Halo!

Kabut Di Bumi Singosari - Chapter 53

Memuat...
Kabut Di Bumi Singosari

Chapter 53

"Terima kasih atas kesediaanmu membawa keluargaku ke tempat yang jauh dari hingar-bingar suara peperangan yang sebentar lagi akan menggema mengisi hari-hari di bumi ini," ujar Raden Wijaya di atas pendapa utama kepada Mahesa Amping.

"Terpaksa kita kembali berpisah untuk waktu yang cukup lama," balas Mahesa Amping kepada Raden Wijaya.

"Kita sudah memilih tugas dan tempat yang berbeda, meski aku berharap kita ada di satu tempat yang sama dalam peperangan ini," kata Raden Wijaya kepada Mahesa Amping.

"Secepatnya aku akan segera kembali dari Tanah Wangiwangi. Aku tidak ingin datang di saat perangmu telah berakhir," sahut Mahesa Amping.

"Kehadiranmu sangat aku harapkan. Ada sebuah kegembiraan berbagi lawan bersamamu," ujar Raden Wijaya sambil tertawa, yang kemudian diikuti oleh Mahesa Amping.

"Ternyata aku terlambat bangun. Semoga masih ada sisa tawa untukku," ucap seseorang yang sudah berada di ujung anak tangga pendapa utama. Ternyata ia adalah Ranggalawe.

"Silakan dinikmati hidangan sarapan yang masih hangat, pasti akan membuat suara tawa kita semakin garing," kata Raden Wijaya kepada Mahesa Amping dan Ranggalawe.

"Masih ada waktu menjelang senja untuk duduk menikmati hidangan dan mendengar tawa kalian," ujar Mahesa Amping sambil menuangkan minuman hangat wedang jahe.

"Bila diberi kesempatan memilih, aku akan memilih bersamamu; berlayar jauh menikmati angin laut, sepanjang malam menatap bintang, dan selalu berjaga menunggu sang fajar mengintip di ujung bibir laut datar," tutur Ranggalawe kepada Raden Wijaya dan Mahesa Amping.

"Ada satu hal yang belum kamu sebut," sela Mahesa Amping sambil menyebarkan senyum.

"Semua sudah kusebut," jawab Ranggalawe penasaran. "Yang belum kamu sebutkan adalah ketika badai angin datang dan jung kita terpelanting digoyang ombak setinggi gunung, dan wajahmu pucat menggigil memeluk rapat tiang layar," ungkap Mahesa Amping yang ditanggapi tawa riuh Raden Wijaya.

Sementara itu, Ranggalawe berpura-pura tidak mendengarnya dan mengangkat mangkuk minumannya. "Untuk yang satu itu, sudah terhapus di dalam ingatanku," ujar Ranggalawe setelah selesai menghirup minuman hangatnya.

"Jadi, masih ada keinginan berlayar bersamaku?" tanya Mahesa Amping.

"Kutarik kembali pilihanku," kata Ranggalawe dengan wajah malu, lalu menyambar kembali mangkuk minumannya.

Demikianlah, ketiga sahabat ini kembali bercerita tentang masa-masa yang pernah mereka jalani bersama. Sementara itu, langit di atas Pasanggrahan Ratu Anggabhaya sudah semakin terang. Sang mentari sepertinya begitu gelisah menatap puncak singgasana di cakrawala langit biru. Terlihat beberapa pelayan tengah mengemasi barang-barang yang akan dibawa dalam perjalanan keluarga istana mengungsi ke Pulau Tanah Wangi-wangi.

"Kutitipkan mereka padamu: Gajah Pagon, Ki Sukasrana, dan Ki Bancak. Mereka dapat diandalkan," kata Mahesa Amping kepada Raden Wijaya.

"Dan kamu hanya ditemani tuan pendeta itu?" tanya Raden Wijaya penuh rasa khawatir.

Mahesa Amping tidak langsung menjawab, ia hanya tersenyum. "Berjalan ditemani Ki Sandikala sama halnya diiringi sepuluh ribu prajurit tangguh," jawabnya.

"Aku percaya kepadamu," kata Raden Wijaya. Kabut kekhawatiran di wajahnya pun berangsur menghilang.

"Seluruh keluarga istana hari ini sudah bersiap diri, menanti perintah dari sang Senapati," ujar Ratu Anggabhaya dengan wajah ceria kepada Mahesa Amping. Namun, Mahesa Amping yang sudah peka membaca pikiran orang dapat menangkap kesedihan yang mendalam. Kesedihan dari seorang tua yang harus meninggalkan kampung halaman, meninggalkan semua kenangan manis, dan harus menerima keterbatasan hidup di tanah pengungsian.

"Semoga keluarga istana sudah siap lahir dan batin, siap menghadapi perjalanan laut jika badai datang menghampiri dan membawa kita jauh dari arah bintang. Semoga siap juga dengan segala keterbatasan yang akan kita temui di tanah pengungsian," tutur Mahesa Amping memberikan gambaran.

Sementara itu, matahari akhirnya telah merayap di atas puncak cakrawala. Udara yang sejuk di lingkungan Kotaraja Singasari sebagai daerah perbukitan yang hijau membuat cahaya matahari tidak menyengat kulit. Angin yang bertiup masuk ke pendapa utama Pasanggrahan Ratu Anggabhaya begitu menyejukkan. Di pendapa saat itu sudah bertambah beberapa orang, di antaranya Gajah Pagon, Ki Sukasrana, dan Ki Bancak. Mereka memang sengaja dipanggil oleh Mahesa Amping untuk sebuah keperluan.

"Kami perlu kalian sebagai pembuka jalur perjalanan kami, meyakinkan bahwa tidak ada hambatan apa pun di depan. Aku yakin kalian tahu apa yang harus dilakukan, dan aku hanya percaya dengan kalian bertiga," kata Mahesa Amping.

"Terima kasih bahwa Tuan Senapati telah mempercayai kami bertiga. Yang kami butuhkan saat ini adalah penjelasan tentang jalur perjalanan itu sendiri," ujar Gajah Pagon mewakili Ki Sukasrana dan Ki Bancak.

Maka dengan rinci Mahesa Amping menjelaskan jalur perjalanan mereka; rombongan akan singgah di Bandar Cangu, melanjutkan perjalanan lewat jalur air menyusuri Sungai Brantas, dan masuk ke anak Sungai Porong hingga ke ujung muaranya.

"Dari Muara Sungai Porong, kami akan menyeberang ke Balidwipa," lanjut Mahesa Amping.

"Kami akan menyiapkan beberapa jukung di Bandar Cangu dan perahu untuk membawa keluarga istana menyeberangi Selat Bali," sahut Gajah Pagon.

"Ternyata aku berhadapan dengan seorang prajurit sandi yang sudah tahu apa yang harus dilakukan," ujar Mahesa Amping gembira.

"Tuan Arya Kuda Cemani sering menugaskan diriku membuka jalur pengamanan di setiap perjalanan Maharaja Kertanegara, terutama di hutan perburuan. Terakhir, aku pula yang ditugaskan ketika Ratu Anggabhaya dan Pangeran Lembu Tal akan berangkat ke Tanah Gelang-gelang," jelas Gajah Pagon.

"Aku semakin yakin bahwa aku memilih orang yang tepat," kata Mahesa Amping.

"Tuan Senapati hanya menjelaskan perjalanan sampai di Balidwipa, apakah boleh hamba bertanya ke mana arah rombongan keluarga setelah tiba di sana?" tanya Ki Bancak.

Mahesa Amping hanya tersenyum. "Tugas kalian hanya sampai di Muara Sungai Porong, sementara perjalanan di Balidwipa seperti berjalan di halaman rumahku sendiri."

Sekejap, terlihat perubahan di wajah Ki Bancak. Namun, Mahesa Amping dapat membaca apa yang dipikirkan prajurit kepercayaannya itu. "Setelah mengantar keluarga istana di tempat yang aman, aku akan segera kembali ke Jawadwipa. Aku tidak ingin datang sebagai sahabat terakhir di saat pesta sudah usai," ucap Mahesa Amping sambil menatap Ki Bancak, yang langsung membuat garis kecerahan di wajah sang prajurit.

Demikianlah, Gajah Pagon, Ki Sukasrana, dan Ki Bancak pamit diri untuk berangkat lebih awal menjalankan tugas sebagai prajurit pembuka jalan.

"Maaf, aku ada sedikit keperluan menemui Ki Brejo, seorang pekatik," kata Ratu Anggabhaya yang kemudian pamit dari pendapa utama. Saat Ratu Anggabhaya menuruni anak tangga, Mahesa Amping terus mengikuti dengan pandangannya sampai sosok sang Ratu menghilang di balik sudut rumah panggung. Ia menarik napas panjang, terharu mengagumi sosok Ratu Anggabhaya, seorang pembesar istana berjiwa agung yang masih peduli kepada seorang pekatik.

Menjelang senja, rombongan keluarga istana Singasari berjalan beriring menuju gerbang istana. Tiga buah kereta kencana telah menanti bersama beberapa ekor kuda. Semua mata tertuju kepada permaisuri Maharaja Singasari yang tengah menaiki kereta. Seorang inang tua tidak tahan menahan isak tangisnya saat menyaksikan permaisuri junjungannya harus pergi ke tempat yang jauh. Seorang pelayan wanita juga ikut menangis berjongkok menutupi wajahnya dengan kain panjang saat empat orang putri belia menaiki kereta kencana yang lain. Tiga kereta kencana bersama dengan sepuluh ekor kuda mengiringi di belakang, meninggalkan gerbang istana diikuti ratusan pandangan mata penuh duka.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment