Chapter 40
"Aku tidak akan tertipu, sikapmu hanya ingin menjebakku dalam kemarahan agar aku membunuhmu."
"Ternyata di balik sikapmu ada sebuah ketakutan yang sangat besar untuk menerima menjadi tawanan," kata Gajah Pagon masih dengan suara datar, kali ini dengan sedikit senyum di bibirnya.
"Kamu akan menyesal, prajurit bodoh!" kata Wirondaya dengan wajah penuh geram.
"Mengapa kamu katakan aku akan menyesal?" tanya Gajah Pagon kepada Wirondaya.
"Menyesal karena tidak segera membunuhku!" kata Wirondaya sambil memicingkan matanya menatap Gajah Pagon.
"Hukuman seorang pengkhianat adalah membenamkan dirinya di perempatan jalan, membiarkan semua kebencian warga ikut menghukum. Itulah hukuman yang layak untukmu," kata Gajah Pagon kepada Wirondaya.
"Kamu tidak akan dapat melakukannya!" kata Wirondaya dengan bibir mencebir.
Baru saja Gajah Pagon ingin menjawab perkataan Wirondaya, ia terkejut bukan kepalang. Entah dari mana dan bagaimana caranya, tiba-tiba Wirondaya melemparkan dua bilah keris kecil sebesar jari kelingking dari genggamannya, dari jarak yang begitu dekat!
Tidak ada jalan lain bagi Gajah Pagon selain mengangkat pedang tipisnya ke atas, menangkis dengan cepat serangan gelap itu.
Tring!
Ternyata Gajah Pagon tidak hanya menangkis, tetapi juga menghentakkan pedang tipisnya hingga dua bilah keris kecil itu terlempar kembali, berbalik arah.
Jrebb!
Satu keris kecil itu langsung menancap tepat di leher Wirondaya, dan satu lagi menancap tepat di jantungnya.
Wirondaya tidak sempat berbuat apa pun, hanya matanya sekejap terbuka lebar, terkejut bukan kepalang bahwa senjata rahasianya yang diketahui mengandung racun amat kuat kini bersarang di dirinya.
Namun, wajah terkejutnya itu hanya sekejap, setelah itu tubuhnya jatuh lunglai, seolah nyawanya sudah jauh melayang meninggalkannya.
"Orang ini telah memilih hukuman yang paling ringan untuk dirinya," kata Gajah Pagon sambil memandang tubuh Wirondaya yang sudah membiru dan kaku.
Sementara itu, langit di atas hutan tepi jalan itu sudah begitu gelap, malam telah menyelimuti suasana sekitarnya.
Gajah Pagon menyapu pandangannya ke sekeliling dan berhenti ketika melihat sesosok tubuh yang masih terbaring.
Tubuh Ki Sukasrana.
Gajah Pagon mendekati tubuh itu, dan setelah dekat, ia memeriksa beberapa bagian tubuhnya dengan saksama.
Terdengar Gajah Pagon menarik napas panjang dan mengembuskannya.
"Orang ini masih hidup," kata Gajah Pagon dalam hati, dengan perasaan lega bercampur gembira.
"Semoga aku masih dapat menolongnya," kata Gajah Pagon kembali sambil mengeluarkan sebuah tabung bambu kecil dari balik pakaiannya.
"Bubuk obat ini dapat menahan racun untuk beberapa hari," kata Gajah Pagon kembali sambil memasukkan sedikit bubuk putih dari dalam tabungnya ke mulut Ki Sukasrana.
Setelah itu, Gajah Pagon mendekati sebuah parit kecil yang ada di hutan tepi jalan itu.
Dengan sehelai daun lebar yang ditekuk menyerupai pincuk untuk membawa air.
Dengan air sedikit itu, Gajah Pagon menuangkannya ke bibir Ki Sukasrana. Ternyata air itu berguna agar obat di dalam mulut Ki Sukasrana terdorong masuk ke tubuhnya.
Tidak lama kemudian, Gajah Pagon dapat melihat perubahan di wajah Ki Sukasrana; sudah tidak sepucat sebelumnya.
"Aku harus secepatnya membawa orang ini ke Pandakan, mudah-mudahan ayahku dapat menyembuhkannya," kata Gajah Pagon dalam hati sambil memandang wajah Ki Sukasrana dengan penuh kekhawatiran.
Sementara itu, hari sudah menjadi begitu gelap, Gajah Pagon sudah mengangkat tubuh Ki Sukasrana ke atas kuda.
Perlahan, Gajah Pagon menuntun dua ekor kuda keluar dari hutan di pinggir jalan itu.
Ketika sampai di jalan tanah, Gajah Pagon langsung melompat ke atas kudanya.
Jalan tanah menuju arah Bandar Cangu sudah begitu sepi dan senyap, langit malam yang buram kehitaman mengikuti dua ekor kuda yang berjalan setengah berlari.
Sambil berkuda, Gajah Pagon menuntun kuda yang lain, tempat Ki Sukasrana tertelungkup melintang di atas punggungnya.
Akhirnya Gajah Pagon telah sampai di Bandar Cangu.
Ia memasuki sebuah padukuhan dan menghentikan kudanya di sebuah rumah.
Ternyata rumah itu adalah sebuah rumah penghubung untuk para petugas sandi Singasari.
Seorang yang sudah cukup berumur keluar rumah menyambut kedatangan Gajah Pagon.
"Maaf, aku telah mengganggu malammu," kata Gajah Pagon kepada lelaki itu.
"Tidak ada yang terganggu," kata lelaki itu sambil ikut membantu memapah tubuh Ki Sukasrana untuk diletakkan di lantai kayu pendapa rumahnya.
Gajah Pagon langsung bercerita apa yang terjadi atas diri Ki Sukasrana.
"Jadi buronan kita itu sudah tewas?" tanya lelaki itu ketika Gajah Pagon bercerita tentang pertempurannya dengan Wirondaya.
"Aku tidak berhasil membawanya hidup-hidup," kata Gajah Pagon.
"Kamu sudah berusaha, sudah takdirnya ia termakan senjatanya sendiri," kata lelaki itu kepada Gajah Pagon.
"Yang harus aku lakukan saat ini adalah membawa orang ini secepatnya ke Pandakan, mungkin ayahku dapat mengobatinya," kata Gajah Pagon kepada lelaki itu.
"Aku perlu sebuah jukung untuk membawanya," kata Gajah Pagon kembali.
Sementara itu, langit malam sudah di ujung peraduannya, dengan segumpal cahaya kemerahan yang bersembul di ujung timur bumi.
Di ujung malam itu, di pinggir Sungai Brantas yang sepi, jauh dari keramaian Bandar Cangu yang tidak pernah sepi, terlihat dua orang lelaki tengah memapah sesosok tubuh ke atas sebuah jukung.
Ternyata dua orang lelaki itu tidak lain adalah Gajah Pagon dan kawannya, tengah meletakkan tubuh Ki Sukasrana ke atas sebuah jukung.
"Aku titip kudaku," kata Gajah Pagon kepada lelaki kawannya itu.
"Aku akan menjaganya," kata lelaki kawannya itu sambil melambaikan tangan, terus memandang Gajah Pagon di atas jukungnya yang perlahan bergeser menjauh dari tepian Sungai Brantas.
Di keremangan pagi yang masih gelap dan dingin itu, jukung Gajah Pagon meluncur di atas Sungai Brantas yang masih sepi.
Sementara itu, lelaki kawannya masih berdiri mengikuti dengan pandangannya jukung Gajah Pagon yang semakin menjauh dan menghilang di sebuah tikungan sungai.
"Kuharap obatku dapat menghambat jalannya racun di tubuhnya," kata Gajah Pagon di atas jukung sambil memandang wajah Ki Sukasrana yang masih pingsan tak sadarkan diri.
Matahari pagi sudah mulai meninggi ketika jukung Gajah Pagon masuk ke sebuah anak Sungai Brantas.
Hutan di kiri kanan anak sungai itu cukup lebat, hampir menutupi cahaya matahari yang masuk, membuat suasana perjalanan di atas aliran sungai itu menjadi begitu teduh.
Namun keteduhan itu tidak begitu lama, akhirnya jukung Gajah Pagon menemui sebuah tempat terbuka, sebuah hamparan sawah yang cukup luas.
Beberapa rumah bilik kayu kadang berdiri di tepi sungai itu.
Gajah Pagon mengayuh dayungnya untuk menepi di sebuah dermaga kayu.
Tidak jauh dari dermaga kayu itu, terlihat sebuah bangunan Padepokan yang cukup luas dikelilingi pagar kayu.
"Tidak ada yang berubah di sini," kata Gajah Pagon dalam hati sambil menyapu pandangannya ke sekeliling ketika menambatkan tali jukungnya di sebuah tonggak kayu yang ada.
Gajah Pagon sudah mendekati pintu regol Padepokan Pandakan.
Seorang cantrik yang melihatnya langsung membantu membawa tubuh Ki Sukasrana ke pendapa.
Seorang yang sudah cukup berumur turun dari pendapa menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang, anakku," kata orang tua itu yang ternyata adalah Ki Pandakan, ayah dari Gajah Pagon.
Sementara itu, seorang cantrik yang membantu membawa tubuh Ki Sukasrana sudah sampai di atas pendapa.
"Orang ini terkena racun, sengaja kubawa kemari karena aku yakin Ayah dapat menyembuhkannya," kata Gajah Pagon setelah menceritakan panjang lebar semua yang dialaminya kepada ayahnya.
"Yang dapat menyembuhkan hanyalah Gusti Yang Maha Agung, aku hanya perantaranya," kata Ki Pandakan sambil memeriksa beberapa bagian tubuh Ki Sukasrana yang masih pingsan dan lemas seperti orang yang tertidur pulas, mungkin akibat obat yang diberikan oleh Gajah Pagon sebelumnya.
"Daya tahan tubuh orang ini cukup kuat, ditambah lagi obat penawar racun yang kamu berikan sudah berhasil meredam beberapa bagian racun yang belum sempat terserap ke aliran darahnya," kata Ki Pandakan menyampaikan pengamatannya atas diri Ki Sukasrana.
"Apakah orang ini dapat disembuhkan?" tanya Gajah Pagon penuh kekhawatiran.
Ki Pandakan tidak langsung menjawab, hanya menarik napas panjang dan menghembuskannya kembali.
"Aku akan mencobanya," kata Ki Pandakan sambil menatap anaknya, Gajah Pagon, dengan sebuah senyuman yang begitu lembut.
"Aku akan menggunakan batu aji kayu keling, semoga dapat menarik semua racun yang terlanjur masuk di aliran darahnya," kata Ki Pandakan sambil berdiri dan melangkah masuk ke ruangan dalam.
Tidak lama kemudian, Ki Pandakan sudah datang kembali dengan membawa sebuah kayu pendek berwarna hitam sebesar telunjuk jari. Ternyata itulah yang disebutnya sebagai batu aji kayu keling.
Ki Pandakan duduk di ujung kaki Ki Sukasrana dan langsung menempelkan batu aji kayu keling di telapak kaki kanan Ki Sukasrana.
Aneh!
Batu aji kayu keling itu seperti melekat di telapak kaki Ki Sukasrana tanpa bantuan tangan dari Ki Pandakan.
Perlahan, tetapi pasti, terlihat perubahan warna kulit Ki Sukasrana yang semula nampak pucat, berubah perlahan menjadi segar.
Sementara itu, di ujung telapak kanan tempat batu aji kayu keling itu ditempelkan, terlihat darah hitam mengumpul, yang kemudian seolah hilang terisap batu aji kayu keling.
Aneh!
Batu aji kayu keling itu terlepas dan jatuh ke lantai, tidak melekat lagi di telapak kaki Ki Sukasrana.
"Racun di tubuhnya sudah punah, hanya perlu pemulihan atas beberapa otot kecilnya yang terganggu," kata Ki Pandakan sambil mengambil batu aji kayu keling yang sudah terjatuh.