Chapter 32
"Menyerahkan Mahesa Muksa?", tanya Nariratih dengan suara gamang ketika Mahesa Amping bercerita tentang kejadian di tepian sungai hutan Cemara.
"Aku tidak akan menyerahkan siapa pun, tidak Mahesa Muksa, juga tidak Adityawarman", jawab Mahesa Amping dengan tegas.
"Kita bisa datang bersama ke Bukit Aking tanpa menunggu purnama, kita habisi orang gila itu", ucap Arga Lanang dengan penuh amarah setelah mendengar kejadian yang menimpa Adityawarman di tepian sungai hutan Cemara.
"Akulah yang membawa anak itu ke Balidwipa ini. Putri Dara Jingga dan Raja Melayu telah mempercayakan keselamatannya melebihi nyawa dan kehormatanku", kata Arga Lanang dengan sisa kemarahan yang membara.
"Aku tahu betul siapa Gesangkara, dia saudara seperguruanku. Dia tidak pernah main-main dengan ancaman. Kita harus memikirkan keselamatan Adityawarman", ujar Pendeta Gunakara mencoba menenangkan suasana yang mulai memanas, terutama sikap Nariratih dan Arga Lanang.
"Benar, kita harus berpikir jernih. Sementara itu, tidak ada kewajiban apa pun untuk mengikuti perintah Pendeta Gesangkara", tambah Empu Dangka dengan suara teduh.
"Apakah Empu Dangka dapat menjelaskan maksudnya tidak mengikuti perintah Pendeta Gesangkara? Aku belum mengerti", tanya Mahesa Amping kepada Empu Dangka.
"Mari kita duduk bersama", ajak Empu Dangka, mengajak semua untuk berkumpul di pendapa Padepokan Pemecutan.
"Mungkin dengan duduk di sini, hati dan pikiran kita akan lebih jernih", lanjut Empu Dangka sambil tersenyum dan duduk di sudut pendapa.
Mahesa Amping, Pendeta Gunakara, Ki Sandikala, Arga Lanang, dan Nariratih ikut duduk di pendapa. Hari sudah mulai sore, cahaya matahari bergeser tertutup wuwungan rumah utama padepokan. Suasana di pendapa menjadi sejuk dan tenang. Semilir angin membawa wangi daun dan tanah basah dari hutan Cemara di timur padepokan.
"Ternyata Empu Dangka benar, amarahku sepertinya mereda, hati dan pikiranku menjadi lebih jernih. Sayangnya, aku paling tidak suka duduk terlalu lama", kata Arga Lanang sambil bergeser merapat, memberi tempat kepada Ki Sandikala, orang terakhir yang bergabung duduk di pendapa.
Menunggu Empu Dangka menyampaikan pikirannya terasa cukup lama. Semua mata tertuju padanya. Empu Dangka memandang sekeliling, tersenyum kecil.
"Mudah-mudahan, pendapat dan caraku ini dapat diterima. Ini bukan berarti menutup kemungkinan tindakan atau cara lain yang sejalan dengan apa yang ingin kita laksanakan sebagai jalan keluar dari permasalahan ini", kata Empu Dangka mengawali penjelasannya.
"Perlu diketahui, orang yang kita hadapi menguasai Ajian Ilmu Daranaraya", masukan Mahesa Amping dibenarkan oleh Pendeta Gunakara.
"Artinya, semua yang ada di sini dapat dilibatkan, kecuali Arga Lanang", kata Empu Dangka sambil tersenyum menatap Arga Lanang.
"Kenapa aku?", tanya Arga Lanang heran.
"Karena kita akan bersandiwara", jawab Empu Dangka.
"Hanya sekadar bersandiwara, aku bisa melakukannya", kata Arga Lanang, rasa penasarannya terusik.
"Apakah kamu mampu mengunci jalan pikiranmu agar tidak terbaca oleh lawan yang menguasai Ajian Ilmu Daranaraya?", tanya Empu Dangka kepada Arga Lanang.
Arga Lanang hanya menggelengkan kepala.
"Kamu masih dapat bertugas di sini, menjaga para cantrik sementara kami keluar ke Bukit Aking, bukan begitu Empu Dangka?", ujar Ki Sandikala mencoba menghibur Arga Lanang.
"Padepokan ini memang tidak boleh kosong", timpal Mahesa Amping.
Mendengar itu, Arga Lanang sepertinya menerima tugasnya dengan sepenuh hati. Menjaga padepokan dianggapnya sama pentingnya.
Melihat Arga Lanang telah menerima tugasnya, Empu Dangka perlahan menyampaikan rencana mereka.
"Nyi Nariratih sangat berperan. Keberhasilan siasat ini ada di tangannya", kata Empu Dangka memulai penjelasannya.
"Perlu diketahui bahwa kelemahan Ajian Ilmu Daranaraya adalah tidak mampu membaca jalan pikiran seorang wanita", lanjut Empu Dangka.
"Mengapa bisa begitu?", tanya Arga Lanang, tertarik dengan ajian yang baru didengarnya itu.
"Karena wanita sering berkata dengan perasaannya, bukan dengan pikirannya", jawab Ki Sandikala, yang sedikit banyak pernah mendengar tentang ajian tersebut.
"Ternyata Ki Sandikala ahli mengenal wanita", ujar Pendeta Gunakara menanggapi ucapan Ki Sandikala.
"Karena aku pernah punya istri seorang wanita", kata Ki Sandikala sambil mengusap-usap janggutnya yang mulai memutih.
Semua yang hadir tersenyum mendengar ucapan Ki Sandikala. Suasana menjadi tidak tegang lagi.
"Aku pernah ke Bukit Aking, sangat mengenalnya seperti masuk rumahku sendiri", Empu Dangka kembali melanjutkan penjelasannya.
"Di sana ada sebuah goa yang cukup baik untuk berlindung. Aku yakin Pendeta Gesangkara bersembunyi di situ", lanjut Empu Dangka.
"Apa yang harus kita lakukan?", sela Ki Sandikala, tidak sabar mendengar siasat Empu Dangka.
"Mungkin Pendeta Gunakara sudah dapat membaca arah pikiranku. Aku yakin saudara tua dari Pendeta Gesangkara pasti lebih mumpuni dari saudaranya", kata Empu Dangka sambil tersenyum melirik Pendeta Gunakara.
"Siasat Empu Dangka adalah memancing harimau keluar dari sarangnya, meninggalkan sanderanya. Saat itulah kita bergerak menutup goa dan mengepung harimau yang sudah terjebak. Mudah-mudahan penangkapanku tidak banyak meleset", jelas Pendeta Gunakara, menerjemahkan maksud Empu Dangka.
"Tidak meleset sedikit pun", kata Empu Dangka tersenyum pada Pendeta Gunakara.
"Boleh aku mencoba membaca sedikit pikiran Empu Dangka?", tanya Ki Sandikala sambil tersenyum.
Semua mata memandang Ki Sandikala. Dengan perlahan dan terperinci, ia menjabarkan pikiran Empu Dangka yang berhasil diserapnya.
"Bagaimana Empu Dangka? Mudah-mudahan penangkapanku tidak meleset jauh", kata Ki Sandikala.
"Luar biasa, sangat rinci dan tepat sekali", puji Empu Dangka, diam-diam mengagumi ketajaman batin Ki Sandikala.
"Semua berkat karunia mengenal Yang Maha Pencipta yang tak terbatas kekuasaannya", ucap Ki Sandikala penuh suka cita.
"Mulai hari ini, aku harus berhati-hati pada Ki Sandikala", kata Arga Lanang sambil mengangguk-angguk.
"Pikiran lelaki muda akan sangat terbuka dan mudah dibaca", ujar Ki Sandikala sambil melirik Arga Lanang yang duduk di sebelahnya.
"Apa yang pernah Ki Sandikala baca dari pikiranku?", tanya Arga Lanang kepada Ki Sandikala.
Ki Sandikala menarik napas panjang, tersenyum menatap Arga Lanang yang menunggu sabar.
"Aku tidak enak hati pernah membaca pikiranmu, terlebih lagi karena ada Nyi Nariratih di sini", kata Ki Sandikala sambil memandang Nariratih, yang diam-diam memahami maksud perkataannya.
"Terima kasih, tidak perlu dilanjutkan", kata Arga Lanang dengan wajah memerah, mengusap-usap paha Ki Sandikala penuh permohonan.
Sebuah siasat yang sangat berbahaya. Senja telah perlahan turun menyelimuti langit Padepokan Pamecutan. Semilir angin membawa kesegaran menembus dinding kayu pendapa. Hutan Cemara di timur dan hamparan sawah berundak di seberang padepokan tampak jernih sejauh mata memandang. Perlahan senja bersembunyi di balik kegelapan malam.
Di keremangan malam itu, lima sosok bayangan berjalan menyusuri jalan setapak menuju arah Bukit Aking yang tidak jauh dari padepokan. Ternyata mereka adalah lima orang dari Padepokan Pamecutan yang baru saja meninggalkan gerbang. Seorang wanita terlihat menggendong bayi.
"Menjelang tengah malam, kita akan sampai di Bukit Aking", kata Empu Dangka yang berjalan di depan.
Kelima orang itu mengikuti jalan tanah di antara lebatnya hutan malam. Hari sudah gelap dan sunyi. Mereka berjalan tanpa henti, sesekali melompat menghindari batu besar. Akhirnya, mereka tiba di kaki Bukit Aking. Sebuah bukit kecil yang dikelilingi hutan lebat, jarang dikunjungi kecuali ada keperluan mendesak. Konon, hutan Bukit Aking adalah sarang serigala dan hantu yang memakan manusia.