Chapter 30
Di hari yang sama dan di pagi yang sama, namun jauh dari rumah Senapati Jaran Goyang, jauh dari Tanah Gelang-Gelang, yaitu di Bali Dwipa di Padepokan Pemecutan, Mahesa Amping dan semua warganya sudah terlihat terbangun pagi itu dalam kesibukannya masing-masing.
"Silakan dinikmati wedang serainya, mumpung masih hangat," kata Nariratih sambil berdiri mengangkat nampan kayu berisi minuman dan beberapa potong makanan untuk semua yang ada di pendapa Padepokan Pemecutan.
Mereka adalah Mahesa Amping, Empu Dangka, Ki Sandikala, Pendeta Gunakara, dan Arga Lanang.
"Jayanagara dan Adityawarman sudah diajak Putu Risang pagi-pagi sekali ke sungai Hutan Cemara," kata Nariratih kepada Mahesa Amping.
"Terima kasih, Nyi. Aku akan menengok mereka," balas Mahesa Amping kepada Nariratih yang terlihat akan melangkah masuk kembali ke dalam rumah.
Namun, perkataan Mahesa Amping menahan langkahnya.
"Aku juga akan membawa Mahesa Muksa ke sana," kata Nariratih kepada Mahesa Amping sambil berhenti melangkah.
Terlihat Mahesa Amping tersenyum sambil menganggukkan kepalanya kepada Nariratih yang sudah kembali melangkah masuk ke dalam rumah.
Ketika matahari pagi mulai naik sepenggalah, di tepian sungai Hutan Cemara memang sudah terlihat Putu Risang dengan dua orang sahabat kecilnya. Mereka sedang berlatih keseimbangan dan kekuatan diri dengan berlari di atas beberapa bongkah batu yang banyak tersebar di sungai Hutan Cemara itu.
Sementara itu, Mahesa Amping juga telah hadir di situ menyaksikan latihan mereka.
Nampak juga Nariratih yang membawa Mahesa Muksa untuk berjemur di bawah sinar matahari pagi yang memang sangat baik bagi perkembangan kesehatan bayinya.
"Langkah kaki kecil mereka seolah-olah sudah bermata, dapat menapak dan meloncat tanpa terjatuh," kata Nariratih kepada Mahesa Amping sambil terus menyaksikan Adityawarman dan Jayanagara yang ditemani Putu Risang berlari dan melompat di antara batu-batu sungai.
"Aku jadi tidak sabar menanti Mahesa Muksa dapat segera berjalan," kata Mahesa Amping kepada Nariratih.
"Kita akan melatihnya bersama," kata Nariratih kepada Mahesa Amping sambil tersenyum, merasa tersanjung karena Mahesa Amping penuh perhatian kepada putranya, Mahesa Muksa.
Sekilas Mahesa Amping menangkap senyum itu. Dalam diam, ia mengakui betapa cantiknya wajah dan senyum tersebut. Namun, Mahesa Amping segera menepis bayangan itu dengan memperhatikan Putu Risang dan dua sahabat kecilnya yang masih penuh semangat berlatih keseimbangan dan kekuatan diri di atas batu-batu sungai.
"Bukalah matamu, wahai putra tercintaku. Sebentar lagi kamu akan seperti mereka," kata Nariratih mengajak Mahesa Muksa berbicara sambil mengayunkannya dalam bimbingan kedua tangannya.
"Nyi Nariratih, tetaplah di dekatku," bisik Mahesa Amping kepada Nariratih.
"Ada apa?" tanya Nariratih heran kepada Mahesa Amping.
"Aku merasakan ada dua pasang mata di tempat berbeda tengah memperhatikan kita," kata Mahesa Amping perlahan.
Terlihat Nariratih mendekap Mahesa Muksa lebih erat lagi; hanya keselamatan putranyalah yang ia pikirkan.
"Kita belum tahu apa yang mereka inginkan, bersikaplah tenang," kata Mahesa Amping kepada Nariratih agar bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
Nariratih tampaknya begitu percaya kepada Mahesa Amping dan merasakan dirinya berada di tempat yang aman. Maka dalam sekejap saja, Nariratih sudah dapat bersikap tenang kembali.
"Putu Risang, kemarilah," panggil Mahesa Amping kepada Putu Risang yang masih berada di sungai.
Mendengar namanya dipanggil, Putu Risang segera mendekati Mahesa Amping.
"Jagalah kedua adikmu," pesan Mahesa Amping kepada Putu Risang yang sudah datang mendekat.
Setelah berkata kepada Putu Risang, terlihat Mahesa Amping mengambil sebuah kerikil kecil. Dijentikkannya kerikil kecil itu hingga meluncur begitu cepat ke arah semak belukar di seberang sungai.
Belum lagi kerikil kecil itu mengenai sasarannya, dari semak belukar itu melesat sebuah bayangan putih yang meluncur terbang. Mahesa Amping memandang dari ujung kaki sampai ke kepala seorang lelaki yang baru saja keluar dari persembunyiannya. Orang itu berpakaian sebagaimana Pendeta Gunakara.
"Maaf, kukira ada seekor harimau mengendap-endap di balik semak itu," kata Mahesa Amping sambil merangkapkan kedua tangannya kepada lelaki yang sudah berdiri tidak jauh darinya itu. Nampaknya ia seorang pendeta, seperti halnya Pendeta Gunakara.
"Aku tidak menyangka ada orang yang punya ketajaman indra yang tinggi di Bali Dwipa ini," kata orang itu dengan mata tajam bak elang menatap Mahesa Amping.
Nampaknya orang itu menjadi sedikit terkejut ketika pandangan matanya beradu dengan Mahesa Amping. Dirinya seperti terjerumus masuk ke mata air yang luas dan dalam tak bertepi. Ia sadar telah berhadapan dengan orang yang bukan sembarangan. Namun, tetap saja dirinya sangsi manakala melihat sosok Mahesa Amping yang masih muda.
"Sekarang Tuan Pendeta tidak bersembunyi lagi. Adakah kiranya yang dapat kami bantu?" tanya Mahesa Amping dengan sopan.
"Aku tertarik dengan bayi itu. Apakah kamu orang tuanya?" tanya pendeta itu kepada Mahesa Amping.
"Terima kasih telah tertarik dengan bayi kami. Benar, kamilah orang tuanya," jawab Mahesa Amping dengan tenang.
"Aku tidak sekadar tertarik, tapi ada keinginan untuk memilikinya," kata pendeta itu.
"Tidak ada seorang pun orang tua di dunia ini yang akan memberikan anaknya kepada orang lain," balas Mahesa Amping yang masih dapat mengendalikan diri, berbicara dengan teratur dan tenang.
Diam-diam pendeta itu mengagumi ketenangan pemuda di hadapannya.
"Aku akan tetap mengambilnya dengan segala cara," tegas pendeta itu.
"Aku akan tetap mempertahankannya," balas Mahesa Amping yang langsung maju selangkah berhadapan dengan pendeta tersebut.
"Ternyata kamu cukup pemberani, tidak cuma berkata-kata," kata pendeta itu yang cukup kaget dengan sikap Mahesa Amping yang tidak mengenal takut.
"Tahan!" terdengar suara dari sebuah semak yang rimbun. Bersamaan dengan suara itu, seseorang meluncur mendekati Mahesa Amping.
"Maafkan atas sikap saudaraku," kata seorang lelaki berjubah putih yang tidak lain adalah Pendeta Gunakara.
Melihat pakaian yang dikenakan sama dengan Pendeta Gunakara, Mahesa Amping dapat mempercayai ucapan tersebut bahwa orang di hadapannya adalah saudaranya.
"Adik Gesangkara, aku sudah mendengar semua ucapanmu. Apakah biara suci yang menugaskan dirimu kemari?" tanya Pendeta Gunakara kepada orang yang dipanggil Gesangkara itu.
Gesangkara tertawa panjang. "Aku datang atas keinginanku sendiri, untuk melenyapkan titisan Jamyang Dawa Lama itu," katanya sambil menunjuk Mahesa Muksa yang masih didekap erat oleh ibunya, Nariratih.
"Entah makhluk apa gerangan yang telah menutupi cahaya hatimu, wahai Adikku Gesangkara?" tanya Pendeta Gunakara.
Pendeta Gesangkara tertawa panjang lagi. "Jangan munafik. Aku yakin Kakang Gunakara juga menginginkan jabatan Dawa Lama, hanya cara kita saja yang berbeda," tukasnya.
"Adik Gesangkara salah menilaiku. Jamyang Dawa Lama telah menitis kembali dalam diri bayi itu. Peranku hanya mengantarnya kembali ke biara suci hingga saatnya tiba. Itulah peranku, dan aku tidak akan melampaui apa yang ditugaskan kepadaku oleh para wali agung biara suci," kata Pendeta Gunakara dengan wajah merah, merasa tersinggung oleh ucapan tajam tersebut.
"Hati manusia siapa yang tahu. Wajah Kakang memerah sebagai tanda bahwa ucapanku tidak salah. Hanya saja, cara kita yang berbeda," kata Pendeta Gesangkara yang diakhiri dengan tawa panjang.
"Terserah apa pun yang Adik Gesangkara pikirkan tentang diriku. Yang jelas, aku tidak akan melakukan kekerasan dalam melaksanakan perintah suci ini," tegas Pendeta Gunakara yang telah kembali menguasai emosinya.
"Aku akan melenyapkan bayi itu, tapi bukan hari ini," kata Pendeta Gesangkara dibarengi datangnya angin dari segala penjuru.
Tidak lama kemudian, sosok Pendeta Gesangkara sudah melesat hilang dari pandangan mata. Sebuah pertunjukan ilmu meringankan tubuh yang amat tinggi telah disaksikan oleh semua yang ada di tepian sungai Hutan Cemara.
"Mahesa Muksa masih dikelilingi banyak aral ancaman," batin Mahesa Amping sambil menatap wajah bayi mungil dalam dekapan Nariratih.
Perlahan Mahesa Amping mendekati Pendeta Gunakara.
"Ternyata Tuan Pendeta sudah mengetahui rahasia Mahesa Muksa ketika tiba di Padepokan Pemecutan ini," kata Mahesa Amping dengan tatapan penuh wibawa dan tajam ke arah Pendeta Gunakara.
"Maafkan aku, Tuan Senapati. Aku berjalan mengikuti panggraitaku sendiri yang menuntunku hingga ke Padepokan Pemecutan ini. Baru hari ini kudapati kebenaran panggraitaku manakala melihat Mahesa Muksa dibawa oleh Nariratih keluar halaman padepokan. Aku melihat kembali awan lembut yang selama ini kukenal selalu melindungi Jamyang Dawa Lama, guru suci kami yang sangat kuhormati, berada di atas halaman padepokan mengikuti langkah Nariratih. Dan aku terus mengikutinya hingga sampai di tepian sungai Hutan Cemara ini," jelas Pendeta Gunakara dengan suara tenang, meski diam-diam ia mengagumi sorot tajam mata Mahesa Amping yang seolah menyentak dasar jiwanya.