Halo!

Kabut Di Bumi Singosari - Chapter 33

Memuat...
Kabut Di Bumi Singosari

Chapter 33

Namun, kelima orang yang tengah memasuki hutan Bukit 224 Aking ini tampaknya tidak takut apa pun. Mereka masih terus melangkah semakin dalam dan mendaki di atas tanah hutan basah menyusuri sungai kecil berbatu; hanya jalan itu yang paling mudah untuk dilalui.

"Jalan menuju goa sekitar seratus langkah lagi ke arah kiri jalan kita," kata Empu Dangka yang berhenti melangkah.

"Aku bersama Nyi Nariratih berjalan lurus mendekati goa, kalian harus melambung agar tidak terlihat dan terbaca," kata kembali Empu Dangka, kali ini ditujukan kepada Mahesa Amping, Pendeta Gunakara, dan Ki Sandikala.

Terlihat Nyi Nariratih berjalan ke arah kiri jalan dan terus berjalan lurus, sementara itu Mahesa Amping, Ki Sandikala, dan Pendeta Gunakara berjalan agak memutar berharap dapat menemukan goa dari sisi samping.

Terlihat Nyi Nariratih dan Empu Dangka telah berada sekitar lima belas langkah dari arah goa.

Tiba-tiba saja Empu Dangka memegang tangan Nyi Nariratih dengan sangat keras.

"Perbuatan Nyi Nariratih dapat merusak rencana Mahesa Amping!" kata Empu Dangka dengan suara yang keras, hampir dapat dikatakan setengah membentak.

"Lepaskan tanganmu, hanya ini yang aku lakukan sebagai baktiku kepada Tuan Senapati," kata Nyi Nariratih dengan tidak kalah kerasnya.

"Tapi tindakanmu dapat membahayakan Mahesa Muksa," kata Empu Dangka dengan suara yang masih lantang.

"Nyawa diriku dan anakku ini tidak berarti dibandingkan Adityawarman putra Tuan Senapati, hanya inilah yang dapat kupersembahkan sebagai cinta dan penghambaan kepada tuanku Senapati," kata kembali Nyi Nariratih sambil melepaskan diri dari cengkeraman tangan Empu Dangka yang merenggutnya.

Ternyata suara mereka berhasil mengusik orang yang ada di dalam goa.

Terlihat seorang berjubah putih keluar dari dalam goa mendekati mereka.

Ternyata orang yang baru keluar dari goa itu dikenal oleh Nyi Nariratih yang tidak lain adalah Pendeta Gesangkara.

"Ternyata aku tidak harus menunggu purnama, serahkan segera bayimu itu," kata Pendeta Gesangkara di muka goa dengan diiringi suara tawanya yang sangat menyeramkan di hutan malam yang sunyi dan senyap.

"Jangan kamu serahkan Mahesa Muksa, biarkan Mahesa Amping yang akan menyelesaikan semua ini," kata Empu Dangka sambil memegang tangan Nariratih sepertinya tengah menahan agar Nariratih tidak menyerahkan Mahesa Muksa kepada Pendeta Gesangkara.

Ternyata perkataan Empu Dangka membuat Pendeta Gesangkara menjadi tidak sabar, terlihat dirinya maju beberapa langkah mendekati Nariratih.

"Orang tua, jangan ikut campur, atau kepalamu kuhancurkan," kata Pendeta Gesangkara mengancam Empu Dangka.

Terlihat Empu Dangka melepas pegangannya pada bahu Nariratih, melangkah membelakangi Nariratih dan berhadapan dengan Pendeta Gesangkara.

Pada saat yang sama, Mahesa Amping bersama Pendeta Gunakara dan Ki Sandikala telah melompat serentak menutup pintu goa.

Bukan main kagetnya Pendeta Gesangkara melihat apa yang terjadi.

"Kalian sengaja membuat perangkap ini?" kata Pendeta Gesangkara dengan wajah yang kurang senang.

Kilat matanya terlihat sekilas sebagai tanda kemarahannya yang memuncak.

"Apakah dirimu merasa terperangkap?" bertanya Mahesa Amping kepada Pendeta Gesangkara.

"Ternyata aku berhadapan dengan orang yang tidak bisa dipegang janjinya," kata Pendeta Gesangkara dengan suara yang sangat gusar penuh kemarahan.

"Aku masih memegang janji, akan datang di purnama pekan depan," kata Mahesa Amping dengan tenang dan penuh senyum.

"Tidak perlu lagi, hari ini saja kita selesaikan urusan kita dengan sebuah pertempuran yang adil. Siapa yang keluar sebagai pemenang, dialah yang berhak atas bayi itu," kata Pendeta Gesangkara menantang Mahesa Amping.

"Aku menerima tantanganmu itu," kata Mahesa Amping tanpa merasa takut sedikit pun.

Sementara itu Ki Sandikala sudah masuk ke dalam goa.

Diam-diam telah memusatkan diri lahir dan batin untuk menghadapi Pendeta Gesangkara yang diyakininya bukan orang kebanyakan, seorang yang sangat mumpuni.

Mahesa Amping maju dua langkah, sementara Pendeta Gesangkara juga ikut maju dua langkah.

Bukan main kagetnya Pendeta Gesangkara ketika matanya bertabrakan dengan sorot mata Mahesa Amping yang begitu tajam.

Mata Pendeta Gesangkara seperti terbentur perisai cermin yang kokoh menarik sedalam-dalamnya jiwa dan semangatnya.

"Keluarkan senjatamu!" kata Pendeta Gesangkara membentak melontarkan perasaan gundah dan resahnya ketika membenturkan pandangan matanya di hadapan Mahesa Amping.

Terlihat Mahesa Amping telah mengurai cambuknya perlahan.

"Mari kita mulai," kata Mahesa Amping dengan suara perlahan dan penuh percaya diri yang tinggi.

Tangan kirinya terlihat tengah memegang ujung cambuknya dengan posisi tubuh begitu santainya seperti tidak akan bersiap melakukan sebuah pertempuran.

Melihat sikap Mahesa Amping telah membakar perasaan Pendeta Gesangkara. Sikap Mahesa Amping sepertinya sebuah pelecehan, sikap Mahesa Amping ditangkap Pendeta Gesangkara sebagai sikap yang meremehkan dirinya.

"Kamu terlalu jumawa, Tuan Senapati," kata Pendeta Gesangkara sambil melesat meluncur dan menerjang Mahesa Amping dengan tongkat panjangnya.

Mahesa Amping melihat serangan awal itu cukup dahsyat dan cepat, dengan hati-hati Mahesa Amping segera bergeser ke samping dan bermaksud akan balik menyerang lawannya.

Bukan main kagetnya Mahesa Amping, sepertinya lawannya telah membaca apa yang akan dilakukannya. Baru saja tubuhnya bergeser ke samping, tongkat Pendeta Gesangkara seperti bermata langsung berbelok arah mengejar tubuh Mahesa Amping.

Melihat serangan susulan itu, Mahesa Amping tidak jadi balik menyerang, dengan terpaksa mundur dua langkah menghindari pukulan tongkat Pendeta Gesangkara.

Sadarlah Mahesa Amping bahwa Pendeta Gesangkara telah membaca pikirannya lewat ajian ilmu Daranaraya yang sudah begitu tinggi, yang mampu dengan cepatnya membaca arah dan jalan pikiran lawannya.

Tapi Mahesa Amping bukan anak kemarin sore yang baru belajar, di dalam diri Mahesa Amping telah sarat dengan berbagai kekuatan ilmu yang sangat tinggi.

Namun, Mahesa Amping tidak langsung menunjukkan kemampuan yang sebenarnya.

Dibiarkannya lawan menjadi gembira telah berhasil membaca arah jalan pikirannya.

Untuk kedua kalinya tongkat Pendeta Gesangkara berubah arah serangan dengan begitu cepatnya, mencoba menyerang ke arah langkah yang mematikan.

Tapi bukan Mahesa Amping kalau tidak bisa menghindar, dengan kecepatan yang luar biasa Mahesa Amping melenting ke udara sambil melecutkan cambuknya ke arah Pendeta Gesangkara.

Bukan main terkejutnya Pendeta Gesangkara menghadapi cara Mahesa Amping menghindar.

Diam-diam Pendeta Gesangkara mengagumi kecepatan Mahesa Amping bergerak, maka Pendeta Gesangkara terpaksa melompat mundur.

Melihat Pendeta Gesangkara mundur selangkah, Mahesa Amping langsung memburunya dengan serangan susulan yang juga tidak kalah berbahaya dan cepatnya. Ujung cambuk Mahesa Amping seperti mematuk ke arah dada Mahesa Amping.

Pendeta Gesangkara ternyata sudah membaca ke mana arah cambuk Mahesa Amping, baru saja cambuk itu bergerak ke arah dadanya, Pendeta Gesangkara sudah melesat maju menyamping dengan menyodokkan tongkatnya ke arah kepala Mahesa Amping.

Demikianlah awal pertempuran antara Mahesa Amping dan Pendeta Gesangkara telah terjadi begitu seru dan menegangkan.

Pendeta Gunakara yang mengetahui sejauh mana ilmu saudaranya Pendeta Gesangkara diam-diam mengagumi Mahesa Amping yang ternyata mampu melayani ilmu saudaranya itu.

Sementara itu Empu Dangka dan Nariratih tidak pernah sedikit pun memalingkan matanya ke arah pertempuran itu.

"Tuan Senapati ketemu tanding," kata Nariratih yang juga tahu tentang kanuragan bahkan dapat dikatakan sebagai murid utama yang terbaik di Padepokan Teratai Putih.

"Mahesa Amping baru menerapkan sepertiga kekuatan yang sebenarnya," kata Empu Dangka berusaha menenangkan hati dan perasaan Nariratih yang sangat tegang, penuh harap agar Mahesa Amping dapat keluar sebagai pemenang pertempuran itu.

"Kamu aman bersamaku, kita berdoa untuk ayahmu," kata Ki Sandikala sambil memegang tangan Adityawarman yang sudah terbangun dan terkejut mendapatkan dirinya berada bersama Ki Sandikala.

Juga telah melihat langsung pertempuran antara Pendeta Gesangkara dan ayahnya Mahesa Amping.

"Tongkatku akan menghancurkan kepalamu," kata Pendeta Gesangkara sambil melayangkan tongkatnya setengah lingkaran ke arah batok kepala Mahesa Amping.

Mahesa Amping segera merunduk sedikit membiarkan tongkat kayu itu berdesing di atas kepalanya. Bukan main kagetnya Pendeta Gesangkara ketika cambuk Mahesa Amping dengan kecepatan yang luar biasa secepat pikiran Pendeta Gesangkara yang baru saja menangkap arah pikiran Mahesa Amping lewat ajian ilmu Daranarayanya.

"Aku akan membiarkan pikiranku dibacanya, suatu waktu aku akan menjebaknya," kata Mahesa Amping sambil mengelak kembali serangan Pendeta Gesangkara yang kali ini menyerang ke arah pundaknya.

"Berkhayallah kau untuk dapat menjebakku," kata Pendeta Gesangkara yang dapat membaca pikiran Mahesa Amping.

Mahesa Amping tidak menjawab, hanya memutar cambuknya menyambar dada lawan, namun dengan gesitnya Pendeta Gesangkara berkelit dan balas menyerang dengan tongkatnya menyelinap di antara desir cambuk Mahesa Amping yang masih berputar.

Demikianlah, pertempuran sudah semakin meningkat tataran demi tataran, semakin cepat menderu dengan kekuatan cadangan yang begitu dahsyat.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment