Chapter 07
"Akan kucoba seberapa besar kekebalan dirinya," kata Putu Risang kembali sambil mencoba membalas serangan lawan.
Ternyata orang tua itu memiliki kekebalan tubuh yang luar biasa. Ia seolah tidak menghiraukan sama sekali sambaran cambuk Putu Risang dan terus melakukan serangan tongkatnya yang berputar-putar seperti baling-baling mengejar tubuh Putu Risang.
Cambuk Putu Risang seperti menembus kapas, tidak berarti apa pun pada tubuh orang tua itu. Sebaliknya, serangan tongkat lawan sudah nyaris menyambar Putu Risang.
Dengan cepat, Putu Risang melenting menghindar dan membalas menyerang dengan menambah kekuatan tenaga cadangannya menjadi lebih kuat lagi.
Kembali cambuk Putu Risang seperti masuk ke sebuah tempat kosong, tidak dirasakan sama sekali meski terlihat telah menyentuh tubuh orang tua itu. Sebaliknya, serangan orang tua itu kembali mendekati dirinya.
"Ajian Ilmu Tameng Waja tingkat tinggi," gumam Jayakatwang dalam hati dengan mata terus menatap pertempuran itu dengan hati penuh kecemasan.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Jayakatwang, orang tua itu ternyata telah menerapkan ajian Ilmu Tameng Waja tingkat tinggi. Sebagaimana muridnya, Singalodra, yang telah mewarisi ajian ilmu kekebalan tubuh itu, guru Singalodra ternyata sudah jauh lebih sempurna lagi.
Putu Risang yang sudah pernah berhadapan dengan Singalodra dapat merasakan tingkat tataran ajian ilmu itu sudah berada di puncak kesempurnaan, lebih dahsyat dari apa yang dimiliki oleh Singalodra.
Kembali Putu Risang mencoba meningkatkan lagi tataran tenaga saktinya. Terlihat orang tua itu sudah dapat merasakan sentuhan cambuk Putu Risang sebagai sebuah sentuhan biasa.
"Aku harus mempertahankan keseimbangan pertempuran ini agar orang tua itu berpikir hanya sampai di sini puncak ilmuku," kata Putu Risang mencoba mengelabui lawannya dengan tidak meningkatkan lagi tataran ilmunya.
Demikianlah, Putu Risang telah dapat melayani serangan demi serangan Guru Singalodra yang berilmu tinggi itu. Sang guru tidak tahu bahwa sebenarnya Putu Risang dapat meningkatkan tataran ilmunya jauh melampaui kekebalan ajian Ilmu Tameng Wajanya.
Pertempuran kedua orang berilmu tinggi di tanah lapang pinggir jalan itu terlihat begitu dahsyat dan sangat mendebarkan hati. Terlihat Pangeran Citraganda tanpa berkedip memandang pertempuran itu. Ia tidak menyangka bahwa Putu Risang ternyata lebih hebat dari yang pernah dilihatnya ketika bertempur dengan Singalodra.
Namun, ada sebuah kekhawatiran melihat serangan Guru Singalodra yang bergulung-gulung terus mengejarnya seolah tidak menghiraukan sama sekali serangan cambuk Putu Risang. Tanah lapang itu sudah seperti rata; semak belukar di sekitar pertempuran mereka telah terburai terinjak langkah kaki kedua orang berilmu tinggi itu.
Terlihat kedua lelaki murid orang tua itu merasa yakin bahwa guru mereka tidak dapat terkalahkan. Sementara itu, orang-orang di pihak Putu Risang begitu cemas melihat serangan orang tua itu seperti ombak yang bergulung-gulung, tidak pernah berhenti sedikit pun mengejar ke mana pun Putu Risang berkelit melenting ke sana kemari menghindar.
Semua orang di pihak Putu Risang berkali-kali harus menahan napas menyaksikan pertempuran tingkat tinggi itu. Sebenarnya, Putu Risang sudah dapat mengukur puncak tataran ilmu orang tua itu, baik puncak tenaga sakti meringankan tubuh maupun ilmu sakti kekebalan tubuhnya.
Putu Risang hanya perlu melontarkan kekuatan tenaga saktinya sedikit lebih kuat lagi untuk dapat menembus ajian sakti Ilmu Tameng Waja milik orang tua itu. Namun, Putu Risang merasa ragu karena lontaran puncak ilmunya akan berakibat sangat fatal, dan ia memang tidak ingin membinasakan orang tua itu.
Akhirnya, pewaris ilmu pusaka rahasia pertapa dari Gunung Wilis itu mendapatkan sebuah cara untuk menundukkan orang tua berilmu tinggi tersebut. Putu Risang yang sudah dapat melampaui kecepatan bergerak orang tua itu tetap harus berhati-hati menghadapi setiap serangan tongkat lawannya.
Diam-diam ia telah menerapkan tenaga sakti berupa hawa panas yang menyelimuti dirinya dan terus melebar. Semula pancaran hawa panas itu memang tidak menembus ajian Ilmu Tameng Waja orang tua itu. Namun, perlahan tapi pasti, Putu Risang terus meningkatkan tataran hawa saktinya.
Terkejutlah orang tua itu manakala ia merasakan hawa panas menyentuh dan mengurung tubuhnya. Ternyata Putu Risang telah meningkatkan tataran ilmu tenaga saktinya. Guru Singalodra mulai merasakan hawa panas yang mengurung dirinya membuat serangannya tidak lagi sedahsyat sebelumnya. Sebaliknya, Putu Risang terus membalas menyerang bersama pancaran hawa panas tenaga saktinya.
Putu Risang telah meningkatkan tataran ilmunya lewat lontaran cambuknya yang sudah dapat menembus ajian Ilmu Tameng Waja orang tua itu. Lawannya terlihat sudah tidak lagi berani membiarkan tubuhnya terkena sambaran cambuk Putu Risang.
Sementara itu, pancaran hawa panas yang menyelimuti tubuh Putu Risang membuat orang tua itu mencari jarak agar tidak merasakan sengatan hawa panas yang seperti bara api menyengat kulitnya. Orang-orang di pihak Putu Risang yang menyaksikan pertempuran itu menarik napas lega. Mereka melihat pertempuran telah berubah; Putu Risang seperti sudah berada di atas angin dan terus mengancam tubuh orang tua itu dengan serangan cambuk pendeknya yang terus mengejar ke mana pun lawan menghindar.
Cambuk pendek itu seperti bermata, terus mengejar ke mana pun langkah kaki orang tua itu bergeser. Putu Risang telah meningkatkan tataran ilmunya sedikit lebih tinggi lagi; hawa panas yang memancar di sekeliling tubuhnya sudah seperti bara api. Terlihat semak belukar dan rumput di sekitar arena sudah menjadi kering hitam terkena angin pancaran hawa panas ilmu sakti Putu Risang lewat serangan-serangannya.
Peluh sudah mengucur basah memenuhi wajah dan tubuh orang tua itu, yang meski sudah menjauhi jarak tempur tetapi tetap merasakan hawa panas tersebut.
Geledar!
Putu Risang telah melecutkan cambuknya ke udara, sengaja membuat suara yang menggelegar seperti suara petir membelah langit. Hal itu benar-benar telah menyiutkan hati dan perasaan orang tua itu. Terlihat wajahnya berubah pucat mendengar suara lecutan cambuk pendek di tangan Putu Risang.
Belum habis rasa keterkejutan orang tua itu mendengar suara lecutan cambuk yang memekakkan telinga, tiba-tiba saja ujung cambuk pendek itu seperti kepala seekor ular dengan begitu cepatnya terbang menjulur mendekati tubuhnya. Kecepatan gerak cambuk pendek Putu Risang memang begitu cepat melesat seperti anak panah yang dilontarkan dengan tenaga penuh, sepuluh kali lebih cepat dari lari seekor macan pemburu, lebih cepat dari kedipan mata.
Tidak ada kesempatan bagi guru Singalodra itu untuk menghindar lagi. "Habislah sudah riwayatku," kata orang tua itu dalam hati tanpa berkedip, tidak mampu menghindari kecepatan serangan cambuk Putu Risang yang telah melesat ke arahnya.
Bertambah kaget dan terkejutnya orang tua itu ketika melihat sendiri ujung cambuk itu tiba-tiba berubah arah sedikit melenceng, membentur sebuah batu besar di sebelahnya. Merinding seluruh tubuh orang tua itu melihat sebuah batu besar di sebelahnya hancur berdebu terbang berhamburan tertiup desir angin di sekitar tanah lapang itu.
Terlihat Putu Risang telah berdiri tegak di hadapan orang tua itu sambil tersenyum ramah. Tangan kanannya masih memegang pangkal cambuk pendeknya, sementara ujung cambuk itu jatuh menyentuh tanah.
"Apakah perkenalan ini masih harus dilanjutkan?" tanya Putu Risang dengan senyum ramah. Tidak terlihat sedikit pun peluh di wajahnya, seolah ia belum melakukan apa pun meski mereka berdua telah bertempur ratusan jurus lamanya.
"Terima kasih telah memberi kesempatan hidup selembar nyawa tuaku ini," kata orang tua itu sambil menoleh ke arah sisa abu batu besar di sampingnya.
"Aku tidak akan mencarimu lagi. Mengenai Singalodra, biarlah ia merasakan kegetiran hidupnya sendiri sebagai hukuman atas apa yang telah diperbuat selama ini—sebuah perbuatan yang sudah lama tidak aku sukai pada diri muridku itu," kata orang tua itu yang sudah dapat menguasai perasaannya yang mencekam setelah menyaksikan puncak ilmu orang muda di hadapannya.
"Senang telah berkenalan denganmu, wahai orang muda," lanjut orang tua itu kepada Putu Risang. "Orang-orang biasa memanggilku dengan sebutan Embah Gerung dari Gunung Muncang. Singgahlah bila kebetulan kamu berada di sekitar Gunung Muncang," kata orang tua itu sambil melangkah ke arah jalan yang diikuti oleh kedua muridnya.
"Cara berkenalan yang aneh dari orang Pasundan," batin Putu Risang sambil tersenyum membalas lambaian tangan Embah Gerung yang sudah berada di tepi jalan tanah diikuti langkah kedua anak muridnya.
Terlihat semua orang di tanah lapang itu bernapas lega melihat hasil pertempuran tingkat tinggi yang begitu mendebarkan hati.
"Pilihan Ayahanda untuk seorang guru kepadaku ternyata sangat tepat," kata Pangeran Jayanagara dengan perasaan berbunga setelah menyaksikan sendiri ilmu puncak gurunya yang baru pertama kali dilihat dengan mata kepala sendiri.
"Kebijaksanaan akalmu sudah dapat mengendalikan amarahmu," kata Pendeta Gunakara yang datang mendekati Putu Risang. Putu Risang sendiri sudah membelitkan kembali cambuk pendeknya melingkar di pinggang.
"Hari sudah semakin terang, kaki Gunung Galunggung sudah begitu dekat," kata Jayakatwang meminta rombongan untuk melanjutkan kembali perjalanan mereka yang tertunda.
Demikianlah, rombongan itu sudah kembali berjalan dan sudah begitu dekat di bawah kaki Gunung Galunggung. Terlihat kuda-kuda mereka berjalan perlahan mendaki jalan berliku, menyusuri jalan setapak di punggung Gunung Galunggung yang berhawa sejuk dan penuh rimbun tanaman pohon kayu hutan perawan.