Chapter 22
"Mari kita duduk bersama, berbicara sebagai orang dewasa," kata Ki Aria Wiraraja kepada Wirondaya yang langsung kembali duduk di tempatnya semula, diikuti oleh Ki Aria Wiraraja yang juga telah duduk berhadap-hadapan.
"Pamanda baru mendengar dari orang-orang Tumapel, belum mendengar apa yang sebenarnya terjadi," kata Wirondaya kepada Ki Aria Wiraraja.
"Dari awal pembicaraanmu saja tentang Tumapel, aku sudah dapat menebak di mana kamu berdiri," kata Ki Aria Wiraraja kurang senang ketika Wirondaya menyebut kata Tumapel.
"Pamanda harus banyak mendengar bahwa Kotaraja Singasari memang telah dikuasai oleh orang-orang Tumapel. Kotaraja hanya milik orang Tumapel, bukan orang Kediri dan lainnya, juga bukan orang Madura. Tidakkah Pamanda merasakan bahwa orang-orang Tumapel telah menjajah kita semua?" ujar Wirondaya kepada Ki Aria Wiraraja.
"Dengarlah wahai Wirondaya keponakanku, aku mengenal mereka sebagaimana aku mengenal anakku sendiri. Perlu kamu ketahui, Pamandamu pernah berseberangan jalan dengan mereka. Atas kebesaran jiwa mereka, aku dapat hidup sebagaimana yang kamu lihat sampai saat ini. Jadi kamu salah langkah bila punya pikiran berlindung di Tanah Perdikan ini. Karena Tanah Perdikan Sunginep ini adalah anugerah dari mereka. Jadi, siapa pun yang memusuhi mereka, adalah musuhku. Siapa pun yang berdiri berseberangan dengan mereka, bukan orang Tanah Perdikan Sunginep ini. Mudah-mudahan kamu dapat mengerti di mana aku berdiri," tegas Ki Aria Wiraraja kepada Wirondaya.
Pucat pasi wajah Wirondaya mendengar perkataan dari pamannya, Ki Aria Wiraraja. Awalnya Wirondaya berharap datang ke Maduradwipa untuk memengaruhi pamannya agar ikut memusuhi orang-orang Singasari dan bersekutu dengan mereka, namun kenyataannya Ki Aria Wiraraja tidak dapat dipengaruhi.
"Tidakkah kamu sadari, kutitipkan dirimu di Istana Singasari sebagai perwakilan pengabdianku kepada mereka. Kuharapkan kesetiaanmu sebagaimana kesetianku kepada mereka. Tapi ternyata kamu telah mencoreng namaku," kata Ki Aria Wiraraja kembali kepada Wirondaya.
Terlihat wajah Wirondaya semakin pucat pasi. Tidak pernah dirinya melihat pamannya berkata sekeras itu kepadanya. Dulu pamannya begitu memanjakannya, terutama ketika Lawe, putranya, meninggalkannya.
"Harusnya kamu mengikuti jejak saudara sepupumu, Lawe. Aku bangga dengannya yang mengerti apa yang kuinginkan, sebagai pengganti diriku mengabdi seluruh jiwa dan raga untuk penguasa takhta Singasari. Itulah takdir diri kita atas jiwa mereka yang tidak dapat diubah oleh apa pun. Inilah titah para dewata atas diri kita dan mereka yang bertakhta," lanjut Ki Aria Wiraraja.
Wirondaya tidak dapat berkata apa pun, mulutnya seperti tersumbat. Wajahnya semakin pucat pasi bersamaan dengan lemasnya seluruh persendian. Wirondaya seolah pasrah menerima apa pun perlakuan dari pamannya yang terlihat sangat kecewa terhadap dirinya.
"Ke mana lagi diri ini berlindung selain kepada Pamanda? Di seluruh tanah Singasari diriku tidak akan dapat diterima," kata Wirondaya penuh belas kasihan memohon perlindungan pamannya.
"Dengan sangat menyesal, aku tidak dapat melindungimu. Aku masih bermurah hati tidak memanggil para prajurit pengawal Tanah Perdikan untuk merangkengmu, membawamu sebagai buronan yang sedang dicari oleh orang-orang Kotaraja Singasari. Pergilah sebelum kemurahanku ini berubah," ujar Ki Aria Wiraraja.
Wirondaya merasakan hatinya remuk redam berkeping-keping. Punah sudah segala harapan dan angan-angannya. Ki Aria Wiraraja yang diharapkan akan menjadi sandarannya, kini sudah berbalik membencinya. Namun, timbul rasa keangkuhan dan ketinggian hati yang membangunkan kembali kekuatannya. Terlihat Wirondaya bangkit berdiri perlahan.
"Baiklah bila Pamanda menginginkan aku pergi dari tempat ini. Aku bukan anak kecil lagi yang merengek-rengek meminta sesuatu. Dengarlah wahai Pamanda, aku tidak akan dan tidak mungkin seperti Pamanda yang tunduk patuh kepada orang-orang Tumapel, merendahkan diri sebagai hamba sahaya yang setia. Aku berjanji pada diriku ini bahwa suatu waktu nanti aku akan berdiri di hadapan mereka, menyuruh mereka menyembah dan mencium kakiku ini," kata Wirondaya kepada Ki Aria Wiraraja yang tidak bergeming sedikit pun memandangnya.
Ki Aria Wiraraja seolah tidak mendengar apa pun yang diucapkan oleh Wirondaya dengan suara cukup keras dan tajam itu.
"Maafkan aku Pamanda, aku tidak dapat menjadi dirimu karena aku tidak akan merendahkan diriku," kata Wirondaya yang langsung melangkah menuju tangga pendapa.
Di keremangan malam yang mulai menyelimuti Tanah Perdikan Sunginep itu, terlihat bayangan Wirondaya yang tengah keluar dari regol pintu gerbang rumah besar Ki Aria Wiraraja. Sementara itu, Ki Aria Wiraraja masih tetap duduk di pendapa rumahnya. Dadanya terasa sesak menahan amarah yang meluap-luap. Ucapan Wirondaya seperti belati yang menikam rongga dadanya. Seorang keponakan yang dibesarkannya telah mengecewakan hatinya. Mulai hari itu, nampaknya mereka ada di persimpangan jalan yang berbeda. Mereka berdua telah berdiri berseberangan, bahkan suatu saat nanti mungkin akan berhadapan sebagai musuh di kubu yang berbeda.
Ke manakah arah kuda Wirondaya melangkah? Di keremangan malam yang telah gulita, kuda Wirondaya masih terlihat menyusuri bulak-bulak malam, semakin menjauh dari Tanah Perdikan Sunginep. Sebuah tanah kampung halamannya sendiri, tempat dirinya dibesarkan, bermain bersama sanak kadang, dan menikmati kemanjaan pamannya. Ketika terusir dari istana Kotaraja Singasari, dirinya tidak merasakan kepedihan hati yang begitu dalam. Namun ketika terusir dari rumah pamannya sendiri, hatinya merasakan kepedihan yang luar biasa. Pamannya yang selama ini dianggapnya sebagai ayah sudah tidak memedulikannya lagi, bahkan telah membencinya sebagai manusia yang tidak berarti.
Dalam perjalanan malam itu, hati dan perasaan Wirondaya telah membeku menjadi kebencian. Kebencian Wirondaya sepenuhnya ditumpahkan kepada orang-orang Tumapel. Kebencian itu pula yang membawa langkah kaki kudanya untuk menempuh perjalanan jauh menuju Tanah Gelang-gelang.
Mari kita tinggalkan sejenak Wirondaya yang telah gelap hati, mata, dan pikirannya dalam perjalanan malam tersebut. Mari kita kembali ke Padepokan Pemecutan di malam yang sama. Malam itu seluruh penghuni Padepokan Pemecutan telah tertidur lelap dalam mimpinya masing-masing. Sementara itu, tiga orang yang ditugaskan berjaga-jaga terlihat secara bergiliran berkeliling di sekitar padepokan untuk memastikan tidak ada hal yang mencurigai. Ketiga peronda itu tetap waspada sepanjang malam, meski selama ini tidak ada gangguan yang mengusik kehidupan mereka di sana.
Akhirnya ketiga cantrik yang meronda sepanjang malam itu dapat bernapas lega manakala malam mulai bergeser berganti pagi, yang ditandai warna merah menyala memenuhi langit di atas Padepokan Pemecutan. Dan ketika fajar menyingsing, suara kehidupan pun mulai terdengar. Dimulai dengan suara air yang memenuhi *senthong-senthong* di *pakiwan*, serta suara para cantrik di dapur belakang yang tengah menyalakan perapian.
"Kutitipkan padepokan ini kepadamu," kata Mahesa Amping kepada Nariratih yang masih menggendong Mahesa Muksa di atas pendapa.
"Kalian harus menurut kepada Bibi Nariratih," sambung Mahesa Amping kepada Adityawarman dan Jayanagara sambil mengusap kepala kedua anak itu.
"Mudah-mudahan Ayah tidak lama dan cepat kembali," kata Adityawarman kepada ayahnya.
"Ayahmu memang akan cepat kembali," jawab Mahesa Amping sambil memandang putranya dengan penuh senyum.
"Aku akan menjaga mereka," ujar Nariratih kepada Mahesa Amping yang tengah menuruni tangga pendapa padepokan.
Sementara itu, di halaman Padepokan Pemecutan sudah terlihat Arga Lanang, Pendeta Gunakara, dan Empu Dangka telah bersiap di atas kuda masing-masing.
"Tetaplah kalian berlatih selama kami tidak ada. Kami selalu berdoa untuk keselamatan kalian," kata Mahesa Amping dari atas kudanya kepada para cantrik yang mengantarnya sampai di regol pintu gerbang.
"Semoga keselamatan selalu mengiringi kita," sahut Empu Dangka sambil melambaikan tangannya ketika langkah kaki kuda mulai menjauhi pintu gerbang Padepokan Pemecutan.
Para cantrik masih berdiri di depan regol mengiringi kepergian empat orang penunggang kuda tersebut hingga akhirnya mereka menghilang di balik jalan yang menikung dan menurun.
"Sebelum matahari tepat di puncaknya, kita sudah akan sampai di Bukit Karang Gajah," kata Mahesa Amping kepada Pendeta Gunakara dan Arga Lanang.
"Ternyata perhitungan Tuan Senapati sangat teliti. Pihak lawan pasti memperhitungkan jarak tempuh sebagai tempat yang baik untuk mempersiapkan penyerangan," puji Pendeta Gunakara.
"Kita memang harus berpikir sebagaimana musuh berpikir," timpal Empu Dangka yang mengagumi ketajaman perhitungan Mahesa Amping dalam memilih Bukit Karang Gajah.
Menjelang tengah hari, mereka telah sampai di puncak Bukit Karang Gajah. Sebuah dataran padang rumput yang cukup luas dengan banyak batu karang besar di sekitarnya. Tempat itu sangat baik untuk berteduh dari terik matahari, sekaligus tempat yang aman untuk bermalam guna menghindari angin malam yang dingin.
"Selamat datang, Tuan Senapati," sambut seorang lelaki yang sudah cukup berumur. Ia adalah Ki Bancak yang baru saja keluar dari persembunyiannya di balik batu karang besar.
"Di mana pasukan kita?" tanya Mahesa Amping yang melihat Ki Bancak hanya seorang diri.