Halo!

Kisah Dua Naga Di Pasundan - Chapter 14

Memuat...
Kisah Dua Naga Di Pasundan

Chapter 14

Pada hari keenam, ketika Putu Risang datang menjenguk Pangeran Jayanagara, dia melihat putra Mahkota Majapahit itu sudah dapat mengendalikan wadagnya, menguasai keseimbangan lahir bathinnya. Pangeran Jayanagara sangat terkejut ketika membuka matanya perlahan dan melihat dirinya telah mengapung sejengkal dari lantai.

Putu Risang menjelaskan bahwa hawa murni yang mengalir ke seluruh tubuh Pangeran Jayanagara telah melepas berat wadagnya sendiri. Dengan berlatih terus menerus, Pangeran Jayanagara dapat memupuk hawa murninya lebih kuat lagi, tergantung bagaimana dia mengendalikannya. Pangeran Jayanagara dapat menjadi sangat ringan seperti sebuah kapas melesat dan melompat sesuai jangkauan dan kecepatan yang diinginkannya.

Sementara itu, ketika Putu Risang menengok Gajahmada di dalam goanya, dia terperanjat dengan apa yang dilihatnya. Gajahmada telah menikmati lakunya sendiri ketika berdiri, rukuk, sujud, dan duduk di antara dua sujud. Putu Risang juga melihat bahwa ada sebuah cahaya biru menyelimuti tubuh Gajahmada, yang menandakan bahwa Gajahmada telah memiliki hawa sakti tak terlihat.

Pada hari ketujuh, Pangeran Jayanagara dan Gajahmada telah menggenapi mesu diri mereka di dalam goa kembar. Putu Risang memberitahu mereka bahwa mereka harus beristirahat satu atau dua hari untuk memulihkan kembali tubuh mereka yang lemah. Gajahmada dan Pangeran Jayanagara kemudian berjalan ke arah sungai kecil yang ada di balik gundukan batu dan semak belukar untuk membersihkan diri.

Setelah bersih-bersih, mereka merasakan tubuh mereka lebih segar dari sebelumnya. Putu Risang kemudian memberikan mereka sarang tawon besar untuk dimakan, yang sangat baik untuk penyesuaian perut mereka setelah menggenapi tujuh hari mesu diri. Mereka kemudian beristirahat di sekitar goa kembar untuk mengembalikan kesegaran wadag mereka.

Pada malam hari, Putu Risang masih terjaga dan mendengar suara bisikan yang jelas di telinganya. Suara bisikan itu mengatakan bahwa Putu Risang telah membimbing putranya dengan baik. Putu Risang kemudian menyadari bahwa suara bisikan itu berasal dari seorang sakti yang telah menguasai ilmu langka, yaitu ilmu pameling.

Putu Risang kemudian berbicara dengan suara bisikan itu dan mengetahui bahwa putra yang dimaksud adalah Mahesa Muksa, yang juga dikenal sebagai Gajahmada. Suara bisikan itu juga mengatakan bahwa dia telah memindahkan tenaga saktinya sendiri ke dalam diri Mahesa Muksa, sehingga Mahesa Muksa memiliki hawa sakti yang sangat kuat.

Keesokan paginya, Putu Risang, Pangeran Jayanagara, dan Gajahmada bersiap untuk melanjutkan perjalanan mereka kembali menuju lereng Gunung Galunggung di Padepokan Prabu Guru Darmasiksa. Putu Risang memberitahu mereka bahwa mereka harus terus berlatih untuk mengenal kekuatan yang ada di dalam diri mereka sendiri.

Mereka kemudian memasuki hutan pepat dan menuntun kuda-kuda mereka. Putu Risang memberitahu mereka bahwa setiap manusia dilengkapi dengan pembelaan diri, dan mereka dapat mengungkapkan dan melontarkannya dengan kesadaran penuh. Akal dan rasa adalah sumber pemicu yang dapat mereka kendalikan, disesuaikan dengan keinginan diri mereka sendiri.

Setelah keluar dari hutan pepat, mereka memacu kuda-kuda mereka membelah padang ilalang di bawah matahari yang sudah mulai bergeser sedikit ke arah barat. Mereka kemudian menyusuri lereng Gunung Galunggung dan akhirnya tiba di Padepokan Prabu Guru Darmasiksa.

Prabu Guru Darmasiksa menerima mereka dengan hangat dan mengatakan bahwa dia telah menanti kedatangan mereka dengan penuh kecemasan. Putu Risang kemudian bercerita mengenai siapa di balik pencurian Kujang Pangeran Muncang, yaitu seorang Patih di Kerajaan Kawali yang bernama Argajaya bekerja sama dengan seorang bangsawan dari Kediri.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment