Halo!

Kisah Dua Naga Di Pasundan - Chapter 11

Memuat...
Kisah Dua Naga Di Pasundan

Chapter 11

Andini kembali menahan tawanya ketika mendengar teriakan Gajahmada yang telah mendapat dua ekor burung puyuh lagi di tempat lain.

Akhirnya, teriakan Gajahmada sudah tidak terdengar lagi. Tampaknya anak muda itu telah semakin jauh masuk ke dalam hutan mencari burung puyuh.

"Apakah tujuh ekor burung puyuh sudah cukup?" kata Gajahmada yang sudah muncul dari kerimbunan hutan.

"Kalian beristirahatlah, aku akan memasak untuk kalian," kata Andini sambil tersenyum mengumpulkan tujuh ekor burung puyuh yang kedua kakinya sudah terikat.

Putu Risang, Gajahmada, dan Pangeran Jayanagara terlihat kagum melihat kecekatan Andini menguliti bulu-bulu burung puyuh. Mereka tidak menyangka bahwa seorang gadis yang terlihat sangat garang ketika menghadapi ketiga begundal di perjalanan mereka, kali ini menunjukkan kepandaiannya memasak.

Ternyata Andini telah membawa beberapa bumbu di dalam bungkusan bekalnya. Maka, tidak lama berselang, terciumlah harum semerbak daging burung puyuh bakar yang sangat menggoda selera.

"Kalian masing-masing mendapat dua bagian, sementara aku sendiri cukup satu ekor," kata Andini yang telah menempatkan tujuh ekor burung puyuh panggang di atas sebuah pelepah daun pisang.

"Pandai sekali kamu memasak," kata Putu Risang sambil mengunyah daging burung puyuh.

"Nama masakan ini adalah burung dewa bumbu merah," kata Andini yang juga telah menikmati daging burung puyuh masakannya itu.

"Nama yang indah untuk sebuah masakan," kata Pangeran Jayanagara memuji.

"Ada tiga unsur yang membuat sebuah masakan menjadi nikmat, dimulai dari nama, tempat, dan rasa. Nama yang indah membuat telinga kita tergoda. Tempat dan bagaimana kita menyajikannya sudah mengundang mata tergoda. Terakhir, bumbu sebagai penyedap selera akan menggoda lidah untuk merindukannya," kata Andini sambil tersenyum, tidak merasa sungkan lagi.

"Ada tertinggal satu unsur lagi, menyajikannya dengan senyum," kata Pangeran Jayanagara.

"Benar, aku setuju dengan unsur keempat itu," kata Gajahmada yang ditingkahi tawa semua yang ada di situ, juga Andini, meski tidak tertawa lepas, hanya sedikit tersenyum mendengar canda mereka.

Andini diam-diam menilai bahwa ketiga lelaki yang bersamanya itu adalah orang-orang yang sopan. Tidak seperti kebanyakan lelaki yang sering dilihatnya sangat menjemukan, terutama sorot mata mereka. Dalam perkenalan yang singkat dalam perjalanan itu, Andini sudah tidak canggung lagi bersama mereka.

"Mari kita lanjutkan perjalanan kita," kata Putu Risang. Maka, terlihat mereka berempat sudah berada di atas punggung kuda masing-masing, tengah menuruni hutan perbukitan hijau itu.

"Rawa Rontek tidak begitu jauh lagi," kata Andini di atas kudanya ketika mereka telah berada di kaki perbukitan itu.

Terlihat mereka telah berjalan ke arah barat dari perbukitan itu. Sementara itu, matahari terlihat sudah bergeser ke barat, semakin turun di lengkung langit biru seolah menghadang perjalanan mereka.

"Inikah Rawa Rontek?" tanya Gajahmada kepada Andini ketika di hadapan mereka terbentang sebuah rawa yang cukup luas.

"Di tengah pulau kecil itulah kediaman Paman Bango Samparan," kata Andini sambil menunjuk sebuah gundukan hijau di tengah rawa.

"Kita perlu sebuah rakit untuk sampai ke tanah hijau itu," kata Pangeran Jayanagara. "Kita hanya perlu membuat asap dengan api unggun," kata Andini sambil meloncat dari punggung kudanya.

Terlihat Andini telah mengumpulkan beberapa rumput dan daun kering di sekitar mereka. Tanpa bertanya apa yang dilakukan oleh Andini dengan rumput dan daun-daun kering itu, Gajahmada ikut mengumpulkan rumput dan daun kering sebagaimana dilakukan oleh Andini.

"Kubantu untuk menyalakannya," kata Pangeran Jayanagara sambil mengeluarkan batu api miliknya.

Maka, dalam waktu singkat, terlihatlah sebuah api unggun di pinggir rawa yang cukup luas itu. Ternyata Andini hanya ingin membuat isyarat dengan asap yang membumbung ke atas seperti sebuah gunung api. Demikianlah Andini menjaga api unggun itu terus menyala sambil matanya sesekali menatap jauh ke tanah hijau di tengah Rawa Rontek.

"Mereka sudah melihat pesan kita," kata Andini yang melihat sebuah rakit bambu telah bergerak dari tanah hijau di seberang sana.

Mendengar perkataan Andini, Putu Risang, Pangeran Jayanagara, dan Gajahmada melayangkan pandangan mereka ke arah sebuah rakit bambu yang telah meluncur di atas air rawa yang sangat bening namun tampaknya sangat dalam itu. Ternyata rakit bambu itu memang telah meluncur mendekati mereka. Terlihat dari jauh seseorang berada di atasnya, tengah mengayuh.

"Majikan kami telah melihat pesan kalian, silakan naik ke atas rakit," kata seorang lelaki dari atas rakit setelah merapatkannya di bibir rawa.

"Mari kita naik ke atas rakit," kata Andini. Maka, terlihat mereka langsung naik ke atas rakit setelah menambatkan tali kuda mereka di sebuah dahan kayu di pinggir rawa.

"Apakah kita pernah bertemu?" tanya lelaki itu kepada Putu Risang.

"Kita pernah bertemu," kata Andini, mewakili Putu Risang. "Benar, wajah jelitamu tidak akan pernah kulupakan. Seingatku kalian berdua bersama Ayahmu?" kata lelaki yang sudah terlihat tua itu kepada Andini.

"Daya ingat Pak Tua masih hebat, aku memang pernah bersama ayahku menemui Paman Bango Samparan," kata Andini kepada orang tua itu.

Sementara itu, rakit bambu sudah bergerak menjauhi bibir tanah rawa. Dengan sebuah galah panjang, orang tua itu telah mendorong rakit bambu itu semakin mendekati tanah hijau yang berada di tengah Rawa Rontek.

Akhirnya, mereka telah mendekati tanah hijau itu. Mereka sudah mulai dapat melihat sebuah bangunan besar terbuat dari bambu. Sebuah rumah panggung.

"Majikan kami telah menunggu kalian," kata orang tua itu ketika telah merapatkan rakit bambunya di sebuah dermaga kayu di tanah hijau itu.

Terlihat mereka berempat beriringan menuju rumah panggung yang berada di tengah rawa itu. Sebuah pulau kecil di tengah rawa yang sangat subur dan cukup luas.

"Naiklah ke atas," kata seorang lelaki dari atas panggungan rumah itu. Maka, mereka pun segera naik ke atas tangga menuju panggungan.

"Kamu tidak datang bersama ayahmu?" kata lelaki itu, sepertinya sudah sangat mengenal Andini.

"Ceritanya panjang, Paman," kata Andini sambil memperkenalkan Putu Risang, Gajahmada, dan Pangeran Jayanagara kepada lelaki itu yang ternyata bernama Bango Samparan.

"Aku tidak sabar lagi untuk mendengar ceritamu, juga kepentinganmu yang datang dari tempat yang sangat jauh. Pasti ada sebuah hal penting yang membawa kehadiran dirimu di sini," kata Bango Samparan, seorang lelaki yang sudah berusia sekitar lima puluhan, namun masih terlihat sangat kekar dan tampan, meski sudah terlihat beberapa kerut di wajahnya serta sebagian rambutnya sudah mulai berwarna putih.

"Ayahku telah terbunuh beberapa bulan yang lalu," kata Andini, memulai ceritanya yang sangat mengejutkan hati Bango Samparan saat mendengarnya.

"Ayahmu terbunuh?" kata Bango Samparan dengan wajah terkejut.

"Benar, Paman, ada beberapa orang tidak dikenal telah datang membunuh ayahku," kata Andini yang langsung bercerita semua yang dilihatnya dalam peristiwa kematian ayahnya. "Aku bersama Bibi Randu Abang telah mencoba menyusuri siapa sebenarnya orang-orang tidak dikenal itu. Saat ini baru terungkap bahwa kematian ayahku terkait dengan sebuah perampokan Pusaka Istana Pasundan, Kujang Pangeran Muncang. Aku yakin sekali bahwa ayahku bukan seorang perampok yang hina. Pasti ada sebuah hal lain yang telah menyeret ayahku ke dalam peristiwa perampokan itu. Itulah sebabnya aku datang ke tempat Paman Bango Samparan yang mungkin mengetahui lebih banyak tentang peristiwa perampokan itu, lebih banyak lagi karena Paman adalah sahabat ayahku. Beberapa orang cantrik telah mencirikan seseorang bersama ayahku yang dapat kupastikan adalah Paman sendiri. Berceritalah demi diriku, wahai Paman, agar peristiwa ini menjadi lurus, agar peristiwa ini dapat mengembalikan nama baik ayahku juga nama baik Paman yang kuyakini pasti bukan dua orang perampok hina sebagaimana pandangan mereka saat ini," kata Andini, bercerita dengan air mata yang tidak mampu ditahan lagi. Tampaknya peristiwa terbunuhnya ayahnya dan juga berita tentang sebuah perampokan telah melukai hatinya.

Terlihat Bango Samparan seperti termenung. Lama sekali Bango Samparan berdiam seorang diri. Sementara Putu Risang, Gajahmada, dan Pangeran Jayanagara hanya terdiam seperti tengah menunggu dengan sabar apa pun yang dikatakan oleh Bango Samparan.

"Mereka ternyata telah mengingkari janjinya," kata Bango Samparan setelah lama berdiam diri.

"Paman Bango Samparan ikut bersama ayahku dalam peristiwa perampokan itu?" tanya Andini seperti ingin meyakini semua perkiraannya tentang dua orang perampok berilmu tinggi sebagaimana yang pernah diceritakan oleh Prabu Guru Darmasiksa.

"Benar, kamilah dua orang perampok barang pusaka itu," kata Bango Samparan perlahan.

Mendengar pengakuan Bango Samparan, semua yang berada di atas panggungan seperti tersentak, tetapi mereka masih menunggu perkataan lain dari orang tua yang terlihat penuh wibawa itu.

"Mudah-mudahan kalian dapat mempercayai ceritaku ini," kata Bango Samparan perlahan sambil memandang wajah semua tamunya itu. Dan, perlahan Bango Samparan bercerita bahwa sekitar lima bulan lalu ayah Andini telah mendatanginya, memintanya membantu sebuah perampokan. Ayah Andini yang bernama Rakajaya itu ternyata tengah menghadapi sebuah ancaman sekelompok orang yang telah menekannya akan membunuh putri tunggalnya apabila tidak mengikuti perintah mereka.

"Kami berada di belakang perampokan itu hanya untuk melindungimu dari ancaman mereka," kata Bango Samparan, mengakhiri ceritanya.

"Terakhir, ketika pulang ke rumah, ayahku hanya membawa sebuah lontar. Apakah Paman mengetahui tentang benda pusaka Kujang Pangeran Muncang?" tanya Andini kepada Bango Samparan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment