Halo!

Kabut Di Bumi Singosari - Chapter 45

Memuat...
Kabut Di Bumi Singosari

Chapter 45

Akhirnya malam cepat datang menyergap, menggulung segenap pandangan dalam kegelapan.

Langit di atas Rumah Ki Demang Tasikmadu sudah berubah berawan kelabu kelam tanpa satu pun bintang di atas sana.

Sebagai tanda bahwa hujan akan turun di malam itu.

Dan hujan pun akhirnya turun seperti suara bah, hujan di ujung pergantian musim kemarau, hujan yang sudah lama ditunggu.

Tiba-tiba saja muncul di balik kegelapan malam seorang prajurit naik ke atas pendapa.

"Prajurit telik sandi," gumam Kuda Cemani dalam hati yang mengenali salah seorang anak buahnya datang di saat hujan masih deras mengguyur bumi.

"Hamba mohon ampun bila kedatangan hamba tidak pada waktu yang tepat," ujar prajurit itu sambil menjura penuh hormat.

"Duduklah bersama kami, Ki Lurah Batiek, pasti kedatanganmu membawa berita yang tidak bisa dihentikan oleh petir sekalipun," ujar Kuda Cemani kepada prajuritnya yang dipanggilnya sebagai Ki Lurah Batiek.

Maka setelah prajurit yang dipanggil Ki Lurah Batiek itu duduk, sambil mengatur napasnya yang masih memburu, ia langsung menyampaikan sebuah berita yang membuat semua yang hadir saat itu terkejut bukan kepalang.

"Kami telah melihat pihak musuh tengah membangun sebuah lumbung persediaan makanan di selatan Kotaraja Singasari," ujar Ki Lurah Batiek dengan napas masih memburu.

"Mereka telah menjebak kita, menggempur Kotaraja Singasari di saat para penjaganya jauh meninggalkan sarangnya," ujar Kuda Cemani yang langsung menebak keinginan pihak musuh.

"Paman Kuda Cemani sudah dapat membaca, sebelum berita ini datang," ujar Ranggalawe membenarkan pendapat Kuda Cemani.

"Berapa jarak perjalanan antara Gunung Rejo ke lumbung itu?" bertanya Raden Wijaya yang telah berusaha menenangkan dirinya.

"Antara matahari terbenam sampai datangnya kembali fajar keesokan harinya," ujar Ki Lurah Batiek memperkirakan jarak perjalanan.

"Ki Lurah Batiek, pergilah bersama beberapa kawanmu ke Gunung Rejo. Berapa sisa prajurit pihak lawan yang mereka tinggalkan di sana?" ujar Kuda Cemani memerintahkan Ki Lurah Batiek.

"Mohon pamit, kami akan segera menyusup di sekitar perkemahan lawan," ujar Ki Batiek yang langsung berdiri dan melangkah menuruni anak tangga pendapa meski hujan saat itu masih belum reda betul, masih turun dalam gerimis yang panjang.

"Aku yang muda ini mohon petunjuk Paman Kuda Cemani, apa yang selayaknya kita lakukan," ujar Raden Wijaya yang diam-diam telah mengagumi kekuatan pikiran pihak lawan.

"Aku hanya berpikir seperti pikiran seorang musuh, seperti itulah aku berpikir," ujar Kuda Cemani dengan suara yang datar.

"Tuan Senapati adalah pemimpin tertinggi di sini, tuanlah yang harus menentukan langkah. Aku tidak berani melampau apa yang ada dalam pundakku," ujar kembali Kuda Cemani dengan wajah tenang penuh senyum, membiarkan Raden Wijaya belajar menjadi pemimpin yang sesungguhnya.

"Terima kasih Paman telah mengingatkan keberadaan diriku, tapi aku masih merasa muda dan masih perlu nasihat Paman Kuda Cemani yang sudah banyak menikmati rasa garam kehidupan yang lebih dariku," ujar Raden Wijaya kepada Kuda Cemani.

"Keputusan ada padamu, wahai Tuan Senapati. Aku hanya memberi gambaran bahwa saat ini Kotaraja Singasari dalam keadaan kosong tanpa penjaga," ujar Kuda Cemani tidak bermaksud ingin menggurui, tapi menyerahkan semua keputusan kembali kepada Raden Wijaya.

Sementara itu, hujan di luar halaman rumah Ki Demang sudah mulai reda. Langit malam sudah mulai terlihat biru sedikit berawan dengan beberapa kerlip bintang mulai bermunculan bersama cahaya redup bulan bulat yang masih buram terhalang awan tipis.

Terlihat seorang prajurit naik ke atas pendapa, ternyata adalah Ki Batiek yang telah kembali dari pengamatannya.

"Katakan apa yang kamu lihat," ujar Kuda Cemani kepada Ki Batiek yang sudah duduk bersama di pendapa rumah Ki Demang Tasikmadu.

"Mereka hanya meninggalkan seribu prajurit di Gunung Rejo," ujar Ki Batiek menyampaikan apa yang dilihat dan diamati di perkemahan pihak musuh.

"Terima kasih, Ki Batiek, sekarang kamu beristirahatlah," ujar Kuda Cemani kepada Ki Batiek yang langsung berdiri dan pamit diri.

Setelah Ki Batiek turun meninggalkan pendapa, suasana di atas pendapa sepertinya menjadi begitu lengang. Tampaknya, semua yang ada di atas pendapa tengah berpikir keras atau larut dalam pikirannya masing-masing.

"Aku akan menghajar sisa musuh yang ada di Gunung Rejo, sementara Pangeran Ardharaja kuharapkan dapat kembali membawa pasukannya ke Kotaraja Singasari," ujar Raden Wijaya memecahkan suasana keheningan di atas pendapa.

"Malam ini?" tanya Pangeran Ardharaja cukup kaget mendengar keputusan Raden Wijaya.

"Benar, bawalah seribu pasukanmu malam ini juga. Kupercayakan pasukanmu dan pasukan yang masih ada di Kotaraja untuk menahan musuh," ujar Raden Wijaya kepada Pangeran Ardharaja. "Kami akan datang secepatnya setelah membantai pasukan musuh di Padang Kalimayit itu," ujar kembali Raden Wijaya.

"Keputusan Tuan Senapati adalah perintah. Aku akan membawa pasukanku ke Kotaraja," ujar Pangeran Ardharaja sambil berdiri dan pamit diri melangkah menuruni tangga pendapa rumah Ki Demang.

Demikianlah, tidak lama berselang terdengar riuh suara prajurit yang berada di bawah pimpinan Pangeran Ardharaja terlihat sudah mulai bergerak meninggalkan Kademangan Tasikmadu.

"Aku tidak percaya, apakah Pangeran Ardharaja dengan suka hati menjaga Kotaraja?" ujar tiba-tiba Ranggalawe yang sepertinya merasa keberatan dengan keputusan Raden Wijaya.

Namun, baru disampaikannya setelah Pangeran Ardharaja tidak ada di atas pendapa rumah Ki Demang Tasikmadu.

"Aku juga tidak mempercayainya, itulah sebabnya kuminta dirinya untuk kembali ke Kotaraja," ujar Raden Wijaya kepada Ranggalawe.

"Aku jadi semakin tidak mengerti," ujar Ranggalawe kepada Raden Wijaya.

"Aku hanya tidak ingin pasukanku bercampur dengan para prajurit yang pimpinannya sangat kuragukan kesetiaannya," ujar Raden Wijaya menjelaskan keputusannya itu.

"Ternyata kita punya penilaian yang sama atas Pangeran Ardharaja, aku juga akan melakukan hal yang sama seandainya berdiri sebagaimana dirimu," ujar Kuda Cemani kepada Raden Wijaya.

"Paman Kuda Cemani pasti tidak hanya sekadar menduga, pasti sudah mendengar lewat para telik sandi siapa Pangeran Ardharaja dan pasukannya itu," ujar Raden Wijaya kepada Kuda Cemani.

"Ternyata telinga Raden sangat tajam, kami memang sudah lama membayangi pasukannya," ujar Kuda Cemani kepada Raden Wijaya.

"Pangeran Ardharaja dengan kekayaannya telah membeli kesetiaan para prajurit Singasari," ujar kembali Kuda Cemani dengan wajah buram.

"Begitu murahnya sebuah kesetiaan," ujar Ki Demang Tasikmadu ikut memberikan pandangannya.

"Begitulah gambaran wajah para prajurit Singasari di Kotaraja. Mereka sudah begitu rapuh karena arah tujuan hidup mereka telah berpaling; kemewahan sebagai kebanggaan hidup, saling berlomba untuk mengumpulkan kekayaan seakan-akan dunia abadi," ujar Kuda Cemani memberikan gambaran tentang kehidupan para prajurit dan penduduk di Kotaraja Singasari.

"Semoga kami para orang desa tidak tercemar. Bakti kami pada junjungan kami Maharaja Singasari adalah ungkapan rasa syukur kami atas limpahan alam dari Gusti Yang Maha Tunggal, dan hati kami masih bersih serta tidak akan terbeli oleh apa pun," ujar Ki Demang Tasikmadu.

Sementara itu, pasukan Pangeran Ardharaja sudah semakin menjauh dari Kademangan Tasikmadu.

"Rencana kita untuk merusak pasukan Singasari tidak terwujud," ujar orang kepercayaan Pangeran Ardharaja kepada Pangeran Ardharaja di sampingnya ketika mereka bersama pasukannya meninggalkan Kademangan Tasikmadu.

"Ternyata Raden Wijaya seperti sudah dapat membaca arah pikiranku," ujar Pangeran Ardharaja dengan wajah penuh kecewa.

"Tapi kita sudah dapat merusak persediaan makanan mereka," ujar orang kepercayaannya itu kepada Pangeran Ardharaja.

"Jadi kamu telah melakukannya?" tanya Pangeran Ardharaja kepada orang kepercayaannya.

"Kami telah melakukannya, mereka akan mati sebelum sempat bertempur," ujar orang kepercayaannya itu yang disambut oleh tawa panjang Pangeran Ardharaja.

"Kita masih dapat berbuat yang lebih pahit lagi, menghambat pasukan Senapati muda itu untuk tertahan di perjalanan," ujar Pangeran Ardharaja kepada orang kepercayaannya itu. "Dengan cara apa?" tanya orang kepercayaannya itu, penasaran. "Nanti akan kujelaskan," jawab Pangeran Ardharaja kepada kawannya itu sambil menghentakkan kakinya ke perut kuda agar berjalan lebih cepat lagi.

Terlihat orang kepercayaan Pangeran Ardharaja memberi tanda kepada pasukannya untuk berjalan lebih cepat lagi.

Kabut drama sandiwara di atas bumi Singasari memang telah begitu menghujam menyelimuti wajah Kotaraja Singasari; kesetiaan menjadi barang murah.

Keculasan dan kelicikan para pejabat istana sepertinya telah menambah carut-marut wajah Kotaraja Singasari.

Namun, Gusti Yang Maha Agung ternyata masih menjadi Sang Dalang Yang Maha Sempurna. Ia telah menghadirkan seorang prajurit muda yang masih bersih, masih punya hati, dan kesetiaannya.

Prajurit muda itu bernama Barayudha, seorang prajurit muda yang baru saja lulus dari sebuah pendadaran.

Dan tidak satu pun para penguji pendadaran itu yang mengetahui bahwa sesungguhnya pemuda itu adalah putra dari Sri Baginda Maharaja Kertanegara dari salah seorang selirnya.

Barayudha memang telah menyadari bahwa dirinya tidak punya hak apa pun atas darahnya, hanya karena terlahir dari seorang selir raja, ibundanya yang sangat mencintainya.

Tanpa sepengetahuan Barayudha, ibundanya telah mengatur Barayudha agar bergabung bersama pasukan yang dipimpin Pangeran Ardharaja, mungkin karena ibundanya itu melihat para prajurit di bawah pimpinan Pangeran Ardharaja lebih sugih, lebih makmur dari prajurit di bawah kesatuan lainnya.

Demikianlah, prajurit muda Barayudha akhirnya bersama pasukan Pangeran Ardharaja itu ikut ke Kademangan Tasikmadu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment