Halo!

Kisah Dua Naga Di Pasundan - Chapter 03

Memuat...
Kisah Dua Naga Di Pasundan

Chapter 03

Hanya saja, tempat kediamannya adalah sebuah rumah panggung yang paling mencolok. Selain paling besar, rumah itu juga terlihat paling megah dan indah dengan ukiran kayu jati menghiasi hampir semua sisi dinding, pagar pendapa, dan tiang pilar pendapanya.

"Senang mendapat kedatangan orang Majapahit," kata Ki Gedeng Tirta menyambut kedatangan Rakyan Argalanang dan rombongannya.

Tampaknya Ki Gedeng Tirta adalah seorang yang sangat terbuka, ramah, dan mudah bergaul dengan orang yang baru dikenalnya.

Dalam waktu singkat, Jayakatwang dan rombongannya sudah menjadi sangat akrab dan tidak sungkan lagi berbicara dengannya.

"Kami bermaksud mengunjungi Prabu Guru Darmasiksa sebagai balasan kunjungannya beberapa tahun yang lalu di Majapahit," kata Jayakatwang menyampaikan maksud tujuannya ke Tanah Pasundan.

"Prabu Guru Darmasiksa tinggal di lereng Gunung Galunggung, sekitar tiga hari perjalanan kaki dari sini. Aku akan mengutus orangku untuk dapat mengantar kalian ke sana," kata Ki Gedeng Tirta langsung menawarkan bantuan mengutus orangnya sebagai penunjuk arah.

"Mungkin beberapa ekor kuda dapat membawa kami lebih cepat sampai di kediaman Prabu Guru Darmasiksa," kata Jayakatwang kepada Ki Gedeng Tirta.

"Aku akan mencarikannya untuk kalian. Sebaiknya kalian menginap sehari di gubukku ini sambil menunggu beberapa ekor kuda," kata Ki Gedeng dengan penuh keramahan.

"Terima kasih, baru kenal kami sudah banyak meminta," kata Jayakatwang sambil tersenyum.

"Orang Sunda dan orang Majapahit adalah dua saudara, sudah sepatutnya aku, orang Sunda, membantu saudaranya," kata Ki Gedeng Tirta masih penuh keramahan.

Demikianlah, untuk menunggu beberapa ekor kuda yang tengah diusahakan oleh Ki Gedeng Tirta, rombongan Jayakatwang memang tidak menolak tawaran menginap semalam di kediaman Ki Gedeng Tirta.

Sementara itu, Rakyan Argalanang telah berpamit diri untuk kembali ke bandar pelabuhan Muara Jati guna melanjutkan pelayarannya ke Tanah Melayu.

"Terima kasih telah mengantar kami," kata Jayakatwang kepada Rakyan Argalanang ketika bermaksud pamit diri kembali ke bandar pelabuhan Muara Jati.

Demikianlah, hari pertama rombongan Jayakatwang harus bermalam di rumah Ki Gedeng Tirta.

Keramahan Ki Gedeng Tirta, seorang syahbandar pelabuhan Muara Jati yang sangat ramah, memberi kesan mendalam tentang keramahan orang Sunda dalam menerima tamu-tamu mereka.

Pagi itu, di halaman depan rumah Ki Gedeng Tirta terlihat beberapa orang tengah bersiap untuk melakukan perjalanan yang cukup jauh.

Mereka adalah Jayakatwang dan rombongannya yang akan berangkat menuju Gunung Galunggung, tempat kediaman Prabu Guru Darmasiksa.

Ki Gedeng Tirta telah menunjuk orangnya sendiri untuk ikut dalam rombongan itu sebagai penunjuk arah menuju Gunung Galunggung.

"Terima kasih atas semua keramahan menerima kehadiran kami," kata Jayakatwang kepada Ki Gedeng Tirta.

"Semoga Gusti yang Maha Agung senantiasa menjaga dan melindungi perjalanan kalian," kata Ki Gedeng Tirta sambil melambaikan tangannya ketika rombongan berkuda itu telah mulai berjalan keluar regol halaman rumahnya.

Terlihat Gajahmada dan Pangeran Jayanagara berjalan di muka, sementara Jayakatwang dan istrinya berjalan di belakangnya.

Pengiring penunjuk jalan berjalan bersama Putu Risang dan Pendeta Gunakara.

Mereka tidak memacu kuda-kuda mereka, melainkan membiarkannya berjalan perlahan sambil menikmati pemandangan alam di sekitarnya yang berupa gumuk-gumuk hijau dan hutan bambu.

Semakin menjauhi padukuhan Muara Jati, mereka mulai memasuki hutan di kiri dan kanan jalan.

Ketika hari sudah mulai terasa panas menyengat, barulah mereka turun untuk beristirahat dan membuka bekal makanan mereka.

"Sebentar lagi kita akan memasuki hutan Cigugur, kita berjalan melingkar di bawah kaki Gunung Ciremai," kata salah seorang pengiring mereka menjelaskan arah yang harus mereka tempuh.

Demikianlah, ketika mereka merasa telah cukup beristirahat.

Terlihat rombongan orang Majapahit itu telah melanjutkan perjalanan mereka kembali.

Meskipun di kiri kanan mereka hutan lebat, tetapi jalan yang mereka lalui cukup keras.

Jalur jalan tersebut biasa dipakai oleh para pedagang untuk membawa barang dagangan mereka dengan pedati berkuda.

"Kita sudah berada di kaki Gunung Ciremai," kata salah seorang pengiring ketika mereka merasakan udara di sekitar mereka menjadi begitu sejuk serta banyak menemui jalan yang naik turun.

"Apakah kita sudah memasuki hutan Cigugur?" tanya Putu Risang kepada pengiring itu.

"Sebentar lagi kita akan melewatinya," kata pengiring itu.

Akhirnya, ketika hari sudah mulai menjelang senja, mereka telah menembus hutan Cigugur.

Sebuah hutan yang cukup lebat, dipenuhi pohon-pohon kayu yang besar serta tinggi, menutupi matahari yang sudah mulai bergeser ke barat.

Jarak pandang mata mereka mulai terhalang oleh keremangan hutan lebat, hutan Cigugur.

Tetapi untuk Putu Risang, dengan ketajaman matanya yang terlatih, ia dapat melihat jauh di depannya sesuatu yang sangat mencurigakan.

Putu Risang sudah melihat beberapa orang yang tampaknya punya maksud tertentu menunggu kedatangan mereka. Semakin dekat, Putu Risang dapat melihat lebih jelas lagi bahwa mereka terdiri dari sepuluh orang, lengkap dengan golok terhunus, lepas dari sarungnya.

"Berhenti!" kata salah seorang di antara mereka sambil mengacungkan golok terhunus di tangannya.

"Apa keperluan Ki Sanak menghentikan perjalanan kami?" tanya Putu Risang yang pertama turun dari kudanya.

"Serahkan semua barang kalian termasuk kuda-kuda kalian. Silakan melanjutkan perjalanan kalian!" kata salah seorang di antara mereka dengan nada membentak yang keras.

"Perjalanan kami masih sangat jauh, jadi kami masih membutuhkan kuda-kuda kami," kata Putu Risang masih dengan suara datar, seolah berhadapan bukan dengan para perampok.

"Kami akan merampok kalian, jadi tidak ada tawar-menawar dengan perjalanan kalian yang masih jauh," kata seorang yang lain dengan mata mendelik, seolah tidak sabar.

Namun, belum sempat Putu Risang menjawab, tiba-tiba saja di belakang mereka muncul dua orang berkuda, yang ternyata sepasang muda-mudi.

"Jangan serahkan apa pun," kata seorang pria di antara mereka sambil turun dari kudanya.

"Siapa kalian?" tanya salah seorang perampok, yang tampaknya pemimpin mereka.

"Pasang telinga kalian kuat-kuat, aku Pangeran Citraganda," kata pemuda yang mengaku bernama Pangeran Citraganda.

Ternyata nama itu tidak membuat para perampok takut, malah terlihat mereka tertawa panjang.

"Rezeki nomplok! Hari ini kita dapat dua mangsa yang lumayan: rombongan bangsawan dari Majapahit dan dua orang bangsawan dari Pasundan," kata salah seorang dari mereka sambil tertawa panjang.

Namun, begitu selesai berbicara, tiba-tiba saja dengan kecepatan yang sukar diduga oleh siapa pun, tangan Pangeran Citraganda sudah berhasil menampar mulut perampok itu.

Plak! Plak!

Dua kali tamparan telah membuat orang itu sempoyongan jatuh seperti pakaian basah, ambruk ke bumi dengan dua giginya tanggal dan bibir terlihat berdarah.

Melihat seorang kawannya ambruk ke bumi, para perampok itu kaget bukan kepalang.

Tetapi mereka berpikir bahwa kawan mereka hanya lengah sedikit.

"Hajar anak muda ini!" perintah pemimpin mereka.

"Menjauhlah," kata Pangeran Citraganda kepada Putu Risang dan rombongannya.

Maka, tidak menunggu perintah kedua, para perampok sudah langsung mengurung Pangeran Citraganda.

Putu Risang melihat anak muda itu telah dikurung oleh sembilan golok terhunus.

Namun, Putu Risang tidak jadi membantu ketika melihat hanya dengan dua gebrakan saja anak muda itu telah menjatuhkan dua orang perampok.

"Anak muda yang berani," kata Pendeta Gunakara berbisik kepada Putu Risang di sebelahnya.

Putu Risang dan Pendeta Gunakara langsung dapat menilai bahwa tataran ilmu anak muda itu ternyata sudah cukup tinggi.

Mereka melihat anak muda itu dengan ringan dan cepat lolos dari setiap terjangan dan kurungan para perampok.

"Kuhabisi kalian semua!" kata Pangeran Citraganda ketika dua orang terkena tendangan dan pukulannya langsung jatuh pingsan, tidak bergerak lagi.

Terlihat perampok yang tersisa itu mulai gentar menghadapi serangan Pangeran Citraganda yang begitu kuat dan gesit bagaikan macan bertarung.

Dan kembali, dua orang lagi terkena tendangan dan pukulan dari Pangeran Citraganda, langsung roboh.

Kurungan para perampok semakin merenggang, sementara serangan Pangeran Citraganda semakin keras dan kuat.

Tampaknya anak muda itu ingin merobohkan para perampok secepatnya, sebagaimana yang dikatakannya itu.

Kembali, seorang perampok terkena tendangan keras dari Pangeran Citraganda hingga terlempar.

"Sisakan untukku juga, Kakang," kata seorang gadis belia bersamanya yang langsung turun ke medan pertempuran.

Sungguh menakjubkan, tangan gadis belia itu yang terlihat putih mulus telah membuat seorang perampok memegang perutnya kesakitan.

Tangan mungil itu ternyata memiliki kekuatan yang sangat besar. Pukulannya di perut perampok itu membuatnya sempat tidak bernapas menahan sakit yang luar biasa.

"Tidurlah yang lama," kata gadis itu sambil melancarkan serangan lagi dengan kaki terangkat tinggi menghantam dagu perampok itu.

Terlihat perampok itu tidak lagi memegang perutnya, tetapi sudah menutup mulutnya, merasakan semua giginya rontok dan berdarah.

Dan seperti pakaian lusuh yang basah, orang itu terjatuh rebah, merasakan bumi bergoyang dan pandangannya gelap, seolah melihat banyak kunang-kunang melingkarinya.

"Jangan dikejar, biarlah mereka pergi," kata Pangeran Citraganda kepada gadis yang bersamanya itu, yang tengah bermaksud mengejar tiga orang perampok yang merasa tidak akan mampu menghadapi dua orang muda-mudi itu.

"Terima kasih, kalian berdua telah menyelamatkan kami," kata Putu Risang kepada kedua muda-mudi itu.

"Kebetulan kami sedang lewat," kata pemuda yang bernama Pangeran Citraganda itu.

Putu Risang segera memperkenalkan diri mereka.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment