Chapter 01
Bila ada sebuah tempat yang tidak pernah tidur, itulah Bandar pelabuhan Majapahit di Tanah Ujung Galuh yang selalu ramai disinggahi perahu dagang dari berbagai penjuru nagari dari timur dan barat pulau-pulau dibawah panji kedaulatan Majapahit Raya.
Malam itu purnama terlihat menggantung di langit kelam di atas Bandar Tanah Ujung Galuh yang masih ramai diterangi pelita malam dan oncor di depan setiap kedai yang berjajar di sepanjang dermaga.
Beberapa orang buruh angkut terlihat masih sibuk menuruni barang dari sebuah perahu dagang yang baru saja bersandar di dermaga kayu.
Terlihat sebuah jung besar bertiang layar tujuh perlahan menjauhi dermaga kayu Bandar pelabuhan.
Hampir semua orang terlihat berdiri di atas buritan geladak jung besar itu menatap ke arah Bandar pelabuhan Tanah Ujung Galuh yang semakin menjauh.
Di antara mereka terdapat seorang pemuda di pagar buritan jung besar itu menatap tak berkedip bandar Tanah Ujung Galuh yang terlihat sebagai bayangan daratan hitam dipenuhi kerlap-kerlip pelita malam seperti bintang rendah bertaburan.
"Apakah hatimu masih bersandar di sana, wahai anakku?", berkata seorang lelaki tua berpakaian sebagaimana seorang pendeta kepada pemuda itu yang masih saja mematung menatap bayangan gelap bandar pelabuhan Majapahit.
"Aku ingin memuaskan pandanganku sampai tidak ada yang dapat kupandang lagi", berkata pemuda itu kepada lelaki berpakaian pendeta yang ternyata adalah pendeta Gunakara.
"Puaskanlah, wahai anakku Mahesa Muksa, pada saatnya kamu akan menyadari bahwa jung besar ini maju ke depan menemui hari-harimu, menemui garis perjalanan hidupmu, mendatangi takdir guratan nasibmu", berkata pendeta itu kepada pemuda di sebelahnya yang tidak lain adalah Gajahmada yang dipanggil dengan nama lain, Mahesa Muksa.
Terlihat dua orang lelaki mendatangi mereka, menyusul di belakangnya sepasang suami istri.
Mereka yang datang itu ternyata adalah Pangeran Jayanagara dan gurunya, Putu Risang.
Sementara sepasang suami istri itu adalah Jayakatwang dan Turuk Bali.
Malam itu adalah hari pertama mereka di atas Jung besar Majapahit yang akan mengantar mereka lewat laut utara Jawa sampai ke Bandar pelabuhan Muara Jati.
Mereka adalah para utusan keluarga istana Majapahit yang akan menjalin tali persaudaraan mengunjungi sesepuh para Raja dan penguasa di bumi Tanah Jawa, Prabu Guru Darmasiksa di Tanah Pasundan.
Sementara itu bayangan Bandar pelabuhan Majapahit sudah semakin jauh menghilang terhalang kegelapan malam.
Angin timur telah membawa jung besar Majapahit semakin jauh ke tengah laut kelam.
Hanya bulan bulat yang selalu setia seperti mengikuti jauh di atas cakrawala langit malam.
"Indahnya malam di atas sebuah jung besar Majapahit", berkata Turuk Bali kepada suaminya Jayakatwang ketika mereka berdua tengah menikmati malam pelayaran mereka di pagar anjungan Jung besar Majapahit.
"Dulu hatiku akan bergetar penuh dendam manakala mendengar jung besar Majapahit ini", berkata Jayakatwang mengenang suasana hatinya ketika masih berkuasa sebagai Raja Kediri.
"Ternyata jung Besar Majapahit tidak mudah dipatahkan, Raden Wijaya telah menyelamatkannya dari badai dendam, terus berjuang melayari cita-cita besar leluhurnya membangun singgasana di atas samudera Raya", berkata Turuk Bali kepada suaminya Jayakatwang.
"Dendamku waktu itu ternyata adalah sebuah kekerdilan hati yang tidak dapat berlapang hati melihat cipta karya besar yang tumbuh berasal dari tangan Raja Kertanegara, pencipta cikal bakal jung Majapahit ini", berkata Jayakatwang seperti menertawakan kekerdilan hatinya di masa lampau.
"Kakanda juga banyak mendengar suara para bangsawan Kediri yang takut jalur perdagangan mereka tersaingi", berkata Turuk Bali.
"Kamu benar, mereka memang ingin selalu menguasai jalur perdagangan tanpa sedikitpun untuk berbagi, itulah sebabnya para saudagar diluar Kediri lebih memilih bekerja sama dengan Raden Wijaya", berkata Jayakatwang membenarkan perkataan istrinya Turuk Bali.
"Kakanda telah diperalat oleh mereka", berkata Turuk Bali.
"Mata hatiku telah buta oleh puja-puji dan sanjungan mereka", berkata Jayakatwang.
"Mereka pasti masih mendendam kepada Baginda Raja Kertarajasa, berusaha dengan berbagai cara untuk merebut kembali jaman keemasan mereka, berusaha dengan berbagai cara menggulingkan kedaulatan Majapahit yang masih baru ini", berkata Turuk Bali kepada Jayakatwang.
"Apapun yang mereka lakukan, aku tetap berdiri di belakang Raja Kertarajasa", berkata Jayakatwang penuh kebencian kepada orang-orang yang selama ini menjadikan dirinya sebagai wayang mati penuh puja dan pujian palsu hanya sekedar memenuhi keserakahan mereka, menguasai jalur perdagangan di Tanah Jawa.
"Kakanda telah berdiri di tempat yang benar, di belakang Majapahit adalah para saudagar besar di timur dan barat lautan ini. Mereka pasti akan tetap setia melawan siapapun, musuh Majapahit adalah musuh mereka", berkata Turuk Bali kepada suaminya Jayakatwang.
Sementara itu jung besar Majapahit telah jauh meninggalkan Bandar pelabuhan Majapahit di Tanah Ujung Galuh, menyusuri laut Jawa sebelah utara dengan tujuh layar terkembang penuh ditiup angin timur dan terapung di atas laut luas kelam tak bertepi dibawah cakrawala langit malam.
Hingga ketika langit mulai pudar memerah menjelang pagi.
"Indahnya memandang wajah sang fajar", berkata Pangeran Jayanagara kepada Gajahmada ketika hari sudah menjadi pagi melihat sang fajar terbit mengintip di ujung jurang bibir laut sebelah timur.
"Sebentar lagi kita akan merapat di bandar pelabuhan Pragota", berkata Rakyan Argalanang yang menemani mereka di geladak jung besar Majapahit.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Rakyan Argalanang, jung besar Majapahit terlihat telah mendekati bibir pantai, mendekati sebuah tepian pantai dimana terlihat dari arah laut lepas banyak tiang-tiang perahu dagang berjajar.
Itulah bandar pelabuhan Pragota yang cukup besar di jaman itu, tempat para pelaut melabuhkan sauhnya, memenuhi perahu mereka dengan air tawar, menurunkan atau memuat barang muatan sambil menunggu sang angin laut membawa kembali pelayaran mereka.
Jung Besar Majapahit terlihat telah merapat di sebuah dermaga kayu Bandar Pelabuhan Pragota.
Tiga orang awak terlihat dengan begitu sigap dan gesit melompat ke dermaga untuk mengikat tali tambang besar di tiang dermaga.
Beberapa orang terlihat sudah tengah menuruni tangga Jung besar Majapahit.
"Kita beristirahat di kedai depan sana", berkata Jayakatwang ketika sudah turun dari jung berada di atas sebuah dermaga kayu sambil menunjuk ke sebuah kedai yang nampaknya sangat ramai pagi itu dikunjungi pembeli.
"Biasanya masakan di kedai itu pasti disukai banyak orang", berkata Turuk Bali menyetujui kedai pilihan suaminya itu.
Terlihat Putu Risang bersama Gajahmada dan Pangeran Jayanagara mengiringi berjalan di belakang Jayakatwang dan Turuk Bali.
"Nanti malam kita baru akan berangkat berlayar kembali", berkata Putu Risang kepada Gajahmada dan Pangeran Jayanagara.
Demikianlah, Jayakatwang dan rombongannya itu telah memasuki sebuah kedai di Bandar Pelabuhan Pragota.
Tidak seorang pun yang memperhatikan kehadiran mereka, dan tidak seorang pun yang tahu bahwa di antara mereka adalah seorang Pangeran putra Mahkota, juga seorang mantan Raja besar yang sangat berkuasa, Jayakatwang.
Terlihat Jayakatwang dan rombongannya telah mendapat tempat menghadap ke arah dermaga.
Sementara itu beberapa buruh angkut sudah terlihat menuruni beberapa barang dari jung besar Majapahit.
"Perahu dagang milik bangsawan Kediri", berkata Turuk Bali berbisik kepada suaminya, Jayakatwang sambil menunjuk ke sebuah perahu dagang besar telah merapat lama.
Ketika seorang pelayan mendatangi mereka, terlihat Jayakatwang mencoba mencari tahu tentang keberadaan perahu dagang milik bangsawan Kediri itu.
"Perahu dagang itu datang dari Pelabuhan Muara Jati dan sudah dua bulan ini merapat di dermaga menunggu datangnya musim angin barat kembali ke Kediri", berkata pelayan itu menerangkan tentang keberadaan perahu milik seorang bangsawan Kediri itu.
"Terima kasih", berkata Jayakatwang kepada pelayan itu yang langsung masuk ke dalam untuk menyiapkan makanan pesanan mereka.
Baru saja pelayan itu menghilang dari pandangan mata mereka, terlihat lima orang lelaki telah memasuki kedai.
Seorang di antara mereka terlihat berpakaian layaknya seorang bangsawan besar.
"Aku mengenalnya, semoga dia tidak melihat kehadiranku di kedai ini", berkata Jayakatwang berbisik kepada Turuk Bali.
Kelima orang yang baru datang itu memang tidak sempat memperhatikan Jayakatwang, kelima orang itu terlihat sudah mendapatkan tempat membelakangi arah mereka.
Terlihat Jayakatwang memberi tanda kepada Putu Risang untuk menyimak mencuri dengar pembicaraan kelima orang yang baru datang itu.
"Aku tidak tahu mengapa tuan begitu berharap orang Pasundan dan Majapahit berperang", berkata seorang di antara mereka.
"Tugas kalian tidak untuk bertanya, aku akan memberi sisa dari seluruh hadiah yang kujanjikan setelah kita kembali di Kotaraja Kediri", berkata seorang yang berpakaian bangsawan sepertinya tidak senang mendengar sebuah pertanyaan dari salah satu di antara mereka.
Nampaknya takut sebuah rahasia besar terdengar di dalam kedai itu.
Tapi pembicaraan mereka telah ditangkap oleh Putu Risang dan Jayakatwang yang sudah sangat terlatih ketajaman pendengarannya.
Bandar Pelabuhan Pragota pagi itu memang cukup ramai.
Terlihat beberapa perahu dagang telah bersandar di dermaganya.
Terlihat beberapa orang prajurit Majapahit berlalu-lalang di sepanjang dermaga.
Bandar pelabuhan Pragota memang telah berada di bawah kedaulatan Kerajaan Majapahit.
Sudah menjadi kewajiban prajurit Majapahit untuk menjaga dan mengamankan daerah itu.