Halo!

Kabut Di Bumi Singosari - Chapter 39

Memuat...
Kabut Di Bumi Singosari

Chapter 39

Wirondaya dan Ki Sukasrana tampak telah menyelesaikan makan mereka dan bersiap meninggalkan kedai. Sementara itu, Gajah Pagon juga telah selesai makan. Ia segera membayar kepada pemilik kedai sembari menunggu Wirondaya dan Ki Sukasrana keluar.

Langit di atas halaman kedai nampak biru cerah. Matahari telah sedikit menukik ke barat, memberikan warna awal senja dengan cahayanya yang teduh. Terlihat dua orang penunggang kuda tengah keluar dari halaman kedai; mereka adalah Wirondaya dan Ki Sukasrana yang akan melanjutkan perjalanan.

Jalan tanah keras yang mereka lalui saat itu sudah mulai sepi. Mereka tidak menghentakkan kuda untuk berlari kencang. Akhirnya, mereka sudah berjalan cukup jauh dari kedai tempat mereka beristirahat. Tidak seorang pun yang mereka temui; sepertinya saat itu jalan tanah keras tersebut hanya milik mereka berdua.

Tiba-tiba saja, Ki Sukasrana terlihat memegangi perutnya. Ia sepertinya tengah merasakan rasa sakit yang luar biasa. Ki Sukasrana benar-benar merasakan sakit yang sangat hingga tanpa terkendali lagi dirinya terjungkal ke tanah. Wajah Ki Sukasrana menjadi begitu pucat dan keringat mengucur di seluruh tubuhnya. Giginya gemeretak menahan rasa sakit yang hebat. Akhirnya, tubuh Ki Sukasrana terdiam tak bergerak, kemungkinan pingsan karena tidak kuat menahan rasa sakit tersebut.

"Bedebah!" kata Gajah Pagon yang sempat menyaksikan semua itu dari tempat tersembunyi, terutama ketika mendengar suara parau tawa Wirondaya yang dengan dingin melihat kawan seperjalanannya menderita.

Gajah Pagon melihat Wirondaya mengangkat Ki Sukasrana ke atas punggung kuda. Ternyata, Wirondaya menuntun kudanya masuk ke pinggir hutan, terus masuk lebih dalam lagi. Gajah Pagon dengan diam-diam terus menguntit dari belakang. Rasa penasaran memenuhi kepalanya mengenai apa yang ingin dilakukan oleh Wirondaya terhadap kawan seperjalanannya itu.

Di sebuah tempat di dalam hutan pinggir jalan yang sepi, terlihat Wirondaya menurunkan Ki Sukasrana yang sudah tidak bergerak lemas di atas tanah.

"Keberuntunganmu sampai di sini, kawan," ujar Wirondaya sambil mencabut celurit tajamnya. Sambil berjongkok, Wirondaya mengangkat celuritnya tinggi-tinggi, bermaksud menghabisi nyawa Ki Sukasrana dengan memenggal lehernya.

Buk!

Bukan main terperanjatnya Wirondaya ketika merasakan pinggangnya dihantam tendangan kaki yang cukup keras. Seketika dirinya terlempar beberapa langkah dan terjerembap mencium bumi. Wirondaya dengan cepat bangkit berdiri dengan wajah penuh tanah kotor. Ia sangat kaget melihat seorang lelaki muda berdiri sambil bertolak pinggang memandangnya dengan wajah penuh kebencian.

"Pengecut, kau racuni kawanmu sendiri!" teriak lelaki muda itu, yang ternyata adalah Gajah Pagon.

Melihat yang berdiri di hadapannya adalah seorang lelaki muda, timbul kembali keberanian Wirondaya. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa serangan tadi hanya terjadi karena kelengahannya.

"Ternyata kamu melihat apa yang aku lakukan. Hari ini akan ada dua nyawa yang menjadi tumbal penunggu hutan ini," kata Wirondaya dengan wajah penuh amarah.

"Awalnya aku hanya akan menangkapmu dan membawamu ke Kotaraja. Namun, melihat apa yang telah kamu lakukan terhadap kawanmu itu, ingin rasanya aku menyincang tubuhmu," balas Gajah Pagon sambil melepaskan pedang tipisnya yang tersembunyi melingkar di pinggang. Senjata itu sangat unik dan lentur, dapat ditekuk melingkari pinggang, namun setelah dilepas dapat kembali lurus.

Sementara itu, senja di atas hutan mulai meredupkan pandangan. Kilau tajam pedang Gajah Pagon sepertinya semakin memperlihatkan pamornya, sebuah senjata yang cukup menggetarkan hati siapa pun yang memandangnya. Namun, Wirondaya berusaha tidak menampakkan kekagumannya, apalagi rasa jerihnya.

"Hemm," hanya suara itu yang keluar dari mulut Wirondaya saat menilai senjata anak muda di depannya.

Gajah Pagon dapat membaca bahwa sebenarnya Wirondaya tengah menutupi rasa kagum dan takut melihat pedang pusaka milik keluarganya itu.

"Lihat pedang!" seru Gajah Pagon yang bertambah kebenciannya melihat wajah Wirondaya yang seolah meremehkannya. Ia langsung menyerang ke arah Wirondaya.

Serangan Gajah Pagon hanyalah serangan pembuka, tidak langsung menggunakan tataran puncaknya, melainkan sekadar menjajaki kemampuan Wirondaya. Wirondaya bergeser sedikit ke samping guna mengelak dan langsung membalas dengan menubruk mendekati Gajah Pagon, menyabetkan celuritnya ke arah pinggang lawan. Gajah Pagon mundur selangkah menghindari serangan tersebut.

"Gaya tempur yang liar," batin Gajah Pagon menilai gaya kanuragan Wirondaya. Ia kembali menyerang tanpa meningkatkan tataran kekuatannya, kali ini sasarannya adalah leher Wirondaya.

Melihat kecepatan dan cara lawan bermain pedang yang masih dapat diimbanginya, Wirondaya merasa mampu menaklukkan pemuda itu.

"Hanya sepertikah kehebatan seorang prajurit Singasari?" ejek Wirondaya sambil merunduk sedikit. Dengan kecepatan luar biasa, ia meluruk maju mendekati Gajah Pagon dan kembali menyerang pinggangnya.

Wirondaya merasa senjatanya akan segera mengenai kulit Gajah Pagon, namun ia sangat terkejut saat Gajah Pagon bergerak begitu cepat bergeser ke samping.

Trang!

Luar biasa, pedang Gajah Pagon bergerak seperti cambuk yang melengkung dan melecut membentur senjata Wirondaya. Wirondaya merasakan telapak tangannya panas; ternyata Gajah Pagon telah melambari serangannya dengan sepertiga kekuatan tenaga cadangannya. Melihat Wirondaya yang terkejut, Gajah Pagon tidak langsung menyerang kembali, seolah memberi kesempatan bagi lawannya untuk menguasai diri.

"Itu hanya kejutan awal," kata Gajah Pagon sambil tersenyum.

Ternyata Wirondaya bukan jenis manusia yang gampang menyerah. Tanpa rasa takut, ia kembali menyerang Gajah Pagon. Namun, karena Gajah Pagon sudah mengukur kekuatan dan kecepatan lawan, dengan mudah ia melesat menghindari serangan tersebut. Diam-diam, Gajah Pagon memuji semangat lawannya dan tidak terburu-buru menyelesaikan pertempuran. Gajah Pagon hanya mengimbangi setiap serangan dengan kecepatan dan kekuatan yang disesuaikan.

Sementara itu, langit senja mulai bersembunyi di ujung bumi. Cahaya keremangan malam mulai menyelimuti hutan tersebut. Namun, hal itu tidak menyurutkan pertempuran antara Gajah Pagon dan Wirondaya. Wirondaya telah meningkatkan seluruh kemampuan tataran ilmunya, sementara Gajah Pagon tidak sedikit pun merasa tertekan; ia terus mengimbangi tanpa berusaha melampauinya.

Wirondaya salah menanggap sikap Gajah Pagon. Ia mengira anak muda itu tidak dapat melebihi tataran ilmu yang dimilikinya, sehingga ia semakin mengerahkan puncak kekuatannya. Gajah Pagon tersenyum melihat semangat Wirondaya; inilah tipu dayanya untuk menguras tenaga lawan.

Pertempuran menjadi begitu sengit. Diterangi cahaya rembulan bulat penuh di atas celah hutan yang terbuka, gerak mereka tampak seperti dua bayangan yang saling menyerang dengan cepat. Sesekali terdengar suara jerit dan dengus ketika sebuah serangan hampir melukai tubuh mereka.

"Anak setan!" umpat Wirondaya yang merasa penasaran karena belum juga dapat mengalahkan Gajah Pagon.

Gajah Pagon tidak membalas umpatan itu, ia hanya tersenyum melihat kegundahan hati lawannya. Saat yang ditunggu Gajah Pagon akhirnya tiba; tenaga Wirondaya mulai terkuras dan kekuatannya semakin surut. Dalam sebuah serangan menusuk lurus dari pedang tipis Gajah Pagon yang berhasil dihindari Wirondaya, sebuah kejutan terjadi. Di luar perhitungannya, pedang tipis itu tiba-tiba menjadi lentur. Hanya dengan satu hentakan, pedang itu berubah arah melecut ke pinggang Wirondaya dengan kecepatan luar biasa.

"Ahhh!"

Wirondaya menjerit merasakan pedih di pinggangnya. Dua garis bajunya robek tersayat pedang tipis yang sangat tajam itu, meninggalkan luka merah yang menyayat kulit. Gajah Pagon tidak berhenti di situ; pedangnya berpindah arah dengan cepat.

Sret! Sret!

Pedang tipis Gajah Pagon menyabet dua kali di atas paha Wirondaya, membentuk goresan luka yang cukup dalam. Wirondaya terjatuh tersungkur, hanya bertumpu pada lututnya. Darah mengalir deras dari luka di pahanya. Gajah Pagon berdiri di hadapan Wirondaya dengan posisi ujung pedang menyentuh bumi.

Ternyata Wirondaya adalah orang yang keras kepala. Dalam keadaan terluka, ia tidak menunjukkan rasa sakit, seakan haram baginya memperlihatkan kelemahan di depan lawan. Matanya menatap tajam penuh kebencian ke arah Gajah Pagon.

"Apakah kamu masih belum menyerah?" tanya Gajah Pagon dengan suara datar.

"Cepat bunuhlah aku, wahai prajurit!" tantang Wirondaya dengan mata terbuka lebar.

"Aku tidak akan membunuhmu. Aku akan menyerahkanmu ke Kotaraja," jawab Gajah Pagon.

"Bukankah di awal kamu bermaksud menyincang tubuhku?" tanya Wirondaya terbelalak.

"Pikiranku berubah," sahut Gajah Pagon.

"Anak muda bodoh!" maki Wirondaya dengan mata yang hampir keluar.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment