Chapter 23
Ki Bancak tidak langsung menjawab, tetapi memasukkan dua buah jarinya di antara bibirnya.
"Suitttt!" terdengar suara suitan panjang dari Ki Bancak.
Maka dari gundukan-gundukan karang yang besar, bermunculan beberapa orang yang ternyata adalah para prajurit Singasari yang tidak mengenakan pertanda apa pun. Mereka berpakaian seperti orang biasa pada umumnya.
"Kami membawa dua puluh orang prajurit pilihan," kata Ki Bancak kepada Mahesa Amping ketika semua prajurit yang bersembunyi sudah menampakkan diri dan datang mendekat.
"Apa yang kamu dapat saat ini tentang gerakan musuh?" kata Mahesa Amping kepada orang kepercayaannya, Ki Bancak.
"Berita terakhir dari para telik sandi, mereka telah bergerak dari Padepokan Teratai Putih.
Perkiraan kami, mereka baru akan sampai di Bukit Karang Gajah ini di saat hari menjelang senja," kata Ki Bancak kepada Mahesa Amping.
Mahesa Amping memberikan beberapa petunjuk kepada dua puluh orang pasukannya mengenai apa yang harus mereka lakukan, termasuk kata sandi yang telah disepakati dan harus mereka ingat.
"Kita akan mengejutkan musuh," kata Mahesa Amping menyampaikan beberapa siasatnya.
"Masih ada banyak waktu untuk beristirahat," kata Mahesa Amping kepada para pasukannya untuk beristirahat sejenak.
Maka terlihat para prajurit membuka bekal yang mereka bawa sambil berteduh di sekitar batu karang yang banyak tumbuh di sekitar Bukit Karang Gajah.
Angin berembus di sekitar Bukit Karang Gajah hari itu cukup deras.
Segerombol tanaman ilalang terlihat merunduk ditiup angin yang tak henti berembus.
Sementara itu, matahari di cakrawala langit di atas Bukit Karang Gajah sudah mulai tergelincir.
"Tarik semua pasukan untuk bersembunyi," kata Mahesa Amping kepada Ki Bancak.
Maka Ki Bancak terlihat memberi perintah kepada semua prajurit untuk bersembunyi di beberapa tempat di antara beberapa batu karang yang besar.
"Mari kita menunggu mereka datang," kata Mahesa Amping kepada Pendeta Gunakara, Arga Lanang, dan Empu Dangka.
Terlihat Mahesa Amping dan ketiga sahabatnya itu melangkah mendekati sebuah batu karang yang cukup besar.
Dari tempat itu mereka dapat melihat di segala penjuru siapa pun yang muncul di Bukit Karang Gajah.
Dalam sekejap, suasana di atas puncak Bukit Karang Gajah menjadi begitu sunyi, tak terlihat apa pun selain suara angin yang terus menderu.
Di balik kesunyian itu, menanti dengan tegang dua puluh pasang mata prajurit Singasari dari balik bongkah-bongkah besar batu karang.
Mereka hanya menunggu sebuah isyarat panjang.
Namun, menanti waktu senja datang di atas Bukit Karang Gajah seperti menelusuri lorong panjang yang tidak bertepi, begitu membosankan dan sangat menegangkan.
Terlihat sang mentari sepertinya begitu lambat bergeser turun.
Akhirnya, sang senja telah turun juga menyelimuti puncak Bukit Karang Gajah dengan warna bening teduh, angin perlahan surut.
Perlahan, kabut mulai turun menambah keremangan warna senja, membatasi jarak pandang.
Dua puluh pasang mata di balik bongkah-bongkah batu karang di Bukit Karang Gajah sepertinya menahan setiap kedipan mata, takut kehilangan kesiagaannya.
Bahkan, mereka menahan napasnya yang semakin memburu penuh ketegangan.
Hingga akhirnya di ujung senja.
Yang mereka nantikan belum juga muncul.
Namun, para prajurit Singasari tidak kehilangan kendali.
Mereka masih tetap mempertahankan kesiagaannya.
"Pihak musuh belum juga datang," kata seorang prajurit kepada kawannya di sebuah persembunyian.
"Para telik sandi tidak akan salah, hanya masalah waktu.
Kita harus tetap waspada," kata kawannya itu mengingatkan seorang prajurit yang sepertinya sudah tidak sabar lagi.
Sementara itu, senja pun telah berganti, langit malam mulai merata memayungi puncak Bukit Karang Gajah.
"Mereka telah datang," berbisik seorang prajurit Singasari kepada kawannya.
Ternyata, apa yang dilihat oleh prajurit itu adalah sekumpulan orang yang mulai berdatangan muncul satu per satu dari arah barat Bukit Karang Gajah.
"Mereka hanya sedikit, tidak sebanyak yang dikatakan oleh para telik sandi," kata Mahesa Amping kepada Empu Dangka yang berada di dekatnya.
"Mereka sengaja memecah kekuatan," kata Empu Dangka kepada Mahesa Amping.
"Kita jangan sampai terjebak dengan permainan mereka," kata Empu Dangka lagi.
"Kita menunggu sampai rombongan kedua datang?" tanya Mahesa Amping kepada Empu Dangka yang menjawabnya dengan anggukan kepala.
Ternyata perkiraan Empu Dangka tidak meleset jauh, karena berselang waktu yang cukup lama datanglah rombongan kedua dengan jumlah yang hampir sama.
"Untungnya kita tidak langsung menyerang rombongan pertama," kata Mahesa Amping kepada Empu Dangka sambil memperhatikan orang-orang yang baru datang sebagai rombongan kedua.
Terlihat sekitar tiga puluh orang sudah berkumpul di atas puncak Bukit Karang Gajah.
Sepertinya mereka akan bermalam di tempat itu.
"Mereka sangat cerdik, rombongan kedua sebagai kejutan bagi siapa pun yang akan menyerang mereka," kata Empu Dangka kepada Mahesa Amping di tempat persembunyiannya.
"Saatnya kita yang akan mengejutkan mereka," kata Mahesa Amping kepada Empu Dangka sambil memberi isyarat kepada Ki Bancak yang tak begitu jauh dari tempat persembunyiannya.
Maka terdengarlah dua kali suitan dari Ki Bancak yang didengar langsung oleh semua prajurit Singasari sebagai tanda isyarat untuk melakukan penyerangan.
Bukan main terkejutnya orang-orang yang baru saja ingin duduk-duduk melepas kelelahannya, dari balik bongkah-bongkah batu karang yang besar bermunculan bagaikan bayangan hitam di kegelapan malam, datang memburu berlari ke arah mereka.
"Ada serangan!" teriak beberapa orang yang langsung berdiri mencabut senjata mereka, berupa cakra.
Tetapi beberapa orang lagi sudah terlambat, mereka sudah diterjang oleh para prajurit yang datang begitu cepat.
Maka terlihat beberapa orang sudah terlempar tanpa perlawanan sama sekali, dan langsung terluka parah.
Sementara itu, beberapa orang yang sudah bersiaga nasibnya tidak berbeda jauh.
Mahesa Amping, Empu Dangka, Arga Lanang, dan Pendeta Gunakara telah menghempaskan mereka bergelimpangan dan saling tindih.
Luar biasa.
Terjangan yang mengejutkan itu telah merobohkan sekitar dua puluh orang musuh mereka, para sekutu dari Padepokan Teratai Putih.
Jumlah mereka langsung berkurang banyak, menyisakan sepuluh orang yang terdiri dari delapan orang berjubah hitam, mungkin para pemimpin dari persekutuan para penyembah Dewa Matahari yang tersebar di Balidwipa dan Jawadwipa.
Sementara itu, dua orang lainnya, salah satunya sudah kita kenali sebagai murid tertua di Padepokan Teratai Putih.
"Serangan licik!" teriak salah seorang yang berjubah hitam, wajahnya yang memang hitam menjadi semakin gelap karena menahan rasa marah yang sangat.
"Bukan serangan licik, tetapi serangan kejutan," kata Empu Dangka yang datang menghampiri orang berjubah hitam dan berwajah hitam itu.
"Apa pun alasannya, tetap kukatakan serangan yang licik," kata orang itu kepada Empu Dangka penuh kemarahan.
"Salahkan sendiri orangmu yang kurang waspada," kata Empu Dangka sambil memegang ujung cambuknya, berdiri berhadapan dengan orang itu.
"Kamu pasti bukan Senapati Mahesa Amping, usiamu sudah sangat tua," kata orang berwajah hitam itu sambil melihat cambuk di tangan Empu Dangka.
"Kami memang sama-sama bercambuk, namaku Empu Dangka, begitulah orang menyebut namaku," kata Empu Dangka sambil melepas senyumnya kepada orang berjubah di hadapannya.
"Empu Dangka, orang bercambuk.
Hanya itu yang kukenang setelah membunuhmu," kata orang berjubah hitam itu kepada Empu Dangka dengan begitu jumawa.
Tetapi Empu Dangka tidak tersinggung marah mendengar ucapan orang itu. Dengan masih tersenyum, Empu Dangka balas bertanya, "Apakah aku boleh mengenal namamu?" kata Empu Dangka kepada orang itu.
"Orang menyebutku sebagai Ki Bogakala dari lereng Tengger, semoga hatimu tidak menciut mendengar namaku," kata orang berwajah hitam itu sambil bertolak pinggang, berharap Empu Dangka pernah mendengar namanya.
Empu Dangka yang sudah melanglang buana tersenyum mendengar nama itu; pernah juga didengarnya nama itu ketika mengembara di sekitar pegunungan Tengger.
Sebuah nama yang sangat ditakuti oleh musuh dan kawannya sekalipun, karena di samping memiliki ilmu yang cukup tinggi, juga dikenal berdarah dingin, membunuh orang tanpa berkedip.
"Sayangnya hatiku tidak menciut ketika mendengar namamu, Ki Bogakala," kata Empu Dangka pura-pura tidak pernah mendengar nama Ki Bogakala.
Ternyata, perkataan Empu Dangka seperti minyak mendekati api panas yang sudah menyala besar.
"Cakra ini akan mengingatkanmu bahwa hari ini kamu akan menyesal tidak mengenal siapa aku," kata Ki Bogakala sambil langsung menerjang Empu Dangka penuh kemarahan.
Sementara itu, di tempat dan waktu yang sama, seorang berjubah hitam dengan rambut setengah botak telah datang menghadang Mahesa Amping.
"Kamu pasti Senapati Mahesa Amping," kata orang itu sambil memperhatikan Mahesa Amping dan senjata cambuknya.
"Kisanak tidak salah menyebut nama," kata Mahesa Amping dengan gagahnya balas memandang orang yang menghadangnya itu.
Ada rasa gentar manakala orang itu beradu pandang dengan Mahesa Amping.
Orang itu merasakan kilat cahaya mata Mahesa Amping begitu tajam, langsung mencengkeram jiwanya.
"Aku yang bodoh ini bernama Sandikala, hari ini aku akan menuntut balas atas kematian sahabatku, Ki Karmapala," kata orang yang menyebut dirinya Sandikala itu.
"Ki Sandikala dari Gunung Wilis?" tanya Mahesa Amping yang pernah mendengar nama itu kepada Ki Sandikala.
"Ternyata pengetahuan Tuan Senapati sangat luas," kata Ki Sandikala yang merasa bangga namanya dikenal oleh Mahesa Amping.
"Aku merasa tersanjung berkenalan denganmu, Sandikala," kata Mahesa Amping.