Halo!

Kabut Di Bumi Singosari - Chapter 49

Memuat...
Kabut Di Bumi Singosari

Chapter 49

"Juga telah dapat menghitung kapan kita datang ke Kotaraja," kata Arya Kuda Cemani.

"Apakah artinya kita selekasnya berangkat ke Kotaraja?" tanya Raden Wijaya kepada Arya Kuda Cemani.

"Benar, kita harus bergerak cepat," kata Arya Kuda Cemani.

"Artinya kita berangkat dalam beberapa gelombang, diawali pasukan berkuda yang paling dimungkinkan dapat bergerak cepat, menyusul para prajurit pejalan kaki yang akan disambung para prajurit yang telah menyelesaikan perawatan beberapa orang yang terluka di Kademangan Tasikmadu ini," kata Raden Wijaya kepada Arya Kuda Cemani sepertinya meminta pertimbangannya.

"Raden sudah mencoba sebuah langkah dari permainan pikiran ini dengan segala macam pertimbangan dan kemungkinan. Dan tugas seorang senapati adalah membuat sebuah keputusan dengan mata dan pikiran terbuka, siap menghadapi semua kemungkinan," kata Arya Kuda Cemani kepada Raden Wijaya.

"Aku sudah membuat keputusan," kata Raden Wijaya yang merasa sudah siap membuat sebuah keputusan; sebuah keputusan secepatnya berangkat ke Kotaraja dengan pasukan yang paling cepat bergerak, yakni pasukan berkudanya.

Demikianlah, Raden Wijaya telah mengumpulkan pasukan berkudanya untuk secepatnya berangkat ke Kotaraja. Sementara itu, matahari di atas Kademangan Tasikmadu belum jatuh sejajar batas jarak pandang mata; cahayanya masih menyengat membakar tanah jalanan. Di saat itulah, pasukan berkuda Raden Wijaya terlihat telah bergerak meninggalkan Kademangan Tasikmadu. Dua ribu pasukan berkuda telah bergerak bersama keluar dari regol gerbang Kademangan Tasikmadu. Terlihat debu mengepul di belakang setiap kaki kuda yang langsung bergerak berlari dalam sebuah barisan panjang.

Demikianlah Raden Wijaya telah membawa pasukan kudanya menuju Kotaraja Singasari. Arya Kuda Cemani dan Ranggalawe terlihat berkuda mendampingi Raden Wijaya. Akhirnya, pasukan berkuda itu telah memasuki jalan tanah yang cukup lebar sehingga kuda-kuda mereka dapat berlari lebih cepat lagi. Terlihat Raden Wijaya menghentakkan perut kudanya sebagai tanda agar kudanya dapat berlari lebih kencang. Melihat senapati mereka memacu kuda begitu cepat, seluruh prajurit berkuda di belakangnya sepertinya tidak ingin tertinggal jauh, mereka ikut memacu kudanya.

Luar biasa! Pasukan berkuda itu seperti barisan angin hitam berlari di atas jalan tanah, menimbulkan kabut debu yang bertebaran dan berhamburan di sepanjang jalan yang mereka lalui. Terlihat beberapa gerobak pengangkut barang langsung menepikan arah kuda mereka jauh dari tepi jalan agar tidak terhempas langkah kaki kuda pasukan Raden Wijaya yang berlari kencang seperti berburu angin.

Demikianlah, pasukan berkuda Raden Wijaya terus memacu kudanya berlari menyusuri jalan tanah menuju Kotaraja, hingga akhirnya mereka tiba di sebuah jalan yang terhimpit dua buah hutan berbukit. Bukan main terperanjatnya Raden Wijaya ketika mereka melihat batang-batang kayu hutan malang melintang memenuhi dan merintangi jalan mereka.

"Pasti ini perbuatan pasukan Pangeran Ardharaja," kata Raden Wijaya sambil memperlambat jalan mereka.

Puluhan batang kayu yang malang melintang sepanjang jalan itu memang telah memaksa pasukan berkuda Raden Wijaya harus turun dari kudanya. Sambil menuntun kuda-kuda mereka, dengan susah payah mereka terus berjalan melewati rintangan batang kayu.

"Mereka telah masuk perangkap kita," kata Patih Kebo Mundarang kepada Pangeran Ardharaja yang saat itu ternyata bersama pasukannya sudah melihat kedatangan pasukan Raden Wijaya dari sebuah bukit di atas jalan yang akan dilewati oleh pasukan berkuda Raden Wijaya.

Langit di atas jalan itu terlihat sudah begitu teduh, sinar matahari sudah rebah terhalang bukit yang membujur tinggi. Terlihat barisan pasukan berkuda Raden Wijaya sudah hampir seluruhnya melewati batang kayu hutan yang merintangi jalan mereka. Namun, baru saja mereka duduk di atas pelana kudanya masing-masing, terdengar sebuah dengung panah sanderan yang melesat di sekitar mereka.

"Selamatkan diri kalian!" berteriak Raden Wijaya dengan suara lontaran yang dirangkapi tenaga murninya, didengar oleh semua prajuritnya.

Tapi teriakan peringatan Raden Wijaya untuk para prajuritnya ternyata sudah terlambat. Para prajurit berkuda memang langsung menghentakkan kudanya berlari, namun sebuah hujan panah seperti turun dari langit langsung bertebaran mencari sasaran dan korbannya. Raden Wijaya, Rangga Lawe, dan Arya Kuda Cemani dengan ilmu dan kesaktian mereka mampu sambil berlari menghalau dan melindungi diri dengan mengibaskan pedang mereka yang seperti angin mematahkan setiap anak panah yang meluncur mengancam tubuhnya. Namun, tidak demikian bagi sebagian prajurit berkudanya; beberapa anak panah terlihat berhasil menembus tubuh mereka hingga langsung terlempar dari kudanya.

Ternyata bidikan anak panah itu tidak melulu ditujukan kepada pasukan berkuda Raden Wijaya, di antaranya ada anak panah berapi yang sengaja dibidik ke tumpukan batang kayu yang melintang di belakang mereka, juga di beberapa titik hutan di kiri-kanan jalan di mana pasukan berkuda Raden Wijaya akan melewatinya. Sungguh mengerikan suasana saat itu, hutan di kanan-kiri pasukan berkuda terlihat mulai terbakar, sementara batang-batang kayu yang melintang di belakang mereka sudah lebih dulu terbakar. Asap mengepul ditiup angin yang cukup keras menutupi segenap jalan, menutupi segala jarak pandang. Tidak ada jalan lain bagi pasukan berkuda Raden Wijaya selain terus berlari ke depan.

Setiap saat terdengar suara jerit prajurit Singasari yang termakan oleh anak panah yang menembus tubuhnya, atau jerit prajurit yang terlempar dari seekor kuda yang terkejut berhenti karena tubuh kuda itulah yang jadi korban anak panah yang datang seperti hujan terjatuh dari atas langit. Hati dan dada Raden Wijaya seperti merasakan kepedihan yang begitu menyayat manakala mendengar jeritan suara prajuritnya. Pada saat itu hatinya begitu pedih tidak dapat menolong prajuritnya, karena saat itu ia sendiri harus berjuang dari hujan panah yang terus meluncur seperti tiada pernah berhenti sepanjang jalan dan lari kudanya.

Akhirnya, pasukan berkuda itu telah berhasil melewati lorong neraka itu. Mereka sudah berada di jalan yang terbuka di tengah padang ilalang.

"Musuh kita kali ini sepertinya sudah membaca setiap langkah kita," kata Arya Kuda Cemani kepada Raden Wijaya yang terlihat begitu berduka memandang barisan pasukan berkudanya yang semakin berkurang, hampir setengahnya tertinggal di jalan penuh perangkap hujan anak panah itu.

"Mereka berhasil menjebak kita, memecah pasukan kita. Itulah yang dapat kubaca dari pikiran seorang musuh," kata Raden Wijaya kepada Arya Kuda Cemani dan Ranggalawe.

"Kita tidak dapat kembali mundur, pasti mereka masih menempatkan para pasukan pembidik panah di sisi kiri-kanan jalan neraka itu," kata Arya Kuda Cemani memberikan pandangannya kepada Raden Wijaya.

"Saat ini pasti pasukan musuh sudah turun dari bukit-bukit itu untuk menyerang pasukan kita di belakang," kata Raden Wijaya kepada Arya Kuda Cemani dengan suara orang yang putus asa karena tidak dapat berbuat apa pun.

"Aku membaca kemungkinan lain," kata Arya Kuda Cemani kepada Raden Wijaya.

"Aku ingin mendengarnya wahai Paman Kuda Cemani," kata Raden Wijaya.

"Mereka sudah menunggu kita di jalan neraka itu, sebagai tanda bahwa mereka telah menyelesaikan tujuan utama mereka menaklukkan Kotaraja," kata Arya Kuda Cemani.

"Kotaraja Singasari sudah mereka taklukkan?" tanya Raden Wijaya.

"Hanya perkiraanku. Perkiraanku lainnya adalah bahwa mereka tidak akan turun dari bukit untuk menyerang pasukan kita yang saat ini mungkin sudah bergerak menuju Kotaraja," kata kembali Arya Kuda Cemani.

"Mengapa mereka tidak menyerang pasukan kita?" tanya Raden Wijaya.

"Pasukan kita di belakang masih cukup besar. Menurut perkiraanku, mereka ibarat sekumpulan serigala yang hanya mencari mangsa yang lebih mudah untuk mereka rebut," kata Arya Kuda Cemani.

"Pasukan kita yang saat ini masih berada di Kademangan Tasikmadu?" tanya Raden Wijaya.

Kali ini Arya Kuda Cemani menjawab pertanyaan Raden Wijaya hanya dengan menganggukkan kepalanya.

"Apa yang harus kita lakukan saat ini wahai pamanku?" tanya Raden Wijaya kepada Arya Kuda Cemani yang menurut pandangannya mempunyai kekuatan pikiran sangat matang dan dapat diajak untuk bertukar pikiran.

"Menyelamatkan pasukan kita dari para pembidik yang masih menunggu di antara dua bukit itu," kata Arya Kuda Cemani sambil menunjuk dua buah bukit yang mengapit sebuah jalan yang dapat dikatakan sebuah jalan neraka, sebuah jalan yang sangat berbahaya bagi pasukannya.

"Mari kita bagi dua pasukan kita, menyergap mereka sebagaimana mereka telah menyergap pasukan kita," kata Raden Wijaya sambil turun dari kudanya memanggil beberapa perwiranya untuk diajak berbicara.

Mari kita tinggalkan dulu pasukan Raden Wijaya yang tengah mengatur siasat untuk menyelamatkan pasukannya dari para pembidik tersembunyi. Mari kita dekati pasukan Tanah Gelang-gelang yang masih berada di dua bukit yang tengah bergembira telah dapat menjebak musuhnya dan membantai musuh hampir setengahnya dengan hujan panahnya.

"Kita telah memecah pasukan mereka, apakah kita akan turun membantai pasukan kedua yang bergerak di belakang mereka?" tanya Pangeran Ardharaja kepada Patih Kebo Mundarang.

"Biarlah pasukan pemanah kita yang akan membantai mereka dari atas bukit ini. Yang paling mudah saat ini adalah membantai pasukan mereka yang menurut perkiraanku masih tertinggal di Kademangan Tasikmadu," kata Patih Kebo Mundarang kepada Pangeran Ardharaja.

Demikianlah, pasukan Patih Kebo Mundarang sudah bergerak menuju ke Kademangan Tasikmadu. Mereka berjalan agak melambung untuk menghindari pasukan Raden Wijaya lapis kedua yang tengah berjalan menuju Kotaraja Singasari.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment