Halo!

Kabut Di Bumi Singosari - Chapter 52

Memuat...
Kabut Di Bumi Singosari

Chapter 52

"Adipati Rakyan Sasana Bungalan memerintahkan diriku untuk menyampaikan secara langsung kesetiaan kami atas kekuasaan tertinggi Maharaja Singasari, sebagai balasan rontal resmi yang dikirimnya lewat utusan resminya, prajurit Gajah Pagon," ujar Mahesa Amping menyampaikan tugasnya di Balidwipa ini.

"Namun, kedatangan kami ternyata sudah terlambat," lanjut Mahesa Amping kepada semua yang hadir di pendapa utama.

"Kehadiran Ananda belum terlambat. Semoga kehadiran Ananda Mahesa Amping menjadi pertanda bahwa sang fajar telah hadir sebagai kekuatan baru yang mampu mengusir kabut kegelapan di bumi Singasari ini," sahut Ratu Anggabhaya sembari tersenyum, merasa gembira melihat kehadiran sahabat cucundanya itu.

"Semoga masih ada tempat bagi hamba untuk ikut mengusir kegelapan ini," kata Mahesa Amping sambil merangkapkan kedua tangan kepada Ratu Anggabhaya sebagai tanda terima kasih atas penerimaannya.

"Sedikit kelengahan kita adalah tidak menyangka bahwa musuh berasal dari saudara sendiri. Sementara kekalahan terbesar kita adalah merasa memiliki kemampuan di atas segalanya. Semua itu menjadi cermin bagi kita ke depan, bahwa bukan kekuatan yang kita utamakan, melainkan kecerdikan pikiran kitalah yang dapat mengalahkan sebesar apa pun kekuatan lawan," tutur Ratu Anggabhaya yang diterima dengan baik oleh semua yang hadir di pendapa utama itu.

"Dari orang-orang yang masih setia kepada Singasari, hamba mendapat berita bahwa Raja Jayakatwang telah mengukuhkan diri menjadi Maharaja di Kediri. Mereka telah mengutus semua raja di Jawadwipa untuk patuh dan setia di bawah kekuasaannya. Segala upeti dan bala, mulai saat ini, hanya ditujukan kepada penguasa di Kediri," lapor Arya Kuda Cemani yang ikut hadir di pendapa utama Pasanggrahan Ratu Anggabhaya.

"Mereka membuat gentar para raja di Jawadwipa dengan segala bencana yang ditunjukkan lewat kebiadaban pasukan Patih Kebo Mundarang. Kesetiaan para raja di Jawadwipa hanyalah kesetiaan semu. Diam-diam, mereka memendam harapan agar hadir sebuah tandingan yang dapat meruntuhkan sang raja angkara," ujar Pangeran Lembu Tal memberikan pandangannya.

"Saatnya kita tampil ke depan menghidupkan benih harapan dari semua raja di Jawadwipa. Tunjukkan bahwa Kerajaan Singasari masih hidup," seru Ratu Anggabhaya dengan penuh semangat.

"Itulah perang yang harus kamu lakukan saat ini, wahai cucundaku Sanggrama Wijaya, tunjukkan bahwa kerajaan Singasari sampai saat ini masih hidup," ucap Ratu Anggabhaya kepada Raden Wijaya.

"Artinya, Cucunda akan melakukan perang senyap; datang menyerang secara tiba-tiba dan menghilang di kegelapan malam," sahut Raden Wijaya yang telah menangkap maksud perkataan Ratu Anggabhaya.

"Hanya untuk menunjukkan kepada semua raja di Jawadwipa bahwa kita masih ada," tegas Ratu Anggabhaya.

"Sebuah langkah awal sebagaimana buyut kita, Raja Erlangga, mengambil kembali haknya atas tanah ini dengan menjalankan pusaka Empu Kanwa: Sama, Bheda, dan Danu," tambah Ratu Anggabhaya kepada Raden Wijaya.

"Petuah Rama akan Cucunda pusakai," jawab Raden Wijaya dengan penuh rasa terima kasih atas nasihat yang diterimanya dari sang kakek.

"Mereka memang telah merebut tanah dan seluruh harta pusaka kita, namun belum dapat menguasai armada laut kerajaan yang selama ini masih berjaya di samudra," kata Arya Kuda Cemani. "Artinya, kita masih punya harta untuk membiayai seluruh pasukan yang akan memulai perang senyap ini."

Ucapan Arya Kuda Cemani itu menggugah rasa percaya diri dan menambah keyakinan bahwa rencana yang mereka susun akan membuahkan kegemilangan.

"Perlu juga dipertimbangkan amarah musuh atas apa yang telah kita lakukan. Mereka akan kembali ke Kotaraja Singasari dan ada kemungkinan menghancurkan armada jung Singasari," ujar Ranggalawe memberikan pandangan.

"Pandangan Ranggalawe perlu dipertimbangkan. Dulu mereka masih menghormati diriku sebagai orang tua, meski seluruh harta pusaka di Pasanggrahan ini mereka rampas, nyawa kami masih diberi kesempatan untuk hidup. Mungkin ke depannya, mereka punya pandangan yang berbeda atas hidup keluarga istana ini," Ratu Anggabhaya membenarkan pendapat Ranggalawe.

"Artinya, kita perlu mengamankan keluarga istana dan mencari bandar sementara yang jauh di luar Jawadwipa untuk mengendalikan armada jung Singasari, jauh dari pengaruh penguasa Kediri," ujar Raden Wijaya sambil menyapu wajah setiap orang yang hadir.

"Ada sebuah tempat untuk keluarga ini, yang juga dapat dijadikan bandar sementara untuk armada jung Singasari," kata Mahesa Amping kepada Raden Wijaya. "Seandainya hari ini Paman Kebo Arema hadir bersama kita, pasti beliau yang pertama menunjukkan tempat ini."

"Di manakah tanah yang aman itu, wahai saudaraku?" tanya Raden Wijaya yang percaya bahwa Mahesa Amping memiliki pertimbangan yang tepat.

"Dalam pelayaran untuk mencari tanah asal buah pala bersama Paman Kebo Arema, kami pernah singgah di sebuah pulau, tanah kelahiran Paman Kebo Arema," ujar Mahesa Amping diam sejenak, menarik napas panjang seolah ada keraguan untuk melanjutkan. "Ternyata, Paman Kebo Arema di tanahnya adalah seorang putra mahkota yang sangat dicintai oleh seluruh penghuni pulau itu. Semoga Paman Kebo Arema memaafkan diriku karena telah membuka jati dirinya yang sebenarnya. Pulau itu bernama Tanah Wangi-wangi."

"Apakah mereka dapat menerima orang asing?" tanya Ranggalawe yang baru kali ini mendengar rahasia jati diri Kebo Arema.

"Kecintaan, nama besar, dan kehormatan Paman Kebo Arema adalah jaminan bahwa mereka akan menerima keluarga istana ini. Aku yang akan mengantar keluarga istana ke sana, karena mereka telah menjadikan diriku sebagai keluarga mereka," tegas Mahesa Amping.

"Aku percaya kepadamu, wahai saudaraku, sebuah tempat yang aman untuk dua kepentingan yang berbeda," kata Raden Wijaya.

Sementara itu, langit malam di atas pendapa utama Pasanggrahan Ratu Anggabhaya sudah semakin larut. Udara malam yang dingin menyergap kulit, namun perbincangan di atas pendapa justru semakin hangat. Mereka membicarakan awal perjuangan yang panjang untuk mengembalikan kejayaan Singasari. Menjelang pagi, ketika udara semakin menusuk, mereka akhirnya menyepakati beberapa hal penting sebagai persiapan awal.

"Kuserahkan harapan ini kepada kalian, harapan untuk melihat kembali Kerajaan Singasari yang pernah kami bangun dengan darah, kecintaan, dan kesetiaan. Semoga aku dapat melihat saat-saat kemenangan kalian, saat kedamaian bumi ini kembali di bawah naungan pilar-pilar Singasari Raya, meski tidak harus di Tanah Tumapel ini. Bersatulah kalian dalam kesetiaan, cinta, dan persaudaraan," ucap Ratu Anggabhaya setelah tercapai kesepakatan.

"Hari sudah pagi, tapi masih ada waktu sekadar untuk memejamkan mata dan meluruskan badan," ujar Ranggalawe ketika bersama semua yang hadir menuruni anak tangga untuk beristirahat.

Pendapa utama itu akhirnya sepi, hanya ditemani cahaya buram dari empat pelita yang mulai meredup ditiup angin pagi yang bening. Namun, pendapa itu seolah menyimpan janji dalam hati setiap orang yang hadir malam itu: janji untuk bersatu dalam kesetiaan, cinta, dan persaudaraan.

"Bersatulah kalian dalam kesetiaan, cinta, dan persaudaraan," kata-kata itu masih bergema di telinga Mahesa Amping saat ia berbaring di peraduannya.

Pagi yang indah seolah tidak sabar untuk menata langit, meletakkan sang mentari di ujung cakrawala dengan cahaya kuning terang, dibarengi suara burung berkicau dan dedaunan yang basah bermandikan embun.

"Pagi yang indah," gumam Mahesa Amping dalam hati sambil memandang taman yang tertata rapi mengitari Pasanggrahan Ratu Anggabhaya. "Namun sebentar lagi akan ditinggalkan penghuninya." Ia menarik napas panjang, membayangkan taman asri itu suatu saat akan ditumbuhi ilalang, menjadi tempat sepi dan terlantar karena penghuninya entah sampai kapan baru bisa kembali, atau mungkin tidak akan kembali lagi selamanya.

"Pagi yang indah, saudaraku," sapa Raden Wijaya kepada Mahesa Amping di pendapa utama.

"Udara di pasanggrahan ini tidak pernah berubah, selalu memberikan kesejukan," ujar Mahesa Amping penuh senyum sembari menaiki anak tangga pendapa utama.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment