Halo!

Kisah Dua Naga Di Pasundan - Chapter 09

Memuat...
Kisah Dua Naga Di Pasundan

Chapter 09

"Kami ikut berduka cita atas meninggalnya adik Nyi Randu Abang. Siapa nama ayah gadis ini?" tanya Prabu Guru Darmasiksa, menyela cerita Nyi Randu Abang.

"Adikku dan juga ayah keponakanku ini bernama Rakajaya. Hanya rontal ini saja yang dapat kami pegang untuk menelusuri siapa gerangan orang-orang tak dikenal yang telah menewaskan Rakajaya," kata Nyi Randu Abang sambil memperlihatkan rontal di tangannya.

Semua mata di pendapa terlihat memandang ke arah rontal di tangan Nyi Randu Abang.

"Rontal itu memang adalah milikku," kata Prabu Guru Darmasiksa perlahan.

Terlihat semua pandangan mata di pendapa itu tertuju kepada Prabu Guru Darmasiksa, seperti menunggu apa yang akan diucapkan orang tua mantan penguasa Tanah Pasundan itu.

Prabu Guru Darmasiksa tidak segera melanjutkan kata-katanya, bibirnya terasa berat, seperti tengah mempertimbangkan sesuatu. Terlihat ia menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan.

"Sebenarnya ini sebuah rahasia kami," kata Prabu Guru Darmasiksa perlahan.

"Apa boleh buat, demi meluruskan permasalahan ini, harus kubuka bahwa sekitar lima bulan yang lalu aku bermaksud memindahkan sebuah benda pusaka Kujang Pangeran Muncang ke Kotaraja Kawali agar dapat disimpan di bangsal pusaka istana. Namun dalam perjalanannya, sepuluh orang cantrikku dicegat oleh dua orang perampok berilmu tinggi. Tujuh dari sepuluh cantrik yang membawa benda pusaka itu tewas. Dua perampok berilmu tinggi itu telah dapat membawa pergi benda pusaka itu. Perlu diketahui bahwa sengaja aku menitipkan rontal itu pula bersama pusaka Kujang Pangeran Muncang di dalam sebuah kotak hitam," cerita Prabu Guru Darmasiksa, berhenti sebentar menarik napas panjang seperti merasa berat harus bercerita tentang benda pusaka yang hilang.

"Semula kami bermaksud merahasiakannya, semakin sedikit orang yang tahu tentang rahasia itu akan memudahkan kami melacak siapa yang telah berani merampok benda pusaka milik Kerajaan Pasundan itu," kata Prabu Guru Darmasiksa, menyelesaikan peristiwa di balik rontal di tangan Nyi Randu Abang yang ternyata hanya sebuah pahatan pakem tembang hina kelana, gubahan gabungan antara Prabu Guru Darmasiksa dan Jayakatwang.

"Maafkan hamba telah membawa rontal ini. Sebaiknya rontal ini hamba serahkan kepada Tuan Prabu Guru Darmasiksa sebagai pemiliknya. Tapi hamba akan terus menyusuri siapa pelaku di balik semua ini," kata Nyi Randu Abang sambil menyerahkan rontal tembang hina kelana kepada Prabu Guru Darmasiksa, pemilik rontal itu.

"Terima kasih. Rahasia ini harus kita jaga agar kita dapat lebih mudah mengungkap di balik semua ini, sekaligus mendapatkan kembali pusaka Kujang Pangeran Muncang," kata Prabu Guru Darmasiksa.

"Adakah hal lain yang telah Nyi Randu Abang dapatkan selama ini?" tanya Prabu Guru Darmasiksa kepada Nyi Randu Abang.

"Adikku tewas sambil memegang sebuah kain penutup kepala berwarna gula kelapa," kata Nyi Randu Abang.

"Kain penutup kepala gula kelapa?" kata Putu Risang, seperti mengulang kembali perkataan Nyi Randu Abang.

Terlihat semua mata di pendapa Padepokan itu memandang ke arah Putu Risang.

"Para prajurit Majapahit mengenakan ikat kepala berwarna gula kelapa," kata Putu Risang menjelaskan apa yang ada dalam pikirannya.

"Apakah prajurit Majapahit berada di belakang semua ini?" tanya Nyi Randu Abang, langsung mengambil sebuah pernyataan dari pikirannya.

"Begitu bodohnya prajurit Majapahit meninggalkan jati dirinya. Pasti ada orang lain yang sengaja meninggalkan ikat kepala itu sebagai sebuah tujuan," kata Prabu Guru Darmasiksa menyampaikan jalan pikirannya.

"Ada orang lain yang sengaja ingin memecah persaudaraan antara Pasundan dan Majapahit," kata Jayakatwang tanpa bercerita tentang kecurigaannya kepada salah seorang bangsawan yang ditemuinya di bandar pelabuhan Pragota.

"Maaf bila kukatakan bahwa adikmu terlibat sebagai salah satu dari dua orang perampok. Kunci utama sekarang adalah siapakah yang bersamanya. Adakah Nyi Randu Abang mengenal sahabat dekat Rakajaya?" tanya Prabu Guru Darmasiksa kepada Nyi Randu Abang.

"Aku masih ingat, Ayahku berangkat bersama sahabatnya Paman Bango Samparan," kata Andini yang selama itu hanya berdiam diri.

"Bango Samparan dari Rawa Rontek maksudmu?" tanya Prabu Guru Darmasiksa.

"Benar, Paman Bango Samparan dari Rawa Rontek," kata Andini membenarkan perkataan Prabu Guru Darmasiksa mengenai sebuah nama.

"Pantas sepuluh cantrikku dapat dengan mudah dikalahkan oleh mereka. Setahuku, Bango Samparan memang seorang yang berilmu tinggi. Dialah kunci kita untuk mengungkap kegelapan ini," kata Prabu Guru Darmasiksa.

"Kita harus bergerak cepat, sebelum ada orang lain yang ingin menutup rapat-rapat rahasia itu sebagaimana nasib Rakajaya," kata Jayakatwang memberikan pikirannya.

"Kamu benar, bisa jadi nasib Bango Samparan sedang terancam sebagaimana sahabatnya Rakajaya," kata Prabu Guru Darmasiksa membenarkan jalan pikiran Jayakatwang.

"Sebagai orang Majapahit, hamba merasa berkepentingan dengan urusan ini. Izinkan hamba untuk segera berangkat mencari Bango Samparan. Mungkin kedua muridku, Pangeran Jayanagara dan Mahesa Muksa, dapat menemani perjalanan hamba," kata Putu Risang menawarkan dirinya bersama kedua muridnya untuk menemukan Bango Samparan yang dianggap kunci utama dan sangat penting untuk segera diselamatkan.

"Terima kasih, kalian adalah tamu kami. Tidak enak hati bila terjadi sesuatu pada kalian. Di samping juga bahwa kalian belum mengetahui arah Rawa Rontek, tempat kediaman Bango Samparan," kata Prabu Guru Darmasiksa merasa tidak enak hati telah membawa tamunya kepada masalah hilangnya pusaka Kujang Pangeran Muncang.

"Kami hanya perlu seorang petunjuk jalan menuju Rawa Rontek," kata Putu Risang.

"Aku dapat menjadi penunjuk jalan menuju Rawa Rontek, ayahku pernah mengajak aku ke tempat kediamannya," kata Andini angkat bicara menawarkan dirinya sebagai seorang penunjuk jalan menuju Rawa Rontek, tempat kediaman Bango Samparan.

Semua mata terlihat memandang ke arah Andini. Semua orang di pendapa itu seperti baru memperhatikan wajah gadis itu dengan saksama. Ternyata Andini adalah seorang gadis yang sangat jelita, memiliki wajah dan paras begitu sempurna seperti wajah seorang dewi yang biasa dipahat di candi-candi yang disucikan.

"Mungkin Gusti Yang Maha Agung telah menggariskan kalian datang ke padepokanku untuk membantu menyelesaikan urusan kami ini," kata Prabu Guru Darmasiksa, seperti tidak dapat menolak lagi maksud baik Putu Risang.

Demikianlah, akhirnya semua telah sepakat menugaskan Putu Risang bersama kedua muridnya menuju Rawa Rontek dengan Andini sebagai penunjuk arahnya.

Sementara itu, Nyi Randu Abang terlihat tengah berpamit diri.

"Hamba berharap semoga urusan ini dapat segera terungkap," kata Nyi Randu Abang ketika berdiri, bermaksud pamit diri kembali ke padepokannya.

Terlihat Nyi Randu Abang telah menuruni anak tangga pendapa. Dan bersama semua muridnya, ia telah berjalan ke arah pintu gerbang halaman muka padepokan, diiringi pandangan mata semua yang berada di atas pendapa. Dan malam di atas Padepokan Prabu Guru Darmasiksa terlihat sudah begitu gelap. Semilir angin terasa begitu dingin menusuk kulit di lereng Gunung Galunggung itu.

"Bilik untukmu telah disiapkan, beristirahatlah lebih dulu," kata Prabu Guru Darmasiksa mempersilakan Andini beristirahat.

"Kurasa kalian juga perlu beristirahat yang cukup di malam ini, karena besok pagi kalian akan melakukan sebuah perjalanan cukup jauh," kata Prabu Guru Darmasiksa kepada Putu Risang, Pangeran Jayanagara, dan Gajahmada.

"Terima kasih, kami pamit diri beristirahat lebih dulu," kata Putu Risang mewakili kedua muridnya, masuk ke dalam tempat yang sudah disediakan untuk mereka di padepokan itu.

Akhirnya, di atas pendapa itu tertinggal tiga orang tua saja.

"Kalian berdua baru saja datang dari sebuah perjalanan yang cukup melelahkan, beristirahatlah," kata Prabu Guru Darmasiksa kepada Jayakatwang dan Pendeta Gunakara.

Demikianlah, malam itu semua penghuni Padepokan Prabu Guru Darmasiksa telah masuk di dalam biliknya masing-masing. Hawa dingin di atas lereng Gunung Galunggung memang begitu dingin, kadang terasa menusuk kulit tubuh ketika semilir angin dingin itu menembus lewat sela-sela bilik bambu mereka.

Dan malam itu di atas Padepokan Prabu Guru Darmasiksa berlalu begitu tenang, tidak ada kejadian apa pun di malam itu. Semburat warna merah sang pagi telah menghiasi cakrawala langit di atas Padepokan Prabu Guru Darmasiksa di lereng Gunung Galunggung itu. Suara ayam jantan sudah terdengar jelas diselingi kicau burung-burung kecil sebagai tanda awal kehidupan pagi sudah datang membangunkan bumi. Terlihat beberapa anak ayam berlari mengikuti induknya di halaman muka Padepokan Prabu Guru Darmasiksa di pagi itu. Ternyata induk ayam itu pergi menghindari empat ekor kuda yang dibawa oleh dua orang cantrik padepokan.

"Kuda-kuda telah disiapkan, aku berharap semoga keselamatan selalu mengiringi langkah kalian," kata Prabu Guru Darmasiksa kepada Putu Risang dan rombongannya yang telah bersiap diri untuk melakukan perjalanan menuju Rawa Rontek, tempat kediaman Bango Samparan, kunci utama yang mungkin dapat menjawab masalah hilangnya Kujang Pangeran Muncang.

Demikianlah, pagi itu terlihat empat ekor kuda telah keluar dari regol pintu gerbang Padepokan Prabu Guru Darmasiksa. Matahari kuning keemasan seperti setia mengawal empat orang berkuda yang tengah menuruni lereng Gunung Galunggung di pagi itu.

"Rawa Rontek berada di arah barat matahari," kata Andini memberi arah perjalanan ketika mereka berempat sudah berada di bawah kaki Gunung Galunggung.

Ternyata Andini sepertinya seorang gadis yang sudah terbiasa di atas punggung kuda. Terlihat ia telah menghentakkan kakinya di perut kuda, memberi perintah kepada kudanya untuk berlari lebih kencang lagi ketika mereka telah berada di sebuah padang ilalang yang luas.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment