Chapter 04
"Kami datang dari Majapahit bermaksud untuk berkunjung ke tempat kediaman Prabu Guru Darmasiksa di Gunung Galunggung," kata Putu Risang kepada anak muda itu.
"Prabu Guru Darmasiksa adalah eyang kami," sahut Pangeran Citraganda. "Prabu Guru Darmasiksa berputra Raja Ragasuci."
"Apakah kalian berdua putra dan putri Raja Ragasuci dan Dara Puspa?" tanya Jayakatwang kepada Pangeran Citraganda.
"Paman benar, kami putra dan putrinya," jawab Pangeran Citraganda kepada Jayakatwang.
"Artinya bumi ini memang sempit. Perkenalkan, ini sepupu kalian, Pangeran Jayanagara, putra Raja Kertarajasa dan Dara Jingga," kata Jayakatwang memperkenalkan Pangeran Jayanagara kepada Pangeran Citraganda.
"Eyang Prabu Guru Darmasiksa pernah juga bercerita tentang dirimu, wahai saudara sepupuku," ujar Pangeran Citraganda kepada Pangeran Jayanagara.
"Ini adikku, Dyah Rara Wulan," sambung Pangeran Citraganda memperkenalkan gadis yang bersamanya.
Akhirnya, mereka pun saling memperkenalkan diri dengan lebih terbuka karena merasa sebagai kerabat dekat.
"Gunung Galunggung melewati Kotaraja Kawali. Kami akan senang bila kalian mampir ke istana kami," ajak Pangeran Citraganda menawarkan mereka singgah sebelum melanjutkan perjalanan ke Gunung Galunggung.
"Pasti sebuah kotaraja yang ramai dan indah," kata Turuk Bali dengan gembira.
"Yang pasti tidak seramai dan semegah Kotaraja Majapahit," sahut Dyah Rara Wulan sambil tersenyum.
"Pintu rumah kami akan selalu terbuka untuk kalian di Kotaraja Majapahit," balas Ratu Turuk Bali.
Demikianlah, mereka sepakat untuk singgah di Kotaraja Kawali sebelum menuju Gunung Galunggung. Di sepanjang perjalanan, Dyah Rara Wulan tampak menjadi begitu akrab dengan Turuk Bali. Sementara itu, Pangeran Citraganda langsung terlihat akrab dengan Pangeran Jayanagara dan Gajah Mada.
"Aku akan meminta izin untuk ikut bersama kalian ke Gunung Galunggung. Sudah lama kami tidak bertemu dengan Eyang Prabu Guru Darmasiksa," kata Pangeran Citraganda.
Hari telah menjadi begitu gelap ketika mereka keluar dari Hutan Cigugur.
"Kita bermalam di Padukuhan Parungkuda," ajak Pangeran Citraganda.
"Kami ikut ke mana pun tuan rumah membawa kami," jawab Pangeran Jayanagara.
Akhirnya, langkah kaki kuda mereka memasuki sebuah padukuhan malam itu.
"Ayahandaku memiliki peternakan kuda di padukuhan ini," kata Pangeran Citraganda mengajak mereka bermalam di pondokan peternakan milik ayahnya.
Sebagaimana diketahui, pada zaman itu kuda-kuda dari daerah Pasundan merupakan pilihan yang sangat diminati dan terkenal di segala penjuru negeri.
"Aku sering dibawa Ayahanda menginap di pondokan peternakan kuda ini," tambah Pangeran Citraganda lagi.
Mereka pun menuju ke peternakan kuda mengikuti Pangeran Citraganda.
"Apakah gardu ronda itu selalu sepi?" tanya Putu Risang kepada Pangeran Citraganda ketika mereka melewati sebuah gardu ronda di Padukuhan Parungkuda.
Pangeran Citraganda tidak langsung menjawab. Ia sepertinya melihat sebuah keanehan pada gardu ronda tersebut.
"Hari sudah mulai larut malam. Biasanya kami menemukan tiga sampai empat orang berjaga di gardu ronda itu," kata Citraganda sambil melewati gardu yang kosong itu, mencoba menepis kecurigaannya.
Hari memang telah larut malam. Mereka masih terus berjalan di atas jalan Padukuhan Parungkuda. Hanya terlihat redup pelita malam dari balik bilik rumah warga. Letak peternakan kuda milik Raja Ragasuci memang terpisah oleh beberapa kebun dan ladang. Setelah melewati permukiman, mereka masuk ke sebuah jalan bulakan panjang.
Akhirnya, mereka mulai memasuki area peternakan kuda yang berupa padang rumput cukup luas. Di keremangan malam, mereka mendekati pondokan yang dimaksud oleh Pangeran Citraganda. Tiba-tiba saja Putu Risang memberi tanda agar rombongan berhenti. Mereka tertahan tidak jauh dari halaman muka pondokan itu.
Ternyata Putu Risang dan rombongannya melihat sekumpulan orang di halaman pondok. Beberapa orang terlihat berjajar dalam keadaan terikat kaki dan tangannya. Sementara itu, sebagian orang lagi masing-masing memegang golok yang sudah terhunus.
"Segerombolan perampok," bisik Putu Risang perlahan.
Semua mata tertuju ke arah halaman pondok sambil menahan napas, menunggu tindakan selanjutnya. Tampaknya, semua orang telah menyerahkan kepemimpinan kepada Putu Risang.
"Jumlah mereka sekitar dua puluh orang," kata Putu Risang lagi dengan suara lirih sambil terus mengawasi keadaan.
Sesuai pengamatan Putu Risang, halaman pondokan itu memang telah dipenuhi oleh para perampok. Orang-orang yang terikat adalah para pekerja dan peronda yang sedang bertugas di Padukuhan Parungkuda.
"Katakan kepada rajamu bahwa malam ini Singalodra akan meminjam kuda-kudanya!" teriak salah seorang perampok sambil tertawa panjang.
Suaranya terdengar jelas oleh Putu Risang dan rombongannya yang tersembunyi di kegelapan.
"Gerombolan Singalodra," bisik Pangeran Citraganda kepada Putu Risang.
"Jumlah mereka sekitar dua puluh orang, mari kita ringkus mereka," perintah Putu Risang.
Pangeran Citraganda mengerutkan kening, merasa heran dengan keberanian Putu Risang. Ia teringat bahwa siang tadi dirinyalah yang menyelamatkan rombongan itu dari sepuluh begundal di Hutan Cigugur. Sebagai penduduk asli Pasundan, Pangeran Citraganda sangat mengenal kekejaman gerombolan Singalodra. Ia juga tahu bahwa Singalodra konon sakti dan tidak mempan oleh senjata tajam.
Namun, keheranannya sirna ketika melihat rombongan dari Majapahit itu turun dari kuda dan bergerak tanpa rasa takut menuju halaman pondok. Tanpa sadar, Pangeran Citraganda dan Dyah Rara Wulan mengikuti rombongan itu di belakang Putu Risang yang berjalan di depan.
"Sudah lama kutunggu saat seperti ini, wahai Singalodra!" seru Putu Risang, mengejutkan semua orang di halaman tersebut, terutama Singalodra sendiri.
Singalodra adalah pria berbadan tegap, kekar, dan berkumis tebal. Matanya melotot memandang Putu Risang yang sudah memasuki halaman.
"Siapa kalian?!" bentak Singalodra.
"Aku diperintahkan oleh Baginda Raja Ragasuci untuk meringkus gerombolanmu. Bukankah kamu yang bernama Singalodra?" tanya Putu Risang dengan suara penuh percaya diri.
"Benar, akulah Singalodra. Tidak ada seorang pun yang dapat mendengar lagi kokok ayam besok pagi setelah melihat wajahku!" sesumbar Singalodra. Ia merasa jemawa karena rombongan yang datang hanya berjumlah delapan orang.
"Sayang sekali, malam ini adalah hari nahasmu. Bisa jadi kamulah yang tidak akan mendengar lagi kokok ayam jantan besok pagi," balas Putu Risang sambil tersenyum mengejek.
Singalodra menelan ludah. Baru kali ini ada orang yang begitu berani menantangnya.
"Habisi orang-orang ini! Serahkan orang ini kepadaku!" perintah Singalodra lantang kepada anak buahnya.
Dua puluh orang anak buah Singalodra segera mengepung rombongan Putu Risang. Tanpa kata, Singalodra langsung menerjang Putu Risang dengan serangan keras dan cepat. Namun, Putu Risang bukan orang sembarangan. Murid terkasih Patih Mahesa Amping yang memiliki kesaktian sejajar dengan gurunya itu dengan mudah melesat menghindari serangan Singalodra.
Di sisi lain, pertempuran pecah. Karena jumlah lawan dua kali lipat, setiap anggota rombongan Putu Risang harus menghadapi dua orang perampok sekaligus. Gajah Mada dengan tangkas dan lincah menghadapi dua penyerangnya. Dengan senjata cakra di tangan, ia menjadi lawan yang membingungkan.
Pangeran Jayanagara pun tidak gentar. Ia menghindari sabetan golok dan membalas serangan dengan sigap. Sementara itu, Pendeta Gunakara tampak seperti sedang melatih dua orang lawan yang bernafsu menyerangnya. Ia tidak balas menyerang, melainkan hanya tertawa sambil menghindar ke sana kemari.
Adapun pasangan suami istri Jayakatwang dan Turuk Bali tampak menghadapi lawan tanpa sepenuh hati. Tanpa menggunakan senjata, mereka dengan mudah menghindari setiap serangan gerombolan Singalodra, hanya berusaha mengimbangi gerakan lawan tanpa niat membunuh.