Halo!

Kabut Di Bumi Singosari - Chapter 46

Memuat...
Kabut Di Bumi Singosari

Chapter 46

Ketika pasukan itu meninggalkan Kademangan Tasikmadu, prajurit muda Barayudha ikut bersama di antara para prajurit yang sudah tidak punya kesetiaan pada Singasari Raya. Hati dan perasaan prajurit muda Barayudha diliputi kebimbangan, seolah diaduk-aduk oleh suasana hati untuk mengarahkan kesetiaannya. Namun, prajurit Barayudha tidak bisa keluar, masih terbawa langkah kakinya, masih berada di kesatuannya. Akhirnya, prajurit Barayudha mulai dapat memberontak, sudah dapat menentukan ke mana arah kesetiaannya diabdikan.

"Aku hanya putra seorang selir, tapi darahku tetap darah Raja Singasari!!" berkata dalam hati Barayudha sambil menggeretakkan giginya, menyatukan semangat di dalam dirinya. Akhirnya, dalam sebuah kesempatan, manakala Pangeran Ardharaja menghentikan langkah pasukannya di sebuah jalan yang diapit oleh hutan lebat, prajurit muda Barayudha terlihat tanpa sepengetahuan siapa pun menyelinap dalam kegelapan. Ke mana tujuan prajurit muda Barayudha itu? Terlihat dalam kegelapan malam, arah langkah kaki Barayudha ternyata kembali ke arah Kademangan Tasikmadu.

Hari memang sudah larut malam ketika tiga orang prajurit yang sedang meronda melihat seorang lelaki muda berjalan dalam kegelapan. "Aku mengenalmu sebagai prajurit dari kesatuan pasukan Pangeran Ardharaja?" kata salah seorang dari prajurit yang meronda kepada seorang prajurit yang tidak lain adalah Barayudha, ketika mereka sudah saling mendekat. "Aku memang prajurit dari kesatuan itu, aku membawa berita yang amat sangat penting. Antarkan aku kepada Senapatimu," kata Barayudha kepada tiga orang prajurit itu.

Mendengar bahwa Barayudha membawa berita yang amat sangat penting, tanpa bertanya apa pun, ketiga prajurit Singasari itu telah membawa Barayudha ke hadapan Senapati mereka, Raden Wijaya. Beruntung Raden Wijaya masih belum beristirahat, masih terlihat berbincang-bincang bersama Ki Demang, Ranggalawe, dan Kuda Cemani. Terlihat ketiga prajurit Singasari dan Barayudha sudah memasuki halaman rumah Ki Demang Tasikmadu. Namun, hanya seorang saja dari ketiganya yang terus berjalan bersama Barayudha ketika mereka sudah mendekati anak tangga pendapa rumah Ki Demang Tasikmadu.

"Maafkan hamba, bersama hamba adalah seorang prajurit pasukan Pangeran Ardharaja, katanya akan menyampaikan berita yang amat sangat pentingnya," kata seorang prajurit yang datang bersama Barayudha sampai ke atas pendapa rumah Ki Demang Tasikmadu. Hanya mendengar pasukan Pangeran Ardharaja, perkataan itu sudah cukup mengejutkan hati dan pikiran semua yang ada di atas pendapa rumah Ki Demang Tasikmadu itu. "Kembalilah ke tempat tugasmu, biarlah prajurit ini sendiri di sini," kata Ranggalawe kepada seorang prajurit Singasari yang datang mengantar Barayudha.

Maka, prajurit itu pun pamit diri dan melangkah kembali ke arah tangga pendapa rumah Ki Demang Tasikmadu. "Berita penting apakah yang ingin kamu sampaikan?" kata Raden Wijaya kepada Barayudha. "Ampunkan hamba, bahwa sebenarnya hamba telah melihat sendiri beberapa orang telah merusak dan meracuni semua persediaan makanan," kata Barayudha kepada Raden Wijaya. Bukan main terkejutnya semua yang ada di atas pendapa rumah Ki Demang Tasikmadu itu.

"Aku akan membuktikan kebenaran ucapanmu wahai prajurit," kata Ranggalawe sambil berdiri dan melangkah turun dari pendapa rumah Ki Demang langsung menuju tempat lumbung persediaan para prajurit. Kehadiran Ranggalawe di lumbung tempat persediaan makanan cukup menggegerkan para prajurit yang ada di sekitarnya. Maka bertambah gegerlah suasana malam itu ketika Ranggalawe telah membuktikan kebenaran berita Barayudha. "Bahan makanan ini telah tercemar racun, buang dan jangan dipergunakan lagi," kata Ranggalawe kepada beberapa prajurit yang bertugas di dapur umum.

"Besok kita akan bertempur, dengan apa kita mengisi perut kita?" tanya seorang prajurit kepada kawannya ketika Ranggalawe telah meninggalkan mereka kembali ke pendapa Rumah Ki Demang Tasikmadu. "Aku akan memerintahkan seluruh penduduk untuk mengeluarkan lumbungnya malam ini juga," kata Ki Demang Tasikmadu kepada Raden Wijaya setelah mendengar laporan dari Ranggalawe bahwa lumbung persediaan untuk para prajurit sudah tercemar racun. "Terima kasih Ki Demang, kami tidak akan melupakan budi besar ini," kata Raden Wijaya kepada Ki Demang Tasikmadu.

Sementara itu, hujan di atas Kademangan Tasikmadu nampaknya sudah benar-benar reda, hanya menyisakan beberapa genangan di tanah becek dan suara air jatuh dari daun-daun dan ranting ketika angin menggoyangkannya. Demikianlah, beberapa prajurit terlihat hanya tidur ayam. Mereka memang tidak dapat langsung terlelap, hati dan pikiran mereka banyak ditujukan pada peperangan yang akan mereka temui esok hari, hati dan pikiran mereka seperti terus berjaga, sukar sekali untuk memejamkan mata, apalagi tidur nyenyak.

Dan malam pun terus berjalan bersama langit dan bulan pucat tersamar awan hitam yang terus berjalan ditiup arah angin, terurai atau bergabung menjadi bentuk awan baru. Lama langit malam mencari datangnya warna pagi. Akhirnya, di ujung sepi, terlihat semburat warna merah mengintip di ujung timur lengkung langit. Tidak jauh dari rumah Ki Demang Tasikmadu, beberapa prajurit yang bertugas di dapur umum sudah lebih dulu bangun mendahului kawan-kawannya yang baru merasakan kantuk yang sangat setelah di awal dan sepanjang malam begitu sulitnya untuk memejamkan mata.

Dan pagi itu terdengar suara genderang, sebuah pertanda bahwa seluruh prajurit yang ada di Kademangan Tasikmadu untuk mempersiapkan diri, mempersiapkan senjatanya masing-masing, juga mempersiapkan diri untuk siap menghadapi pertempuran, secara lahir dan batin. "Semalam aku bermimpi Juminten yang pernah menolak cintaku datang meminta maaf," kata seorang prajurit kepada kawannya sambil menyarungkan pedangnya dan meyakinkan bahwa sarung pedangnya telah terikat dengan sempurna di pinggangnya. "Bukankah kawannya Juminten sudah menikah?" berkata kawannya. "Namanya juga mimpi, mungkin besok bersambung mimpiku di mana Juminten mengatakan cinta berat kepadaku," kata prajurit itu sambil tersenyum kepada kawannya.

"Benar, namanya saja mimpi. Bagaimana bila besok aku yang bermimpi bersama Juminten?" kata kawannya itu dengan wajah menggoda. "Kudatangi mimpimu, kuhajar kamu sampai babak belur," kata prajurit itu sambil mengepalkan tangannya ke arah kawannya itu. Celoteh dua orang prajurit Singasari di Kademangan Tasikmadu itu terhenti manakala terdengar suara genderang kedua, sebuah tanda bahwa seluruh prajurit sudah harus bergerak berkumpul di bawah kesatuannya masing-masing. Dan jalan tanah di sepanjang Kademangan Tasikmadu itu pun sudah dipenuhi para prajurit Singasari.

Dan ketika terdengar lagi suara genderang yang lebih keras dan panjang, terlihat sebuah pasukan besar telah berjalan menuju Padang Kalimayit. Pagi itu matahari seperti menjadi saksi di ujung timur Padang Kalimayit, menyaksikan dua buah kubu pasukan yang masing-masing sudah siap saling membentur. Dua buah pasukan manusia yang berada berseberangan jalan, berseberangan kepentingan, namun sama-sama mempertahankan pijakan yang sama, kehormatan Rajanya.

"Mereka menggelar perang Jaladri Pasang," kata Raden Wijaya kepada Barayudha yang saat itu bertugas sebagai pemegang rontek senapati, sebagai petugas penyambung lidah senapati di saat peperangan. "Persiapkan dirimu, kita akan segera merubah gelar perang Diradameta menjadi Cakra Byuha di saat benturan pertama," kata kembali Raden Wijaya kepada Barayudha yang melihat pasukan di depannya tidak sebanding dengan jumlah bala prajurit Singasari yang siap menggilas seperti sekumpulan gajah di padang perburuan.

"Mereka hanya menginginkan waktu kita tertunda menuju peperangan yang sebenarnya," kata Kuda Cemani kepada Raden Wijaya yang saat itu berada di sampingnya. "Artinya kita harus menyelesaikan peperangan ini secepatnya," kata Raden Wijaya menanggapi perkataan Kuda Cemani. Namun, secepat apa pun Raden Wijaya untuk menyelesaikan peperangan di Padang Kalimayit itu, semua sudah tidak ada artinya lagi. Karena di waktu yang sama, Kotaraja Singasari sudah berubah porak-poranda, istana Singasari yang indah itu sudah berubah menjadi tempat buangan sampah atas bangkai-bangkai manusia yang bergelimpangan di sana sini bersama bau anyir darah yang bersimbah memenuhi setiap lorongnya.

Apa sesungguhnya yang telah terjadi di Kotaraja Singasari? Ternyata Patih Kebo Mundarang adalah seorang yang sangat cerdik, seorang yang punya kekuatan pikiran dan siasat perang yang sangat cemerlang. Patih Kebo Mundarang sudah dapat membaca pikiran musuh yang telah memperkirakan pasukan yang dibawanya dari Gunung Rejo baru akan tiba di awal saat fajar. Kecemerlangan siasat Patih Kebo Mundarang adalah mendahulukan lumbung persediaan makanan di sebuah tempat tidak jauh dari Kotaraja. Dengan cara itulah perjalanan para prajuritnya menjadi ringan dan sangat ringkas tanpa membawa apa pun yang memberatkan.

Dan mereka telah tiba di selatan Kotaraja lebih cepat dari apa yang diperkirakan siapa pun, mereka telah tiba jauh sebelum fajar tiba. Fajar masih mengintip lewat secercah noktah merah di ujung timur lengkung langit, di saat itulah bertebaran seperti air bah para prajurit Tanah Gelang-gelang di bawah pimpinan Kebo Mundarang masuk ke Kotaraja dan memporak-porandakan seluruh isi istana di mana penghuninya masih terlelap tidur setelah semalaman berpesta pora dalam sebuah upacara resmi. Mimpi buruk!! Itulah yang dirasakan para penghuni Kotaraja Singasari yang melihat kebiadaban para prajurit Tanah Gelang-gelang yang mabuk kemenangan. Seluruh harta penduduk di rampas dengan sesuka hati, rumah-rumah mereka dibakar dan dibumi hanguskan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment