Chapter 36
Pembicaraan mereka terhenti manakala datang seorang prajurit utusan langsung Sri Baginda Maharaja yang menyampaikan berita bahwa Sri Baginda Maharaja telah berkenan untuk datang malam ini berkunjung ke Pasanggrahan Ratu Anggabhaya.
"Terima kasih, sampaikan salam kesempurnaan sukacita kami atas perkenan Sri Baginda Maharaja mengunjungi pasanggrahan kami," kata Ratu Anggabhaya kepada utusan itu yang langsung berpamit diri.
Akhirnya sesuai dengan yang disampaikan lewat utusannya, malam itu Sri Baginda Maharaja memang berkenan datang ke Pasanggrahan Ratu Anggabhaya. Kedatangan Baginda kali ini tanpa pengawalan prajurit khusus sebagaimana biasanya. Bersama Sri Baginda Maharaja terlihat dua orang pejabat kepercayaannya yang belum lama dilantik, yang tidak lain adalah Mahapatih Kebo Arema bersama Tumenggung Mahesa Pukat.
Semua yang ada di pendopo utama terlihat berdiri menyambut kedatangan Sri Baginda Maharaja.
Baru ketika Sri Baginda Maharaja yang diiringi Mahapatih Kebo Arema dan Tumenggung Mahesa Pukat duduk di atas pendopo utama, semua yang hadir ikut duduk kembali.
"Sebuah kegembiraan Sri Baginda Maharaja telah meringankan kaki datang ke tempat kami," kata Ratu Anggabhaya membuka pembicaraan awal.
"Hari ini aku datang sebagai kemenakan mengunjungi paman tercinta," kata Sri Baginda Maharaja dengan wajah penuh senyum sambil menyapu pandangnya.
"Selamat datang wahai saudaraku Raden Wijaya," kata kembali Sri Baginda Maharaja ketika tatapan matanya bertemu kepada Raden Wijaya yang duduk tepat berseberangan di hadapannya.
"Selamat bertemu kembali wahai saudaraku, Maharajaku terkasih," kata Raden Wijaya menyambut salam dari Sri Baginda Maharaja.
"Aku yakin bahwa kedatanganmu ke Kotaraja ini pasti berkenaan dengan hal yang sangat penting sekali. Itulah sebabnya malam ini sengaja aku datang bersama Mahapatih Kebo Arema dan Tumenggung Mahesa Pukat," kata Sri Baginda Maharaja kepada Raden Wijaya.
Maka dengan singkat Raden Wijaya menyampaikan peristiwa beberapa perampokan dan peperangan di Selat Malaka yang dialami oleh para pelaut Singasari.
"Aku yakin bahwa Tuanku Sri Baginda sudah menerima berita ini dari para petugas sandi," kata Raden Wijaya kepada Sri Baginda Maharaja.
"Benar apa yang kamu sampaikan telah kuterima juga dari para petugas delik sandi.
Sementara yang kuingin dengar darimu, adalah bagaimana penggambaranmu atas hal yang tengah terjadi itu," kata Sri Baginda Maharaja dengan wajah penuh senyum, sepertinya tidak begitu berpengaruh atas berita kejadian di Selat Malaka.
Atau memang Sri Baginda Maharaja dapat menyimpan dan mengendalikan perasaannya. "Kedatanganku ke Kotaraja hanya ingin menjernihkan arus berita yang mungkin saja berasal dari jejak langkah kaki yang sudah tidak bersih lagi," kata Raden Wijaya sambil memandang wajah Sri Baginda Maharaja, berharap dapat menangkap apa yang dikatakannya.
"Dari setiap peristiwa demi peristiwa sebelum peperangan besar terjadi di Selat Malaka, aku menarik sebuah penggambaran bahwa ada pihak tertentu yang tengah bermaksud memancing di air keruh," kata Raden Wijaya menyampaikan gambarannya mengenai peristiwa di Selat Malaka.
"Ternyata penggambaranmu mengenai hal ini tidak bergeser jauh dengan apa yang ada di benakku, ternyata kita punya penggambaran yang sama," kata Sri Baginda Maharaja dengan wajah masih berseri-seri.
"Ternyata telinga tuaku tidak banyak mendengar apa yang terjadi di luar batas Kotaraja," kata Ratu Anggabhaya ikut merasa tertarik dengan perbincangan seputar Selat Malaka. "Yang menjadi masalah saat ini adalah siapa gerangan yang tengah bermain di atas kubangan air keruh itu," kata kembali Ratu Anggabhaya.
"Yang menari-nari di atas kubangan air keruh adalah mereka yang tertawa melihat banyak ikan menjadi mabuk kepayang," kata Mahapatih Kebo Arema ikut memberikan tanggapannya.
"Perlu sebuah pengorbanan untuk mengetahui siapa gerangan yang akan menarik keuntungannya," kata Ratu Anggabhaya ikut memberikan tanggapan.
"Namun pengorbanan itu jangan terlalu besar, hanya sekadar umpan kecil," kata kembali Ratu Anggabhaya.
"Aku merasa bahagia berada di bawah atap pendopo ini yang dipenuhi cinta dan kesetiaan.
Jalan pikiran kita ternyata selalu berada di jalan yang sama," kata Sri Baginda Maharaja sambil menyapu pandangnya ke semua yang hadir di pendopo utama itu. "Dan aku percaya bahwa malam ini kita telah siap mendengar apa yang ada dalam pikiran Paman Mahapatih," kata kembali Sri Baginda Maharaja sambil tersenyum melirik ke arah Kebo Arema.
Seketika itu juga semua pandangan tertuju kepada Kebo Arema.
Melihat semua mata tertuju kepadanya, Kebo Arema hanya tersenyum sedikit, mengelus juntai janggutnya yang sudah berwarna.
"Bila ini sudah menjadi titah Sri Baginda Maharaja, hamba yang bodoh ini bersedia menyampaikan beberapa pemikiran, mudah-mudahan, pemikiran hamba ini dapat berkenan," kata Kebo Arema mengawali paparan rencananya.
"Bila tujuan kita memasang umpan, usulku adalah menyiapkan setengah pasukan untuk diberangkatkan ke Selat Malaka," kata Kebo Arema sambil tersenyum dan menyapu pandangannya ke semua yang hadir di pendopo utama itu.
"Menyiapkan lima ribu orang prajurit sebagai umpan?" tanya Pangeran Lembu Tal sepertinya tidak setuju dengan usulan Kebo Arema.
Terlihat Kebo Arema hanya sedikit tersenyum mendengar pertanyaan dari Pangeran Lembu Tal. "Benar bahwa kita menyiapkan lima ribu orang prajurit untuk sebuah umpan," kata Kebo Arema berhenti sebentar.
"Namun dua ribu prajurit di tengah jalan turun kembali, mereka hanya bertugas mengelabui pihak musuh yang menginginkan kekuatan kita berkurang," kata kembali Kebo Arema sambil tersenyum dan pandangannya menyapu kepada semua yang hadir saat itu.
"Hebat, sebuah siasat yang hebat, aku setuju," kata Pangeran Lembu Tal sambil mengangguk-angguk tanda menerima usulan dan siasat dari Kebo Arema.
Terlihat semua yang hadir di pendopo utama tampaknya menyetujui dan diam-diam mengagumi pemikiran Kebo Arema sebagai seorang yang ahli dalam hal mengatur siasat.
"Aku berharap secepatnya pasukan dipersiapkan menuju Selat Malaka, aku serahkan semuanya kepada Mahapatih Kebo Arema dan Tumenggung Mahesa Pukat," kata Sri Baginda Maharaja.
"Sementara itu tugas Senapati Raden Wijaya adalah menyergap siapa yang terlihat mengejar umpan yang telah kita lepaskan," kata kembali Sri Baginda Maharaja memberikan titahnya.
"Titah Sri Baginda Maharaja adalah anugerah kami," kata serempak Mahapatih Kebo Arema, Tumenggung Mahesa Pukat, dan Raden Wijaya.
Demikianlah, suasana di pendopo utama Ratu Anggabhaya tidak lagi layaknya pertemuan resmi, tapi seperti pertemuan keluarga biasa, pertemuan antara para sahabat dan kesetiaan.
Akhirnya, manakala malam sudah mulai dingin berembun, Sri Baginda Maharaja, Mahapatih Kebo Arema, dan Tumenggung Mahesa Pukat terlihat berpamit diri.
Dan malam pun akhirnya semakin berlalu bersama pekat dan kesunyiannya di atas Pasanggrahan Ratu Anggabhaya.
Semilir angin dan embun dingin telah melelapkan seluruh penghuninya.
Sementara itu kadang terlihat beberapa penjaga bergilir melewati dinding pagar Pasanggrahan Ratu Anggabhaya untuk sekadar memastikan tidak ada kejadian apa pun yang mengganggu.
Malam terus mendendangkan nada sepi bersama kerlap-kerlip bintang di peraduan langit biru yang akhirnya terbangun tersentak warna fajar pagi.
Tidak terasa sang matahari ternyata sudah melompat tinggi menempel di langit pagi.
"Secepatnya kami harus sudah berada di Bandar Cangu menyiapkan pasukan yang akan diberangkatkan ke Selat Malaka," kata Raden Wijaya kepada ayahnya, Pangeran Lembu Tal, bersama Ratu Anggabhaya ketika mengantarnya menuruni tangga pendopo. "Sambil menunggu Mahapatih Kebo Arema dan Tumenggung Mahesa Pukat yang akan membawa pasukan tambahannya dari Kotaraja Singasari," kata kembali Raden Wijaya.
"Semoga keselamatan selalu mengiringi langkah kalian," kata Ratu Anggabhaya sambil melambaikan tangannya kepada Raden Wijaya dan Rangga Lawe yang sudah melangkah di halaman pasanggrahannya.
Terlihat seorang pekatik sudah menunggu mereka di gerbang pintu istana.
"Mohon maaf bila kami tidak berlaku hormat," kata seorang prajurit muda yang tengah berjaga menghampiri Raden Wijaya dan Rangga Lawe.
"Kalian adalah para prajurit pengawal istana yang baik, kutitipkan segenap keluargaku di istana ini pada kalian," kata Raden Wijaya tersenyum dari atas kudanya kepada prajurit muda itu.
Maka diiringi tatap mata seorang pekatik dan prajurit muda itu, Raden Wijaya dan Rangga Lawe telah berjalan semakin menjauhi pintu gerbang istana yang akhirnya tidak terlihat lagi menghilang di sebuah tikungan jalan.
Tidak banyak rintangan yang terjadi dalam perjalanan Raden Wijaya dan Rangga Lawe menuju Bandar Cangu.
Hanya satu kali saja mereka berhenti untuk sekadar memberi kesempatan kuda-kuda mereka beristirahat minum dan merumput.
Sementara itu di belakang mereka, menjelang bersama naiknya matahari bergeser sedikit dari puncaknya, terlihat segelar sepapan prajurit Singasari berduyun-duyun tengah melewati pintu gerbang batas kota.
Mereka adalah dua ribu prajurit yang akan menuju Bandar Cangu yang selanjutnya akan diberangkatkan menuju Selat Malaka.
Ternyata Mahapatih Kebo Arema punya perhitungan sendiri dengan memberangkatkan pasukannya menjelang siang hari.
Hal ini ternyata hanya sekadar memberi kesempatan kepada pihak musuh untuk membaca keadaan prajurit Singasari yang telah masuk dalam perangkapnya, harimau telah keluar meninggalkan sarangnya.
Siapa pun berdecak kagum melihat gerak mereka yang berbaris teratur dirancak warna-warni rontek dan umbul-umbul dari berbagai kesatuan prajurit.
Gemuruh suara langkah mereka seperti menghentak semangat dan menciutkan hati siapa pun yang merasa ada berseberangan jalan, para musuh yang bersembunyi di Kotaraja.
Tapi bagi penduduk Kotaraja, barisan prajurit itu membuat sebuah kebanggaan tersendiri di hati mereka.