Chapter 41
"Berapa lama pemulihannya?" tanya ayahnya.
Gajah Pagon bertanya kepada Ki Pandakan yang hanya tersenyum dan tidak segera menjawab.
"Mungkin sebulan, mungkin juga dua bulan, atau bisa juga lebih, tergantung kekuatan tubuh dan kemauan yang kuat dari orang ini," jawab Ki Pandakan atas pertanyaan Gajah Pagon. "Juga tergantung kekuasaan Gusti Yang Maha Agung," lanjut Ki Pandakan dengan suara tenang.
Ki Pandakan kemudian mendekati Ki Sukasrana, mengeluarkan sebuah wadah kecil, dan membuka penutupnya. Ia meneteskan cairan dari wadah tersebut ke atas bibir Ki Sukasrana.
"Madu tawon hitam ini akan membantu memulihkan tenaganya," ujar Ki Pandakan sambil menutup kembali wadahnya.
Ternyata khasiat madu tawon hitam itu langsung bekerja memulihkan tenaga Ki Sukasrana. Kepala Ki Sukasrana mulai bergerak perlahan ke kanan dan ke kiri.
"Orang ini sudah hampir siuman," kata Gajah Pagon dengan gembira sambil memperhatikan Ki Sukasrana. Terlihat pula alisnya mulai bergerak, sepertinya ia ingin membuka mata.
"Di mana aku?" tanya Ki Sukasrana saat membuka matanya, mencoba mengingat kembali peristiwa terakhir yang ia alami.
"Kamu masih lemah, jangan bergerak dulu," kata Ki Pandakan kepada Ki Sukasrana.
"Kamu berada di Padepokan Pandakan," sahut Gajah Pagon, yang kemudian bercerita cukup panjang mulai dari kejadian di kedai persinggahan hingga ia dibawa ke Padepokan Pandakan.
"Siapa namamu, Anak Muda?" tanya Ki Sukasrana kepada Gajah Pagon.
"Namaku Gajah Pagon, dan ini ayahku, Ki Pandakan," jawab Gajah Pagon.
"Orang-orang memanggilku Ki Sukasrana. Terima kasih atas semua yang kalian lakukan untukku, telah menyelamatkan nyawa ini," kata Ki Sukasrana.
"Sebagai sesama manusia, sudah sewajarnya kita saling menolong," balas Ki Pandakan.
"Tidak semua manusia seperti kalian. Buktinya kawanku sendiri bermaksud membunuhku," ujar Ki Sukasrana dengan wajah penuh dendam kepada Wirondaya yang telah bertindak licik dengan meracuninya.
"Kawanmu sudah menerima ganjaran yang sesuai dengan perbuatannya," kata Gajah Pagon.
Ki Sukasrana tersentak mendengar ucapan Gajah Pagon. Ia merasa ucapan itu juga tertuju kepadanya karena ia merasa bukan orang baik selama ini. Hidupnya bahkan lebih kotor daripada apa yang dilakukan oleh Wirondaya. Terbayang dalam ingatan Ki Sukasrana bagaimana ia membunuh sebuah keluarga demi keamanan kerajaan, serta pernah membakar sebuah desa tanpa rasa kasihan sedikit pun. Bahkan, ia pernah memerkosa seorang wanita setelah membunuh suaminya.
"Mungkin aku akan menerima ganjaran yang lebih besar atas dosa-dosaku," gumam Ki Sukasrana sambil berbaring di lantai pendapa Padepokan Pandakan.
"Gusti Yang Maha Agung selalu membuka pintu maaf bagi setiap hamba-Nya yang bertobat," kata Ki Pandakan.
"Dosaku sudah sebesar gunung," sahut Ki Sukasrana dengan wajah penuh putus asa.
"Selama masih ada napas, selama itu pula masih ada kesempatan untuk bertobat," ujar Ki Pandakan dengan wajah penuh senyum.
"Mungkin apa yang telah aku lakukan karena tempat berpijakku yang salah. Izinkan aku mulai saat ini bersama kalian. Aku yakin kalian adalah tempat pijakan yang baik untuk memulai sebuah kebajikan," kata Ki Sukasrana sambil memandang Ki Pandakan dan Gajah Pagon bergantian.
"Padepokan kami selalu terbuka bagi siapa pun yang ingin belajar tentang hidup dan kehidupan," jawab Ki Pandakan ramah.
"Terima kasih," ucap Ki Sukasrana dengan sukacita. "Wahai Gajah Pagon, dapatkah kamu menerima sebuah permintaan dariku?"
"Selama aku mampu melakukannya, aku akan menerima permintaan itu," jawab Gajah Pagon tulus.
Sebelum menyebutkan permintaannya, Ki Sukasrana bercerita tentang tugas yang tengah diembannya, yaitu membawa sebuah rontal rahasia kepada Adipati Wiraraja di Sunginep. Ki Sukasrana juga bercerita bahwa ia dan Senapati Jaran Goyang sebenarnya sudah tahu bahwa Wirondaya bukanlah keponakan yang disayangi oleh Adipati Wiraraja. Hal ini dirahasiakan oleh Senapati Jaran Goyang dari Raja Gelang-gelang. Cerita itu bahkan diputarbalikkan seolah-olah Adipati Wiraraja telah berpihak kepada Raja Jayakatwang melalui utusan resminya, Wirondaya.
"Semula Senapati Jaran Goyang memintaku untuk membunuh Wirondaya di tengah perjalanan, sementara rontal rahasia ini tidak perlu sampai kepada Adipati Wiraraja," pungkas Ki Sukasrana.
"Ki Sukasrana belum menyampaikan bantuan apa yang bisa saya lakukan," Gajah Pagon mengingatkan.
Sambil berbaring, Ki Sukasrana tersenyum. "Aku dan Senapati Jaran Goyang sudah tahu bahwa kesetiaan Adipati Wiraraja tidak akan bergeser sedikit pun dalam cintanya pada Singasari Raya. Bawalah rontal ini kepadanya, dan sampaikan semua rahasia Wirondaya serta sikap Raja Jayakatwang yang salah menilai kesetiaan Adipati Wiraraja," pinta Ki Sukasrana. "Mungkin dengan cara ini Adipati Wiraraja dapat mengambil langkah yang baik bagi Singasari Raya."
"Apa isi rontal rahasia ini?" tanya Gajah Pagon.
"Aku sudah membacanya. Isinya hanya ucapan terima kasih atas keberpihakan Adipati Wiraraja dan permintaan bantuan untuk penyerangan ke Kotaraja Singasari," jawab Ki Sukasrana. "Apakah kamu bersedia mengantarkannya untukku kepada Adipati Wiraraja?"
Gajah Pagon tidak langsung menjawab. Pikirannya melayang pada tugasnya sendiri untuk menyampaikan rontal rahasia kepada Adipati Bungalan di Balidwipa. Namun, Gajah Pagon tidak tega menolak permintaan Ki Sukasrana yang masih terbaring lemah itu.
"Aku bersedia melakukannya untukmu," kata Gajah Pagon dengan senyum tulus.
"Terima kasih," ucap Ki Sukasrana dengan wajah berseri.
Sementara itu, matahari senja di atas Padepokan Pandakan mulai meredup. Bayang-bayang pohon beringin putih di tengah halaman telah menghilang, menyisakan dahan dan daun yang bergoyang pelan ditiup angin.
"Kalian harus bergantian menjaganya," perintah Ki Pandakan kepada kedua cantriknya yang sedang memapah Ki Sukasrana menuju bilik yang telah disediakan.
Malam pun tiba menyelimuti Padepokan Pandakan. Pohon beringin putih di halaman depan tampak samar di bawah cahaya rembulan yang sepotong.
"Aku mohon petunjuk Ayahanda, mana yang harus aku dahulukan?" tanya Gajah Pagon kepada ayahnya setelah menceritakan tugas dari Sri Baginda Maharaja Singasari.
"Aku pernah melakukan perjalanan ke Balidwipa melalui Madura. Itulah arah yang sebaiknya kamu lalui," saran Ki Pandakan. Ia menarik napas panjang. "Ternyata Raja Gelang-gelang sudah bergerak lebih cepat dengan melaksanakan samabedha-danua."
"Aku mengerti, mereka tengah menghimpun sekutu. Namun, mereka salah langkah dengan memilih Adipati Aria Wiraraja, bukan begitu Ayahanda?" tanya Gajah Pagon.
"Benar Anakku, itulah sebabnya arah perjalananmu harus menemui Adipati Wiraraja terlebih dahulu," Ki Pandakan membenarkan.
"Besok pagi aku harus segera berangkat," kata Gajah Pagon.
"Lebih cepat lebih baik," jawab Ki Pandakan sambil menatap jauh ke depan. Batinnya yang peka menangkap sebuah pertanda halus.
"Sepertinya Ayahanda ingin mengatakan sesuatu?" tanya Gajah Pagon yang melihat raut wajah ayahnya berubah seolah melihat hal mengerikan.
"Aku melihat peperangan, darah, dan jeritan prajurit yang menyayat hati. Cepatlah Anakku, mungkin langkahmu dapat menghindari perang besar itu," ujar Ki Pandakan tanpa berpaling.
Penglihatan batin Ki Pandakan sebenarnya adalah gambaran api yang mulai berkobar dari percikan kecil. Api itu bermula dari berita yang sampai kepada telik sandi Kerajaan Gelang-gelang tentang kematian Wirondaya dalam perjalanan menuju Bandar Canggu.
"Kita harus bergerak cepat, hamba khawatir rontal rahasia itu sudah jatuh ke tangan musuh," lapor Senapati Jaran Goyang kepada Raja Jayakatwang di puri peristirahatan pribadinya. Saat itu, hadir pula Patih Kebo Mundarang.
"Benar, saatnya menjalankan saran sekutu kita, Adipati Aria Wiraraja. Inilah saatnya berburu di tegal lama, saat tidak ada banteng maupun ular. Hanya ada harimau, namun harimau yang ompong," kata Raja Jayakatwang mengulang pesan palsu Wirondaya yang mengatasnamakan Adipati Aria Wiraraja.
"Sepuluh ribu prajurit sudah bersiap sedia kapan pun Paduka memerintah," lapor Patih Kebo Mundarang penuh semangat.
Keesokan harinya, pasukan besar telah dihimpun di alun-alun Kotaraja Gelang-gelang. Sebuah pasukan yang mampu menggetarkan hati siapa pun yang melihatnya.