Chapter 27
Sembahan kami adalah Dewa Matahari, kepadanyalah kami hidup dan mati," berkata Ki Sandikala. "Apakah saat ini dewamu dapat menolongmu, wahai Ki Sandikala?" tanya Mahesa Amping.
Di dalam pekatnya kabut yang membatasi pemandangan, Mahesa Amping masih dapat melihat jelas Ki Sandikala seperti tengah tercenung dengan apa yang dikatakan oleh Mahesa Amping.
"Gusti yang Maha Tunggal tidak dapat dibatasi oleh apapun, kekuatan dan kekuasaan-Nya tidak dapat dihalangi oleh apapun," kata Mahesa Amping lagi, melihat Ki Sandikala masih tercenung, seolah tengah menemukan sesuatu yang selama ini belum pernah ditemuinya.
"Apakah yang kau maksud Dia Yang Maha Melihat?" tanya Ki Sandikala. "Benar, Gusti Yang Maha Tunggal Maha Melihat segalanya," balas Mahesa Amping dengan suara yang masih penuh kekuatan menggetarkan dada. "Apakah yang kau maksud Dia Yang Maha Pemelihara penuh kasih?" tanya Ki Sandikala. "Benar, Gusti Yang Maha Tunggal adalah Dia Yang Maha Memelihara penuh kasih," kata Mahesa Amping tanpa lagi melepaskan suaranya dengan kekuatan ilmunya.
Mahesa Amping juga telah menarik ilmu kekuatan kabutnya. Perlahan, kabut hitam di puncak bukit Karang Gajah semakin menipis dan akhirnya hilang, meninggalkan pemandangan yang bersih terang benderang diterangi sinar matahari pagi yang penuh cahaya.
Ketika kabut gelap menghilang sirna, ternyata Mahesa Amping hanya berjarak sepuluh langkah dari Ki Sandikala.
"Ketika kabut pekat menutupi segala pandangku, aku melihat kehadiran-Nya. Ternyata selama ini aku salah menempatkan antara diriku dan diri-Nya. Aku merasa ada di dalam ketiadaan. Sesaat dan selalu sesaat itu memberi kenyamanan yang tak terhingga yang tidak pernah kurasakan dan kualami sebelumnya. Ijinkan aku berguru kepadamu, agar aku dapat mengenal-Nya lebih dekat lagi," kata Ki Sandikala, yang tak terduga telah menemukan sesuatu yang aneh di dalam dirinya kepada Mahesa Amping.
"Yang Ki Sandikala lihat adalah Dia Yang Maha Tunggal, yang mengendalikan matahari terbit dan terbenam. Yang Maha Tunggal telah memperkenalkan diri-Nya kepada Ki Sandikala. Dia Yang Maha Tunggal punya kekuasaan memilih siapa pun yang ingin dipilih-Nya. Dialah Guru sejati yang membimbing siapa pun yang dikehendaki," kata Mahesa Amping kepada Ki Sandikala.
"Tuntunlah aku untuk dapat selalu bersama-Nya," kata Ki Sandikala sambil merapatkan kedua tangannya di dada. Terlihat Mahesa Amping datang mendekatinya.
"Kita berjodoh, tidak semua orang diperkenalkan-Nya. Kebetulan sekali aku lebih dulu mengenal-Nya. Aku yang muda bersedia menjadi penuntunmu," kata Mahesa Amping sambil menyentuh pundak Ki Sandikala.
"Terima kasih," kata Ki Sandikala kepada Mahesa Amping dengan senyum penuh rasa terima kasih. Sepertinya mereka bukan lagi sepasang musuh, melainkan dua orang sahabat lama yang saling mengasihi.
Sementara itu, matahari di atas puncak Bukit Karang Gajah sudah semakin naik ke puncaknya. Namun, hawa yang sejuk dan segar di atas puncak Bukit Karang Gajah itu sepertinya meredam panasnya sinar matahari.
"Mari kita urus semua orang yang terlanjur terluka dan gugur di puncak Bukit Karang ini," kata Mahesa Amping kepada Ki Sandikala.
"Semua ini adalah kesalahanku," kata Ki Sandikala sambil melihat beberapa mayat yang bergelimpangan.
"Tidak perlu merasa bersalah, semua memang sudah menjadi takdir dan garis-Nya," kata Mahesa Amping kepada Ki Sandikala.
Demikianlah, pada saat itu terlihat beberapa prajurit tengah membuat beberapa lubang kubur untuk memakamkan orang-orang yang gugur di puncak Bukit Karang Gajah itu. Sementara itu, beberapa prajurit lagi terlihat tengah mengurus orang-orang yang terluka.
"Kita harus menunggu beberapa hari di sini, ada beberapa orang perlu perawatan khusus sebelum dapat berjalan sendiri kembali ke tempatnya," kata Empu Dangka kepada Mahesa Amping. "Terima kasih, jiwa kalian seperti samudra," kata Ki Sandikala, merasa terharu melihat perhatian yang besar kepada orang yang sebelumnya menjadi musuh mereka.
Dua malam mereka harus tinggal di puncak bukit Karang Gajah. Beberapa orang yang terluka ringan sudah pulih kembali. Sementara satu dua orang yang terluka cukup berat masih harus mendapatkan perawatan khusus, tetapi sudah tidak membahayakan nyawa mereka.
Pagi itu di puncak Bukit Karang Gajah, dua rombongan terlihat akan berpisah karena arah jalan mereka yang berbeda.
"Adikku Setyakala, kutitipkan Padepokan Gunung Wilis kepadamu. Aku akan mengikuti garis hidupku sendiri, mengikuti penguasa sang waktu, mengenal dan menguak segala kebesaran-Nya. Bila berjodoh, kita pasti berkumpul kembali bersama," kata Ki Sandikala kepada saudara mudanya bernama Setyakala, yang akan kembali ke kediamannya di Padepokan Gunung Wilis di Jawadwipa.
"Tidak ada kuasa bagi adinda Setyakala menahan keinginan kakanda Sandikala. Aku hanya berdoa untuk Kakanda Sandikala, doa adinda Setyakala selalu menyertai langkah Kakanda Sandikala dalam menemukan pencerahan batin menuju kebenaran hakiki. Pada saatnya, mungkin adinda Setyakala akan menerima kebenaran yang Kakanda Sandikala yakini adalah sebuah kebenaran. Namun hari ini, keyakinan adinda masih menapak pada kebenaran yang telah diajarkan oleh leluhur kita, ayahanda tercinta," kata Ki Setyakala kepada Ki Sandikala, penuh keharuan sebagai saudara kandung yang selama ini selalu bersama.
"Berjalanlah kembali, wahai adikku Setyakala. Kita saat ini berada di simpang jalan kebenaran. Jalani apa yang kau yakini, karena kita tidak pernah memilih jalan keyakinan kecuali dipilih oleh Sang Penguasa Waktu, pemilik kebenaran itu sendiri," kata Ki Sandikala penuh senyum kepada adiknya, Ki Setyakala.
Sementara itu, matahari pagi di atas puncak bukit Karang Gajah sudah mulai merangkak naik. Terlihat iring-iringan Ki Setyakala bersama rombongannya telah menuruni tanah Bukit Karang Gajah, diantar dan diiringi pandangan mata Ki Sandikala, Mahesa Amping, Empu Dangka, dan Pendeta Gunakara. Iring-iringan Ki Setyakala dan rombongannya akhirnya telah menghilang tak terlihat lagi di jalan berliku dan menurun di antara belukar dan semak hutan yang gelap di sisi barat Bukit Karang Gajah.
Tidak lama kemudian, Ki Bancak mewakili para prajurit berpamit untuk kembali ke tempat tugasnya masing-masing. "Hamba mengiringi para prajurit mohon pamit diri. Beberapa hari lagi, hamba seperti biasa akan menemui tuan Senapati di Padepokan Pemecutan," kata Ki Bancak kepada Mahesa Amping.
"Terima kasih atas semua dan segalanya. Aku akan selalu menunggumu di Padepokan Pemecutan," kata Mahesa Amping kepada Ki Bancak. Matahari sudah mulai naik semakin ke atas langit puncak bukit Karang Gajah manakala rombongan Ki Bancak dan para prajurit Singasari menuruni puncak bukit Karang Gajah.
"Akhirnya semua dapat diselesaikan, meski ada satu dua korban," kata Empu Dangka kepada Mahesa Amping. "Mari kita kembali ke Padepokan Pemecutan," kata Mahesa Amping kepada Empu Dangka.
Sementara itu, matahari di langit di atas Bukit Karang Gajah sudah mulai bergeser turun sedikit. Panasnya tidak begitu terik karena terhalang rimbunan pepohonan hutan. Terlihat Mahesa Amping, Ki Sandikala, Empu Dangka, Pendeta Gunakara, dan Arga Lanang tengah menuruni bukit Karang Gajah.
Akhirnya, di ujung senja, mereka telah sampai di Padepokan Pemecutan. Seluruh warga Padepokan Pemecutan datang menyambut kedatangan mereka dengan gembira dan penuh rasa syukur. Hari itu juga mereka merayakan suasana gembira dengan sebuah acara makan malam bersama hingga jauh malam.
*** Sementara itu, jauh dari Balidwipa, di hari yang sama di tanah Gelang-gelang. Terlihat seorang berkuda sudah memasuki gerbang kota Gelang-gelang. Rembulan muda di atas Kotaraja bersembul di langit malam dalam cahaya beberapa bintang yang berkelip jauh, sepertinya jauh dari kegembiraan penunggang kuda itu. Gelang-gelang buram bersama warna malam, suasana hati wajah orang itu dipenuhi kesuraman, matanya terlihat berkilat penuh kebencian. Kuda orang itu terlihat berhenti di sebuah rumah besar di jalan Kotaraja Gelang-gelang yang sudah begitu sepi, karena hari sudah jauh malam.
"Katakan kepada tuanmu, aku Wirondaya ingin menemuinya," kata orang itu, yang ternyata adalah Wirondaya, seorang buronan Kotaraja Singasari, keponakan Adipati Wiraraja dari Sunginep.
"Hari sudah jauh malam, tidakkah tuan datang kembali besok pagi?" kata penjaga rumah itu kepada Wirondaya.
"Katakan kepada tuanmu, aku Wirondaya ingin menemuinya," kata Wirondaya kembali kepada penjaga itu dengan suara yang lebih tegas. Penjaga itu nampaknya sudah punya banyak pengalaman, dapat membedakan orang biasa maupun orang penting. Penjaga itu mendapat firasat bahwa orang di depannya adalah "mungkin" seorang yang biasa dilayani. Maka dirinya tidak ingin berurusan dengan hal-hal yang tidak mengenakkan. Akhirnya, dengan keraguan yang dipaksakan, penjaga itu masuk ke dalam lewat pintu butulan rumah itu.
"Silakan tuan naik ke pendapa, Senapati Jaran Guyang bersedia menerima tuan," kata penjaga itu yang sudah keluar kembali lewat pintu butulan mengabarkan kepada Wirondaya, yang menunggunya di regol pintu gerbang rumah itu.
"Terima kasih," kata Wirondaya kepada penjaga itu sambil langsung melangkah menuju pendapa rumah itu. Bersamaan ketika Wirondaya menapakkan kakinya di anak tangga pendapa, pintu utama terbuka dan terlihat dari dalamnya keluar seorang yang bertubuh kekar, sebagai tanda ahli kanuragan yang terlatih. Wajahnya yang keras cukup membawa kegentaran siapa pun yang menatapnya.
"Ternyata sahabatku Wirondaya," kata Senapati Jaran Guyang menyambut penuh senyum kepada Wirondaya. "Aku gembira, masih ada orang yang memanggilku sebagai sahabat," kata Wirondaya kepada Senapati Jaran Guyang yang menyambutnya penuh keramahan.
"Sekali sahabat, tetap sebagai sahabat sepanjang masa," kata Senapati Jaran Guyang kepada Wirondaya sambil mengajaknya duduk di pendapa rumahnya. "Nasib ternyata telah membedakan kita. Dulu kita sama-sama prajurit pengawal istana."