Chapter 25
Namun, akhirnya melihat para prajurit yang terpecah, ada rasa khawatir di hatinya sebagaimana Mahesa Amping dan Empu Dangka.
Pendeta Gunakara terlihat telah memperlihatkan jati dirinya, menyerang orang berjubah hitam lawannya dengan kesungguhan hati untuk secepatnya mengakhiri pertempurannya.
Buk!
Buk!
Dua buah serangan cepat dari Pendeta Gunakara langsung mengenai dada dan lutut belakang lawannya.
Terlihat orang berjubah hitam itu jatuh terjengkang, langsung pingsan untuk waktu yang lama.
Tanpa melihat keadaan lawannya, Pendeta Gunakara langsung mendekati pertempuran para prajurit yang dianggapnya paling lemah.
"Lekas kalian bantu kawan kalian, serahkan lawanmu kepadaku," kata Pendeta Gunakara kepada salah seorang prajurit yang tengah bertempur.
"Tapi orang ini sangat kuat," kata prajurit itu yang masih sangsi atas kemampuan Pendeta Gunakara karena dirinya tidak memperhatikan bagaimana Pendeta Gunakara menyelesaikan pertempurannya.
"Serahkan lawanmu kepadanya, percayalah aku," kata Empu Dangka yang bertempur tidak jauh dari mereka dan melihat kesangsian para prajurit atas diri Pendeta Gunakara.
Mendengar teriakan Empu Dangka, para prajurit tidak lagi sangsi.
Mereka tahu betul siapa Empu Dangka, maka mereka langsung melakukan apa yang dikatakan oleh Pendeta Gunakara untuk melepas lawannya, membantu kawan yang lain yang sedang dan masih terus bertempur.
Dengan kehadiran Pendeta Gunakara itu, suasana pertempuran di atas puncak Bukit Karang Gajah menjadi semakin berimbang.
Para prajurit saat itu hanya menghadapi tiga orang berjubah hitam.
Setiap satu lawan harus menghadapi tujuh orang prajurit Singasari yang sudah terbiasa bertempur secara berkelompok.
Apalagi saat itu mereka dibantu oleh Arga Lanang dan Ki Bancak.
Sementara itu, malam di atas puncak Bukit Karang Gajah sudah semakin tua, semburat warna merah sudah mulai muncul mengintip di ujung timur bumi, hadir bersama cahaya gemerlap bintang kejora pagi.
Terdengar suara sentakan cambuk Empu Dangka yang nyaris hanya dua jari dari dada lawannya.
Sebuah sentakan cambuk yang mengandung tekanan kekuatan tenaga cadangan yang luar biasa.
Meski ujung cambuk itu tidak mengenai apa pun, tetap saja menyesakkan dada lawan Empu Dangka yang seketika itu langsung memegang dadanya seperti berhenti bernapas.
Maka, kesempatan itu dipergunakan oleh Empu Dangka dengan menyabetkan ujung cambuknya ke arah pangkal paha orang itu.
Betttttt! Begitu cepatnya sabetan cambuk itu langsung melukai pangkal paha orang berjubah hitam itu yang langsung tersungkur, tidak mampu menahan berat badannya hanya dengan satu tungkai kaki.
Empu Dangka tidak mengejar dengan serangan berikutnya, tapi terlihat meninggalkannya, langsung mendekati para prajurit yang sedang menghadapi lawannya, yaitu orang berjubah hitam lainnya.
Melihat Empu Dangka datang menghampiri, para prajurit langsung tahu apa yang harus mereka lakukan, yaitu melepaskan lawannya untuk diselesaikan oleh Empu Dangka.
Dengan kehadiran seorang Empu Dangka yang menggantikan para prajurit Singasari menghadapi lawannya, maka suasana pertempuran di atas puncak Bukit Karang Gajah menjadi semakin dapat ditebak siapa yang akan menguasai medan pertempuran itu.
"Ikat mereka menjadi satu pertempuran," kata Ki Bancak memberi perintah kepada para prajurit Singasari untuk bergabung menjadi kesatuan yang utuh menghadapi dua orang lawan.
Meskipun kedua orang berjubah hitam itu mempunyai kemampuan yang cukup tinggi, namun menghadapi dua puluh orang prajurit yang terlatih adalah hal yang sangat berat.
Sementara itu, pertempuran antara Mahesa Amping dengan Ki Sandikala masih terus berlangsung.
Keduanya terlihat masih terus menjajaki tingkat kemampuan lawan.
Dan masih belum berada di atas puncak tataran ilmunya masing-masing.
"Garis ilmunya sama dengan Ki Karmapala, tapi serangannya kaya dengan segala tipu daya yang membahayakan," kata Mahesa Amping yang tengah bertempur dengan Ki Sandikala.
Sebagaimana yang dilihat oleh Mahesa Amping, jalur ilmu Ki Karmapala memang ada dalam satu jalur aliran yang sama dengan Ki Sandikala.
Hanya bedanya bahwa Ki Sandikala sudah dapat menguasai ilmunya dengan sempurna melebihi semua pimpinan aliran penyembah matahari di Balidwipa dan Jawadwipa.
Dan sampai saat itu, setelah mereka saling bertempur ratusan jurus, Mahesa Amping belum juga melihat batas puncak ilmu Ki Sandikala.
"Aku harus berhati-hati," kata Mahesa Amping dalam hati sambil mengelak sebuah serangan dari Ki Sandikala dan balas menyerangnya dengan tidak kalah berbahayanya.
Sementara itu, di sisi yang lain, Pendeta Gunakara kembali menyelesaikan pertempurannya.
Tongkat kayunya berhasil menghantam pinggang lawannya.
Buk!
"Awww!" Terdengar suara menahan rasa sakit yang sangat dari seorang berjubah hitam lawan Pendeta Gunakara yang terkena pukulan tongkatnya tepat di pinggang.
Orang itu langsung terpelanting jatuh ke bumi, merasakan tulang rusuknya nyeri tak terkira.
Pendeta Gunakara tidak mengejarnya, membiarkan orang itu yang sudah tidak mampu berdiri lagi mengerang kesakitan.
Pendeta Gunakara menyapu sepanjang pandangannya ke seluruh pertempuran.
Melihat pertempuran Empu Dangka yang sudah di atas angin, sedikit lagi pasti akan menyelesaikan pertempurannya.
Pendeta Gunakara juga melihat dua orang berjubah hitam yang tengah dikepung oleh para prajurit Singasari. Pendeta Gunakara merasa yakin hanya menunggu waktu kedua orang berjubah hitam itu pasti akan kehabisan tenaga.
Ketika Pendeta Gunakara memandang ke arah pertempuran antara Mahesa Amping dan Ki Sandikala, terlihat dirinya menahan napas penuh ketegangan.
"Sebuah pertempuran yang luar biasa," kata Pendeta Gunakara yang melihat pertempuran itu sebagai dua orang raksasa kanuragan bertempur.
Apa yang dilihat oleh Pendeta Gunakara ternyata memang sangat dahsyat dan luar biasa.
Mahesa Amping dan Ki Sandikala bertempur dengan kecepatan dan kekuatan yang amat menggetarkan hati siapa pun yang melihatnya.
Batu-batu karang yang besar kadang menjadi sasaran yang lepas, hancur porak poranda terkena senjata cakra Ki Sandikala atau cambuk Mahesa Amping.
Tanah di sekitar mereka terlihat sudah rata, rumput dan ilalang terlihat layu hangus terbakar.
Sebuah pemandangan yang sangat mendebarkan hati, layaknya dua raksasa kanuragan bertempur dengan kekuatan dan kecepatan yang mumpuni, tak terkatakan oleh kata-kata karena begitu dahsyatnya.
Sementara itu, pada pertempuran yang lain, Empu Dangka kembali telah menyelesaikan pertempurannya.
Diam-diam, Empu Dangka sambil bertempur juga sempat memperhatikan jalannya pertempuran antara Mahesa Amping dan Ki Sandikala yang begitu dahsyatnya.
Maka, melihat hal itulah, dirinya segera menyelesaikan pertempurannya.
"Beristirahatlah kamu," kata Empu Dangka sambil cambuknya menusuk dua kali di dua pangkal paha lawannya.
Tarrr! Tarrrrr! Dua kali sentakan cambuk dengan kekuatan yang tidak begitu penuh langsung merubuhkan lawan Empu Dangka yang tersungkur terlempar di dinding batu karang besar.
Orang itu terlihat sudah tidak ada kekuatan lagi untuk bangkit, apalagi melanjutkan pertempurannya.
Orang itu nampaknya sudah merasa jerih, merasa jauh di bawah kemampuan Empu Dangka yang tidak segera menghampirinya, tapi langsung mendekati pertempuran Mahesa Amping dan Ki Sandikala yang sangat dikhawatirkan karena menurutnya Mahesa Amping kali ini telah mendapatkan lawan yang setanding.
Sementara itu, sebagaimana yang diperhitungkan oleh Pendeta Gunakara, dua orang berjubah hitam yang tengah dikepung dan diserang oleh para prajurit Singasari nampaknya sudah kehabisan tenaga.
"Menyerahlah, kami akan mengampuni nyawamu," kata Ki Bancak kepada kedua orang itu.
"Aku akan mati bersamamu!" kata salah seorang berjubah hitam itu yang kebetulan sangat dekat sekali dengan Ki Bancak langsung menghimpun sisa tenaganya menerjang Ki Bancak.
Tapi untungnya Ki Bancak sudah memperhitungkan semua kemungkinan yang bisa terjadi.
Maka, dengan sigap dan cepat, Ki Bancak melenting ke kiri menghindari serangan senjata cakra dari orang itu.
Bukan main penasarannya orang itu melihat sasarannya dapat lolos begitu cepatnya.
Maka, orang itu masih bermaksud menyerang kembali Ki Bancak yang telah melenting beberapa jarak darinya. Namun, antara keinginan dan kemampuannya saat itu ternyata sudah jauh berbeda, kekuatannya sudah terkuras pada serangan sebelumnya, akibatnya gerakannya menjadi begitu lamban.
Srettttttt!
Pedang seorang prajurit berhasil merobek daging samping kiri pinggangnya.
Dan bersamaan dengan itu, sebuah tendangan keras dari Arga Lanang berhasil melepas dan melempar senjata cakra dari genggaman tangannya.
Jeppppp!
Belati di tangan kanan Arga Lanang juga ikut beraksi, menancap di atas pangkal paha orang itu dan dengan cepat pula seketika mencabutnya.
Seketika itu juga darah segar keluar dari pangkal paha orang itu, bersama darah merah yang merembes dari pinggangnya.
Terlihat orang itu limbung jatuh ke bumi.
Melihat kawannya sudah tidak berdaya, satu orang berjubah hitam yang tersisa merasa cukup jerih juga melihat para prajurit Singasari dengan mata perang membakar di hampir semua mata para prajurit yang tengah mengepungnya.
"Menyerahlah, atau nasibmu akan sama dengan kawanmu," kata Ki Bancak kepada orang itu.
"Aku menyerah," kata orang itu sambil melempar senjata cakra di tangannya.
"Ikat orang itu," kata Ki Bancak kepada salah seorang prajurit di dekatnya.
Maka, seketika itu juga, beberapa prajurit datang menghampiri orang itu dan mengikatnya dengan tali yang kuat.
Sementara itu, suasana di atas puncak Bukit Karang Gajah sudah menjadi terang tanah, matahari pagi sudah muncul di ujung timur bumi, menerangi semua pandangan.