Chapter 43
Ki Barep membuka diri bahwa tujuannya datang ke Tanah Perdikan Sunginep adalah untuk mengantar Gajah Pagon untuk sebuah urusan. Adipati Aria Wiraraja memandang kepada Gajah Pagon dan bertanya, "Ada urusan apa gerangan?" Gajah Pagon menyampaikan urusannya, namun menutup jati dirinya sebagai prajurit telik sandi yang tengah melaksanakan tugasnya. Ia hanya bercerita tentang Ki Sukasrana yang saat ini masih dirawat di Padepokan Pandakan dan telah memintanya untuk menyampaikan sebuah rontal rahasia.
Gajah Pagon juga membicarakan tentang rahasia Wirondaya yang telah memutar balikkan keadaan sehingga Raja Jayakatwang salah tafsir menganggap Adipati Aria Wiraraja telah berkeinginan bersekutu dengan Raja Gelang-gelang. Adipati Aria Wiraraja membaca rontal itu dan menggulung kembali setelah membaca semua isi dari rontal itu. Ia memandang jauh ke depan sambil menarik nafas panjang.
"Wirondaya telah mengelabui Raja Gelang-gelang itu dengan mengatas namakan utusan dari Tanah Perdikan Sunginep," kata Adipati Aria Wiraraja tanpa menoleh sedikit pun, matanya masih memandang jauh ke depan. "Wirondaya juga telah memberi sayap kepada 294 macan keturunan Kediri itu untuk membakar sisa dendamnya yang tidak pernah padam."
Ki Barep mencoba ikut membaca suasana yang terjadi di Tanah Singasari. "Ribuan prajurit Singasari kudengar saat ini tengah menghadapi para perusuh asing di Selat Malaka," katanya. Adipati Aria Wiraraja menjawab, "Raja keturunan Kediri itu telah melihat sarang harimau telah ditinggalkan penghuninya."
Adipati Aria Wiraraja berterima kasih kepada Gajah Pagon dan Ki Barep karena telah membawa rontal itu. Ia berjanji akan mengirim sebuah utusan resmi kepada Baginda Maharaja Singasari bahwa ada seekor macan muda tengah memulai perburuannya. Mereka kemudian menikmati hidangan pertemuan itu dengan gembira sambil berbicara beberapa hal yang berkaitannya dengan suasana yang tengah dan akan terjadi di Tanah Singasari Raya.
"Kekuasan, peperangan, dan dendam, selalu menjadi kancah yang tidak pernah putus di Tanah Singasari Raya ini," kata Adipati Aria Wiraraja. Ki Barep ikut memberikan pandangan dan harapannya, "Perdamaian abadi memang tidak akan ada, yang ada masa perdamaian yang singkat yang akan berlalu, tapi kita harus meyakini bahwa perdamaian akan datang kembali."
Ketika matahari terlihat telah mulai bergeser dari puncaknya, Ki Barep dan Gajah Pagon bermaksud untuk pamit diri. Adipati Aria Wiraraja mengantar mereka sampai ke pintu gerbang rumahnya. Bersama tatapan mata Adipati Aria Wiraraja dan beberapa prajurit pengawal Tanah Perdikan Sunginep, Gajah Pagon dan Ki Barep melangkah semakin menjauh yang akhirnya menghilang tidak terlihat lagi di sebuah persimpangan jalan.
Ki Barep mengajak Gajah Pagon untuk bermalam di rumah sahabatnya di perkampungan nelayan. Gajah Pagon menyatakan bahwa satu urusannya telah selesai, tinggal satu urusan lagi menuju Balidwipa. Ki Barep menikmati suasana perjalanan penuh kenangan bersamanya.
Sementara itu, di waktu yang sama jauh dari Tanah Madhura, terlihat tiga ekor kuda berlari begitu cepatnya di jalan tanah menuju Bandar Cangu. Ketiga penunggang kuda itu sepertinya tidak memperlambat kudanya ketika di depan mereka berjalan lambat beberapa pedati milik para pedagang.
Mereka akhirnya memperlambat laju kuda mereka ketika tiang-tiang layar mulai terlihat di kejauhan. Barulah mereka memperlambat lari kudanya, sepertinya berusaha menyamakan kecepatan seseorang lelaki yang nampaknya sangat disegani oleh keduanya.
Ketika langkah kuda berjalan perlahan, barulah dapat dikenali wajah mereka yang ternyata salah seorang di antara mereka adalah seorang yang tidak asing lagi, dialah Kuda Cemani, seorang pejabat istana yang sangat dipercayai oleh Baginda Maharaja Singasari.
Kuda Cemani bersama dua orang prajurit pengawalnya terus melangkah membawa kudanya menyusuri tepi sungai Brantas, melewati dan membelakangi hiruk pikuk para kuli pengangkut barang yang tengah mengisi barang muatan sebuah kapal kayu besar.
Mereka bertiga juga melewati Benteng Cangu yang besar, hanya melirik sebentar melihat kesibukan beberapa prajurit yang dapat terlihat di balik dinding pagar batang kayu yang cukup tinggi. Dan akhirnya, Kuda Cemani dan kedua prajurit pengawalnya itu terlihat mengarahkan langkah kudanya menuju sebuah barak prajurit yang lebih besar dari yang ada di benteng Cangu.
Sebuah rumah panggung yang sangat megah berdiri membelakangi barak-barak itu. Mata ketiga penunggang kuda itu tertuju ke rumah besar dan megah itu, yang tidak lain adalah rumah Balai Tamu dimana Raden Wijaya seorang Senapati utama Singasari tinggal dan menjadi penghuninya.
Raden Wijaya menyambut kedatangan Kuda Cemani di pendapa Balai Tamu. "Seharian ini aku tidak mendengar gemuruh angin badai, ternyata gemuruh itu telah dibawa oleh tangan kanan kepercayaan Sri Baginda Maharaja Singasari, berada di hadapanku," katanya.
Kuda Cemani menyambut perkataan Raden Wijaya, "Gemuruh angin badai akan berhenti sejenak manakala harus bertatap muka dengan seorang Senapati yang rendah hati." Ranggalawe ikut bergabung dan menyambut kedatangan Kuda Cemani.
Kuda Cemani menyampaikan berita besar bahwa sepuluh ribu prajurit kerajaan Gelang-gelang telah keluar dari Kotarajanya. Raden Wijaya dan Ranggalawe terkejut mendengar berita itu. Kuda Cemani juga menyampaikan bahwa Sri Baginda Maharaja memerintahkan Raden Wijaya untuk menghancurkan pasukan itu sampai habis tidak tersisa.
Raden Wijaya dan Ranggalawe berdiskusi tentang strategi untuk menghadapi pasukan Gelang-gelang. Mereka juga membicarakan tentang kekuatan prajurit Singasari dan kemungkinan serangan dari arah utara. Kuda Cemani menyampaikan bahwa Sri Baginda Maharaja juga memerintahkan Pangeran Ardharaja membawa seribu pasukan yang ada di Kotaraja.
Raden Wijaya dan Ranggalawe terkejut mendengar nama Pangeran Ardharaja. Mereka kemudian membicarakan tentang rencana untuk menghadapi pasukan Gelang-gelang dan mempersiapkan strategi untuk memenangkan pertempuran.