Halo!

Kabut Di Bumi Singosari - Chapter 38

Memuat...
Kabut Di Bumi Singosari

Chapter 38

Kedua orang berkuda itu tidak lain adalah Wirondaya dan Ki Sukasrana, pengawal tua yang selama ini menyamarkan dirinya. Sebenarnya, dialah orang nomor satu kepercayaan Senapati Jaran Goyang.

Sementara itu, di pagi yang sama, di Bandar Cangu terlihat sebuah jung besar Singasari tengah bergerak menjauh dari dermaga di depan balai tamu yang besar. Bersama jung itu terdapat lima ribu prajurit yang akan berlayar menuju Selat Malaka.

Di dermaga kayu, Raden Wijaya dan Rangga Lawe bersama beberapa prajurit terlihat melambaikan tangan, mengikuti arah bergeraknya Jung Singasari. Jung yang terbesar dan termegah di zamannya itu kini hanyut mengikuti arus Sungai Brantas, terus menjauh meninggalkan tempatnya berlabuh. Jung besar itu pun akhirnya semakin menjauh, tersamar di ujung mata yang terhalang kabut pagi di atas Sungai Brantas, pada pertengahan musim kemarau di tahun itu.

Namun, tidak ada seorang pun yang tahu, bahwa ketika melewati beberapa hutan yang sepi, beberapa prajurit telah turun menepi, hingga mencapai jumlah dua ribu prajurit. Mereka hanyalah bagian dari muslihat dan siasat cemerlang untuk mengelabui pihak musuh, mengacaukan perhitungan di pikiran pihak musuh. Dan siasat mereka tampaknya telah berjalan dengan sempurna.

"Saatnya mendewasakan dan mematangkan Raden Wijaya sebagai tulang punggung kesatria tunggal untuk mengamankan Singasari," ujar Mahapatih Kebo Arema di atas geladak jung Singasari kepada Tumenggung Mahesa Pukat.

"Begitulah cara Baginda Maharaja berpikir untuk Raden Wijaya, kesatria pewaris tanah Singasari di masa depan," ujar Tumenggung Mahesa Pukat menanggapi perkataan Mahapatih Kebo Arema.

"Sementara kita yang mulai tua diberi kesempatan untuk berlibur," ujar Mahapatih Kebo Arema sambil tersenyum memainkan janggutnya yang mulai memutih, yang disambut tawa oleh Tumenggung Mahesa Pukat.

Sementara itu, di siang hari yang cerah, seekor kuda tengah melesat melewati gerbang batas Kotaraja Singasari. Penunggangnya adalah seorang pemuda yang berpakaian seperti orang biasa, namun dari wajah dan sinar matanya terlihat bahwa ia adalah seorang pemuda yang cukup tampan. Dari caranya menunggang kuda, terlihat bahwa pemuda ini adalah seorang yang cukup tangkas. Ternyata, pemuda ini adalah seorang prajurit Singasari yang mendapatkan kehormatan besar langsung dari Maharaja Singasari.

Tugasnya sangat rahasia dan sangat penting sekali, yakni membawa rontal rahasia yang harus diterima langsung oleh Adipati Sasana Bungalan di Balidwipa. Siapakah pemuda itu, dan mengapa dirinya yang terpilih menjadi utusan rahasia itu? Pemuda itu bernama Gajah Pagon, putra tunggal seorang sakti dari daerah Pandakan bernama Macankuping. Namun, banyak orang mengenalnya sebagai Ki Pandakan.

Setelah dianggap cukup mewarisi semua ilmu dari ayahnya, Gajah Pagon diperintahkan oleh ayahnya untuk mengabdi sebagai prajurit di Kotaraja Singasari. Di kesatuannya, Gajah Pagon sangat menonjol hingga akhirnya ditemukan oleh Kuda Cemani, perwira kepercayaan tertinggi Maharaja Singasari. Pada saat itu, Kuda Cemani memang tengah mencari pasukan khusus delik sandi yang masih murni dan belum tercemar. Gajah Pagon adalah salah satu orang terpilih yang kemudian menjadi prajurit delik sandi kebanggaan Kuda Cemani yang sangat diandalkan. Selain tataran ilmu kanuragannya yang sudah cukup tinggi, Gajah Pagon juga telah banyak membuktikan kesetiaannya.

Apa isi rontal rahasia itu? Gajah Pagon sama sekali tidak mengetahuinya, dan dirinya sama sekali tidak berminat untuk mengetahuinya. Tugasnya adalah membawa rontal yang ditulis langsung dari Maharaja Singasari, yang harus diserahkan langsung kepada Adipati Sasana Bungalan, seorang wakil penguasa Balidwipa.

Demikianlah, hari itu Gajah Pagon tengah duduk di atas kudanya, di jalan menuju arah Bandar Cangu. Dari Bandar Cangu itu, dirinya akan menggunakan kapal kayu yang akan membawanya langsung ke Balidwipa.

Ketika jalan terlihat sepi, Gajah Pagon memacu kudanya dengan cepat seolah terbang. Namun, manakala di sisi jalan bertemu dengan beberapa pedati, dirinya segera mengurangi kecepatan kudanya agar tidak menjadi pusat perhatian. Demikianlah cara Gajah Pagon membawa kudanya di jalan menuju Bandar Cangu. Gajah Pagon sangat hafal setiap liku jalan sepanjang Kotaraja menuju Bandar Cangu. Setiap jengkal tanah dikenalnya seperti mengenal halaman rumahnya sendiri. Entah untuk kesekian kalinya dirinya melewati jalan tanah itu. Dan Gajah Pagon sudah hafal juga di mana tempat persinggahan yang paling ramai dikunjungi oleh orang-orang, terutama para saudagar yang tengah melakukan perjalanan niaganya.

Demikianlah, Gajah Pagon akhirnya terlihat menghentikan kudanya di sebuah persinggahan yang cukup ramai, hanya untuk membaurkan dirinya agar tidak menjadi perhatian orang. Seperti itulah yang dilakukan oleh setiap petugas sandi agar kehadiran mereka tidak mudah dikenali, membaur dengan orang kebanyakan. Tempat persinggahan itu memang merupakan sebuah persimpangan jalan dari berbagai tempat tujuan yang berbeda. Maka, tidak heran jika kedai yang cukup besar itu terlihat begitu ramai dikunjungi oleh mereka yang ingin beristirahat sejenak, terutama untuk memberi kesempatan kuda-kuda mereka beristirahat.

Matahari di atas kedai tempat persinggahan itu sudah bergeser turun di lengkung cakrawala mendekati awal sore. Sinar matahari sudah berwarna kuning teduh. Kedai itu sendiri berdiri di antara pepohonan hutan yang cukup rindang, menaungi hampir seluruh bangunannya. Serta halaman mukanya, menjadikan kedai itu pilihan utama untuk berlindung dan bernaung dari sinar matahari.

"Tolong rawat kudaku dengan baik," ujar Gajah Pagon kepada seorang pekatik yang biasa mengurus dan melayani kuda-kuda semua orang yang singgah di tempat itu.

Terlihat Gajah Pagon tengah melangkah menuju pintu kedai. Di belakangnya, dua lelaki mendahului langkahnya menuju pintu kedai. Gajah Pagon masih sempat melihat wajah salah seorang dari dua lelaki yang mendahuluinya. Bukan main kagetnya Gajah Pagon. Ternyata ia mengenali salah seorang di antaranya, seorang yang pernah menjadi sasaran para petugas delik sandi untuk ditemukan, seorang buronan Kotaraja Singasari yang masih terus dicari.

"Wirondaya!" seru Gajah Pagon dalam hati, seolah menemukan sebuah harta tak ternilai.

Gajah Pagon memang pernah mendapatkan perintah untuk mencari Wirondaya, seorang mantan pejabat istana yang telah berkhianat dan berhasil melarikan diri. Berbulan-bulan Gajah Pagon bersama petugas delik sandi lainnya mencari di berbagai tempat di Singasari. Wirondaya tidak pernah ditemukan. Wirondaya seperti hilang ditelan bumi. Namun hari ini, dengan tidak sengaja, ia menemukan Wirondaya.

Namun hati dan pikiran Gajah Pagon berkecamuk ketika menyadari bahwa dirinya tengah menjalankan sebuah perintah penting yang sangat rahasia.

"Apa salahnya menjalankan dua perintah sekaligus?" ujar Gajah Pagon dalam hati menenangkan dirinya sambil terus melangkah memasuki kedai.

Setelah masuk ke dalam kedai, Gajah Pagon mencari tempat yang agak jauh dari Wirondaya yang tengah bersama kawannya, Ki Sukasrana. Ki Sukasrana tidak lain adalah seorang kepercayaan Senapati Jaran Goyang yang diperintahkan untuk mendampingi Senapati Jaran Goyang mengantar rontal resmi kepada Adipati Wiraraja di Sunginep. Sementara itu, Wirondaya dan Ki Sukasrana tidak tahu bahwa di kedai itu ada seorang petugas Delik Sandi Singasari yang sedikit pun tidak melepaskan perhatiannya.

Terlihat seorang pelayan datang menghampiri Wirondaya dan Ki Sukasrana. Sebentar kemudian, pelayan itu kembali masuk ke dalam setelah menanyakan pesanan kepada kedua tamunya.

"Pesan apa, Tuan?" ujar seorang pelayan yang tiba-tiba sudah berdiri di dekat Gajah Pagon.

Terlihat Gajah Pagon agak terkejut, perhatiannya terpecah oleh pertanyaan pelayan kedai itu. Tapi Gajah Pagon segera berhasil menguasai keterkejutannya itu, dengan penuh senyum memandang pelayan itu.

"Nasi megana lengkap dengan ayam bakarnya," ujar Gajah Pagon kepada pelayan itu.

"Semoga Tuan dapat bersabar, tamu di kedai ini sedang melimpah," ujar pelayan itu yang langsung berbalik meninggalkan Gajah Pagon.

Apa yang dikatakan oleh pelayan itu memang benar, tamu di kedai saat itu memang cukup ramai. Sebuah keuntungan bagi Gajah Pagon untuk dapat bersembunyi di keramaian orang, terus mengintai sasarannya, Wirondaya.

Sementara itu, terlihat seorang pelayan tengah mengantar pesanan Wirondaya dan Ki Sukasrana. Pelayan itu pun segera kembali setelah meletakkan makanan dan minuman.

"Tadi aku bicara pada seorang pekatik untuk mengganti tapal kudamu," ujar Wirondaya kepada Ki Sukasrana.

"Apa kamu bilang?" ujar Ki Sukasrana yang langsung berdiri dan melangkah keluar, urung menyelesaikan makannya.

Terlihat Wirondaya tersenyum, akal-akalannya adalah untuk membuat Ki Sukasrana meninggalkannya, dengan mengatakan tentang tapal kudanya yang ia tahu adalah warisan buyutnya sebagai jimat pembawa keberuntungan.

"Keberuntunganmu cukup sampai di sini," ujar Wirondaya sambil mengeluarkan sesuatu dari balik pakaiannya. Ternyata, sebuah bubu kecil. Terlihat Wirondaya menuangkan isi bubu kecil itu ke dalam gelas Ki Sukasrana.

"Bedebah!" ujar Gajah Pagon yang melihat semua yang dilakukan oleh Wirondaya.

Sementara itu, Ki Sukasrana sudah terlihat kembali, langsung duduk di tempatnya.

"Apa maksudmu berkata bohong?" ujar Ki Sukasrana sambil matanya mendelik tajam ke arah Wirondaya.

Terlihat Wirondaya hanya tertawa tanpa langsung menjawab.

"Aku cuma sedang menguji, sebesar apa keistimewaan tapal kudamu," ujar Wirondaya sambil terus tertawa.

"Manusia gendeng," ujar Ki Sukasrana sambil melanjutkan makan dan minumnya, sepertinya ingin melupakan kekesalannya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment