Halo!

Kabut Di Bumi Singosari - Chapter 24

Memuat...
Kabut Di Bumi Singosari

Chapter 24

"Tuan Senapati tidak usah merendahkan diri. Cahaya mata tuan memberi isyarat bahwa tuan bukan orang sembarangan," kata Ki Sandikala kepada Mahesa Amping dengan suara datar.

Diam-diam Mahesa Amping mengagumi sikap dan pembawaan Ki Sandikala yang penuh pertimbangan dan kehati-hatian. "Aku berhadapan dengan orang yang punya banyak pertimbangan, pasti tidak mudah tertipu," batin Mahesa Amping.

"Aku tidak sabar untuk mengenalmu, anak muda, untuk membuktikan apakah dirimu layak telah mengalahkan sahabatku, Ki Karmapala," kata Ki Sandikala sambil mengusap senjata cakra di tangannya.

"Atau sahabatku itu waktu itu dalam keadaan lengah?" tanya Ki Sandikala kembali kepada Mahesa Amping.

"Hanya sebuah keberuntungan yang masih berpihak padaku saat itu," kata Mahesa Amping sambil bersiap diri.

"Mari kita bermain-main. Aku ingin tahu apakah keberuntunganmu masih berlaku saat ini," kata Ki Sandikala kepada Mahesa Amping sambil langsung menerjang, membuat putaran cakra mirip sebuah bor berputar menembus ke arah dada Mahesa Amping.

Sementara itu, di tempat yang sama, Pendeta Gunakara tengah bertempur dengan seorang berjubah hitam lainnya. Pertempuran itu berlangsung sangat seru, cepat, dan menegangkan. Pendeta Gunakara dan lawannya langsung saling menerjang dan menyerang. Mereka sepertinya langsung mengeluarkan segala kemampuan dan kekuatan puncak mereka. Pertempuran itu mengerikan.

"Ternyata kemampuanmu cukup tinggi, orang asing," kata orang berjubah hitam itu kepada Pendeta Gunakara.

"Kemampuanmu juga luar biasa. Mudah-mudahan aku dapat mengimbangimu," kata Pendeta Gunakara kepada orang itu sambil melompat menghindari sebuah sambaran cakra dan membalas menyerang dengan tongkatnya.

Sementara itu, di puncak Bukit Karang Gajah di sisi lain, ada pertempuran lain yang tidak kalah serunya. Pertempuran itu melibatkan lima orang berjubah hitam dan dua orang dari Padepokan Teratai Putih melawan para prajurit Singasari. Para prajurit Singasari ini sudah sangat berpengalaman dalam melakukan penyerangan bersama. Mereka sangat disiplin dan saling menjaga.

Ki Bancak dan Arga Lanang terlihat bersama para prajurit Singasari. Arga Lanang dapat mengikuti gerak para prajurit. Bersama-sama, mereka melakukan serangan yang dapat mengimbangi delapan orang musuh mereka yang terlihat, secara perorangan, memiliki kemampuan yang cukup tinggi, terutama kelima orang berjubah hitam itu.

Dalam sebuah serangan, Ki Bancak dapat memanfaatkan kelengahan salah seorang dari Padepokan Teratai Putih. Sabetan pedang Ki Bancak telah membuat goresan dalam di pangkal paha orang itu. Orang itu tersungkur jatuh ke tanah. Darah mengucur cukup deras dari pangkal pahanya. Pertempuran masih terus berlanjut meski pihak musuh telah berkurang satu orang, namun hal itu sedikit mengurangi tekanan dari pihak musuh.

Sebuah tendangan yang tidak terduga dapat dilakukan oleh Arga Lanang dengan sangat cepat, langsung menyambar tulang betis kaki orang tertua dari Padepokan Teratai Putih, membuatnya sedikit limbung. Seorang prajurit Singasari yang dekat dengan Arga Lanang segera memanfaatkan keadaan itu dengan menyabetkan pedangnya ke arah pinggang orang itu. Orang itu kembali bersuara keras sambil memegang pinggangnya yang terluka. Darah menetes dari jemari tangannya yang memegang luka di pinggangnya. Wajahnya terlihat pucat pasi penuh rasa cemas. Sambil mundur terhuyung, orang tertua dari Padepokan Teratai Putih itu keluar dari pertempuran, menjauh mencari tempat yang aman. Tidak seorang pun mengejarnya.

Para prajurit Singasari bersama Ki Bancak dan Arga Lanang terus memberikan tekanan kepada musuh mereka yang kembali berkurang satu. Saat itu, hanya tinggal lima orang berjubah hitam yang harus mereka hadapi. Kekuatan para prajurit yang dipimpin oleh Ki Bancak, dibantu Arga Lanang, ternyata mampu menekan kekuatan kelima orang berjubah hitam itu. Para prajurit itu tidak pernah lepas dari kesatuan mereka, melakukan serangan dan saling menjaga kawan. Itulah kekuatan yang cukup merepotkan kelima orang berjubah hitam itu, meski secara perorangan mereka dapat dikatakan memiliki kemampuan lebih tinggi dari prajurit satu per satu.

"Menyebar!" kata salah seorang yang berjubah hitam itu kepada keempat kawannya. Keempat kawannya dapat menangkap arah perkataan salah seorang kawannya. Terlihat mereka berlima sudah berpencar. Sebuah keputusan dan pilihan yang cerdik. Kelima orang berjubah hitam itu memang bermaksud memecah kekuatan lawan menjadi lima pertempuran yang terpisah. Dengan sangat terpaksa, kedua puluh orang prajurit terpencar menjadi lima kelompok, masing-masing menghadapi seorang musuh.

Ki Bancak tidak segera bergabung. Sebagai seorang pemimpin kelompok, ia mencoba menilai kelompok mana yang paling membutuhkan bantuannya. Ki Bancak akhirnya dapat melihat salah satu kelompoknya yang paling lemah. Di kelompok itulah ia menggabungkan diri. Arga Lanang ternyata mengikuti apa yang dilakukan oleh Ki Bancak. Dengan cepat ia bergabung ke salah satu kelompok yang menurutnya perlu tambahan orang yang dapat mengurangi kekuatan dan tekanan lawan.

Sementara itu, malam di atas puncak Bukit Karang Gajah sudah masuk pertengahan. Suasana remang-remang itu menjadi sangat menegangkan karena dipenuhi hiruk pikuk suara denting senjata beradu dan suara teriakan penuh ancaman. Suasana pertempuran di atas puncak Bukit Karang Gajah itu sepertinya tidak akan segera berakhir, masih terus berlanjut tanpa dapat diketahui siapa yang akan mengakhiri pertempuran itu, karena pertempuran itu dapat dikatakan sangat berimbang.

"Aku harus menyelesaikan pertempuran ini," kata Mahesa Amping yang tengah bertempur dengan Ki Sandikala, namun masih dapat mengikuti semua pertempuran yang ada di atas puncak Bukit Karang. Kegelisahan Mahesa Amping terutama ditujukan kepada para prajuritnya yang saat itu sudah terpecah menjadi lima kelompok pertempuran yang terpisah. Namun keinginan Mahesa Amping harus tertunda. Ki Sandikala yang menjadi lawannya ternyata mempunyai kemampuan ilmu yang cukup tinggi dan harus dihadapi dengan sangat penuh perhatian. Sedikit kelengahan akan membawa bencana karena serangan Ki Sandikala bukan serangan biasa. Serangan itu cepat, penuh tipu daya, dan juga dilambari dengan kekuatan hawa dingin yang sangat menusuk tajam menyebar di setiap serangannya.

Ternyata apa yang dikhawatirkan Mahesa Amping juga menjadi perhatian Empu Dangka. Diam-diam sambil menghadapi Ki Bogakala dari Lereng Tengger, Empu Dangka sempat melihat secara keseluruhan semua pertempuran di atas bukit Karang Gajah. "Kekuatan para prajurit sudah terpecah," batin Empu Dangka. Ki Bogakala tidak main-kagetnya melihat serangan balasan dari Empu Dangka, lebih cepat dari sebelumnya. Ternyata kekhawatiran Empu Dangka atas para prajurit Singasari telah mengubah cara bertempurnya dari sebelumnya yang hanya berusaha mengimbangi permainan lawannya, Ki Bogakala.

Saat itu Empu Dangka tidak bermaksud main-main lagi, melainkan secepatnya melumpuhkan Ki Bogakala agar dapat membantu para prajurit Singasari yang terlihat semakin tertekan menghadapi seorang berjubah hitam yang memang memiliki kemampuan tinggi. Sebuah lecutan yang dilambari oleh tenaga cadangan yang sangat kuat berhasil menyambar dada Ki Bogakala. Seketika itu juga Ki Bogakala ambruk ke tanah tidak bernapas lagi. Melihat lawannya sudah tidak bernyawa lagi, ada sedikit penyesalan di hati Empu Dangka. "Maafkan aku. Akhirnya seperti yang kamu katakan, bahwa aku memang akan menyesal," kata Empu Dangka dalam hati penuh penyesalan melepaskan puncak kemampuannya.

Tapi penyesalan Empu Dangka akhirnya dibuang jauh-jauh. Pikirannya kembali kepada kekhawatirannya atas para prajurit yang memang sedang berusaha keras terus keluar dari tekanan para lawannya. Maka secepat kilat Empu Dangka telah melompat mendekati salah satu pertempuran. "Biar aku yang menghadapinya. Bantulah kawan-kawanmu," kata Empu Dangka kepada para prajurit yang tengah bertempur dengan salah satu orang berjubah hitam. Para prajurit yang sudah mengetahui kemampuan Empu Dangka segera langsung berpindah lawan membantu kawannya yang lain. Mendapat bantuan tambahan satu orang prajurit memang belum berpengaruh banyak, tapi setidaknya sedikit mengurangi tekanan yang dirasakan oleh para prajurit selama dalam pertempuran itu.

"Aku menggantikan mereka," kata Empu Dangka kepada salah seorang yang berjubah hitam itu. "Jangan kamu kira aku akan begitu mudah kamu taklukkan sebagaimana sahabatku itu," kata orang berjubah hitam itu yang melihat juga bagaimana Empu Dangka mengakhiri nyawa sahabatnya. Ternyata orang berjubah hitam itu tidak dapat menelan ludahnya yang terlanjur terucap. Ketika menghadapi Empu Dangka, dirinya mengakui bahwa orang tua yang dihadapinya itu memang mempunyai kemampuan yang sangat tinggi. Empu Dangka memang telah melepaskan kemampuan tingkat tingginya. Orang berjubah hitam itu harus menghindar ke sana kemari menghindari cambuk Empu Dangka yang terus mengejarnya.

Sementara itu, di sisi yang lain, Pendeta Gunakara terlihat sudah menguasai lawannya. Meskipun lawannya telah mengerahkan ilmu puncaknya, menebarkan hawa dingin yang dapat membekukan tulang lawan, namun terlihat Pendeta Gunakara sepertinya tidak merasakan apa pun. Tongkatnya masih terus menyambar-nyambar sangat berbahaya. "Kekuatan hawa dinginku tidak berarti apa pun," kata orang berjubah hitam lawan Pendeta Gunakara itu merasa penasaran setelah mengerahkan seluruh kemampuan ilmunya. Ternyata selama pertempuran itu Pendeta Gunakara masih menganggapnya sebuah permainan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment