesa Amping memberikan tanggapannya, Pendeta Gunakara sudah bangkit berdiri mendekati Nariratih dan putranya yang masih didekapnya.
Nariratih tidak dapat berbuat apa pun ketika Pendeta Gunakara dengan penuh senyum mengulurkan tangannya bermaksud memindahkan Mahesa Muksa yang masih tertidur. Anehnya, Nariratih seperti tersihir, melepaskan Mahesa Muksa ke dalam dekapan Pendeta Gunakara. Mungkin wajah dan senyum yang *sareh* serta penuh ketulusan itulah yang telah menyihir perasaan Nariratih untuk percaya melepaskan putranya kepada seseorang yang diketahui punya kepentingan besar terhadap Mahesa Muksa.
"Parasnya begitu cemerlang, siapa pun akan mengasihinya," kata Pendeta Gunakara sambil mengembalikan Mahesa Muksa ke pangkuan ibunya.
Nariratih dan Mahesa Amping menarik napas dalam setelah beberapa saat dipenuhi perasaan khawatir yang mendalam. Ternyata Pendeta Gunakara tidak melakukan apa pun. Tapi sepintas Mahesa Amping dapat melihat mata Pendeta Gunakara memperhatikan ke arah pundak belakang Mahesa Muksa.
Sementara itu, langit sore di atas Padepokan Pemecutan terlihat cerah bersinar dengan cahayanya yang kuning teduh. Dua ekor kepodang kuning terlihat melompat-lompat di antara dahan pohon kamboja di pojok halaman padepokan.
"Aku akan kembali ke dalam," ujar Nariratih berpamitan.
"Mari kita ke sanggar melihat para cantrik berlatih," ajak Mahesa Amping kepada Arga Lanang dan Pendeta Gunakara.
"Mari," sahut Arga Lanang yang langsung bangkit dari duduknya.
Terlihat Mahesa Amping, Arga Lanang, dan Pendeta Gunakara menuruni tangga pendapa Padepokan Pemecutan.
"Kedua anak itu punya daya ingat yang luar biasa," kata Arga Lanang kepada Mahesa Amping ketika melihat Adityawarman dan Jayanagara ikut berlatih di sanggar terbuka di sisi samping kanan padepokan.
Akhirnya di pertengahan senja, Empu Dangka menyudahi latihan bersama itu sambil menyampaikan beberapa pesan, di antaranya tentang rencana mereka besok yang akan berangkat ke Bukit Karang Gajah.
"Mudah-mudahan kalian dapat melindungi diri kalian sendiri," pesan Empu Dangka kepada para cantriknya.
"Kenapa kami tidak diikutkan bersama kalian ke Bukit Karang Gajah?" tanya Putu Risang mewakili para cantrik yang merasa penasaran.
"Saat ini kalian masih belum waktunya untuk menghadapi pertempuran yang sebenarnya. Tetaplah berlatih meski kami tidak ada di Padepokan Pemecutan ini. Aku yakin dalam waktu dekat kalian pasti sudah dapat diandalkan," kata Empu Dangka.
Terlihat beberapa cantrik dapat menerima alasan yang disampaikan oleh Empu Dangka. Pernyataan tersebut justru memecut semangat mereka untuk berlatih lebih giat lagi. Ketika hari sudah di penghujung senja, semua cantrik kembali ke bilik masing-masing untuk beristirahat.
Kita tinggalkan dulu Mahesa Amping bersama rombongannya yang tengah bersiap-siap menuju ke Bukit Karang Gajah esok hari, tempat pasukannya telah menunggu.
Mari kita menjenguk sejenak suasana di Kotaraja Singasari. Di ujung senja yang sama, matahari di atas Istana Singasari sudah hampir terbenam di ufuk barat. Di Ruang Mentanu, tempat Sri Baginda Maharaja Kertanegara menerima tamu dan pejabatnya, beliau baru saja melepas kepergian tiga orang tamu kepercayaannya. Mereka adalah Ratu Anggabhaya, Pangeran Lembu Tal, dan Kuda Cemani.
Ratu Anggabhaya dan Pangeran Lembu Tal baru saja melaporkan tugas mereka meminang putra Raja Gelang-gelang. Betapa gembira hati Sri Baginda mendengar laporan bahwa pinangannya atas Raden Ardharaja diterima dengan baik.
Sementara itu, Kuda Cemani melaporkan beberapa nama pejabat kerajaan yang terbukti ikut berkhianat berkaitan dengan peristiwa utusan resmi Maharaja Mongol. Dalam laporan itu, Kuda Cemani juga menyampaikan bahwa hampir semua pejabat istana tersebut sudah diamankan, kecuali seorang pejabat bernama Wirondaya yang berhasil melarikan diri.
Ketika hari sudah menghampiri ujung senja, barulah Sri Baginda Maharaja melepas ketiga tamunya itu.
"Besok pagi aku minta kalian datang kembali ke mari, masih banyak hal yang ingin kubicarakan bersama kalian," kata Sri Baginda Maharaja kepada Kuda Cemani, Ratu Anggabhaya, dan Pangeran Lembu Tal.
Sementara itu, di penghujung senja yang sama, terlihat seseorang tengah memacu kudanya di sebuah bulakan panjang. Sepertinya orang itu tengah berpacu dengan waktu. Orang itu tidak lain adalah Wirondaya, pejabat istana Singasari yang berhasil melarikan diri.
Wirondaya berhasil meloloskan diri jauh sebelum Kuda Cemani mencium pengkhianatan di istana berkaitan dengan peristiwa Meng Ki, utusan resmi Maharaja Kubilai Khan. Wirondaya telah pergi jauh dari Kotaraja Singasari sebelum prajurit datang menangkapnya.
Hari itu, Wirondaya memacu kudanya di sebuah bulakan panjang yang tidak jauh lagi berbatasan dengan Tanah Perdikan Sunginep. Tanah perdikan tersebut dipimpin oleh seorang mantan pejabat istana yang setia dan berjasa bernama Ki Gede Banyak Wedi. Atas kesetiaannya, Ki Gede Banyak Wedi dianugerahi gelar Aria Wiraraja sebagai pejabat perwakilan kerajaan di Maduradwipa.
Wirondaya ternyata kalah satu langkah dari Kuda Cemani. Begitu mengetahui Wirondaya telah meloloskan diri, Kuda Cemani segera mengutus orang untuk berangkat ke Maduradwipa. Utusan tersebut telah berhasil menghadap Aria Wiraraja dan menceritakan perihal utusan Maharaja Mongol serta pelarian Wirondaya.
Wirondaya memperlambat kudanya ketika memasuki regol pintu gerbang Tanah Perdikan Sunginep. Malam sudah menutup pemandangan, hanya satu-dua orang terlihat di beberapa gardu ronda. Hampir semua rumah di sepanjang jalan sudah menyalakan pelita.
Akhirnya kuda Wirondaya berhenti di sebuah rumah besar yang di depannya berdiri sebuah banjar desa. Beberapa prajurit pengawal terlihat tengah berbincang di sana.
"Bukankah kamu Wirondaya?" tanya seorang prajurit pengawal yang masih mengenalnya.
"Benar, aku Wirondaya. Ternyata matamu masih dapat mengenaliku," sahut Wirondaya. "Apakah Paman Aria Wiraraja ada di rumah?"
"Ki Aria Wiraraja ada di rumah, aku akan menyampaikan kedatanganmu," jawab prajurit itu sambil melangkah ke arah pendapa, diikuti oleh Wirondaya.
Prajurit itu masuk lewat pintu butulan, sementara Wirondaya menaiki tangga pendapa. Tak lama kemudian, pintu utama berderit terbuka. Muncul seseorang yang sudah berumur, terlihat dari rambutnya yang memutih. Namun, tubuhnya masih kokoh sebagai tanda ia masih sering berlatih olah kanuragan.
"Ternyata kamu, Wirondaya," sapa orang itu.
"Ampun Pamanda, kesibukan di istana membuat aku tidak sempat berkunjung ke kampung halaman sendiri," kata Wirondaya seraya berlutut di hadapan pamannya.
"Aku sudah mengetahui apa yang terjadi atas dirimu, Wirondaya," kata Ki Aria Wiraraja.
Wirondaya sangat terkejut mengetahui bahwa Ki Aria Wiraraja telah mengetahui perihal dirinya.