Halo!

Kisah Dua Naga Di Pasundan - Chapter 08

Memuat...
Kisah Dua Naga Di Pasundan

Chapter 08

Matahari sudah mulai condong ke barat, terhalang rimbunnya hutan, ketika rombongan berkuda itu tiba di sebuah lereng Gunung Galunggung. Hawa dingin terasa semakin menusuk kulit ketika semilir angin menyapu wajah mereka.

"Itulah Padepokan Eyang Prabu Guru Darmasiksa," kata Pangeran Citraganda sambil menunjuk ke arah sebuah padepokan besar di hadapan mereka.

Sebuah padepokan di lereng Gunung Galunggung yang dikelilingi beberapa petak sawah berundak dan beberapa ladang hijau.

"Sebuah bangunan padepokan yang asri, dipenuhi keindahan lukisan alam berupa sawah, ladang, dan hutan hijau," kata Jayakatwang sambil matanya memandangi padepokan di lereng Gunung Galunggung itu.

Terlihat rombongan orang berkuda itu melewati regol pintu gerbang padepokan.

"Selamat datang di tanah Pasundan," kata Prabu Guru Darmasiksa menyambut kedatangan Jayakatwang dan rombongannya.

"Ayahanda menitipkan salam rindunya, belum sempat datang berkunjung," kata Pangeran Citraganda kepada Prabu Guru Darmasiksa.

"Aku juga merindukannya," kata Prabu Guru Darmasiksa kepada Pangeran Citraganda.

Dan angin senja semilir perlahan menyelimuti pendapa Padepokan Prabu Guru Darmasiksa.

Setelah semua orang selesai membersihkan diri di pakiwan, terlihat semua tamu Prabu Guru Darmasiksa tengah menikmati jamuan sederhana dari tuan rumah mereka.

Perjalanan panjang, dan berbagai ancaman yang mereka hadapi, termasuk Singalodra, telah mendekatkan hati ketiga pemuda dan gadis muda di antara mereka. Tidak ada kecanggungan lagi di antara mereka.

Dan ketika Pangeran Citraganda mengajak mereka untuk memisahkan diri dari para orang tua, mengajak naik ke atas sebuah gardu panggungan yang berada di muka halaman, maka seperti anak ikan gabus kecil, mereka beriringan menuju gardu panggungan itu.

"Masa depan Pasundan dan Majapahit berada di pundak mereka," kata Jayakatwang sambil memandang keempat orang muda itu yang tengah berjalan menuju gardu panggungan.

"Tugas kitalah sebagai orang tua mengarahkan pandangan hidup mereka agar tetap berjalan lurus di garis keluhuran budi dan cita-cita leluhur para pendiri bumi ini," kata Prabu Guru Darmasiksa.

"Tuan Prabu Guru Darmasiksa masih tegar dan kuat, mengapa sudah menjauhi kesibukan istana, mengasingkan diri di lereng Gunung Galunggung yang sepi ini?" tanya Putu Risang kepada Prabu Guru Darmasiksa.

Terlihat Prabu Guru Darmasiksa tidak langsung menjawab, ia tersenyum menatap wajah Putu Risang dengan senyum sabarnya.

"Aku telah berbagi dharma dengan putraku, Raja Ragasuci. Biarlah jiwa mudanya mengurus kerajaan Pasundan ini yang memerlukan napas baru dari pemikiran yang masih segar-bugar. Sementara itu, dharmaku di sini, memberi pencerahan hati kepada siapa saja yang datang ke padepokanku, memberikan pengajaran keluhuran budi kepada semua orang yang ingin belajar kedigdayaan kekayaan jiwa, lahir batin," kata Prabu Guru Darmasiksa kepada Putu Risang.

"Jadi, jangan katakan aku telah mengasingkan diri bertapa dan bersemedi di lereng gunung yang sepi ini. Aku masih berdharma. Hakikat semadi itu sebenarnya adalah sebuah dharma. Baik dharmanya, baik pula semadinya. Buruk dharmanya berarti buruk pula semadinya. Bersemadi di dalam dharma adalah sebuah perbuatan dan kebijaksanaan yang akan saling mengikat satu dengan yang lainnya. Dharma tanpa semadi seperti mayat berjalan, sementara semadi tanpa dharma ibarat tubuh hidup tidak memiliki arti apa pun dalam kehidupannya," kata Prabu Guru Darmasiksa kembali.

Sementara itu, keempat orang muda telah berada di atas gardu panggungan. Terlihat mereka berbincang-bincang dan bersenda gurau tanpa jarak dan kecanggungan lagi, seolah sudah begitu lama saling mengenal. Terlihat sekumpulan burung pekik melewati bubungan atap gardu panggungan di atas mereka. Suasana kesejukan udara pegunungan yang sejuk dan tenang telah membuat kegembiraan hati melupakan segala kepenatan perjalanan seharian mereka yang melelahkan itu.

"Aku ingin mendengar suara seruling Kakang Mahesa Muksa," kata Dyah Rara Wulan sambil melihat sebuah seruling yang terikat di pinggang Gajahmada.

Sambil tersenyum, Gajahmada meraba dan menarik seruling dari ikat pinggangnya. Angin semilir di udara bening senja telah membawa suara seruling Gajahmada mengalun jernih. Terlihat Pangeran Jayanagara, Pangeran Citraganda, dan Dyah Rara Wulan seperti terserap tembang seruling yang ditiup oleh Gajahmada. Mereka seperti terbawa alunan tembang seruling itu yang terdengar seperti suara semangat prajurit yang berbaris menuju medan perang, namun tiba-tiba saja irama seruling itu melengking tinggi seperti tangisan menyayat hati, sebuah derita pilu karena sahabat dan kekasih tercinta telah pergi untuk selamanya. Lengking suara seruling itu pun semakin lama seperti melambat dan berubah menjadi suara kegembiraan hati, suara kegembiraan gadis muda yang sedang terjerat api asmara. Nada dan irama seruling itu seperti melompat-lompat, seperti suasana hati seorang gadis manja mengintip pujaan hati yang datang menepati janji untuk bertemu di bawah rembulan malam.

"Tembang yang indah," kata Dyah Rara Wulan dengan penuh kekaguman.

"Tembang 'Kenangan Hina Kelana', gubahan Prabu Guru Darmasiksa dan Paman Jayakatwang," kata Gajahmada menyampaikan siapa pencipta tembang seruling itu.

"Sekali kamu mainkan, sepuluh gadis cantik pasti datang jatuh cinta," kata Pangeran Citraganda secara jujur menilai kemerduan suara seruling Gajahmada.

"Sementara hari ini hanya ada satu gadis yang mendengarnya," kata Pangeran Jayanagara sambil melirik ke arah Dyah Rara Wulan.

"Bila hari ini ada sepuluh gadis yang mendengar serulingnya, akan kucopot telinga mereka agar tidak dapat lagi mendengar suara seruling itu," kata Dyah Rara Wulan dengan wajah polos, seperti tidak merasa terganggu dengan godaan Pangeran Jayanagara, bahkan seperti menimpalinya.

"Aku tidak akan memainkan tembang ini, karena takut ada sepuluh gadis terluka telinganya," kata Gajahmada yang ditanggapi tawa oleh semuanya.

Keempat orang muda itu masih saja berbincang-bincang dan tertawa, seolah telah melupakan waktu yang terus berjalan; senja sudah mulai terlihat redup menutupi hutan, tebing, dan lembah jauh di seberang mereka. Tapi suasana kegembiraan hati para pemuda itu tiba-tiba terhenti, berubah menjadi suasana keheranan. Mereka berempat telah melihat sepuluh wanita berada di luar pagar padepokan di keremangan senja yang sebentar lagi akan berakhir.

"Sepuluh orang wanita!" kata Pangeran Citraganda penuh keheranan, mengingat ucapannya tentang tembang seruling dan sepuluh orang gadis.

"Turunlah siapa pun di antara kalian yang baru saja meniup seruling!" terdengar melengking lantang dari salah satu kesepuluh wanita itu.

Mendengar suara wanita itu ditujukan kepadanya, segera Gajahmada turun dari panggungan.

"Akulah peniup seruling itu," kata Gajahmada di hadapan salah seorang di antara mereka.

"Kamu pasti mengenal pemilik rontal ini," kata salah satu di antara mereka.

"Aku tidak tahu siapa pemilik rontal itu," kata Gajahmada kepada wanita itu.

"Bohong, kamu baru saja memainkan isi dari rontal ini!" kata wanita itu dengan suara yang semakin tinggi.

"Aku berkata jujur, tidak tahu siapa pemilik rontal itu," kata Gajahmada kembali.

"Jangan berdusta, dari mana kamu belajar tentang tembang ini?" kata wanita itu kembali, masih dengan suara tinggi penuh amarah.

Terlihat Gajahmada terdiam, ragu untuk menyebut nama seseorang yang telah mengajarkan kepadanya sebuah tembang yang baru saja dimainkannya lewat seruling bambunya di atas panggungan.

"Anak muda ini memang tidak tahu tentang rontal itu, karena rontal itu adalah milikku," kata seseorang di belakang Gajahmada.

Ketika Gajahmada menoleh ke belakang, terlihat bahwa orang itu ternyata adalah Prabu Guru Darmasiksa. Rupanya para orang tua yang tengah berbincang-bincang di pendapa telah mendengar adanya sedikit keributan itu. Mereka segera turun dari pendapa dan langsung menuju muka halaman, yang di sana akhirnya mereka melihat sepuluh orang wanita di halaman depan. Salah seorang yang paling tua, mungkin pemimpin mereka, terlihat sedang berbicara dengan suara tinggi penuh amarah kepada Gajahmada.

"Bila rontal ini benar milik Tuan, aku memiliki sebuah kepentingan dengan Tuan," kata wanita itu dengan nada suara terdengar sedikit menurun, mungkin wibawa dari Prabu Guru Darmasiksa telah membuat wanita itu agak menghormatinya.

"Orang biasa memanggilku dengan sebutan Embah Galunggung, mari kita bicara di dalam. Mungkin dengan suasana dan kepala yang lebih dingin akan menyelesaikan urusan ini," kata Prabu Guru Darmasiksa dengan suara penuh kebijaksanaan.

"Maaf, ternyata hamba berbicara dengan Tuan Prabu Guru Darmasiksa sendiri," kata wanita itu yang langsung mengikuti ajakan Prabu Guru Darmasiksa untuk berbicara di atas pendapanya.

Terlihat hanya wanita itu dan seorang wanita muda yang ikut masuk ke pendapa Padepokan Prabu Guru Darmasiksa, sisanya menunggu di halaman depan.

Di atas pendapa, wanita itu memperkenalkan dirinya sebagai Ketua Padepokan Randu Abang, dan gadis yang ikut bersamanya itu adalah keponakannya sendiri bernama Andini.

"Sekitar tiga bulan yang lalu, ayah dari Andini yang juga adalah adik kandungku telah terbunuh oleh orang-orang yang tidak dikenal," kata Nyi Randu Abang memulai ceritanya. "Setahuku, adikku sering pergi mengembara, kadang-kadang tiga sampai enam bulan baru datang kembali. Saat kepulangannya yang terakhir, ia telah membawa sebuah rontal ini," kata Nyi Randu Abang kembali, berhenti sejenak, seperti tengah mengumpulkan ingatannya. "Mungkin sudah suratan takdirnya, beberapa orang tidak dikenal telah datang menyatroni rumahnya. Disaksikan sendiri oleh anak gadisnya, Andini, adikku telah dikeroyok oleh orang-orang tidak dikenal itu hingga tewas," kata Nyi Randu Abang, berhenti sebentar, terlihat menarik napas panjang, seperti seorang yang tengah berduka.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment