Halo!

Kabut Di Bumi Singosari - Chapter 29

Memuat...
Kabut Di Bumi Singosari

Chapter 29

"Menurut Pamandaku, Maharaja Singasari yang licik itu pasti hanya melepaskan sekitar tiga ribu pasukannya ke Selat Malaka untuk menghadang pasukan Mongol dalam perang laut," kata Wirondaya, menghentikan perkataannya sejenak sambil berpikir keras menyampaikan buah pikirannya sendiri.

"Teruskan," sahut Senapati Jaran Goyang yang menjadi sangat penasaran.

"Masih ada kekuatan besar di Singasari yang harus dipecahkan," ujar Wirondaya sambil memandang wajah Senapati Jaran Goyang yang tampak seperti bocah kecil yang tengah menikmati mainannya.

"Kita pecahkan dengan serangan pancingan yang lain," kata Senapati Jaran Goyang yang mulai dapat mengikuti alur siasat buatan Wirondaya.

"Itulah yang Pamandaku katakan," Wirondaya membenarkan ucapan Senapati Jaran Goyang.

"Bagaimana pendapat pamanmu tentang Kebo Arema yang saat ini telah diangkat oleh Maharaja Singasari sebagai Mahapatih?" tanya Senapati Jaran Goyang kepada Wirondaya.

"Itulah yang Pamandaku sesalkan dari keputusan Maharaja Singasari yang bodoh itu. Mengangkat orang semacam Kebo Arema seperti mendudukkan macan ompong di istana. Sementara itu, beberapa anak mudanya telah dikirim ke luar Singasari, sebagaimana Senapati Mahesa Amping dan Mahesa Bungalan yang saat ini bertugas di Balidwipa," kata Wirondaya mengarang cerita, namun dengan nada meyakinkan seolah-olah itu memang perkataan pamannya, Adipati Arya Wiraraja.

Senapati Jaran Goyang tampak manggut-manggut dengan penuh kegembiraan. Wirondaya tahu betul apa yang tengah dipikirkan sahabatnya itu. Jaran Goyang pasti akan menyampaikannya langsung kepada Raja Jayakatwang sebagai pemikirannya sendiri, dengan harapan kepercayaan sang Raja kepadanya akan semakin kuat.

Langit malam di atas rumah Senapati Jaran Goyang kian gelap. Rembulan muda terhalang awan hitam. Angin dingin semilir melewati dinding kayu pendapa, menggoyangkan pelita yang tergantung di sudut tiang. Suasana di halaman rumah itu sudah begitu lengang.

"Berapa kekuatan prajurit di tanah Gelang-gelang ini?" tanya Wirondaya.

"Enam ribu prajurit," jawab Senapati Jaran Goyang.

"Cukup untuk menghantam istana Tumapel yang telah kosong," kata Wirondaya sambil tertawa.

"Serta mengosongkan seluruh penghuni Taman Kaputrian," sambung Senapati Jaran Goyang dengan tawa yang lebih keras, merasa yakin siasat mereka akan menjadi kenyataan.

"Jangan kau habiskan semuanya, sisakan seorang putri Maharaja bodoh itu untukku," kata Wirondaya masih diringi tawa panjang.

"Aku tidak akan melupakan sahabatku. Satu putri untukmu, ditambah lima orang selir," balas Senapati Jaran Goyang sambil menuangkan sisa minuman dari kendi ke mangkuk mereka masing-masing. Mereka terus bercakap-cakap dengan gembira hingga larut malam.

Keesokan harinya, Senapati Jaran Goyang bersiap berangkat ke istana Gelang-gelang. "Aku akan kembali membawa berita dari istana," ujarnya.

"Berita tentang seorang putri dan lima orang selir," sahut Wirondaya sambil tersenyum, disambut tawa oleh Senapati Jaran Goyang yang teringat percakapan mereka semalam.

Seperti hari sebelumnya, Wirondaya hanya berada di sekitar halaman rumah Senapati Jaran Goyang. Ia belum berani keluar karena takut dikenali orang. Sepanjang hari ia hanya duduk di pendapa atau mengobrol dengan pengalasan tua tentang tanaman.

"Daun pucuk merah ini baru kupindahkan dari kebun di rumahku," kata pengalasan tua itu kepada Wirondaya yang tampak tertarik melihat tanaman yang sedang disiram tersebut.

"Apakah kau sudah meminta izin kepada Senapati Jaran Goyang untuk menanam pohon ini di halaman rumahnya?" tanya Wirondaya.

Pengalasan itu tersenyum kecil. "Justru Tuan Senapati sendiri yang menyuruhku mencari tanaman ini untuk ditanam di tengah halaman," jawabnya bangga.

"Ternyata tuanmu menyukai tanaman," ujar Wirondaya sambil tersenyum.

"Beliau tidak terlalu menyukainya, hanya ikut-ikutan sahabatnya yang menyarankan menanam pucuk merah sebagai tanda kesuburan pemilik rumah. Hanya itu," jelas si pengalasan.

"Aku jadi tertarik, ada rahasia apa dengan daun pucuk merah ini?" tanya Wirondaya lagi.

Pengalasan tua itu tersenyum menatap Wirondaya yang tampak mengernyitkan dahi. "Tuan Senapati hanya berkata sedikit; katanya, daun pucuk merah yang subur di halaman rumah adalah tanda kesuburan pemiliknya. Cuma itu."

"Apakah di kebunmu tanaman ini tumbuh subur?" tanya Wirondaya.

"Sangat subur. Saat kupindahkan, daun-daun mudanya begitu rimbun," jawab si pengalasan bangga.

"Tetapi itu tidak mengubah nasibmu sebagai pengalasan," ejek Wirondaya dengan senyum meremehkan.

Pengalasan itu tidak tersinggung. "Aku tidak percaya hubungan antara tanaman dan pemiliknya. Tugas saya hanya menyiram dan menjaganya. Itulah hubungan istimewa saya dengan tanaman di sini, terutama hubungannya dengan asap dapur di rumah saya."

"Maaf, saya harus ke kebun belakang untuk menyuburkan tanah pohon mangga," pamit pengalasan itu sambil melangkah pergi.

Wirondaya terdiam menatap pohon pucuk merah di hadapannya. Ia merenung, bertanya-tanya apakah kehadiran pohon itu berkaitan dengan nasibnya yang kini menjadi buronan, padahal dulu ia memiliki taman yang lebih indah di Kotaraja Singasari. "Hanya orang bodoh yang berpikiran seperti itu," batinnya sambil melangkah lesu karena jenuh.

Kejenuhan Wirondaya sirna saat Senapati Jaran Goyang pulang di ujung sore dengan wajah ceria. "Baginda Raja Jayakatwang dan para pejabat memuji siasatku," lapor Jaran Goyang bangga saat mereka duduk bersama di pendapa.

Wirondaya tersenyum dalam hati, tahu bahwa sahabatnya telah mengakui buah pikirannya sebagai milik sendiri. Namun, ia pandai menutupi perasaannya.

"Semua sudah diputuskan. Aku yang akan memimpin tugas besar ini. Aku telah menyiapkan beberapa orang untuk menuju Selat Malaka, dan aku berharap kau bersedia ikut," ajak Jaran Goyang.

"Terima kasih, aku tidak akan mengecewakanmu," jawab Wirondaya gembira.

Hingga larut malam, mereka mematangkan rencana untuk melakukan provokasi di Selat Malaka. "Keberhasilan kalian menentukan hasil akhir kita," tegas Senapati Jaran Goyang.

"Aku sudah tidak sabar melihat peperangan itu," balas Wirondaya penuh semangat.

Malam kian larut, suasana di sekitar rumah Senapati Jaran Goyang menjadi sunyi dan gelap. "Beristirahatlah, besok kau akan melakukan perjalanan panjang yang melelahkan," ujar Senapati Jaran Goyang.

Mereka pun masuk ke dalam rumah. Pendapa kembali sepi, hanya diterangi cahaya temaram pelita yang bergantung di pojok tiang, diiringi suara serangga malam hingga fajar tiba. Bintang kejora akhirnya muncul di langit, menandakan malam akan segera berlalu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment