Halo!

Kabut Di Bumi Singosari - Chapter 50

Memuat...
Kabut Di Bumi Singosari

Chapter 50

Di tempat yang berbeda, pasukan berkuda Raden Wijaya terlihat tengah menyembunyikan kuda-kuda mereka, menyisakan beberapa orang untuk tetap menjaga kuda-kuda tersebut. Sementara itu, pasukan lainnya telah berpencar menuju dua bukit yang mengapit jalan, mencoba menyergap para pembidik yang diperkirakan masih bersembunyi di sana untuk menunggu pasukan Raden Wijaya lainnya.

Akhirnya, pasukan Raden Wijaya berhasil mendekati kedua bukit itu. Dengan cara mengendap-endap, mereka menemukan para prajurit pembidik dari Tanah Gelang-gelang yang tengah bersembunyi di tempat yang leluasa untuk membidik siapa pun yang melewati jalan di antara kedua bukit tersebut.

Para prajurit pasukan berkuda Raden Wijaya merupakan orang-orang pilihan yang mahir menggunakan berbagai senjata dan sangat terampil dalam olah kanuragan. Kali ini, mereka memperlihatkan keahlian membidik musuh dengan pisau pendek.

Jep!

Jep!

Jep!

Beberapa pisau pendek mengenai sasaran di tempat persembunyian musuh. Prajurit musuh pun rebah dengan pundak tertembus pisau yang dilempar dengan keras dan tepat.

"Auuuuuwwww!" terdengar suara seorang prajurit musuh yang terjatuh dari dahan pohon yang cukup tinggi.

Suara itu membuat prajurit musuh lainnya sigap dan siaga terhadap serangan mendadak tersebut. Mereka segera berbalik badan, menyapu pandangan untuk mencari keberadaan musuh. Satu hingga dua prajurit Singasari menampakkan diri dengan pedang yang sudah terhunus.

"Aku ingin melihat keperwiraan kalian bertempur di tempat terbuka," ujar seorang prajurit Singasari sambil mendekati salah satu prajurit Tanah Gelang-gelang.

"Kamu kira hanya kamu yang bisa bertempur secara terbuka?" balas prajurit Tanah Gelang-gelang itu dengan nada menantang.

Kedua prajurit itu pun saling serang. Dalam waktu singkat, perkelahian pecah di berbagai titik. Para prajurit dari kedua kubu menemukan lawan masing-masing. Pertempuran terus berlangsung, dan prajurit Singasari memperlihatkan kemampuan yang berada di atas rata-rata prajurit Tanah Gelang-gelang.

Raden Wijaya, Arya Kuda Cemani, dan Ranggalawe berpindah dari satu tempat ke tempat lain setelah dengan cepat menyelesaikan pertempuran mereka. Pertempuran pun hampir berakhir, menyisakan beberapa prajurit Tanah Gelang-gelang yang belum mau menyerah.

"Lepaskan mereka," perintah Raden Wijaya saat melihat seorang prajurit Tanah Gelang-gelang yang terluka parah masih terus mencoba bertempur.

"Jangan lepaskan segala amarahmu," ujar Raden Wijaya kepada prajuritnya.

"Tangannya telah melumuri banyak nyawa sahabatku," jawab prajurit itu dengan amarah yang masih membara.

"Lepaskan dirinya. Tujuan kita sudah tercapai untuk menyelamatkan pasukan dari hujan panah tersembunyi. Jika mengingat setengah dari pasukanku yang terbantai, aku pun berkeinginan mencincang tubuh mereka. Tapi lepaskan mereka demi kehidupan, karena dia pun punya hak yang sama seperti kita untuk tetap hidup. Berikan kehidupannya dan bebaskan dirimu dari amarah," perintah Raden Wijaya. Prajurit itu pun langsung mundur dari arena.

"Terima kasih telah membiarkan aku tetap hidup. Baru kali ini aku menemukan musuh seperti Tuan," ucap prajurit Tanah Gelang-gelang itu dengan rasa heran.

"Kembalilah ke pasukanmu, wahai prajurit. Kami bukan kaum biadab yang haus darah, tetapi kami akan terus memerangi siapa pun yang telah mengambil hak kami atas tanah Singasari ini. Itulah yang harus kamu sampaikan kepada pimpinanmu," jawab Raden Wijaya.

Prajurit itu membungkukkan badan, lalu berbalik dan berlari menghilang ke dalam hutan. Pasukan Raden Wijaya berhasil membersihkan dua bukit tersebut dari para pembidik.

"Sisakan beberapa orang untuk menjaga bukit ini. Saatnya kita melanjutkan perjalanan menuju Kotaraja Singasari," ujar Raden Wijaya kepada prajuritnya.

Ternyata, sikap menjunjung tinggi kemanusiaan yang ditanamkan Raden Wijaya tidak berlaku bagi pasukan Patih Kebo Mundarang di Kademangan Tasikmadu. Mereka membantai prajurit Singasari dengan sangat biadab, meskipun jumlah mereka jauh lebih besar dan lebih siap.

Saat langit mulai temaram, ribuan prajurit Patih Kebo Mundarang datang membanjiri Kademangan Tasikmadu seperti air bah. Para prajurit Singasari yang tengah merawat rekan mereka yang terluka sangat terkejut, namun mereka tetap sigap dan tangguh menghadapi musuh. Sayangnya, jumlah prajurit Tanah Gelang-gelang yang ribuan orang membuat prajurit Singasari akhirnya gugur dalam pembantaian yang tidak kenal ampun.

Tidak puas membantai prajurit, mereka juga melampiaskan dendam kepada warga Kademangan Tasikmadu yang tidak berdosa. Puncaknya, mereka membakar seluruh rumah di kademangan tersebut.

"Para arwah pasukan Senapati Jaran Guyang pasti tertawa melihat apa yang telah kita lakukan di sini, membalas kekalahan mereka," ujar Patih Kebo Mundarang sambil tertawa bersama Pangeran Ardharaja, menyaksikan kobaran api yang melahap puluhan rumah.

Langit di atas Kademangan Tasikmadu terang benderang oleh kobaran api. Jeritan dan tangisan orang tua, wanita, dan anak-anak yang tidak sempat bersembunyi terdengar di mana-mana.

"Kotaraja Singasari telah kita porak-porandakan. Saatnya membawa seluruh pasukan menuju Kotaraja Kediri," kata Kebo Mundarang sambil menepuk pundak Pangeran Ardharaja.

"Kita tidak kembali ke Tanah Gelang-gelang?" tanya Pangeran Ardharaja.

"Kita ke Kotaraja Kediri untuk menyiapkan istana dan singgasana bagi Ayahandamu, Maharaja Jayakatwang, pewaris Kerajaan Kediri yang sejati," jawab Kebo Mundarang.

Malam itu, pasukan Patih Kebo Mundarang berpesta pora merayakan kemenangan mereka. Tawa dan riuh kegembiraan mereka merampas jerit tangis memilukan dari para wanita yang menjadi korban peperangan. Saat matahari mulai meninggi, pasukan besar itu bergerak ke arah Kotaraja Kediri. Sepanjang perjalanan, mereka menjadi wabah yang menakutkan, meninggalkan penderitaan dan jeritan pilu.

Berita kedatangan mereka menyebar secepat angin. Ratusan pengungsi bergerak menjauh, bersembunyi di hutan atau padukuhan yang tidak dilalui pasukan tersebut. Kabar itu akhirnya sampai ke Kotaraja Kediri.

Raja Kediri, yang masih memiliki hubungan keluarga dengan Maharaja Kertanegara, tidak berani melawan. Mereka memilih menyingkir untuk menyelamatkan diri, harta, dan keluarga.

"Tikus-tikus keluarga Tumapel telah pergi bersembunyi," ujar Patih Mundarang saat memasuki istana Kediri yang telah kosong tanpa penghuni.

Sementara itu, jauh dari Kotaraja Kediri, lima orang berkuda tengah memacu kudanya membelah padang ilalang Kalimayit di bawah sinar matahari yang baru saja bergeser dari kaki langit.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment