Chapter 05
Semua gerak orang Majapahit itu tidak lepas dari penglihatan Pangeran Citraganda dan Dyah Rara Wulan.
Terutama Pangeran Citraganda yang sangat heran melihat kemampuan orang-orang Majapahit ini yang dapat menghadapi gerombolan Singalodra yang terkenal buas dan sangat kejam itu.
Sambil menghadapi lawannya, Pangeran Citraganda tidak habis pikir bahwa orang-orang Majapahit yang pernah ditolongnya di Hutan Cigugur ternyata dapat menjaga dirinya sendiri. Timbul rasa malu dengan apa yang telah dilakukannya di Hutan Cigugur.
"Ternyata mereka bukan orang sembarangan," kata Pangeran Citraganda kepada dirinya sendiri.
Dan Pangeran Citraganda seperti tidak percaya kepada penglihatannya sendiri manakala dilihatnya Singalodra yang punya kesaktian tinggi telah terlempar oleh sebuah pukulan Putu Risang. Ia terguling beberapa kali dan terlihat lambat berdiri kembali sambil merasakan sakit yang sangat di rusuk kirinya akibat terkena tendangan kaki Putu Risang.
Ternyata Putu Risang telah melambari serangannya dengan sedikit kesaktian tenaga cadangannya yang melampaui tataran daya kekebalan tubuh Singalodra.
Plak, buk, buk!!!
Terdengar suara tangan Pangeran Citraganda masih sambil melihat apa yang telah dilakukan Putu Risang menghadapi lawannya. Tidak terasa, tiga buah pukulan telah menjatuhkan dua orang penyerangnya.
Ternyata Pangeran Citraganda sangat penasaran ingin melihat langsung tanpa gangguan apa pun pertempuran Putu Risang dan Singalodra, pimpinan gerombolan yang paling ditakuti di Tanah Pasundan itu.
"Kubunuh kamu!" teriak Singalodra dengan suara penuh amarah ketika berhasil bangkit berdiri kembali.
Terlihat Singalodra sudah memutar senjata goloknya begitu cepat, langsung menerjang Putu Risang yang bertangan kosong tanpa bersenjata apa pun.
Dan Pangeran Citraganda seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Entah dengan cara apa, tiba-tiba saja golok telanjang yang tajam di tangan Singalodra telah berpindah tuan ke tangan Putu Risang.
Dan dengan kecepatan yang tidak dapat dilihat oleh mata telanjang orang biasa, Putu Risang telah mengayunkan senjata golok tajam itu langsung melukai urat paha kedua kaki Singalodra.
Pangeran Citraganda dengan mata terbelalak melihat Singalodra berdiri dengan kedua lutut melipat tanpa dapat berbuat apa-apa lagi, menahan rasa sakit yang sangat di kedua pahanya yang tergores cukup dalam dengan aliran darah yang deras.
"Sudah kubilang, malam ini adalah hari nahasmu. Menyerahlah," kata Putu Risang sambil menempelkan golok tajam di leher Singalodra.
"Kekebalan Singalodra gugur di hadapan orang Majapahit itu," kata Pangeran Citraganda kepada dirinya sendiri melihat Putu Risang telah melumpuhkan lawannya.
Bersama dengan lumpuhnya Singalodra di tangan Putu Risang, orang-orang Majapahit yang lain terlihat satu per satu telah menundukkan lawan-lawan mereka.
"Menyerahlah!" kata Gajah Mada sambil memelintir tangan lawannya ke belakang pundak, sementara lawan yang lain sudah lama berbaring pingsan tidak bergerak karena terkena sasaran cakranya.
"Aku menyerah," kata lawan Gajah Mada sambil melepas senjatanya.
"Duduk di dekat kawanmu dan jangan berbuat apa pun," kata Gajah Mada mengancam orang itu.
Sementara itu, Putu Risang masih menempelkan golok tajam di kulit leher Singalodra yang hanya mampu berdiri di atas kedua lututnya.
"Aku akan membuka mataku, bunuhlah aku," kata Singalodra dengan pasrah.
"Aku tidak akan membunuhmu, tapi akan menyerahkan dirimu hidup-hidup kepada Baginda Raja Ragasuci," kata Putu Risang sambil melempar golok tajam ke sampingnya.
Terlihat Singalodra yang telah terputus urat pahanya menggeram penuh dendam dan amarah.
Demikianlah, pada malam itu gerombolan Singalodra yang sangat ditakuti di Tanah Pasundan telah diringkus dengan mudah oleh orang-orang Majapahit tanpa perlawanan yang berarti. Semua itu disaksikan sendiri oleh Pangeran Citraganda.
"Ternyata aku salah menilai kalian di Hutan Cigugur tadi siang," kata Pangeran Citraganda kepada Putu Risang dengan wajah memerah penuh rasa malu.
"Jangan kecilkan dirimu Pangeran. Apa yang Pangeran lakukan adalah naluri seorang ksatria sejati yang selalu terpanggil melihat kejahatan di depan mata," kata Putu Risang sambil memegang kedua bahu pangeran muda itu.
Sementara itu, Gajah Mada dan Pangeran Jayanagara telah berhasil mengikat tubuh semua anak buah Singalodra pada beberapa dahan pohon, termasuk Singalodra sendiri, agar tidak melarikan diri.
"Panggilkan Ki Jagabaya agar mengurus para tawanan ini," kata Pangeran Citraganda kepada salah seorang pekerja peternakan kuda yang dikenalnya.
Maka malam itu juga berdatangan para warga padukuhan bersama Ki Jagabaya setelah dikabarkan oleh seorang pekerja bahwa telah terjadi usaha perampokan di peternakan mereka.
"Utuslah salah seorang dari kalian ke kotaraja agar beberapa prajurit datang ke padukuhan ini untuk membawa para tawanan," kata Pangeran Citraganda kepada Ki Jagabaya.
"Malam ini juga kami akan mengutus salah seorang dari kami ke kotaraja," kata Ki Jagabaya kepada Pangeran Citraganda.
Demikianlah, Ki Jagabaya bersama para warga telah menggiring Singalodra dan gerombolannya yang sudah tidak berdaya itu ke padukuhan mereka sambil menunggu para prajurit yang akan membawa mereka ke Kotaraja Kawali untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatan mereka.
Malam memang masih tersisa sedikit. Putu Risang dan rombongannya sudah berada di pondokan, duduk-duduk di atas pendapa sambil beristirahat menunggu pagi.
"Sekarang berbalik, akulah yang mengucapkan terima kasih yang tulus karena kalian telah dapat meringkus gerombolan Singalodra yang paling ditakuti di Pasundan ini," kata Pangeran Citraganda.
"Anggap saja utang budi kami di Hutan Cigugur telah impas," kata Pangeran Jayanagara kepada Pangeran Citraganda.
"Kejadian di Hutan Cigugur tadi siang adalah kebutaanku yang tidak melihat bahwa orang-orang Majapahit sebenarnya dapat melindungi dirinya sendiri," kata Pangeran Citraganda dengan wajah dan senyum malu.
"Berbahagialah Baginda Ragasuci telah mempunyai putra dan putri seperti kalian, yang punya rasa bakti mengamankan Tanah Pasundan dari orang-orang jahat," kata Pendeta Gunakara membesarkan hati Pangeran Citraganda.
"Dua orang putra dan putri yang masih harus banyak berlatih," balas Pangeran Citraganda.
Demikianlah, malam itu memang masih sedikit tersisa, tetapi mereka masih dapat tidur sejenak melepas kelelahan setelah menempuh perjalanan berkuda sepanjang hari, ditambah sebuah pertempuran yang tidak mereka duga sebelumnya melawan gerombolan Singalodra.
Dan tidak ada kejadian apa pun sampai pagi datang di atas peternakan kuda di Padukuhan Parung Kuda itu.
"Sebuah tempat yang baik untuk beternak kuda," kata Jayakatwang kepada Pendeta Gunakara yang telah bangun lebih dulu pagi itu.
Mereka pagi itu berjalan-jalan di sekitar peternakan kuda, melihat beberapa ekor kuda dilepas bebas di tempat terbuka tengah mencari makan sendiri.
"Mari kita kembali ke pondokan, mungkin mereka sudah menunggu kita," kata Pendeta Gunakara kepada Jayakatwang.
Ketika Jayakatwang dan Pendeta Gunakara kembali ke pondokan peternakan kuda, Putu Risang dan kawan-kawan memang telah bersiap diri untuk melanjutkan perjalanan kembali.
Hari sudah terlihat terang tanah dan matahari sudah menghangatkan rumput halaman muka ketika Putu Risang dan rombongannya keluar dari halaman pondokan peternakan kuda itu.
"Setengah hari perjalanan lagi kita sudah sampai di Kotaraja Kawali," kata Pangeran Citraganda kepada Pangeran Jayanagara yang berjalan di depan.
Sementara itu dalam perjalanan, sepasang mata yang jeli tengah memperhatikan punggung seorang pemuda di depannya. Itulah mata indah Dyah Rara Wulan yang diam-diam memperhatikan Gajah Mada yang berkuda beriringan dengan Putu Risang.
Tetapi tidak seorang pun yang mengetahui gerak-gerik curi pandang itu, juga perasaan yang ada di dalam hati gadis jelita putri Raja Ragasuci tersebut.
Tidak terasa matahari sudah mulai tergelincir sedikit dari puncaknya manakala mereka melewati gerbang batas Kotaraja Kawali. Terlihat Dyah Rara Wulan menarik napas panjang, sepertinya menyesali perjalanan yang singkat itu. Dalam hati ia ingin lebih lama lagi berjalan di belakang pemuda itu, Gajah Mada.
Kembali Dyah Rara Wulan menarik napas panjang manakala mereka sudah berada di depan gerbang istana Kawali.
Rombongan orang-orang Majapahit itu pun diterima sebagai tamu terhormat. Mereka ditempatkan di sebuah rumah panggung Bale Tamu, sebuah tempat khusus untuk tamu kehormatan kerajaan di istana Kawali.
Merupakan sebuah kehormatan pula manakala Raja Ragasuci sendiri mendatangi Bale Tamu untuk menemui tamunya itu.
"Putraku telah bercerita semua tentang kejadian di peternakan kuda. Terima kasih telah meringkus gembong gerombolan paling licin di Tanah Pasundan ini, Singalodra," kata Raja Ragasuci di tengah perjamuan makan siang bersama para tamunya dari Majapahit itu.
"Sudah menjadi sebuah kewajiban sesama saudara untuk saling membantu," kata Jayakatwang mewakili orang-orang Majapahit.
"Semoga kita dapat melaksanakan amanat Ayahanda Prabu Guru Darmasiksa, antara orang Pasundan dan Majapahit untuk selalu rukun dan saling membantu sebagai saudara," kata Raja Ragasuci.
"Kunjungan kami ini adalah sebuah upaya untuk terus mengikat tali persaudaraan di antara kita. Itulah amanat Baginda Raja Kertarajasa yang merestui perjalanan kami ke Tanah Pasundan ini," sambung Jayakatwang.
"Besok kalian akan berangkat ke Gunung Galunggung. Kedua putra dan putriku akan mengantar kalian menemui Ayahanda Prabu Guru Darmasiksa," kata Raja Ragasuci.
Terlihat di sudut ruangan, Dyah Rara Wulan menarik napas panjang. Perkataan Raja Ragasuci adalah izin yang ditunggu-tunggunya.