Chapter 34
Batang pohon, batu, dan tanah terlihat berhamburan porak-poranda terhantam sasaran cambuk dan tongkat kayu mereka. Pukulan-pukulan tongkat kayu Pendeta Gesangkara selalu beriring dengan hawa dingin yang begitu menyentak.
Untungnya, Mahesa Amping telah melambari dirinya dengan penangkal kekuatan terbalik, sebuah hawa panas yang kadang melampaui sentakan hawa dingin membeku yang datang bersama serangan tongkat Pendeta Gesangkara. Hanya kecepatan yang diandalkan oleh Mahesa Amping untuk menangkal ajian ilmu Daranaraya yang kadang secara tidak terduga sudah menutup rencana yang dipikirkan oleh Mahesa Amping.
Untuk sementara itu, Mahesa Amping membiarkan arah jalan pikirannya selalu dapat dibaca oleh Pendeta Gesangkara.
"Saatnya!" kata Mahesa Amping yang telah menggandakan arah jalan pikirannya menjadi dua arah pikiran yang bercabang.
Arah pikiran Mahesa Amping dibuat menjadi dua arah yang terbalik. Arah pikiran pertama adalah melecutkan cambuknya ke arah sisi kanan rusuk Pendeta Gesangkara. Sementara itu, arah pikiran kedua adalah kebalikannya, yaitu menyerang sisi kiri rusuk Pendeta Gesangkara.
Bukan main terkejutnya Pendeta Gesangkara ketika membaca arah pikiran Mahesa Amping. Ia langsung mengarahkan tongkatnya untuk melindungi sisi rusuk sebelah kanannya. Namun, langkahnya seperti mati langkah ketika cambuk Mahesa Amping tidak sesuai dengan apa yang dibacanya; serangan itu justru menyambar sisi rusuk kirinya dengan cepat.
"Gila!" teriak Pendeta Gesangkara sambil melompat ke belakang dan jatuh berguling. Hanya itu yang dapat dilakukannya untuk menghindari rusuk kirinya dari hantaman cambuk Mahesa Amping yang sudah diketahui sangat dahsyat dan dapat meleburkan batu cadas yang keras.
Mahesa Amping tidak mengejar Pendeta Gesangkara yang menggelinding di tanah. Terlihat Mahesa Amping berdiri kokoh sambil memegang cambuk dengan ujung jurainya masih berada dalam genggaman tangan kirinya.
"Baru hari ini kudapatkan ada orang yang dapat berpikir secara terbalik," kata Pendeta Gesangkara yang sudah berdiri kembali, siap melakukan serangan.
"Aku bukan saja dapat membalikkan arah pikiranku, tapi aku dapat memperbanyaknya sesuai yang kuinginkan," kata Mahesa Amping dengan suara yang seperti guntur memekakkan telinga.
Bukan main kaget dan terkejutnya Pendeta Gesangkara, seakan tidak memercayai apa yang dilihatnya. Mata Pendeta Gesangkara terbelalak melihat di hadapannya kini berdiri lima wujud Mahesa Amping.
"Hanya Jamyang Dawa Lama yang menguasai jenis ilmu ini," bisik Pendeta Gunakara kepada Ki Sandikala di dekatnya.
"Ajian ilmu Kawah Ari-ari," kata Empu Dangka kepada Nariratih.
"Empat di antaranya pasti cuma bayangan-bayangan semu," kata Pendeta Gesangkara dalam hati dengan perasaan yang berdebar-debar.
"Semuanya asli, Tuan Pendeta," kata salah seorang dari wujud Mahesa Amping dengan penuh senyum, seolah dapat membaca pikiran Pendeta Gesangkara.
"Jangan kira aku akan melarikan diri!" seru Pendeta Gesangkara sambil menyerang salah seorang dari wujud Mahesa Amping.
Betapa kagetnya Pendeta Gesangkara ketika serangan tongkatnya dapat dihindari oleh salah satu wujud Mahesa Amping yang langsung membalas dengan sambaran cambuk. Pendeta Gesangkara merasakan hawa panas yang berdesir bersama angin sambaran cambuk itu. Ketika ia mencoba menyerang wujud Mahesa Amping yang lainnya, perlakuan yang sama kembali dirasakannya.
Pendeta Gesangkara mulai merasa kecut manakala kelima wujud Mahesa Amping telah bergerak mengepungnya.
"Menyerahlah sebelum salah satu cambuk kami melukai Tuan Pendeta," kata salah satu wujud Mahesa Amping, memberi kesempatan kepada Pendeta Gesangkara untuk menyerah.
Ternyata Pendeta Gesangkara tidak mau menyerah; ia masih percaya pada kekuatan ilmunya sendiri. Maka sambil menggeram untuk menghentakkan rasa kecutnya, ia segera melompat menyerang salah seorang wujud Mahesa Amping. Kali ini, bukan hanya satu, melainkan kelima wujud Mahesa Amping bergerak bersamaan meluruk menyerang Pendeta Gesangkara.
Bukan main sibuknya Pendeta Gesangkara yang harus melenting ke sana kemari, menjadi bulan-bulanan serangan Mahesa Amping dalam lima wujudnya. Dapat dibayangkan betapa repotnya Pendeta Gesangkara, karena menghadapi satu Mahesa Amping saja sudah sangat berat, apalagi lima wujud dengan kekuatan dan kecepatan yang sama-sama menggetarkan hati.
Hingga akhirnya, sebuah cambuk dari salah seorang wujud Mahesa Amping berhasil menembus pertahanan dan mematuk paha kanan Pendeta Gesangkara.
"Mengapa tidak ada sedikit pun di pikiranmu untuk menyerah?" tanya Mahesa Amping yang sudah melepaskan wujud rangkapnya kepada Pendeta Gesangkara. Sang Pendeta kini sudah tidak berdaya, merasakan sebelah kakinya lumpuh.
"Angkat cambukmu, bunuhlah aku," tantang Pendeta Gesangkara kepada Mahesa Amping.
"Aku tidak akan membunuh lawanku yang sudah tidak berdaya," jawab Mahesa Amping.
"Menyerahlah, wahai Saudaraku. Lupakanlah semua harapan dan keinginan semumu. Kelak ketika aku kembali ke negeri Tibet, apa pun yang terjadi hari ini tidak akan kuceritakan kepada siapa pun," kata Pendeta Gunakara yang telah datang mendekat.
"Lupakanlah keinginanmu untuk memiliki Mahesa Muksa, dan aku akan melupakan permusuhan ini," tambah Mahesa Amping dengan suara penuh wibawa.
Akhirnya Pendeta Gesangkara menyadari keadaan dirinya. Diam-diam ia merasa bersyukur masih diberikan ampunan. Terutama ucapan Pendeta Gunakara yang berjanji tidak akan menceritakan perbuatannya demi kepentingan mengambil tongkat kepemimpinan dengan cara membunuh titisan guru suci mereka.
"Tinggalkan aku di sini, aku dapat merawat diriku sendiri," kata Pendeta Gesangkara sambil memungut tongkat kayunya yang tergeletak tidak jauh darinya.
Sementara itu, malam telah berada di ujung pagi. Di atas langit, bintang kejora memancar terang menyambut datangnya sang raja kehidupan yang telah terbangun di ujung timur bumi, diiringi semburat merah yang menghiasi lengkung langit pagi.
"Apakah Pendeta Gesangkara akan berubah pikiran?" tanya Ki Sandikala kepada Pendeta Gunakara ketika mereka mulai menuruni Bukit Aking bersama Mahesa Amping, Empu Dangka, dan Nariratih.
"Kurasa Pendeta Gesangkara tidak akan mengulang kesalahannya," jawab Pendeta Gunakara perlahan.
"Mengapa Tuan Pendeta begitu yakin?" tanya Ki Sandikala kembali.
"Dirinya telah mencoba dan melihat sendiri bahwa Mahesa Muksa berada di tangan yang kuat, di bawah lindungan sebuah gunung batu cadas yang sangat kokoh. Entah apakah masih ada kekuatan lain di muka bumi ini yang dapat membenturnya," jelas Pendeta Gunakara kepada Ki Sandikala yang berjalan jauh di belakang rombongan Mahesa Amping.
"Itukah juga yang mengendurkan niat Tuan Pendeta untuk merebut Mahesa Muksa dari tangan Mahesa Amping?" tanya Ki Sandikala, seolah menyelidik dan ingin mengetahui langsung sikap Pendeta Gunakara.
Sebenarnya pertanyaan itu sangat mengejutkan bagi Pendeta Gunakara, terasa menusuk langsung. Namun, ia tetap tersenyum memandang Ki Sandikala dengan wajah yang tenang dan sejuk.
"Aku berjalan di atas takdir-NYA. Tugasku hanya melayani sepanjang masa penjelmaan Guru Suci kami hingga sampai di ujung takdir itu sendiri," jawab Pendeta Gunakara.
"Maaf, aku hanya ingin meyakinkan perasaanku," kata Ki Sandikala sambil menepuk pundak Pendeta Gunakara.
Akhirnya, ketika matahari sudah mulai berdiri di puncaknya, rombongan Mahesa Amping terlihat memasuki regol pintu gerbang padepokan. Para cantrik menyambut kedatangan mereka dengan perasaan sukacita.
"Syukurlah, akhirnya kamu kembali dengan selamat," kata Arga Lanang sambil mengusap kepala Adityawarman dengan gembira.
Demikianlah, kegembiraan itu berlanjut hingga malam hari yang berlalu bersama upacara keselamatan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Gusti Yang Maha Agung. Hari-hari pun berlalu di Padepokan Pamecutan dengan penuh kedamaian. Mahesa Muksa semakin tumbuh dalam asuhan kasih ibundanya, Nariratih.
Sementara itu, nuansa kekayaan ragam ilmu di Padepokan Pamecutan menjadi semakin marak karena Pendeta Gunakara dan Ki Sandikala kadang ikut memberi warna, menjadikan para cantrik lebih pesat dan kaya dalam memahami kanuragan yang sebenarnya. Tataran tingkat kemampuan para cantrik saat itu sudah mulai mengenal cara menghentakkan kekuatan cadangan yang ada di dalam diri masing-masing.
Di antara para cantrik, Putu Risang ternyata yang paling pesat kemajuannya. Pemuda ini terbukti memiliki bakat yang hebat.
Suatu hari, sebagaimana biasa di awal pagi di Padepokan Pamecutan, beberapa cantrik sudah melakukan tugas masing-masing, mulai dari mengisi gentong, menyapu halaman, hingga menyiapkan sarapan pagi. Terlihat seorang lelaki tengah memasuki regol pintu halaman muka.
"Selamat pagi semuanya," sapa lelaki itu dengan penuh senyum kepada semua yang hadir di pendapa Padepokan Pamecutan.
"Selamat datang, Ki Bancak," kata Mahesa Amping menyambut kedatangan lelaki itu. Ki Bancak adalah prajurit kepercayaan Mahesa Amping yang bertugas sebagai penghubung jalur perintah Senapati kepada para prajurit yang tersebar di penjuru Balidwipa.
Bersamaan dengan kedatangan Ki Bancak, terlihat pintu utama terbuka lebar.