Halo!

Kabut Di Bumi Singosari - Chapter 44

Memuat...
Kabut Di Bumi Singosari

Chapter 44

"Baginda Maharaja telah begitu murka, Pangeran Ardharaja adalah korbannya," kata Kuda Cemani yang ikut merasa prihatin karena membawa Pangeran Ardharaja dalam perang saudara itu.

"Aku tidak meragukan kemampuannya, yang kuragukan adalah kesetiaannya," ujar Raden Wijaya.

"Sebagai seorang senapati, kehadiran Pangeran Ardharaja mungkin menjadi beban tambahan," kata Kuda Cemani.

"Setidaknya aku akan menempatkannya di tempat yang mudah untuk diawasi," sahut Raden Wijaya.

"Pangeran Ardharaja dan pasukannya akan langsung menuju Kademangan Tasikmadu," kata Kuda Cemani.

"Kapan diperhitungkan pasukan musuh tiba di Gunung Rejo?" tanya Raden Wijaya.

"Menurut perhitungan kami, mereka akan tiba besok pagi," jawab Kuda Cemani.

"Besok, saat pagi sudah terang tanah, aku akan membawa seluruh kekuatan di Bandar Cangu ini," kata Raden Wijaya kepada Kuda Cemani.

"Selama dalam perjalanan dan menunggu di Gunung Rejo, lumbung mereka terus berkurang," kata Kuda Cemani.

"Sementara itu, lumbung padi Kademangan Tasikmadu masih dapat bertahan untuk dua pekan pertempuran," tambah Kuda Cemani.

"Terima kasih. Perhitungan Paman Kuda Cemani untuk masalah lumbung makanan dapat menjadi senjata andalan untuk memukul pasukan musuh di sana," kata Raden Wijaya dengan wajah cerah, diam-diam mengagumi pengamatan dan perhitungan Kuda Cemani.

"Saat mereka tiba di Gunung Rejo, beberapa petugas sandi akan melakukan pengamatan untuk mengetahui sebanyak apa persediaan mereka," kata Kuda Cemani.

Sementara itu, langit hitam di atas Balai Tamu sudah semakin rendah memayungi bumi. Kerlap-kerlip jutaan bintang di langit dan sinar bulan yang buram tidak mampu memberikan cahaya apa pun. Tepian Sungai Brantas sudah semakin tidak terlihat, rata dengan semak dan ilalang. Pemandangan di halaman depan Balai Tamu sudah tertutup oleh kegelapan malam.

"Hari sudah larut malam, silakan Paman Kuda Cemani beristirahat," kata Raden Wijaya kepada Kuda Cemani.

"Terima kasih. Usiaku yang sudah semakin tua ini memang membuatku gampang lelah dan mengantuk," kata Kuda Cemani sambil tersenyum dan berdiri.

"Kita harus memanggil para perwira malam ini juga," kata Ranggalawe kepada Raden Wijaya.

Demikianlah, malam itu Raden Wijaya dan Ranggalawe memanggil semua perwira tingginya. Malam itu adalah saat kepemimpinan Raden Wijaya sebagai seorang senapati benar-benar teruji.

Pagi hari, saat tanah telah terang disinari dan dihangati oleh sang surya, terlihat iring-iringan panjang prajurit Singasari berduyun-duyun keluar dari Bandar Cangu menuju utara Singasari, ke Kademangan Tasikmadu. Bunyi genderang dan bende bergemuruh bersama langkah kaki dan suara penuh semangat, mengiringi keberangkatan para prajurit pejuang Singasari yang diwarnai kibaran rontek serta umbul-umbul tanda kebesaran setiap kesatuan.

Barisan diawali oleh pasukan pemanah dengan busurnya, diikuti pasukan bertombak yang terlihat kuat menggenggam tombak panjang dengan mata lurus ke depan, seolah siap menghantam musuh. Sementara itu, pasukan berpedang terlihat tidak kalah gagah dengan pedang yang menggantung di balik pundak, ikut bergoyang seiring langkah kaki mereka yang tegap. Di belakang mereka, sepasukan prajurit berkuda mengiringi pasukan infanteri. Mereka tampak begitu gagah di atas punggung kuda masing-masing dengan berbagai senjata.

"Selamat jalan, wahai kesumaku," ucap seorang gadis jelita yang berdiri di pintu pagar rumahnya saat iring-iringan prajurit itu melewati padukuhannya. Gadis itu mewakili perasaan semua gadis yang berharap kekasih pujaan mereka dapat kembali dengan selamat untuk melanjutkan janji cinta yang telah terpahat di hati.

"Jangan menangis, Nyi. Kita berdoa saja semoga Mukti kembali dengan selamat," kata seorang lelaki tua menghibur istrinya yang menangis menatap iring-iringan prajurit yang semakin menjauh dan hilang di ujung jalan yang menurun.

Iring-iringan prajurit Singasari itu semakin menjauh menuju arah utara. Mereka akan menghadang musuh di Padang Kalimayit, sebuah tempat luas yang terhampar ilalang, memisahkan dua kubu yang siap berseteru: satu kubu di Gunung Rejo dan kubu lainnya di Kademangan Tasikmadu.

"Pasukan prajurit yang dibawa oleh Pangeran Ardharaja telah tiba tadi malam di Kademangan Tasikmadu," kata Kuda Cemani kepada Raden Wijaya yang berkuda di sampingnya.

"Kita akan sampai saat matahari menjelang puncaknya," kata Raden Wijaya dengan mata tetap memandang ke depan, seolah berbicara kepada dirinya sendiri.

Kuda Cemani hanya menoleh sebentar, membaca raut wajah Raden Wijaya. Ia menarik napas panjang, memaklumi ketegangan hati sahabat mudanya yang baru pertama kali dipercaya memimpin pasukannya sendiri itu.

"Hari ini Raden Wijaya mulai diuji, sebagaimana seekor harimau muda berburu di tegalan. Inilah awal kehidupannya yang akan terpahat di setiap langkah dan keputusan takdirnya," kata Kuda Cemani dalam hati sambil terus mengiringi langkah kuda Raden Wijaya.

Di atas mereka, langit dipenuhi awan kelabu yang menutupi cahaya matahari. Namun, angin berembus cukup kencang, seolah mencoba mengusir awan hujan agar menjauh.

Sebagaimana yang diperkirakan, menjelang matahari tergelincir dari puncaknya, pasukan besar Singasari itu telah sampai di Kademangan Tasikmadu. Seribu prajurit yang dipimpin oleh Pangeran Ardharaja yang tiba lebih dulu ternyata sudah membangun beberapa barak darurat serta dapur umum yang diperlukan.

"Selamat datang di Kademangan Tasikmadu," kata Ki Demang Tasikmadu menyambut kedatangan Raden Wijaya dan rombongannya.

Raden Wijaya, Ranggalawe, dan Kuda Cemani menaiki tangga pendapa rumah Ki Demang Tasikmadu.

"Selamat bergabung dan terima kasih telah melakukan persiapan awal," kata Raden Wijaya kepada Pangeran Ardharaja yang sudah berada di pendapa.

"Hanya itu yang dapat kami lakukan sambil menunggu Tuan Senapati," jawab Pangeran Ardharaja yang usianya lebih muda dari Raden Wijaya.

"Para prajurit harus beristirahat yang cukup hari ini agar mereka siap menghadapi pertempuran besok," kata Raden Wijaya.

"Para prajurit pengawal kademangan siap bahu-membahu di belakang Tuan Senapati," ujar Ki Demang Tasikmadu kepada Raden Wijaya.

"Terima kasih. Kepedulian penduduk kademangan ini adalah jasa yang sangat besar, dan kami tidak akan melupakannya," balas Raden Wijaya.

Sementara itu, pada waktu yang hampir bersamaan, di lereng Gunung Rejo telah berhamburan para prajurit Gelang-gelang yang nampaknya begitu lelah setelah menempuh perjalanan panjang.

"Kita buat barak perkemahan yang besar agar mereka menyaksikannya," perintah Patih Kebo Mundarang kepada Senapati Jaran Guyang.

Senapati Jaran Guyang segera memanggil beberapa perwiranya untuk melaksanakan perintah Patih Kebo Mundarang. Beberapa prajurit Gelang-gelang pun membangun barak perkemahan yang cukup besar tanpa menghiraukan rasa lelah mereka. Segala gerak-gerik itu tidak luput dari pengamatan para petugas telik sandi Singasari yang telah disebar untuk mengawasi musuh.

"Mereka sedang membuat barak perkemahan yang cukup besar, namun mereka tidak membawa persediaan makanan yang cukup," lapor Kuda Cemani kepada Raden Wijaya di pendapa rumah Ki Demang Tasikmadu.

"Mungkin mereka terlalu yakin bahwa pasukan besar mereka akan dapat memenangkan pertempuran ini dengan cepat," kata Raden Wijaya memberikan pendapatnya.

"Aku berpikir lain," sahut Kuda Cemani.

"Apa yang ada dalam pikiran Paman Kuda Cemani?" tanya Raden Wijaya.

"Aku berpikir bahwa mereka tidak bermaksud berperang di Padang Kalimayit ini," jawab Kuda Cemani.

"Mereka telah menurunkan seluruh pasukannya di Gunung Rejo, dan besok mereka sudah siap tempur," timpal Ranggalawe ikut memberikan pandangannya.

"Itu hanya pemikiranku setelah melihat jumlah gudang makanan yang mereka miliki. Namun, semua keputusan kuserahkan kepada Tuan Senapati," kata Kuda Cemani lagi.

Raden Wijaya mencoba memikirkan semua kemungkinan yang bisa saja terjadi, seperti yang dikatakan oleh Kuda Cemani. Sementara itu, tidak ada yang menyadari perubahan singkat pada wajah Pangeran Ardharaja yang tampak terkejut dan diam-diam membenarkan pandangan Kuda Cemani.

"Orang tua ini ternyata punya pengamatan yang sangat tajam; ia dapat membaca apa yang dipikirkan oleh pihak musuh," gumam Pangeran Ardharaja dalam hati.

"Aku belum dapat melihat kemungkinan itu. Sampai saat ini, mereka masih sepenuhnya berada di Gunung Rejo," kata Raden Wijaya kepada Kuda Cemani.

Pangeran Ardharaja menarik napas lega. Ia merasa senang karena Raden Wijaya tidak berpikir seperti Kuda Cemani. Namun, Ranggalawe ternyata memiliki kepekaan yang tinggi; ia diam-diam merasa curiga dengan sikap Pangeran Ardharaja. Akan tetapi, kecurigaan itu hanya disimpannya dalam hati karena khawatir dugaannya tidak berdasar.

Sementara itu, langit di atas rumah Ki Demang Tasikmadu sudah merayap mendekati senja. Suasana menjadi begitu bening dan teduh. Para prajurit tampak bergerombol di beberapa tempat untuk beristirahat atau sekadar menghangatkan badan sambil bercanda. Meski begitu, mereka tetap menunjukkan kesiagaan dan kewaspadaan. Ada sedikit ketegangan di wajah mereka, namun ketegangan itu akhirnya larut dalam canda dan tawa. Seolah-olah mereka tidak akan menghadapi peperangan besar, melainkan sedang dalam tamasya bersama. Begitulah cara para prajurit melupakan ketegangan mereka.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment