Chapter 12
"Rakajaya adalah sahabatku, aku hanya membantunya pada saat itu. Apa pun yang telah dibawanya aku memang tidak begitu peduli. Namun setahuku ayahmu membawa pulang dua benda yang tersimpan di dalam sebuah kotak hitam. Sebuah lontar dan sebuah senjata Kujang," berkata Bango Samparan sambil mengerutkan keningnya, bertanya dalam hati mengapa senjata Kujang tidak lagi berada di kotak hitam itu. "Kuingat ayahmu berkata bahwa kedua barang itu adalah sebagai pengganti pembebasan ancaman mereka," berkata kembali Bango Samparan.
"Apakah Ayahku pernah bercerita siapakah sebenarnya orang-orang yang mengancamnya?" bertanya Andini dengan penuh rasa penasaran. "Ayahmu memang bercerita tentang orang-orang yang mengancamnya itu, mereka, menurut pengakuan ayahmu, adalah orang penting dari Kediri dan dari istana Kawali sendiri," berkata Bango Samparan sambil memandang keempat tamunya seperti ragu untuk menyebut sebuah nama. "Ayahmu tidak begitu kenal dengan orang penting dari Kediri. Tetapi mengenal orang penting dari dalam istana Kawali," berkata Bango Samparan melanjutkan.
"Orang penting dari istana Kawali?" berkata Putu Risang tanpa sadar mengulang kembali perkataan Bango Samparan. "Orang penting dari istana Kawali itu adalah Patih Anggara," berkata Bango Samparan tanpa ragu lagi menyebut sebuah nama. "Ayahmu telah mengikuti perintah mereka. Tetapi mengapa mereka harus membunuh ayahmu?" berkata Bango Samparan sambil memicingkan kedua matanya mewakili kegeraman dan amarah yang bergejolak di dalam dirinya.
"Terima kasih telah menyingkap beberapa tabir penuh rahasia ini. Setidaknya keyakinanku bahwa ayahku bukanlah seorang perampok hina sudah dapat dibuktikan," berkata Andini kepada Bango Samparan. "Ada satu rahasia lagi yang berkaitan dengan dirimu sendiri, Andini," berkata Bango Samparan dengan pandangan begitu tajam seperti langsung masuk ke lubuk hati yang terdalam dari Andini di hadapannya. "Sebuah rahasia tentang diriku?" berkata Andini penuh ketidakmengertian. "Benar, sebuah rahasia tentang dirimu sendiri," berkata Bango Samparan perlahan. "Apakah kami bertiga tidak mengganggu?" bertanya Putu Risang merasa tidak enak hati mendengar sebuah rahasia antara Bango Samparan dan pribadi Andini sendiri. "Tidak apa-apa kalian ikut mendengar," berkata Bango Samparan sebagai arti kehadiran mereka bertiga tidak mengganggu pembicaraan tentang rahasia Andini.
Perlahan Bango Samparan bercerita, dimulai dari pengembaraan mereka berdua dengan Rakajaya ke sebuah ujung paling barat Jawadwipa, sebuah daerah kerajaan Rakata. Tidak direncanakan sebelumnya bahwa mereka akan berkenalan dengan seorang putri raja bernama Dewi Kaswari. Dari perkenalan itu meningkat kepada rasa saling menyukai dan saling mencintai antara Bango Samparan dan putri itu. Karena pihak keluarga istana Rakata tidak menyukai hubungan itu, mereka berdua telah menikah secara diam-diam. Dari pernikahan itu, sang putri telah mengandung. Kehamilan itu tidak diketahui siapa pun. Hingga ketika saat melahirkan, mereka berdua telah pergi ke sebuah tempat tersembunyi hingga akhirnya sang putri harus kembali ke istana.
Tinggallah Bango Samparan dengan bayi mungilnya. "Semula aku berniat akan membesarkan sendiri putriku itu, namun ketika kami pulang, pihak keluargaku sudah memilih seorang istri untukku. Demi untuk tidak membuat susah keluargaku, anakku yang masih bayi itu telah kuserahkan sendiri kepada sahabatku Rakajaya," berkata Bango Samparan mengakhiri ceritanya sambil memandang tajam ke arah Andini. "Apakah bayi yang dibesarkan oleh ayahku selama ini adalah aku sendiri?" bertanya Andini mencoba menebak hubungan cerita itu dengan dirinya. "Benar, bayi mungil yang kuserahkan kepada Rakajaya sahabatku itu adalah dirimu," berkata Bango Samparan. "Aku ini adalah ayahmu," berkata Bango Samparan sambil memandang Andini penuh cinta kasih seorang ayah kepada anaknya.
Terlihat Andini seperti tidak lagi dapat menguasai dirinya sendiri, maju beberapa langkah dan menangis di atas lutut dan paha orang tua itu. Dengan penuh kehalusan, Bango Samparan mengusap rambut Andini yang masih menangis di atas lutut dan pahanya. "Sudah begitu lama aku ingin memelukmu saat kamu bersama Rakajaya datang menemuiku," berkata Bango Samparan seperti telah menemukan kembali putrinya yang sangat dirindukannya itu. Setelah dapat menguasai perasaan hatinya, terlihat Andini bergeser dan menengadahkan wajahnya menatap Bango Samparan, ayahnya yang sebenarnya itu.
"Pantas selama ini ayahku tidak pernah menjawab pertanyaanku mengenai ibuku, siapa dan di manakah dirinya saat ini, masih hidup atau sudah tiada," berkata Andini kepada Bango Samparan. Putu Risang, Gajahmada, dan Pangeran Jayanagara seperti terharu melihat pertemuan antara seorang ayah dengan putrinya itu. Sebuah rahasia yang tersimpan begitu lama telah terbuka hari itu. Langit malam di atas rawa Rontek begitu indah dipenuhi gemerlap bintang bertaburan memenuhi langit purba. Tebaran cahaya bulan purnama menerangi permukaan air rawa seperti lautan tenang ditumbuhi teratai yang tengah mekar. Indah terdengar petikan suara kecapi terbawa angin semilir berasal dari sebuah panggung.
"Aku begitu iri kepada Rakajaya, sahabatku yang begitu ahli memainkan sebuah kecapi. Ternyata telah menurunkannya kepadamu, Andini," berkata Bango Samparan kepada Andini yang baru saja menyelesaikan sebuah tembang indah dengan petikan kecapinya di atas panggung. "Tembang Hina Kelana memang sangat indah didengar di malam sepi," berkata Gajahmada yang sangat mengenal tembang yang baru saja didengarnya lewat petikan kecapi milik Andini. "Tembang Hina Kelana ini sudah menempel di benakku," berkata Andini. "Aslinya tembang Hina Kelana dipadukan antara petikan kecapi dan tiupan seruling," berkata Gajahmada yang tahu betul asal dan muasal cerita tentang gubahan tembang itu yang tidak lain adalah gubahan bersama antara Prabu Guru Darmasiksa dan Sang Begawan Jayakatwang.
"Iringilah suara kecapiku dengan serulingmu," berkata Andini kepada Gajahmada. Maka di atas panggung itu terdengar kembali suara petikan kecapi yang dipetik dengan penuh perasaan hati seorang Andini. Dan suara petikan kecapi itu telah diiringi oleh suara seruling bambu menjadi begitu sempurna mengisi kesunyian malam. Suara tembang Hina Kelana seperti suara alam membawa pendengarnya mengembara memasuki hutan bening pagi dipenuhi kicau burung dan gemericik air di sela-sela tanah basah. Petikan kecapi dan seruling itu masih terus berlanjut, kali ini dengan nada-nada menghentak-hentak membawa jiwa pendengarnya berada dalam sebuah bala prajurit penuh semangat menuju medan peperangan mereka. Petikan dan suara seruling itu masih berlanjut, kali ini melengking penuh kepiluan hati dalam ratap tangis kehilangan saudara, kerabat, dan kekasih dalam sebuah peperangan tak berkesudahan. Akhirnya suara tembang lewat petikan kecapi dan seruling itu berubah naik turun seperti gejolak seorang gadis belia yang jatuh cinta, menunggu sang pujaan hati di bawah malam temaram purnama.
"Sebuah perpaduan suara yang sangat indah yang baru pertama kali ini kudengar," berkata Bango Samparan merasa terhibur jiwanya mendengar sebuah perpaduan kecapi dan suara seruling. "Petikan kecapiku pasti tidak semahir pencipta tembang ini, Prabu Guru Darmasiksa," berkata Andini merendahkan diri. "Aku juga tidak semahir Sang Begawan Jayakatwang dalam permainan serulingnya," berkata Gajahmada. "Tetapi kalian telah mengabadikan cipta karya mereka lewat petikan kecapi dan seruling kalian," berkata Putu Risang turut berbicara dengan kejujuran hatinya sendiri.
Sementara itu, Pangeran Jayanagara terlihat hanya berdiam diri. Ada apa dengannya? Untung saja remangnya cahaya malam telah menyamarkan raut muka Pangeran Jayanagara yang terlihat sedikit keruh. Diam-diam anak muda itu telah memendam rasa iri melihat kedekatan antara Gajahmada dan Andini. Diam-diam anak muda itu ternyata telah menaruh hati pada gadis jelita itu.
"Hari telah jauh malam, kalian pasti sudah begitu lelah setelah berjalan cukup jauh," berkata Bango Samparan mempersilakan tamunya untuk beristirahat. Malam itu, semua sudah masuk ke bilik masing-masing untuk beristirahat. Tetapi Pangeran Jayanagara tidak dapat memejamkan matanya. Hati dan pikirannya selalu tertuju pada Andini. Wajah dan pesona gadis itu ketika memetik kecapi telah menghiasi seluruh sisi pikiran anak muda itu, yang telah terperangkap dalam jerat asmara mudanya. Pangeran Jayanagara memang telah jatuh hati pada gadis itu, seorang gadis yang dikaruniai kesempurnaan rupa bagai dewi dalam pahatan indah para seniman pengukir di batu penghias candi suci.
Sementara itu di bilik lainnya, sebagaimana Pangeran Jayanagara, gadis Andini juga tidak dapat segera memejamkan matanya. Gadis jelita itu, sebagaimana Pangeran Jayanagara, juga telah jatuh cinta. Sayang, mereka terpisah jarak dalam peraduan berbeda, dalam cinta yang berbeda. Hati dan perasaan Andini masih terbawa suasana malam di atas panggung, suasana ketika matanya memandang sebuah wajah begitu menjiwai suara serulingnya. Gadis Andini ternyata telah terjerat asmara mudanya. Terpesona dalam biru cinta kerinduan seorang pemuda Gajahmada, sang peniup seruling itu. Di peraduannya, Andini sambil memejamkan mata mencoba mengulang kembali tembang kenangan "Hina Kelana" bersama Gajahmada pemikat hatinya itu, jauh hingga malam yang terus berlalu, jauh ke dalam tidur dan mimpinya. Dan sang malam di atas kediaman Bango Samparan terlihat begitu tenang menyelimuti dengan kegelapan dan kesunyiannya. Membawa semua penghuni di atas peraduannya tertidur dengan mimpi masing-masing. Seperti garis hidup, kuasa, dan keinginan siapa untuk memilih mimpi. Seperti garis hidup, ada mimpi buruk dan ada mimpi menyenangkan. Tetapi apalah arti sebuah mimpi ketika pikiran dan hati kita tidak punya kekuasaan untuk memilihnya.