Chapter 31
"Apakah Tuan Pendeta mempunyai keinginan untuk membawa Mahesa Muksa?" tanya Mahesa Amping kepada Pendeta Gunakara.
"Sebagaimana yang kukatakan kepada Saudaraku, aku tidak akan melakukan kekerasan dalam melaksanakan perintah suci ini. Mahesa Muksa, meski menurut keyakinan kami adalah titisan Guru Suci kami, tetaplah bayi yang murni dan polos. Tugasku adalah mengantar dan membimbingnya hingga tumbuh dewasa. Aku tidak akan memaksanya; biarlah takdir yang membawanya ke mana pun. Izinkan diri ini untuk menjaganya. Mudah-mudahan Tuan Senapati dapat memahaminya," kata Pendeta Gunakara sambil meletakkan sebelah tangannya di atas dadanya, penuh permohonan akan kemurahan hati Mahesa Amping.
"Entah mengapa aku mempercayai semua ucapan Tuan Pendeta. Sebuah kehormatan menjaga Mahesa Muksa tumbuh bersama," kata Mahesa Amping kepada Pendeta Gunakara, penuh kepercayaan bahwa orang tua berwajah teduh itu berkata dengan tulus.
"Ancaman Saudaraku bukan cuma sekadar gertakan sambal, aku sangat mengenalnya dengan baik. Mulai hari ini kita harus lebih berhati-hati," kata Pendeta Gunakara mengingatkan Mahesa Amping dan Nariratih.
Terlihat Nariratih semakin mendekap Mahesa Muksa dengan penuh kekhawatiran.
"Mari kita berlatih di sanggar padepokan," kata Mahesa Amping kepada Putu Risang, Jayanagara, dan Adityawarman.
Bersama cahaya sinar matahari pagi yang sudah mulai naik menghangatkan udara di sekitar tepian sungai hutan cemara, mereka pun terlihat berjalan beriringan menuju Padepokan Pamecutan. Suasana ketegangan mungkin masih menguasai alam pikiran masing-masing, mereka berjalan tanpa berbicara apa pun. Akhirnya mereka telah sampai kembali di Padepokan Pamecutan. Nariratih langsung masuk ke dalam rumah bersama Mahesa Muksa.
"Aku akan naik ke pendapa menemani Ki Sandikala," kata Pendeta Gunakara kepada Mahesa Amping sambil langsung menuju Pendapa Pamecutan, di mana sudah ada Ki Sandikala sendirian.
"Terima kasih," kata Mahesa Amping kepada Pendeta Gunakara yang dapat mengerti bahwa langkah Pendeta Gunakara sebenarnya adalah untuk berjaga-jaga dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Sementara itu, di sanggar terbuka terlihat Empu Dangka bersama para cantrik tengah berlatih. Ketika bertemu dengan Empu Dangka, Mahesa Amping bercerita sedikit tentang kejadian kecil di tepian sungai hutan cemara.
"Setiap saat orang itu pasti datang, entah apa dan dengan jalan bagaimana, kita harus berhati-hati," kata Empu Dangka setelah mendengar cerita dari Mahesa Amping.
Dengan penuh semangat mereka berlatih dengan berbagai alat yang ada. Terlihat mereka jatuh bangun di atas bambu titian yang cukup panjang, juga dengan penuh semangat diiringi tawa riang jiwa kanak-kanak mereka yang berlari di atas patok-patok kayu yang sengaja ditanam memanjang untuk melatih ketahanan dan keseimbangan. Demikianlah, Jayanagara dan Adityawarman di bawah asuhan dan bimbingan Mahesa Amping telah dituntun setahap demi setahap mengenal kanuragan, memahami setiap gerak dan kekuatan yang dapat dilontarkannya secara terperinci sesuai dengan batas pemahaman pikiran dan jiwa mereka, tidak lebih. Dan Mahesa Amping adalah seorang guru terbaik yang mereka miliki.
Hari-hari berlalu, ancaman Pendeta Gesangkara yang akan menyatroni Padepokan Pamecutan sepertinya kian lama kian hilang. Kekhawatiran mereka di Padepokan Pamecutan sudah semakin menipis. Pendeta Gesangkara tidak pernah muncul, dan mereka merasa yakin bahwa ancaman itu mungkin sudah tidak ada lagi.
"Bolehkah kami berlatih di tepian sungai hutan cemara?" tanya Adityawarman dengan wajah dan mata yang begitu polos penuh harap kepada ayahandanya, Mahesa Amping.
Mahesa Amping tersenyum menatap mata yang bening dan jernih itu. "Ayah juga rindu melihat suasana di sana," kata Mahesa Amping sambil mengusap lembut kepala anaknya dengan penuh keceriaan hati.
"Panggil Kakang Putu Risang," kata Mahesa Amping kepada Adityawarman.
Maka, sambil melompat-lompat kecil berjingkrak-jingkrak, kedua anak lelaki yang sedang gembira itu berjalan ke belakang mencari Putu Risang. Hari itu matahari sudah mulai naik mengintip di sela-sela pohon mungur yang tumbuh tinggi menjulang di seberang Padepokan Pamecutan. Terlihat dua orang lelaki dewasa dan dua bocah lelaki kecil tengah keluar dari regol pintu halaman Padepokan Pamecutan.
Matahari pagi menyambut hangat kedatangan mereka yang telah sampai di tepian sungai hutan cemara. Tanpa isyarat apa pun mereka sudah langsung turun berlomba berlari secepatnya melompat di antara bongkah-bongkah batu yang ada di sepanjang sungai di hutan cemara itu.
"Temani mereka," kata Mahesa Amping kepada Putu Risang.
Sementara itu, Mahesa Amping mencari sebuah batu besar di tepian sungai. Sinar cahaya pagi yang hangat menyapu wajah Mahesa Amping. Matanya terus mengikuti setiap langkah kaki-kaki kecil yang terus meloncat-loncat dan berlari di antara batu-batu yang bertebaran di sepanjang sungai. Mahesa Amping melihat bayangan masa depan yang penuh kegemilangan di setiap jejak langkah kedua bocah kecil di hadapannya.
"Masa depan Singasari Raya ada di setiap jejak langkah kaki mereka," kata Mahesa Amping dalam hati sambil memandang Adityawarman dan Jayanagara.
Namun tiba-tiba saja firasat Mahesa Amping yang tajam terasa bergetar mengisi seluruh rongga hatinya. "Mahesa Muksa!" Tiba-tiba saja Mahesa Amping teringat ancaman Pendeta Gesangkara. Darah Mahesa Amping seperti berdesir terkesiap tanpa dapat berbuat apa pun. Bukan main terperanjatnya Mahesa Amping, hanya dalam hitungan beberapa kedipan mata, telah berkelebat sebuah bayangan yang meluncur begitu cepatnya mengarah langsung ke Adityawarman yang tengah melompat ke sebuah bongkahan batu besar. Belum sempat kaki itu menjejakkan kakinya, dirinya terasa terbang disambar tangan kuat yang terus meluncur menjauh. Ternyata orang itu tidak lain adalah Pendeta Gesangkara.
"Jangan berbuat apa pun, atau kamu hanya menerima jasad anak ini tanpa nyawa," kata Pendeta Gesangkara mengancam Mahesa Amping.
Amarah Mahesa Amping sudah terasa memuncak di atas ubun-ubunnya, tetapi Mahesa Amping segera berusaha mengendalikannya. "Apa yang kamu inginkan?" kata Mahesa Amping yang telah kembali menguasai diri. Namun matanya yang tajam tidak pernah bergeming sedikit pun menatap sosok tubuh yang tengah dikempit tidak berdaya di tangan Pendeta Gesangkara.
"Aku hanya menginginkan Mahesa Muksa," kata Pendeta Gesangkara dari seberang sungai.
Sementara itu, Putu Risang yang masih berada di tengah sungai, berdiri di sebuah batu besar, tidak berani bertindak apa pun. Dirinya memasrahkan segalanya kepada Mahesa Amping, di samping juga takut jika tindakannya akan membahayakan keadaan Adityawarman. Yang dilakukannya saat itu adalah memegang tangan Jayanagara untuk sekadar melindunginya dari hal-hal yang mungkin saja dapat terjadi.
"Anak itu tidak ada kaitannya dengan Mahesa Muksa," kata Mahesa Amping sambil berusaha mengulur waktu dan mencoba mencari akal untuk dapat menyelamatkan putranya di tangan Pendeta Gesangkara.
"Aku tahu apa yang tengah kamu pikirkan, Tuan Senapati, anak ini berharga sebagai barang pertukaran," kata Pendeta Gesangkara sambil tertawa.
Bukan main kagetnya Mahesa Amping bahwa orang yang ada di seberang sungai itu telah menguasai ajian Ilmu Danaraya, sebuah ilmu yang dapat membaca pikiran orang lain. "Aku harus berhati-hati menghadapi orang yang telah menguasai ajian Ilmu Danaraya," kata Mahesa Amping kepada dirinya sendiri.
Terdengar Pendeta Gesangkara tertawa. "Ternyata kamu telah mengetahui ajian Ilmu Danaraya," kata Pendeta Gesangkara di ujung tawanya.
Terlihat Mahesa Amping menarik napas panjang, pikirannya kembali terbaca oleh Pendeta Gesangkara. "Bila anak itu celaka di tanganmu, aku akan mengejarmu sampai ke ujung dunia," kata Mahesa Amping.
"Ternyata pilihanku sangat tepat, Tuan Senapati begitu sangat mencintai anak ini," kata Pendeta Gesangkara sambil berderai tawa yang panjang.
"Pekan depan, purnama di atas Bukit Aking. Pastikan bahwa kamu datang seorang diri membawa Mahesa Muksa. Kita akan melakukan pertukaran di sana," kata Pendeta Gesangkara sambil tertawa panjang bergema yang kemudian menghilang terbang dengan kecepatan yang sukar sekali ditangkap oleh mata biasa.
Mahesa Amping berdiri tegap tercenung kaku, dirinya tidak berani gegabah bertindak bodoh karena Adityawarman telah berada dalam kekuasaan Pendeta Gesangkara yang kelihatannya tidak bisa dianggap enteng. Seorang yang sudah berada di tataran yang sangat tinggi, namun sudah gila kekuasaan.
"Menyerahkan Mahesa Muksa untuk mengambil Adityawarman?" kata Mahesa Amping dalam hati, tengah membuat beberapa pertimbangan.
"Aku tidak akan menyerahkan siapa pun!" kata Mahesa Amping sambil menggeram, terdengar suara gemeretak giginya saking menahan geram yang amat sangat.