Chapter 48
Ternyata para prajurit dari Tanah Gelang-Gelang adalah prajurit yang baru ditempa satu atau dua tahun. Kebanyakan dari mereka adalah penyamun jalanan yang diperam secara paksa oleh Raja Jayakatwang, mungkin dengan upah dan janji untuk dijadikan seorang prajurit.
Mereka belum memiliki jiwa prajurit yang sebenarnya. Maka, melihat benturan pertama dan jumlah pihak lawan yang berlipat ganda, mereka menjadi panik. Mereka tidak tahu lagi arah dan paugeran yang seharusnya dilakukan oleh sepasukan prajurit.
Senapati Jaran Guyang sepertinya tidak dapat lagi mengendalikan prajuritnya. Mereka bertempur tanpa arahan, seperti saat mereka masih menjadi penyamun: kasar dan tanpa aturan.
"Dasar penyamun jalanan!" teriak Senapati Jaran Guyang dengan putus asa karena tidak mampu lagi mengendalikan pasukannya.
"Pertahankan gelar kalian, perang belum usai!" seru Raden Wijaya yang diterjemahkan oleh Barayudha, pemegang rontek senapati, untuk disampaikan kepada para penghubung di arena pertempuran.
"Jangan keluar dari kesatuanmu," ujar seorang prajurit tua Singasari kepada kawannya yang masih muda, yang nampaknya terpancing oleh cara bertempur musuh yang kasar dan ucapan kotor yang memanaskan telinga.
"Terima kasih," balas prajurit muda Singasari itu kepada kawannya yang mengingatkannya.
Pertempuran antara dua kubu itu pun sudah dapat dipastikan pemenangnya; hanya masalah waktu.
"Raden Wijaya telah menguasai peperangannya," kata Arya Kuda Cemani yang melihat gerak menyeluruh dari pertempuran tersebut.
"Pegang kendali senapati ini wahai saudaraku Ranggalawe, aku akan meredam orang itu," ucap Raden Wijaya kepada Ranggalawe sambil mendekati salah seorang lawan yang terlihat begitu kuat karena sering merusak barisan prajuritnya.
Ternyata, orang yang didekati oleh Raden Wijaya adalah Senapati Jaran Guyang.
"Trang!" Pedang Raden Wijaya menahan sabetan pedang Senapati Jaran Guyang yang ditujukan kepada seorang prajurit muda Singasari. Senapati Jaran Guyang sangat terkejut merasakan tangannya bergetar ketika pedangnya berbenturan dengan pedang Raden Wijaya.
"Akhirnya aku menemui kawan bertempur yang lumayan tangguh," kata Senapati Jaran Guyang mencoba menutupi rasa kagetnya.
"Aku memang sengaja datang menemuimu," jawab Raden Wijaya dengan wajah tenang dan menatap tajam ke arah lawan.
"Kukira kamu akan terus berlindung di balik barisan prajuritmu," ejek Senapati Jaran Guyang dengan wajah merendahkan setelah tahu bahwa lawannya adalah seorang senapati.
"Aku hanya tidak tega melihat dirimu sebagai orang terakhir yang mati di Padang Kalimayit ini," kata Raden Wijaya sambil tersenyum, mencoba memancing amarah lawannya.
"Kamu akan menyesal dengan semua yang kamu katakan!" seru Senapati Jaran Guyang dengan wajah merah membara, menunjukkan bahwa ia mudah terpancing amarahnya.
"Aku tidak akan menyesal membunuh seorang senapati tua sepertimu," balas Raden Wijaya dengan senyuman di bibirnya.
"Kamu benar-benar akan menyesal!" teriak Senapati Jaran Guyang sambil menerjang Raden Wijaya seperti banteng ngamuk.
Raden Wijaya sedikit bergeser ke kanan, menghindari serangan yang diketahuinya hanya sebagai gebrakan awal untuk menggertak. Namun, diam-diam ia mengukur kekuatan lawan lewat angin sambarannya.
"Ternyata orang ini memiliki tenaga banteng," batin Raden Wijaya saat merasakan angin sambaran pedang lawan, lalu ia segera membalas serangan tersebut.
Bukan main kagetnya Senapati Jaran Guyang melihat betapa cepat dan mudahnya Raden Wijaya mengelak serangannya, bahkan balik mengancam pertahanannya.
"Gila!" maki Senapati Jaran Guyang sambil melompat mundur menghindari tusukan pedang Raden Wijaya yang tiba-tiba mengarah ke perutnya.
Raden Wijaya tidak ingin bermain-main. Dalam pikirannya, ia harus segera menyelesaikan pertempuran ini karena suasana Kotaraja sedang dalam bahaya besar. Senapati Jaran Guyang yang baru saja mundur pun kembali mendapatkan serangan. Ia harus melompat ke samping untuk menghindari tebasan pedang Raden Wijaya.
Demikianlah pertempuran antara senapati dari dua kubu berlangsung. Raden Wijaya sepertinya tidak memberikan kesempatan sedikit pun bagi Senapati Jaran Guyang untuk bernapas. Serangan Raden Wijaya datang bergulung-gulung seperti ombak.
Namun, Senapati Jaran Guyang bukan orang kemarin sore dalam hal kanuragan. Ia cukup berilmu tinggi dan beberapa kali masih dapat membalas serangan. Namun, menghadapi Raden Wijaya yang ingin segera menyelesaikan pertempuran, Senapati Jaran Guyang ibarat bunga kapuk yang dipermainkan angin deras, terombang-ambing tanpa arah.
Akhirnya, sebuah tendangan Raden Wijaya berhasil menghajar pinggang Senapati Jaran Guyang. Tubuh besar itu terpelanting dihantam tendangan yang dirangkapi tenaga cadangan, meski belum mencapai kekuatan penuh.
"Beng!" Tubuh besar dan berat itu jatuh menghantam tanah keras.
Senapati Jaran Guyang memiliki kekuatan banteng; ia segera bangkit dengan wajah penuh angkara dan kembali memburu Raden Wijaya.
"Crat!" Pedang Raden Wijaya berhasil melukai bagian paha Senapati Jaran Guyang. Tubuhnya limbung terbawa tenaga serangannya sendiri dan terjerembap kembali ke tanah lebih keras dari sebelumnya. Naas, kepalanya membentur batu keras.
Senapati Jaran Guyang tidak bergerak lagi. Nyawanya melayang akibat benturan kepala dengan batu cadas di Padang Kalimayit.
"Perang belum berakhir, aku akan menyaksikan lebih banyak lagi darah dan kematian," batin Raden Wijaya sambil menarik napas panjang. Ia menyapu arena peperangan dengan pandangannya.
"Para prajuritku sudah menguasai seluruh arena," gumamnya.
Seluruh pasukan Singasari memang telah menguasai medan pertempuran. Beberapa prajurit musuh melemparkan senjata tanda menyerah, sementara hanya sedikit yang tersisa dan masih keras kepala.
"Orang bodoh, tidakkah kamu melihat kawanmu sudah banyak yang mati dan menyerah?" tegur seorang prajurit Singasari kepada musuh yang terluka namun enggan menyerah.
"Aku memilih mati di medan perang ketimbang menjadi tawanan," sahut orang itu sambil menggenggam erat golok besarnya.
"Orang bodoh!" seru salah seorang prajurit Singasari sambil menghantam golok besar itu.
"Trang!" Golok itu terlepas, diikuti dua tamparan keras di pipi hingga membuat dua gigi prajurit itu tanggal.
"Ikat prajurit keras kepala itu," perintah Ranggalawe.
Dua prajurit Singasari segera mengikat musuh yang sudah duduk lemas tersebut. Peperangan pun hampir berakhir. Satu per satu prajurit Tanah Gelang-Gelang berhasil dikuasai.
"Aku menyerah," ucap seorang prajurit sambil melemparkan senjatanya.
Matahari di atas Padang Kalimayit telah bergeser dari puncaknya. Angin berhembus seperti suara seruling kematian. Pemandangan mayat yang bergelimpangan kaku di sela semak ilalang menimbulkan kengerian yang mendalam bagi siapa pun yang melihatnya.
"Para prajurit akan mengurus semua yang mati dan terluka, perang telah usai," kata Ranggalawe kepada Raden Wijaya, mengajak kembali ke Kademangan Tasikmadu.
"Bagaimana menurut Paman, apakah para prajurit Kotaraja masih dapat bertahan menunggu kedatangan kita?" tanya Raden Wijaya penuh kekhawatiran kepada Arya Kuda Cemani setelah mereka tiba di pendapa rumah Ki Demang Tasikmadu.
"Kotaraja dibentengi perbukitan. Bila mereka siaga, musuh tidak akan mudah masuk," jawab Arya Kuda Cemani.
"Musuh kita kali ini ternyata sudah dapat menahan satu hari perjalanan pasukan kita," ujar Raden Wijaya.
"Peperangan adalah permainan pikiran; tentang sekuat apa kita mengendalikan permainan itu, membaca pikiran musuh, dan menjebak mereka pada langkah akhir di sebuah sudut," jelas Arya Kuda Cemani.
"Artinya, pihak musuh saat ini telah berhasil membaca langkah kita?" tanya Raden Wijaya.