Chapter 37
Arah dan gerak perjalanan para prajurit yang berjalan kaki memang agak lamban dibandingkan dengan kecepatan dua ekor kuda yang terus berpacu di jalan arah menuju Bandar Cangu. Kedua orang berkuda itu tidak lain adalah Raden Wijaya dan Rangga Lawe.
Ketika lukisan langit masih diwarnai matahari yang bersinar lembut di ujung sore, Raden Wijaya dan Rangga Lawe telah memasuki daerah Bandar Cangu. Mereka pun langsung membawa arah kudanya menuju Rumah Bale tamu. "Selamat datang, tuan Senapati dan tuan Rangga," berkata seorang prajurit yang langsung mengambil tali kekang kuda mereka berdua.
"Akhirnya kuda-kuda ini bertemu dengan tuan sejatinya," kata Raden Wijaya tersenyum ramah kepada prajurit itu. Terlihat prajurit itu sudah menuntun kuda ke arah kandang kuda, sementara Raden Wijaya dan Rangga Lawe langsung menaiki anak tangga pendapa Rumah Bale Tamu.
Ketika malam mulai beranjak memasuki langit Bandar Cangu, Raden Wijaya telah memanggil beberapa perwira yang ada untuk berkumpul di pendapa Rumah Bale Tamu. Dengan singkat, Raden Wijaya menyampaikan beberapa hal yang berkaitan dengan rencana misi perjalanan mereka menuju Selat Malaka.
"Berbahagialah, karena kalian berada di bawah naungan seorang pemimpin yang terbaik di Singasari ini. Mahapatih Kebo Arema dan Tumenggung Mahesa Pukat akan mendampingi perjalanan kalian," kata Raden Wijaya kepada perwira prajurit di pendapa Rumah Bale tamu.
Ketika tengah malam tiba, dua ribu prajurit dari Kotaraja sudah tiba di Bandar Cangu. Mereka langsung memasuki barak-barak yang ada di Benteng Cangu maupun yang ada di Rumah Bale Tamu. "Selamat datang, Paman Mahapatih dan Paman Tumenggung di Bandar Cangu," kata Raden Wijaya yang menyambut kedatangan Kebo Arema dan Mahesa Pukat.
Setelah saling menyapa dan bercerita tentang keselamatan masing-masing, Raden Wijaya menyampaikan beberapa persiapan yang telah ada untuk keperluan selama perjalanan menuju Selat Malaka. "Satu hari aku kira cukup untuk beristirahat dan penyesuaian," kata Kebo Arema kepada semua yang hadir di pendapa Rumah Bale Tamu, selain Raden Wijaya dan Rangga Lawe, juga hadir beberapa prajurit perwira yang akan ikut dalam pelayaran menuju Selat Malaka.
Dan ketika fajar tiba menyingsing di ujung timur sungai Brantas, terlihat kesibukan para prajurit di dermaga depan Rumah Bale Tamu. Kesibukan di atas Jung besar Singasari dan di atas dermaga itu sepertinya turut mencuri perhatian siapapun yang lewat berperahu di Sungai Brantas.
Sementara itu, di pagi yang sama, jauh dari Bandar Cangu, di sebuah rumah besar di Kotaraja Gelanggelang, terlihat dua orang tengah berbicara dengan begitu gembiranya. Kedua orang itu tidak lain adalah Senapati Jaran Goyang dan Wirondaya.
"Harimau meninggalkan sarangnya," kata Senapati Jaran Goyang kepada Wirondaya. "Akhirnya kekacauan di Selat Malaka telah menampakkan hasil," kata kembali Senapati Jaran Goyang dengan gembiranya.
"Saatnya menggempur sarangnya," kata Wirondaya dengan berapi-api. "Aku masih sangsi," kata Senapati Jaran Goyang kepada Wirondaya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Apa yang kamu sangsikan?" bertanya Wirondaya. "Bukankah jumlah prajurit kita saat ini lebih banyak?" kata kembali Wirondaya.
"Betul lebih banyak, tapi satu orang prajurit mereka masih setara dua orang prajurit dari Gelang-gelang," kata Senapati Jaran Goyang sambil menarik nafas dalam penuh keraguan.
Terlihat Wirondaya dan Senapati Jaran Goyang masing-masing terdiam, untuk sementara keadaan di pendapa rumah itu menjadi sunyi. Wirondaya dan Senapati Jaran Goyang telah berada di alam pikirannya masing-masing.
"Kalau begitu keadaannya, kita pecahkan lagi jumlah mereka," kata Wirondaya yang ternyata sudah menemukan jalan terangnya.
"Aku belum menangkap apa yang kamu katakan," kata Senapati Jaran Goyang yang belum dapat menangkap apa yang dimaksudkan oleh kawannya itu.
Terlihat Wirondaya tersenyum di hadapan Senapati Jaran Goyang. "Kita pancing lagi agar pasukan mereka yang tersisa keluar kembali dari sarangnya, begitu mereka keluar meninggalkan sarangnya, kita sudah siap sedia menghancurkan mereka dengan kekuatan penuh," kata Wirondaya menyampaikan pikirannya.
Bukan main gembiranya Senapati Jaran Goyang menangkap pikiran Wirondaya yang diam-diam dikaguminya sebagai seorang yang selalu punya jalan pikiran cemerlang.
"Pemikiranmu sungguh sangat cemerlang. Hari ini juga aku akan menghadap baginda Raja. Mudah-mudahan beliau dapat menerima siasatmu ini," kata Senapati Jaran Goyang dengan begitu gembiranya.
Seperti biasa, hari itu Wirondaya tidak keluar jauh dari Rumah kediaman Senapati Jaran Goyang. Seharian penuh hanya duduk di pendapa atau sekali-kali ke taman belakang meleburkan kebosanannya bersama pengalas tua yang sebenarnya tidak menyukai dirinya.
Namun karena Wirondaya adalah tamu junjungannya, pengalas tua itu tidak jua menampakkan kebenciannya. Dirinya masih dapat tersenyum, kadang menjawab beberapa pertanyaan dari Wirondaya yang angkuh, merasa dirinya masih sebagai seorang terhormat.
Ketika di awal senja, seperti biasa Senapati Jaran Goyang telah kembali dari Istana Gelang-gelang. "Baginda Raja sangat gembira melihat umpannya telah termakan," kata Senapati Jaran Goyang mengawali ceritanya kepada Wirondaya di pendapa rumahnya.
"Berbahagialah, kawan, aku juga bercerita tentang dirimu di balik keberhasilan ini," kata kembali Senapati Wirondaya.
"Apa yang kamu ceritakan tentang diriku kepada Baginda Raja Gelang-gelang itu?" bertanya Senapati Jaran Goyang kepada Wirondaya dengan gembiranya.
"Bahwa kamu adalah keponakan terkasih dari Adipati Wiraraja yang diutus langsung untuk bergabung bersama di Tanah Gelang-gelang ini untuk menghancurkan musuh yang sama," kata Senapati dengan gembiranya.
Namun Wirondaya menanggapinya dengan wajah kurang senang kepada sahabatnya itu. "Jadi baru kali ini kamu bercerita tentang keberadaanku kepada baginda Raja," kata Wirondaya dengan wajah masam.
"Maaf, kawan, selama ini kututupi dirimu. Aku hanya khawatir bahwa Baginda Raja kurang berkenan bila mengetahui ada seorang mantan pejabat istana Singasari bersamaku," kata Senapati kali ini dengan wajah penuh permohonan maaf.
Berharap kawannya Wirondaya dapat menerima. "Kuterima kekhawatiranmu," kata Wirondaya dengan suara yang lemah.
"Meski tertunda untuk menceritakan keberadaanmu, yang jelas bahwa Baginda Raja saat ini sudah mengetahui siapa yang berjasa membakar suasana di Selat Malaka. Baginda Raja lewat diriku telah menyampaikan salam rasa terima kasih tak terhingga untukmu," kata Senapati Jaran Goyang dengan wajah penuh senyum.
Terlihat wajah Wirondaya bersinar penuh gembira. "Baginda Raja juga merasa gembira mengetahui bahwa Adipati Wiraraja berada di pihaknya," kata Senapati Jaran Goyang masih dengan wajah yang berseri-seri.
Namun perkataan Senapati Jaran Goyang diterima seperti cahaya kilat di siang hari, begitu mengejutkan hati dan pikiran Wirondaya. "Penguasa Gelang-gelang telah salah terima, Paman Wiraraja adalah seorang yang rela mati demi penguasa Singasari," kata Wirondaya dalam hati.
Tapi Wirondaya memang seorang pemain watak yang andal, di hadapan Senapati Jaran Goyang tidak diperlihatkan keterkejutannya itu, bahkan pura-pura bertanya dengan gembiranya. "Apa yang dikatakan Baginda Raja tentang pamanku itu?" kata Wirondaya sambil menutupi keterkejutannya.
"Baginda Raja memintaku mengirim seorang utusan kepada pamanmu untuk mengirim bantuan prajurit," kata Senapati Jaran Goyang masih dengan wajah penuh berseri-seri.
Kali ini Wirondaya seperti mendengar guntur di dekat telinganya, "Tidak mungkin pamanku memberikan apapun pada musuh Singasari," kata Wirondaya dalam hati.
Tapi kembali Wirondaya dapat menutupi keterkejutannya dengan pura-pura bertanya. "Apakah kamu sudah memilih siapa orang yang akan kamu utus menemui pamanku?" kata Wirondaya.
"Ki Sukasrana, pengalas tuaku dan kamu," kata Senapati Jaran Goyang sambil tertawa terbahak-bahak.
"Pengalas tua itu?" kata Wirondaya dengan wajah kurang senang hati.
"Ki Sukasrana bukan pengalas biasa, dia sengaja kukerjakan di sini untuk menjaga dan memata-matai dirimu," kata Senapati Jaran Goyang.
"Maaf, kawan, aku hanya ingin memastikan bahwa dirimu benar-benar bersih tidak bersama siapapun," kata kembali dengan masih tertawa terbahak-bahak.
"Jadi selama ini kamu memata-matai diriku?" bertanya Wirondaya dengan wajah kurang senang.
Senapati Jaran Goyang tersenyum melihat wajah Wirondaya. "Tidak sampai saat ini, terutama setelah melihat hasil kerjamu di Selat Malaka," kata Senapati Jaran Goyang sambil melihat perubahan di wajah Wirondaya yang sudah tidak masam lagi.
"Besok pagi kalian harus sudah berangkat, aku sudah membawa pertanda khusus dari Baginda Raja serta sebuah rontal resmi tulisan tangannya untuk Adipati Wiraraja," kata kembali Senapati Jaran Goyang kepada Wirondaya, kali ini dengan suara datar tanpa tawa sedikitpun.
Sementara itu Wirondaya menerima perkataan Senapati Jaran Goyang dengan cara yang berbeda. Di kepalanya sudah menumpuk berbagai rencana liciknya.
"Aku akan menghabisi nyawa pengalas tua itu di perjalanan," kata Wirondaya dalam hati.
Namun di hadapan Senapati Jaran Goyang sepertinya tidak sedang memikirkan sesuatu, masih dapat menutupi perasaan hatinya dengan pura-pura berkata. "Terima kasih telah mempercayakan diriku," kata Wirondaya dengan raut wajah penuh kegembiraan.
"Saat ini aku sudah benar-benar mempercayaimu," kata Senapati Jaran Goyang dengan senyumnya kepada Wirondaya.
Demikianlah, keesokan harinya ketika pagi sudah terang matahari, terlihat dua ekor kuda keluar dari pintu gerbang rumah besar milik Senapati Jaran Goyang.