Chapter 28
"Saat ini kamu sudah menjadi seorang senapati, sementara nasibku terpuruk menjadi seorang buronan," berkata Wirondaya memulai ceritanya.
Demikianlah, kedua sahabat lama itu saling bercerita tentang perjalanan masing-masing.
Bercerita tentang beberapa kenangan di antara mereka yang tidak pernah terlupakan dan memang sangat berkesan.
"Aku turut prihatin atas apa yang menimpamu saat ini. Pasti ada sebuah berita penting hingga kamu datang ke rumahku di saat gelap. Aku yakin kedatanganmu bukan hanya sebatas kerinduan seorang sahabat lama," bertanya Senapati Jaran Goyang kepada Wirondaya.
"Saat ini malam sudah menjadi pakaian hidupku, dengan cara itu aku masih hidup sampai saat ini. Kedua, aku datang hanya sebagai seorang sahabat lama mengunjungi seorang sahabatnya yang kini menjadi tangan kanan penguasa Tanah Gelang-gelang. Terakhir, aku datang di Tanah Gelang-gelang ini hanya untuk memberikan kesetiaanku kepada Raja Jayakatwang," berkata Wirondaya kepada Senapati Jaran Goyang.
"Kesetiaan apa yang dapat kamu berikan untuk Baginda Raja Jayakatwang?" bertanya Senapati Jaran Goyang kepada Wirondaya.
"Persekutuan antara Tanah Perdikan Sungenep dan Penguasa Tanah Gelang-gelang," berkata Wirondaya dengan suara meyakinkan.
"Pamanku, Adipati Wiraraja, merasa tersinggung atas pemecatanku dari Istana Tumapel. Atas restunya jua aku datang menyampaikan sebuah rencananya," berkata kembali Wirondaya dengan suara penuh keyakinan. Siapa pun tidak akan menduga bahwa semua itu hanya sebuah kebohongan belaka.
"Pamanmu adalah seorang siasat perang yang mumpuni, tiada tanding. Aku sangat senang mendengarnya," berkata Senapati Jaran Goyang kepada Wirondaya.
"Menurut perhitungan beliau, kekuatan Tumapel harus dipancing untuk keluar dari sarangnya," berkata Wirondaya kepada Senapati Jaran Goyang.
"Benar, aku belum pernah berpikir ke arah itu. Ke mana menurut Pamanmu memancing kekuatan Tumapel yang besar itu?" bertanya kembali Senapati Jaran Goyang penuh kegembiraan.
Wirondaya tersenyum dalam hati, "Kena kamu, Senapati bodoh," berkata Wirondaya dalam hati.
"Menurut Pamanku, di Selat Malaka ada persaingan dagang antara para bangsawan Tumapel dengan para pedagang Cina. Di sanalah menurut pamanku menggiring pasukan dan kekuatan Tumapel meninggalkan sarangnya. Dan kita bersiap berpesta pora di sarang istana mereka," berkata Wirondaya sambil memperhatikan wajah Senapati Jaran Goyang.
Ternyata perkataan Wirondaya yang mengatasnamakan pamannya, Adipati Wiraraja, sangat dibenarkan dan diakuinya sebagai siasat yang sangat hebat.
"Pamanmu sangat cakap menyusun siasat, besok aku akan menyampaikannya kepada Baginda Raja Jayakatwang," berkata Senapati Jaran Goyang kepada Wirondaya.
Bukan main senangnya Wirondaya mendengar perkataan Jaran Goyang itu, sepertinya perasaan dendam kesumatnya sebentar lagi akan terbayar lunas.
Sementara itu, terdengar derit pintu utama terbuka, terlihat seorang lelaki pelayan tua keluar dari pintu itu sambil membawa minuman hangat dan beberapa potong makanan.
"Silakan dinikmati makanan dan minumannya," berkata Senapati Jaran Goyang kepada Wirondaya.
"Terima kasih," berkata Wirondaya sambil mengambil minuman hangatnya.
"Selama di Tanah Gelang-gelang ini, berdiamlah di rumahku. Kamu berada di tempat yang paling aman," berkata Senapati Jaran Goyang kepada Wirondaya.
"Terima kasih, sahabat," berkata Wirondaya tertawa dalam hati mengagumi kepandaian diri sendiri yang ternyata dapat mengelabui sahabatnya itu, Senapati Jaran Goyang.
Namun sebenarnya, Senapati Jaran Goyang bukanlah orang bodoh. Menurut perhitungannya, apa yang disampaikan oleh Wirondaya yang mengatasnamakan pamannya memang sebuah hal yang sangat cerdas. Ditambah lagi bahwa siasat itu berasal dari seorang yang menurutnya memang sangat mumpuni, seperti Adipati Wiraraja yang sangat dikaguminya itu.
Bertambah percayalah Senapati Jaran Goyang kepada Wirondaya.
Begitulah sebenarnya sifat dan perilaku manusia pada umumnya, mereka terbiasa menilai siapa dan dari mana sebuah pernyataan dibandingkan menilai apa isi dan makna pernyataan itu sendiri. Ilmu yang sama akan menjadi begitu berharga bila yang membawakannya adalah seorang empu. Dan Wirondaya ternyata sangat ahli dan sangat mengenal watak sahabatnya, Senapati Jaran Goyang, yang sangat mengagumi pamannya, Adipati Arya Wiraraja, mantan pejabat istana Singasari zaman dulu yang sangat mumpuni membuat dan merencanakan sebuah siasat pertempuran.
Seorang pejabat istana yang pernah hidup bersama tiga serangkai pahlawan istana Singasari: Mahesa Agni, Wiranta, dan Mahendra.
"Beristirahatlah, besok aku ingin mendengar lagi apa yang dikatakan oleh pamanmu," berkata Senapati Jaran Goyang kepada Wirondaya.
Malam di luar rumah Senapati Jaran Goyang memang sudah larut malam. Begitu sepi dan dingin. Maka tidak lama berselang, pendapa rumah Senapati Jaran Goyang terlihat sudah menjadi begitu lengang.
Pagi itu, udara langit di atas Tanah Gelang-gelang begitu cerah, ditandai hiruk pikuk para pejalan kaki di Jalan Kotaraja Gelang-gelang yang cukup ramai.
"Aku akan menghadap Baginda Raja Jayakatwang, pesan pamanmu Adipati Arya Wiraraja akan kusampaikan kepada beliau," demikian Senapati Jaran Goyang berkata kepada Wirondaya ketika akan berangkat ke Istana Gelang-gelang.
"Jangan ke mana-mana," berkata kembali Senapati Jaran Goyang kepada Wirondaya ketika hendak melangkah menuruni tangga pendapa rumahnya.
Sepanjang hari Wirondaya memang tidak ke mana-mana. Kepada para pekerja di rumah Senapati Jaran Goyang yang cukup luas dan megah itu, ternyata Wirondaya diperkenalkan sebagai saudara jauh dari Tanah Perdikan Sungenep.
Tidak seorang pun mengetahui bahwa Wirondaya sebenarnya adalah seorang buronan yang sedang dicari-cari oleh seluruh prajurit Istana Singasari.
Ketika hari menjelang sore, matahari terlihat hangat dan teduh. Senapati Jaran Goyang terlihat memasuki rumahnya.
"Baginda Raja Jayakatwang sangat tertarik ketika aku menyampaikan pesan dari pamanmu," berkata Senapati Jaran Goyang kepada Wirondaya di pendapa rumahnya.
"Apa yang dikatakan Baginda Raja Jayakatwang mengenai pesan Pamandaku?" bertanya Wirondaya seperti tidak sabaran.
"Baginda Raja merasa gembira bahwa pamanmu menarik diri sebagai persekutuannya," berkata Senapati Jaran Goyang kepada Wirondaya.
"Juga mengenai pesan siasat perangnya," berkata kembali Senapati Jaran Goyang kepada Wirondaya.
"Apa pendapat Baginda Raja Jayakatwang mengenai siasat memancing kekuatan Tumapel di Selat Malaka?" bertanya Wirondaya dengan wajah yang berbinar-binar.
"Besok Baginda Raja Jayakatwang akan mengundang beberapa pejabat istana untuk membicarakannya, aku juga termasuk yang akan menghadirinya," berkata Senapati Jaran Goyang kepada Wirondaya.
"Pamandaku juga memberi saran agar Raden Ardharaja yang saat ini sudah menjadi mantu keluarga Istana Tumapel dapat dipengaruhi," berkata Wirondaya kepada Senapati Jaran Goyang.
"Pamanmu memang punya pikiran segunung, aku akan menyampaikannya dalam pembicaraan besok," berkata Senapati Jaran Goyang dengan penuh gembira membayangkan Raja Jayakatwang akan menganggapnya sebagai seorang yang cerdik, karena akan dikatakan sebagai buah pikirannya sendiri tanpa menyinggung sedikit pun kalau itu adalah pikiran dari Adipati Arya Wiraraja.
Diam-diam Wirondaya tersenyum sendiri dalam hati, tahu betul apa yang ada dalam pikiran sahabatnya itu.
"Aku tidak sabar menunggu berita Baginda Raja Jayakatwang untuk menugaskan beberapa petugas kepercayaannya memancing kekeruhan di Selat Malaka," berkata Wirondaya dengan wajah masih berbinar-binar penuh kegembiraan membayangkan usulnya akan menjadi kenyataan.
Tidak terasa, akhirnya senja telah datang turun di Jalan Kotaraja Gelang-gelang yang sudah menjadi semakin sepi. Ada satu dua orang yang terlihat melangkah cepat, mungkin ingin segera sampai di rumahnya masing-masing.
Sementara itu, matahari sudah melenggut di ujung bibir bumi. Terlihat seorang lelaki tua pekerja di rumah Senapati Jaran Goyang tengah menyalakan pelita malam di pendapa rumah. Tidak ada angin yang berembus, halaman rumah Senapati Jaran Goyang terlihat begitu lengang.
"Dengan mengikat Raden Ardharaja sebagai mantunya, Maharaja Kertanegara menyangka telah mengikat Raja Jayakatwang melupakan dendamnya," berkata Wirondaya, memulai pembicaraannya kepada Senapati Jaran Goyang ketika mereka duduk bersama di pendapa.
"Keinginan Baginda Raja Jayakatwang untuk merebut kembali martabat leluhurnya yang terjajah tidak tergoyahkan oleh ikatan apa pun, meski sudah terikat sebagai ipar dan besan sekalipun," berkata Senapati Jaran Goyang menanggapi perkataan Wirondaya.
"Raja Jayakatwang mengetahui makna di balik ikatan itu, tahu apa yang ada dalam pikiran orang-orang Tumapel," berkata Wirondaya, memberi kayu api bermaksud memanas-manasi perasaan Senapati Jaran Goyang.
"Baginda Raja Jayakatwang akan melepas ikatan itu dengan api peperangan," berkata Senapati Jaran Goyang.
"Membakar sampai hangus Istana Tumapel yang sombong itu," berkata Wirondaya penuh berapi-api.
"Apakah ada siasat dari Adipati Arya Wiraraja yang belum kudengar?" bertanya Senapati Jaran Goyang kepada Wirondaya.
"Pamandaku punya perhitungan atas kelicikan Maharaja Singasari yang tidak akan sepenuhnya melepas kekuatannya; Pamandaku punya perhitungan tersendiri," berkata Wirondaya sambil tersenyum memandang Senapati Jaran Goyang yang menjadi penasaran dengan pancingannya itu.
"Ceritakanlah, aku ingin mendengar semuanya," berkata Senapati Jaran Goyang penuh penasaran.
"Saat ini, kita ketahui kekuatan sepuluh ribu prajurit Singasari yang kuat dan berpengalaman, di mana setengahnya berada di bawah senapati muda Raden Wijaya," berkata Wirondaya sengaja menghentikan perkataannya menunggu tanggapan dari Senapati Jaran Goyang.
"Teruskan," berkata Senapati Jaran Goyang seperti tidak sabaran.