Chapter 13
Hingga akhirnya pagi telah tiba di atas rumah panggung Bango Samparan di tengah Rawa Rontek itu.
Warna pagi memang begitu putih, membuka wajah-wajah.
Tapi tidak mampu membuka pikiran hati yang tersembunyi.
Dan pagi itu, Pangeran Jayanagara dan Andini telah menutup rapat suara hatinya sendiri, jauh di lubuk hati yang paling tersembunyi.
"Sebaiknya kamu tinggal bersamaku, di rumah ayahmu sendiri," berkata Bango Samparan kepada Andini di pagi itu.
"Terima kasih, aku memang sudah sebatang kara. Aku akan belajar mengenal dan mencintai ayah kandungku sendiri," berkata Andini penuh kebahagiaan saat dirundung duka dengan kematian Rakajaya yang begitu dicintai sebagaimana seorang anak mencintai ayahnya, kini telah mendapatkan seorang pengganti, ayah kandungnya sendiri.
Demikianlah, Andini telah memutuskan diri untuk tinggal bersama ayah kandungnya sendiri, tinggal bersama Bango Samparan, pemilik tanah hijau Rawa Rontek.
"Pintu rumah kami selalu terbuka untuk kalian," berkata Bango Samparan kepada Putu Risang dan kedua muridnya yang sudah berada di atas rakit bambu.
Terlihat Andini ikut melambaikan tangannya bersama Bango Samparan ketika rakit bambu itu telah bergerak meluncur menyeberangi Rawa Rontek yang cukup luas itu.
"Terima kasih, Pak Tua, semoga kita dapat berjumpa kembali," berkata Putu Risang kepada seorang pelayan yang mengantar mereka bertiga sampai di tepian Rawa Rontek.
"Kita kelebihan satu ekor kuda," berkata Gajahmada sambil membuka tali kekang kuda yang diikat di sebuah dahan pohon.
"Bisa dijual di pasar Padukuhan tempat kita bermalam," berkata Putu Risang sambil tersenyum.
"Prabu Guru Darmasiksa tidak akan marah, kita katakan bahwa yang menjual adalah cucu buyutnya sendiri," berkata Gajahmada sambil melirik ke arah Pangeran Jayanagara.
Terlihat Pangeran Jayanagara sedikit tersenyum, rupanya kelakar Gajahmada hanyalah sebuah pancingan untuk menghibur hati anak muda itu, yang dibaca Gajahmada sebagai sebuah sikap yang sangat berbeda dari yang dikenal sebelumnya.
Pada dasarnya, Pangeran Jayanagara memang seorang yang periang.
Namun, pergolakan jiwanya yang tengah mabuk asmara oleh kecantikan Andini telah mengubah penampilan dirinya, berubah menjadi seorang pemurung.
Dan Gajahmada sebagai kawan dekatnya itu, sedikit banyak sudah dapat membaca apa yang terjadi di dalam diri sahabatnya itu.
Demikianlah, mereka berempat sudah semakin jauh dari Rawa Rontek.
Dan Gajahmada sudah dapat melihat kembali sifat asli sahabatnya itu.
Ternyata hati Pangeran Jayanagara sudah dapat terkendali kembali, wajah Andini seperti semakin pudar dalam bayangan dan pikirannya.
Hingga akhirnya, mereka di siang hari itu sudah sampai di padukuhan tempat semalam mereka menginap di banjar desanya.
"Kita cari kedai di pasar Padukuhan," berkata Putu Risang ketika mereka sudah berada di jalan padukuhan, mencoba mencari arah pasar Padukuhan.
Ternyata nasib mereka cukup baik, hari itu adalah hari pasaran.
Dan mereka telah melihat sebuah kedai sederhana di ujung pasar yang masih cukup ramai meski hari sudah cukup siang.
"Nasib kuda ini masih cukup baik, tidak perlu dijual untuk membeli makanan di kedai," berkata Gajahmada sambil menepuk-nepuk badan kuda yang selama di perjalanan tidak pernah ditunggangi itu.
"Ikatlah kencang-kencang, siapa tahu ada seorang begundal yang tergoda untuk memilikinya," berkata Putu Risang menimpali canda Gajahmada.
Pangeran Jayanagara sudah dapat terlihat wajah aslinya, tersenyum lepas mendengar canda Gajahmada dan Putu Risang tentang kuda itu.
Siang itu mereka beristirahat di kedai itu.
Di depan kedai masih banyak terlihat orang berlalu lalang karena hari itu memang hari pasaran dan panen raya yang cukup menggembirakan hasilnya di Padukuhan itu.
Beberapa wanita dengan wajah penuh sukacita terlihat tengah menjunjung bakul mereka di atas kepala, diikuti anak-anak kecil yang terseret-seret memegang ujung kain ibunya.
Kadang ada beberapa anak kecil yang merengek sambil menunjuk jajanan putu mayang.
"Terima kasih telah menjaga kuda-kuda kami," berkata Putu Risang sambil memberi sedikit upah kepada seorang lelaki yang menjaga kuda-kuda mereka.
Demikianlah, mereka bertiga terlihat sudah meninggalkan pasar yang ramai itu untuk melanjutkan kembali perjalanan mereka.
Perbukitan Hayangan seperti raksasa hijau terlihat menghadang di depan perjalanan mereka.
Ketika telah berada di kaki Bukit Hayangan, mereka mengambil arah berbalik dari arah kedatangan mereka, yakni ke selatan melingkari Perbukitan Hayangan.
"Apakah kalian masih ingat letak dua buah gua kembar?" bertanya Putu Risang kepada kedua muridnya sambil mengingat-ingat kembali letak gua kembar yang pernah mereka lihat ketika kemarin berjalan di bawah kaki Perbukitan Hayangan menuju Rawa Rontek.
"Kita belum melewatinya," berkata Gajahmada yang merasa yakin bahwa mereka memang belum melewatinya.
Jalan yang mereka tempuh adalah sebuah jalan setapak yang sangat sepi dan teduh.
Sepertinya jalan itu sangat jarang dilalui oleh orang-orang, kecuali para pemburu atau orang yang kebetulan dan terpaksa mencari beberapa tumbuhan obat yang hanya ada di sekitar Perbukitan Hayangan itu.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Gajahmada, bahwa mereka memang belum melewati dua buah gua kembar.
"Kita berhenti di sini," berkata Putu Risang ketika dilihatnya gua kembar yang sedang dicarinya itu.
Tanpa bertanya apa pun, Gajahmada dan Pangeran Jayanagara telah menghentikan kudanya mengikuti perintah gurunya itu.
"Mari kita periksa keadaan gua kembar itu," berkata Putu Risang kepada kedua orang muridnya itu.
Maka mereka bertiga terlihat sudah mendekati gua kembar itu yang berada di bawah kaki Perbukitan Hayangan.
Ada beberapa semak dan ilalang yang tumbuh di depan kedua gua itu.
Terlihat mereka sudah memasuki salah satu dari gua kembar itu.
Ketika berada di dalam salah satu gua, mereka mendapatkan bahwa gua itu tidak terlalu dalam dan buntu.
Dinding gua itu hanya setinggi orang biasa, berupa sebuah lorong sempit.
"Kita memeriksa gua satu lagi," berkata Putu Risang yang sudah berjalan keluar gua diikuti kedua muridnya itu.
Mereka bertiga terlihat sudah keluar dari dalam gua dan masuk ke dalam gua yang satunya lagi.
"Betul-betul sebuah gua kembar," berkata Gajahmada yang sudah melihat keadaan gua itu sama dengan gua di sebelahnya, sebuah gua buntu yang tidak begitu lebar, hanya sebuah lorong yang pendek.
"Kita perlu waktu sepekan untuk tinggal di sini," berkata Putu Risang setelah mereka sudah berada di luar gua kembar.
"Sepekan tinggal di sini?" bertanya Pangeran Jayanagara kepada Putu Risang.
"Aku akan meningkatkan tataran ilmu kalian. Selama ini kalian hanya mengenal dan melatih tenaga wadag. Saatnya kuperkenalkan sebuah tenaga cadangan yang dapat dilatih, dipupuk, dan dikendalikan melalui sebuah latihan pernapasan rahasia," berkata Putu Risang kepada kedua muridnya itu.
"Tenaga cadangan ini adalah hawa murni yang dimiliki oleh semua orang, tapi tidak semua orang dapat menghimpun dan mengendalikannya," berkata kembali Putu Risang.
Dengan sangat penuh perhatian, Gajahmada dan Pangeran Jayanagara mendengar penuturan Putu Risang untuk beberapa hal yang harus mereka siapkan dan perhatikan dalam berlatih olah diri.
"Masuklah kalian ke dalam gua itu, satu orang untuk satu gua. Aku akan menemui kalian dan menjaga di luar gua ini," berkata Putu Risang kepada Gajahmada dan Pangeran Jayanagara.
Maka terlihat Gajahmada dan Pangeran telah masuk ke dalam gua sesuai dengan pilihan mereka sendiri.
Pangeran Jayanagara terlihat sudah memasuki gua yang berada di sebelah kanan mereka, menyusul Gajahmada masuk ke dalam gua satunya lagi.
Tidak lama kemudian, Putu Risang sudah menemui mereka satu per satu di dalam gua mereka.
Ternyata Putu Risang telah memberikan mereka sebuah ilmu yang berbeda satu dengan yang lain.
Dua buah ilmu rahasia dari dua cabang perguruan yang berbeda.
Kepada Pangeran Jayanagara, Putu Risang telah mewariskan sebuah ilmu olah diri dari jalur perguruan Mahesa Amping.
Sementara kepada Gajahmada, Putu Risang telah mewariskan sebuah ilmu pusaka Pertapa Gunung Wilis.
Keputusan itu sudah diperhitungkan dengan masak-masak oleh Putu Risang, tidak ada pikiran membeda-bedakan satu dengan yang lain, hanya sebuah upaya melestarikan kedua ilmu rahasia dari dua perguruan yang sama-sama sangat luar biasa.
Dan kedua muridnya itu berhak untuk memiliki salah satunya di jalurnya masing-masing.
Beruntunglah, kedua muridnya itu mau mengerti dan menerima keputusan dari Putu Risang.
Menurut mereka berdua, keputusan Putu Risang adalah hak mutlak seorang guru.
Demikianlah, di gua yang berbeda, Putu Risang telah memberikan dasar-dasar pengertian ilmu olah diri yang berbeda kepada kedua orang muridnya itu.
Dan Putu Risang memang mendapatkan dua orang murid yang sangat cerdas dan berbakat.
Hari pertama, Putu Risang dapat melihat bahwa Pangeran Jayanagara dan Gajahmada telah dapat melakoni semua yang diajarkan olehnya dengan baik.
Sementara kedua muridnya berlatih olah diri di dalam gua, Putu Risang dengan penuh ketelatenan seorang guru telah menyiapkan persediaan makan dan minum kedua muridnya itu.
Pada hari kedua, dilihatnya kedua muridnya di dalam gua masing-masing telah mulai terbiasa dengan laku yang telah diajarkan olehnya.
Tidak segan-segan mereka bertanya tentang beberapa hal berkenaan dengan laku mereka saat beristirahat sejenak.
Dan Putu Risang dengan penuh keterusterangan menerangkan semua pertanyaan mereka.
Demikianlah, pada hari ketiga mereka sudah dapat menghayati seluruh laku itu.
Selama itu pula mereka tidak pernah keluar dari gua masing-masing.
Untuk kebutuhan hidup mereka, Putu Risang telah menyediakannya untuk mereka.
Dan pada hari keempat, Putu Risang hanya menengok mereka saat matahari terbit bergeser sedikit untuk beristirahat sejenak.