Halo!

Kisah Dua Naga Di Pasundan - Chapter 10

Memuat...
Kisah Dua Naga Di Pasundan

Chapter 10

Melihat kuda Andini di depan mereka telah berlari, maka Putu Risang, Pangeran Jayanagara, dan Gajahmada telah mengikutinya melarikan kudanya.

Terlihat empat orang penunggang kuda memacu kudanya membelah padang ilalang yang luas, membelakangi matahari yang setia mengiringi perjalanan mereka.

Ketika mereka telah berada di muka sebuah hutan, Andini memberi isyarat agar mereka berhenti sebentar untuk beristirahat.

Dan matahari yang setia di belakang mereka memang telah berada hampir di atas puncaknya.

Mereka pun terlihat mencari sebuah tempat yang teduh untuk beristirahat sambil membiarkan kuda-kuda mereka merumput.

"Kita akan memasuki hutan pepat ini sambil menuntun kuda-kuda kita.

Di balik hutan ini kita melingkari perbukitan Hayangan ke arah utara," berkata Andini memberikan arah perjalanan mereka.

"Masih jauhkah perjalanan kita menuju Rawa Rontek?" bertanya Putu Risang kepada Andini.

"Masih harus menembus malam," kata Andini.

Dan Putu Risang tidak bertanya lagi, percaya bahwa Andini seperti telah mengenal betul jalan menuju Rawa Rontek.

"Tampaknya ayahnya ketika masih hidup sangat sering membawa gadis ini mengembara," kata Putu Risang dalam hati sambil melihat ke arah Andini yang sudah membuka bekal yang dibawanya.

"Kasihan, gadis ini telah ditinggal mati oleh ayahnya," kata Putu Risang kembali dalam hati sambil melihat gadis itu tengah mengunyah bekalnya.

Setelah merasa cukup beristirahat, mereka pun segera melanjutkan perjalanan kembali.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Andini, mereka memang harus menuntun kuda-kuda mereka ketika memasuki hutan yang sangat lebat dan pepat itu.

Hingga akhirnya mereka dapat menembus hutan itu dan langsung melingkari sebuah perbukitan.

"Kita melingkari perbukitan Hayangan ke arah utara," kata Andini memberi arah perjalanan.

Cukup jauh memang berjalan melingkari perbukitan Hayangan.

Akhirnya ketika senja sudah mulai berakhir mereka telah menemukan sebuah padukuhan kecil di bawah kaki perbukitan Hayangan.

"Kita bermalam di banjar desa," kata Andini yang berjalan di muka memasuki sebuah regol gerbang desa.

"Silakan kalian bermalam, banjar desa kami selalu terbuka untuk siapa pun yang kemalaman di perjalanan," kata seorang warga yang kebetulan bertetangga dengan banjar desa.

Demikianlah, malam itu mereka bermalam di banjar desa.

Karena Andini seorang wanita, tidak ada kewajiban untuknya bergilir jaga.

"Beristirahatlah Andini, biarlah kami para lelaki akan bergilir berjaga," kata Putu Risang kepada Andini.

Dan suasana malam di atas padukuhan yang tenang itu begitu damai, terdengar suara air di sungai kecil di samping banjar desa terdengar bersama derik suara malam seperti irama pengiring tidur.

Hingga datangnya sang pagi, tidak ada kejadian apa pun menimpa mereka berempat.

Terlihat mereka berempat saling bergantian bersih-bersih diri di sungai kecil dekat banjar desa itu.

"Terima kasih telah mengizinkan kami bermalam di banjar desa," kata Putu Risang sambil pamit diri kepada seorang pemilik rumah yang bertetangga dengan banjar desa yang ditemuinya kemarin malam.

"Kami mohon maaf tidak menyediakan apa pun," kata orang itu.

Demikianlah, mereka berempat kembali melanjutkan perjalanannya menuju Rawa Rontek yang dikatakan oleh Andini tinggal sepertiga hari perjalanan lagi.

Semilir angin pagi terlihat menerbangkan rambut Andini yang berkuda di depan di sebuah jalan bulakan panjang.

Sementara Putu Risang, Pangeran Jayanagara, dan Gajahmada mengikutinya dari belakang.

Andini memang layak seperti seorang dewi dalam pahatan indah di candi-candi, terlihat begitu tenang di atas punggung kudanya membuat siapa pun yang melihatnya akan terpesona kagum.

"Berhenti!" tiba-tiba berkata tiga orang berwajah kasar yang muncul dari sebuah tikungan jalan.

Terlihat Andini segera memperlambat kudanya dan berhenti tepat di muka ketiga orang-orang berwajah kasar itu.

Sementara Putu Risang dan dua orang muridnya sudah pula menghentikan kuda-kuda mereka.

"Ada kepentingan apakah sehingga kalian menghentikan perjalanan kami?" kata Andini ketika sudah turun dari kudanya.

"Kami hanya meminjam sebentar keempat kuda kalian ke pasar kuda," kata salah seorang di antara mereka orang-orang berwajah kasar itu.

"Kalian akan merampok kuda-kuda kami?" kata Andini dengan mata dan wajah marah.

"Tidak, tidak, kami bukan perampok.

Kami hanya perlu sebentar meminjamnya.

Bila anak manis tidak percaya, boleh sekalian mengantar kami ke pasar kuda," kata salah seorang di antara mereka dengan wajah nakal memandang Andini.

Tampaknya Andini sudah sangat hafal dengan sikap dan pandangan lelaki nakal merayapi seluruh wajah dan tubuhnya.

Entah dari mana di tangan Andini sudah memegang sebuah bubu kecil dari bambu.

Ternyata bubu kecil itu berisi tepung putih sangat lembut dan halus diletakkan di sebelah tangan Andini.

Dan dengan sekali tiup tepung putih halus itu telah bertebaran menyelimuti tubuh ketiga orang-orang kasar itu.

"Tepung putih ini adalah racun yang akan membuat diri kalian gatal-gatal," kata Andini sambil memandang ke arah tiga orang yang mencegatnya itu.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Andini, terlihat ketiga orang itu sudah merasa kegatalan sepanjang tubuhnya.

Rasa gatal itu memang terasa hebat, terlihat ketiga orang itu masih saja menggaruk-garuk beberapa bagian tubuhnya.

"Mintalah ampun kepadaku, karena hanya aku yang mempunyai obat penangkalnya," kata Andini sambil bertolak pinggang.

Putu Risang, Pangeran Jayanagara, dan Gajahmada yang melihat apa yang telah dilakukan oleh Andini mencoba menahan diri, meski di dalam hatinya timbul rasa kasihan melihat ketiga orang itu masih saja menggaruk-garuk beberapa bagian tubuhnya yang terasa gatal.

"Tolong berikan obat penangkal gatal itu," kata salah seorang yang sudah tidak tahan lagi merasakan gatal yang sangat di seluruh tubuhnya.

"Kamu belum minta ampun kepadaku," kata Andini dengan wajah seperti anak nakal yang tengah menggoda.

"Cepat berikan obat penangkal itu, kami akan membiarkan kalian lewat," kata salah satunya lagi.

"Bersujudlah kalian bertiga," kata Andini dengan suara membentak.

Mendengar suara keras Andini, tanpa menunggu perintah lagi ketiga orang itu sudah langsung bersujud di hadapan Andini.

"Bangkitlah, aku jengah melihat kalian bersujud di hadapanku," kata Andini.

Maka ketiga orang itu sudah bangkit berdiri.

"Hari ini aku sedang bermurah hati, cepat telan obat ini dan jangan berharap bertemu wajah denganku, karena aku akan membuat lebih kejam lagi tidak sekadar membuat kalian gatal," kata Andini dengan kata-kata mengancam sambil melempar tiga buah obat berupa bulatan kecil.

Ketiga orang itu terlihat sudah menelan obat yang dilemparkan oleh Andini.

Ternyata Andini tidak berbohong, obat itu langsung dirasakan telah menghilangkan rasa gatal mereka.

Dan tanpa berkata apa pun terlihat Andini telah melompat di atas punggung kudanya serta langsung menghentakkan kakinya ke perut kuda agar berjalan kembali.

Putu Risang, Pangeran Jayanagara, dan Gajahmada terlihat langsung ikut meloncat di atas punggung kuda mereka mengikuti langkah kuda Andini.

Debu terlihat mengepul di belakang kaki kuda mereka dibayangi mata ketiga perampok yang tidak berdaya, tidak dapat berbuat lain melepas keempat mangsanya begitu saja.

"Pasti gadis cantik itu membawa banyak senjata racun yang lebih ganas lagi," kata salah seorang di antaranya.

"Jangan-jangan ketiga lelaki yang bersamanya itu adalah para korbannya yang terpaksa menjadi pengawal setianya," kata kawan di sebelahnya.

"Aku tidak keberatan menjadi pengawal setia gadis cantik itu," kata orang ketiga dari mereka.

"Sepanjang hari harus melayani gadis manis itu, sementara anak dan istrimu kelaparan di rumah," kata orang pertama dari mereka.

"Anak dan istriku sudah ada yang mengurus, mertuaku masih lengkap punya sawah dan ladang cukup luas," kata orang ketiga dari mereka.

"Kamu memang mantu pemalas," kata orang pertama dari mereka.

"Kamu sendiri bekerja apa? Bukankah kita bertiga hanya begundal yang malas, tidak pernah mau berkeringat di sawah?" kata orang ketiga dari mereka merasa tersinggung dikatakan sebagai mantu pemalas.

"Maaf, aku lupa bahwa diri kita bertiga hanya begundal malas," kata orang pertama tidak ingin memancing kemarahan kawannya lebih jauh lagi.

Sementara itu Andini dan rombongannya sudah jauh meninggalkan mereka.

Di hadapan mereka adalah sebuah hutan perbukitan.

"Di balik perbukitan itulah letak Rawa Rontek berada," kata Andini kepada Putu Risang.

Demikianlah, mereka berempat terlihat telah mendaki perbukitan itu.

Hutan di perbukitan itu cukup lebat, meski matahari sudah tinggi di atas kepala mereka, tetapi terhalang lebatnya pohon-pohon kayu yang tumbuh rimbun menyejukkan perjalanan mereka.

Dan tidak terasa mereka berempat sudah sampai di atas puncak perbukitan itu.

"Kita turun sebentar mencari tempat teduh untuk beristirahat," kata Putu Risang.

Terlihat mereka sudah menuruni perbukitan itu dan telah menemui sebuah tempat yang cukup teduh dan datar.

"Tampaknya ada banyak burung puyuh di sekitar semak itu," kata Gajahmada sambil menunjuk ke sebuah gundukan semak belukar.

"Burung puyuh bakar, aku akan menyiapkan perapiannya," kata Pangeran Jayanagara sambil bangkit berdiri.

Ketika Gajahmada berdiri dan berjalan ke arah semak belukar tidak jauh dari tempat mereka beristirahat, mata Andini terus memperhatikan pemuda itu.

Mungkin merasa heran melihat Gajahmada tidak membawa alat apa pun untuk menangkap beberapa ekor puyuh.

Tetapi keheranan Andini terjawab, ternyata Gajahmada memang tidak memerlukan apa pun untuk menangkap beberapa ekor puyuh.

Hanya memerlukan sedikit kecepatan berlari mengitari semak belukar.

Terlihat Andini tertawa geli melihat tingkah Gajahmada itu.

"Dapat dua!" kata Gajahmada yang telah melompat ke tengah semak dan dengan kecepatan kedua tangannya berhasil menangkap dua ekor burung puyuh.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment