Chapter 47
Kotaraja Singasari telah berubah menjadi padang hitam yang kering, menyisakan puing-puing bekas pembakaran. Terlihat sebuah bangunan rumah kayu yang hangus masih mengeluarkan sedikit asap dari sisa kayu yang membara. Saat itulah, pasukan Pangeran Ardharaja memasuki Kotaraja Singasari.
"Selamat datang wahai Pangeran Ardharaja, putra junjunganku," kata Patih Kebo Mundarang di istana Singasari yang sudah dikuasainya.
"Aku meninggalkan pasukan Singasari dengan makanan yang sudah kucemari racun. Jika mereka masih hidup setelah peperangan di Padang Kalimayit, aku telah menyiapkan hutan pembakaran yang akan menghanguskan mereka sebelum tiba di Kotaraja Singasari ini," ujar Pangeran Ardharaja kepada Patih Kebo Mundarang tentang apa yang telah dilakukannya guna menahan pasukan Raden Wijaya.
"Ayahmu pasti akan bangga dengan apa yang telah kauciptakan, wahai anak harimau besar," sahut Patih Kebo Mundarang kepada Pangeran Ardharaja dengan penuh kebanggaan.
"Di mana keluarga Istana Singasari saat ini?" tanya Pangeran Ardharaja kepada Patih Kebo Mundarang.
"Keluarga dan Raja Tumapel itu kami biarkan berada di Pasanggrahan Ratu Anggabhaya. Saat ini mungkin mereka tengah menangis bersama," jawab Patih Kebo Mundarang disertai tawa yang meledak-ledak penuh kebanggaan diri.
"Aku akan ke sana," kata Pangeran Ardharaja kepada Patih Kebo Mundarang yang masih tertawa panjang.
"Aku akan menunggu Pangeran. Begitu seharusnya seorang menantu mengunjungi orang tua mertua," ujar Patih Kebo Mundarang dengan tawa yang berkepanjangan.
"Paman Patih menungguku untuk apa?" tanya Pangeran Ardharaja.
"Bukankah Pangeran telah membuat hutan pembakaran? Di sanalah kita akan melanjutkan pesta terakhir kita," jawab Patih Kebo Mundarang.
"Jadi, kita akan menyongsong mereka di luar kotaraja?" tanya kembali Pangeran Ardharaja.
"Kita bermain dengan waktu dan napas. Saat mereka lelah dan tidak menyangka bahwa kita sudah menunggu untuk membantai mereka di perjalanan," kata Patih Kebo Mundarang menyampaikan siasatnya.
"Sebuah siasat perang yang hebat. Ayahku pasti bangga punya Patih seperti Pamanda," kata Pangeran Ardharaja sambil berpamitan untuk menemui ayah mertuanya di Pasanggrahan Ratu Anggabhaya.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Patih Kebo Mundarang, seluruh keluarga istana saat itu memang telah berkumpul di Pasanggrahan Ratu Anggabhaya, sebuah tempat di istana yang sangat disucikan oleh semua orang. Konon, di tempat itulah tersimpan segala pusaka milik Raja Erlangga. Terlihat Pangeran Ardharaja bersama beberapa pengawalnya memasuki pintu gerbang Pasanggrahan Ratu Anggabhaya.
Di pendapa utama pasanggrahan tengah berkumpul beberapa kerabat keluarga istana: Ratu Anggabhaya, Lembu Tal, serta Baginda Maharaja Kertanegara. Pangeran Ardharaja yang berada di bawah tangga langsung menaiki anak tangga Pendapa Utama Pasanggrahan Ratu Anggabhaya, sementara beberapa pengawalnya berhenti di anak tangga.
"Ampunkan Ananda yang tidak mampu menjaga keluarga," kata Pangeran Ardharaja sambil duduk bersujud di hadapan Baginda Maharaja Singasari.
"Harusnya saat ini kamu masih di Padang Kalimayit bersama seluruh prajurit Singasari, membela kebesaran dan harga diri Singasari Raya di tanahnya sendiri," kata Maharaja Singasari dengan suara datar kepada Pangeran Ardharaja yang masih bersujud.
"Raden Wijaya tidak menginginkan Ananda di peperangannya," alasan Pangeran Ardharaja tentang kepulangannya ke Kotaraja Singasari.
"Raden Wijaya telah berlaku benar. Itulah yang akan kulakukan seandainya aku berdiri sebagai seorang Senapati di sebuah peperangan."
"Apakah Ayahanda tidak mempercayai Ananda?" tanya Pangeran Ardharaja.
"Aku memang belum dapat mempercayai dirimu, itulah sebabnya aku memintamu bersama pasukanmu keluar dari Kotaraja Singasari," jawab Maharaja Singasari.
"Jadi, Ayahanda belum dapat mempercayai anak menantu sendiri?" kata Pangeran Ardharaja sambil mengangkat wajahnya memandang Maharaja Singasari.
"Aku belum dapat mempercayai anak menantuku dari besanku yang juga saudaraku," ujar Maharaja Singasari dengan mata tajam penuh kebencian.
"Sewajarnya Ayahanda membenci kami, karena kami juga menginginkan kematian Ayahanda," kata Pangeran Ardharaja kepada Maharaja Singasari yang terperanjat.
Namun, keterkejutan Maharaja Singasari bertambah manakala Pangeran Ardharaja dengan kecepatan yang tidak diduga, dari jarak yang sangat dekat, mengeluarkan keris pusaka kayu hitamnya dan langsung menembus jantung Maharaja Singasari. Tidak seorang pun menyangka Pangeran Ardharaja berani berbuat sekeji itu.
Beberapa saat kemudian, semua mata yang ada di pendapa utama terbelalak tidak percaya. Namun, Pangeran Ardharaja terkesiap memandang wajah Maharaja Singasari yang sepertinya tidak merasakan apa pun; bahkan terdengar tawanya yang keras bergema.
"Akhirnya mimpi burukku telah digenapi, melihat istanaku porak-poranda oleh saudaraku sendiri, melihat keris kayu hitam menembus jantungku sendiri oleh anak menantuku sendiri," ujar Maharaja dengan tawa yang bergema dari berbagai penjuru.
Pangeran Ardharaja berdiri dengan wajah gugup dan mundur beberapa langkah. Peluh membanjiri wajah dan tubuhnya, rasa takut yang sangat memenuhi jiwanya.
"Biarkan anak saudaraku itu keluar dari pandanganku, biarkan dia hidup dalam beribu penyesalan," kata Maharaja Singasari sambil mengangkat tangan mencoba menghentikan langkah Pangeran Lembu Tal yang murka atas perbuatan Pangeran Ardharaja.
Ucapan Maharaja Singasari memberi peluang kepada Pangeran Ardharaja yang telah bergeser mendekati anak tangga. Akhirnya, dengan mata masih menatap wajah Maharaja Singasari, Pangeran Ardharaja melompat turun dari pendapa, lalu berlari diikuti para pengawalnya keluar dari pintu gerbang Pasanggrahan Ratu Anggabhaya.
"Saudaraku Pangeran Lembu Tal, mendekatlah," kata Maharaja Singasari yang masih duduk tegap meski sebuah keris menancap tepat di jantungnya.
Pangeran Lembu Tal, Ratu Anggabhaya, serta kerabat lainnya mendekat.
"Kebahagiaanku ada bersama kalian, wahai saudaraku. Kutitipkan semua milikku kepada Raden Wijaya sebagaimana Ayahandaku, Maharaja Ranggawuni, pernah menitipkannya. Aku akan hidup selamanya, menjadi matanya memandang Singasari Raya lebih besar dari yang kulihat saat ini. Itulah mimpiku dan mimpi Ayahandaku," kata Maharaja Singasari dengan wajah penuh senyum kebahagiaan.
Itulah pesan terakhir Maharaja Singasari. Setelah perkataan itu, tubuhnya limbung ke kiri dan rebah terlentang di atas papan kayu pendapa utama.
"Beliau telah mengembuskan napas terakhir, mendahului kita semua," ujar Ratu Anggabhaya yang memeriksa tubuh Maharaja Singasari.
"Maharaja Singasari yang perkasa, pemersatu bumi, mengembuskan napasnya di tanah suci, di tempat para leluhurnya menyimpan pusakanya," kata Pangeran Lembu Tal sambil menarik napas panjang.
"Dan kita hanya menjadi saksi atas putra Raden Wijaya yang saat ini tengah berada dalam peperangannya. Kita, para orang tua, masih sangat dibutuhkannya sebagai cahaya kehidupannya, untuk terus membakar semangatnya merebut kembali Singasari Raya," kata Ratu Anggabhaya kepada semua yang hadir.
Sementara itu di Padang Kalimayit, api peperangan sudah berkobar antara pasukan Singasari di bawah pimpinan Raden Wijaya dengan pasukan Tanah Gelang-gelang di bawah pimpinan Senapati Jaran Guyang. Senapati Jaran Guyang terkejut bukan main ketika dalam benturan pertama, pasukan Singasari tiba-tiba mengubah gelar perangnya.
"Cakra Byuha," bisik Senapati Jaran Guyang dalam hati dengan mata terbelalak.
"Tugas kita dalam peperangan ini adalah menahan pihak lawan, bertahanlah sejauh kamu bisa!" teriak Senapati Jaran Guyang memberi semangat, meski di dalam hati ia menyumpahi Patih Kebo Mundarang yang menjadikan pasukannya sebagai umpan lawan.
Gelar perang Cakra Byuha memang gelar yang luar biasa, yang hanya dapat dilakukan dengan jumlah pasukan yang lebih banyak dari lawan. Prajurit Singasari yang berpengalaman menunjukkan kemampuannya. Pasukan dari Tanah Gelang-gelang seperti kawanan burung emprit yang tergilas oleh lingkaran besar yang berputar dan membantai siapa pun yang mendekat. Korban dari pihak Tanah Gelang-gelang berguguran, sisanya berhamburan menyelamatkan diri. Demikianlah, pada benturan pertama pasukan Raden Wijaya telah menunjukkan kemampuannya, dan korban di pihak Tanah Gelang-gelang terus bertambah, mengurangi jumlah serta kekuatan mereka.