Halo!

Kabut Di Bumi Singosari - Chapter 35

Memuat...
Kabut Di Bumi Singosari

Chapter 35

Dan dari dalam muncul Nariratih tengah membawa baki kayu berisi beberapa potong jagung rebus hangat.

Setelah menyapa dan menyampaikan keselamatan masing-masing, seperti biasa Ki Bancak bercerita tentang berbagai hal, terutama tentang kehidupan orang-orang Balidwipa di bawah kendali Demung Sasana Bungalan yang penuh arif dan bijaksana menaungi semua jiwa para kawula.

Namun ternyata berita yang disampaikan oleh Ki Bancak bukan hanya berkisar pada kehidupan di Balidwipa, tetapi juga perkembangan bumi Singasari Raya lewat jalur sandi prajurit Jawadwipa yang terus melakukan hubungan.

"Berdasarkan berita terakhir yang kami dapatkan, telah terjadi pertempuran yang dahsyat antara dua jung besar di Selat Malaka. Mereka adalah para pelaut Singasari dan orang-orang dari Mongol," kata Ki Bancak bercerita tentang berita perang besar di Selat Malaka.

"Aku tahu betul hati dan jiwa para pelaut Singasari, mereka cinta damai dan selalu membawa kedamaian," kata Mahesa Amping merasa heran dengan apa yang terjadi di Selat Malaka, di mana Mahesa Amping juga bercerita bahwa dirinya pernah hidup bersama para pelaut Singasari menjelajahi setiap bandar besar di hampir pelosok nagari dengan penuh damai.

"Mungkin ada yang sengaja menyulut api peperangan itu untuk kepentingannya," kata Empu Dangka memberikan pandangannya.

"Empu Dangka benar, yang kutahu bahwa para pelaut dari dataran Cina adalah orang-orang yang penuh rasa persahabatan," kata pula Pendeta Gunakara ikut memberikan pandangannya.

"Apakah sudah kamu dapatkan berita terakhir tentang sikap istana menanggapi kejadian di Selat Malaka?" tanya Mahesa Amping kepada Ki Bancak.

"Untuk hal ini, kami akan berusaha mencari hubungan secepatnya kepada para telik sandi yang bertugas di jalur langsung Istana Kotaraja Singasari," kata Ki Bancak kepada Mahesa Amping.

Akhirnya setelah merasa cukup dan tidak ada lagi yang perlu disampaikan, Ki Bancak pamit mohon diri dan berjanji untuk secepatnya mencari berita tentang perkembangan terakhir yang berhubungan dengan peperangan di Selat Malaka.

"Aku selalu merindukan dirimu wahai Ki Bancak," kata Empu Dangka mengiringi langkah Ki Bancak yang sudah berada di tangga terakhir pendapa Padepokan Pamecutan.

Terlihat pandangan Mahesa Amping terpaku di ujung langkah Ki Bancak yang telah menghilang terhalang pagar dinding tinggi Padepokan Pamecutan.

Ternyata pandangan mata Mahesa Amping telah terbang lebih jauh lagi, melalang di antara laut lepas, mengembara di antara tepian dermaga kayu bandar-bandar besar.

Dan terlintas senyum yang tidak pernah dilupakan sampai saat ini, senyum dan tawa canda belahan jiwanya, sahabat dan saudara sejatinya Raden Wijaya.

Persahabatan sejati memang sangat aneh, adalah jiwa yang terbelah yang merasakan setiap degup jantung belahan jiwa lainnya dimanapun di ujung bumi yang terpisah jauh. Seakan melihat apa yang dilihat, mendengar apa yang didengar, dan tentunya dapat merasakan apa yang tengah dirasakannya. Mahesa Amping seperti melihat tanah datar sebuah jalan panjang, seperti merasakan debu dan angin yang terlewat, dan mendengar debar jantung di antara derap langkah kaki kuda.

Ternyata apa yang didengar dan dirasakan oleh Mahesa Amping, di hari dan waktu yang sama, hanya terpisah jarak yang begitu jauh dalam hitungan hari perjalanan. Terlihat dua ekor kuda berpacu di jalan tanah datar dalam perjalanan antara Bandar Cangu menuju Kotaraja Singasari. Kedua orang penunggang kuda itu tidak lain adalah Raden Wijaya yang tengah memacu kudanya bersama Rangga Lawe. Hari pagi memang sudah mendekati terang matahari, mereka memacu kudanya yang terkadang melewati beberapa pedati yang berjalan searah atau berlawanan arah. Dari cara mereka memacu kudanya, dapat ditangkap bahwa perjalanan mereka bukan sebuah perjalanan biasa, tetapi kelihatannya adalah sebuah perjalanan yang mengharuskan mereka tiba di tempat tujuan dalam waktu yang paling cepat dan singkat.

Begitu pentingkah perjalanan mereka? Ternyata perjalanan mereka ke Kotaraja Singasari berkaitan dengan suasana yang semakin menghangat yang terjadi di perairan Selat Malaka. Sebagai seorang senapati yang bertugas menjaga keamanan jalur lintas perdagangan Singasari Raya, Raden Wijaya perlu meminta tanggapan dan restu dari Sri Baginda Maharaja Singasari atas apa yang telah terjadi di laut Selat Malaka.

"Kita beristirahat di ujung hutan bambu," kata Raden Wijaya kepada Rangga Lawe, sahabatnya.

"Benar, kuda kita bisa mati kelelahan," kata Rangga Lawe yang mengetahui bahwa di sekitar hutan bambu ada sebuah sungai kecil yang berair jernih, yang dapat memberi dahaga kuda-kuda mereka setelah sepanjang perjalanan tidak berhenti beristirahat.

Terlihat Raden Wijaya dan Rangga Lawe tengah bersandar di sebuah batang pohon yang cukup besar dan rindang. Sementara itu, dibiarkannya kuda-kuda mereka merumput di tepian sungai kecil yang dangkal berbatu.

Ketika matahari sedikit bergeser dari puncaknya, mereka berdua melanjutkan perjalanannya. Terlihat kembali dua ekor kuda kembali melangkah menyusuri jalan tanah yang rata yang terkadang menikung dan menanjak. Akhirnya ketika hari mulai naik sore, mereka sudah sampai di gerbang kota. Mereka masih melihat hilir mudik ramainya beberapa pedati di jalan Kotaraja. Terlihat juga beberapa orang yang berjalan kaki, satu dua orang berbincang di muka pagar rumahnya.

Terlihat Raden Wijaya dan Rangga Lawe telah turun dari kudanya ketika mereka tiba di depan gerbang istana. Dengan menuntun kuda mereka memasuki gerbang istana. Seorang prajurit pengawal istana mendekati mereka dan bertanya apa gerangan kepentingannya. Raden Wijaya tidak marah, hanya sedikit tersenyum kepada prajurit muda itu.

"Katakan pada pimpinanmu, kami dua orang pedagang kuda dari Bandar Cangu ada keperluan dengan Pangeran Lembu Tal," kata Rangga Lawe mewakili Raden Wijaya kepada prajurit muda itu.

"Silakan kalian menunggu," kata prajurit muda itu, meminta Raden Wijaya dan Rangga Lawe menunggu di tempat yang telah disediakan, sebuah gardu untuk menunggu. Sementara itu, prajurit muda itu terlihat berbicara dengan dua orang kawannya di gardu jaga, dan selanjutnya terlihat prajurit muda itu masuk ke sebuah lorong, mungkin akan melaporkan kepada atasannya.

Maka tidak lama berselang, prajurit muda itu sudah terlihat kembali datang dari sebuah lorong bersama seorang prajurit yang sudah cukup berumur, mungkin atasannya. Bukan main kagetnya atasan prajurit muda itu ketika datang melihat Raden Wijaya dan Rangga Lawe di gardu tamu.

"Maafkan para prajurit kami yang tidak tahu bagaimana menghormati tuan-tuan," kata atasan prajurit muda itu kepada Raden Wijaya dan Rangga Lawe dengan penuh hormat sambil mengambil dua tali kekang kuda milik Raden Wijaya dan Rangga Lawe. "Selamat datang di Istana Singasari," kata atasan prajurit muda itu kembali.

"Prajuritmu sudah melakukan tugas dengan baik, selamat berjumpa kembali Ki Lurah," kata Raden Wijaya sambil menepuk perlahan orang yang dipanggilnya Ki Lurah itu, seorang prajurit tua yang memang dikenalnya sudah lama bertugas di istana.

Terlihat Raden Wijaya dan Rangga Lawe berjalan meninggalkan Ki Lurah dan prajurit muda yang masih menyimpan banyak tanda tanya, merasa linglung melihat atasannya begitu hormat kepada kedua orang tamu yang mengaku hanya sebagai pedagang kuda dari Bandar Cangu. Ketika Raden Wijaya dan Rangga Lawe berjalan semakin menjauh dan menghilang di sebuah pertigaan lorong jalan di dalam istana, terlihat Ki Lurah menarik napas dalam-dalam.

Semua sikap Ki Lurah itu membuat prajurit muda itu menjadi salah tingkah. "Kamu tidak tahu siapa kedua orang itu?" kata Ki Lurah kepada prajurit muda itu dengan wajah angker, membuat prajurit muda itu semakin salah tingkah bercampur penuh rasa takut melihat wajah atasannya langsung itu.

"Mereka hanya mengatakan sebagai pedagang kuda," kata prajurit muda itu dengan suara bergetar dipenuhi tanda tanya dan rasa takut. Melihat sikap prajurit muda itu, Ki Lurah menjadi merasa kasihan. Maka wajah angkernya itu perlahan telah menghilang dari wajahnya, berubah menjadi sebuah senyum orang tua yang ramah.

"Kamu baru saja menahan dua orang besar yang paling dihormati di bumi Singasari Raya ini, ingatlah baik-baik bahwa mereka adalah Senapati Raden Wijaya dan Rangga Lawe," kata Ki Lurah kepada prajurit muda itu. Lemas rasanya kedua lutut prajurit muda itu mendengar dua nama yang disebutkan oleh Ki Lurah.

Sementara itu, Raden Wijaya dan Rangga Lawe sudah memasuki Pasanggrahan Ratu Anggabhaya. Terlihat Ratu Anggabhaya dan Pangeran Lembu Tal dengan penuh suka cita menyambut kedatangan mereka. Setelah saling menyapa dan menyampaikan berita keselamatan masing-masing, Raden Wijaya dan Rangga Lawe dipersilakan untuk bersih-bersih diri dan beristirahat.

"Aku akan mengutus seorang prajurit untuk mengabarkan kedatangan kalian kepada Sri Baginda Maharaja," kata Ratu Anggabhaya penuh senyum ceria kepada Raden Wijaya dan Rangga Lawe yang sedang melangkahkan kaki untuk membersihkan diri setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang.

Tidak terasa, matahari senja di atas Pasanggrahan Ratu Anggabhaya terlihat perlahan surut rebah berbaring di ujung barat bumi. Beberapa pelayan terlihat sudah menyalakan empat buah pelita di pendapa utama. Wajah pucat hari di akhir senja menjelang malam itu sepertinya begitu teduh mewadahi suasana taman yang segar, hijau, dan asri di sekeliling taman pendapa utama, meneduhi segenap hati siapapun yang berada di atas pendapa utama itu.

Ratu Anggabhaya, Pangeran Lembu Tal, Raden Wijaya, dan Rangga Lawe memang terlihat sudah berada di atas pendapa utama menikmati beberapa hidangan. Pembicaraan mereka masih hanya berkisar pada hal-hal yang tidak begitu penting. Nampaknya Raden Wijaya tidak langsung bercerita kepentingannya datang ke istana, sementara itu Ratu Anggabhaya juga tidak merasa perlu mendesak secepatnya untuk bertanya kepentingan mereka.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment