Chapter 15
Prabu Guru Darmasiksa dan Jayakatwang penuh perhatian mendengar cerita Putu Risang.
"Jelas tujuan utama mereka adalah menggulingkan kekuasaan di Sunda dan Majapahit," berkata Jayakatwang mengambil kesimpulannya.
"Patih Argajaya berasal dari Kerajaan Rakata, sebuah kerajaan kecil di bawah kekuasaan Kerajaan Sunda Raya," berkata Prabu Guru Darmasiksa.
"Nampaknya ada keinginan untuk membesarkan kembali masa jaya kerajaannya leluhurnya," berkata kembali Prabu Guru Darmasiksa.
"Kita harus berbuat sesuatu untuk membersihkan istana," berkata Pangeran Citraganda.
"Benar cucuku, kita harus berbuat sesuatu sebelum langkah mereka semakin jauh," berkata Prabu Guru Darmasiksa.
"Patih Argajaya sangat dekat sekali dengan Pendeta Istana Rakasima yang juga berasal dari Kerajaan Rakata," berkata Pangeran Citraganda.
"Kekuasaan Pendeta Rakasima telah begitu besar membelenggu istana, telah mempersempit kekuasaan Ragasuci sebagai Raja dengan berbagai aturan baru," berkata Prabu Guru Darmasiksa.
"Patih Argajaya dan Pendeta Rakasima seperti Raja besar di istana Kawali, merekalah yang memutuskan sebuah hukuman, siapa saja yang boleh datang menghadap Raja. Juga sebagai Panglima tertinggi prajurit Kerajaan berada di tangan Patih Argajaya," berkata Pangeran Citraganda bercerita tentang keadaan istana Kawali saat itu.
"Sudah lama aku melihat pergeseran itu, sudah lama aku ingin memberikan nasehat kepada raja Ragasuci, tapi aku masih ragu dan takut masuk terlalu jauh dalam kehidupan istana," berkata Prabu Guru Darmasiksa.
"Pencurian Kujang pangeran Muncang dapat kita jadikan alasan untuk menangkap mereka," berkata Pangeran Citraganda penuh semangat.
"Kita tidak bisa langsung menentang mereka, harus ada bukti yang sangat kuat untuk sebagai dalih menyingkirkan mereka dari istana, juga membuka mata hati Raja Ragasuci siapa sebenarnya mereka," berkata Prabu Guru Darmasiksa.
"Kita harus banyak memasang mata dan telinga kita di istana Kawali," berkata Jayakatwang memberanikan diri ikut memberikan sebuah usulan.
"Sebuah cara yang sangat bagus, tapi siapa yang dapat kita susupkan di istana Kawali?" berkata Prabu Guru Darmasiksa sepertinya menyukai usulan Jayakatwang.
"Mahesa Muksa dapat menyusup di lingkungan prajurit," berkata Pangeran Citraganda sambil tersenyum memandang ke arah Gajahmada.
Terlihat semua mata di atas pendapa Padepokan itu tertuju kepada Gajahmada.
Dan Gajahmada dapat merasakan semua orang di pendapa itu penuh harap bahwa dirinya bersedia menjadi mata dan telinga di lingkungan para prajurit istana Kawali.
Lama semua orang menunggu dan menanti perkataan dari Gajahmada yang terlihat berwajah penuh keraguan dan kebimbangan.
Semua orang nampak telah menahan nafasnya menunggu.
"Hamba hanya orang muda yang punya serba sedikit pengetahuan dan kemampuan. Hamba bersedia melaksanakan tugas ini dan mohon banyak petunjuk," berkata Gajahmada.
Terlihat semua orang di atas pendapa Padepokan itu telah mengeluarkan nafas penuh kelegaan.
Perkataan Gajahmada seperti angin segar yang ditunggu.
"Bagus, kesediaanmu saja sudah cukup menggembirakan hati kami. Tugasmu hanya masuk di lingkungan para prajurit Kawali, dan kami akan mengatur semuanya," berkata Prabu Guru Darmasiksa.
"Sangat kebetulan sekali bahwa dalam pekan ini akan diadakan penerimaan prajurit baru," berkata Pangeran Citraganda.
"Semoga rencana kita dapat berjalan dengan baik, dan Gusti yang Maha Agung berkenan melindungi kita semua," berkata Prabu Guru Darmasiksa setelah memberikan beberapa petunjuk yang harus mereka lakukan dalam rangka menggulung musuh-musuh di lingkungan istana Kawali.
Dan banyak sekali yang mereka bicarakan terlihat sampai jauh malam.
"Beristirahatlah, hari sudah jauh malam," berkata Prabu Guru Darmasiksa mempersilahkan semua orang di atas pendapa Padepokannya untuk beristirahat.
Demikianlah, semua orang di atas pendapa itu sudah masuk ke biliknya masing-masing.
Dan malam di atas Padepokan Prabu Guru Darmasiksa sudah begitu senyap, hanya sesekali terdengar suara daun dan dahan bergesekan di tiup angin basah yang dingin di lereng gunung Galunggung itu.
Di keremangan malam itu terlihat sebuah bayangan mengendap-endap keluar Padepokan lewat pagar dinding batu Padepokan.
Ternyata sosok bayangan itu menuju ke sebuah tanah sedikit lapang di dekat sebuah gerumbul tanaman rumpun bambu.
Diatas tanah yang agak lapang itu, akhirnya dapat terlihat jelas wajah asli sosok bayangan mencurigakan itu yang tidak lain adalah Gajahmada.
Nampaknya Gajahmada merasa sudah tidak sabar lagi ingin melatih kemampuan dirinya setelah mengenal bagaimana cara laku memupuk kekuatan tenaga cadangan di dalam dirinya.
Terlihat Gajahmada sudah memulai latihannya, melatih gerakan jurus-jurusnya dengan tenaga wadagnya.
Perlahan Gajahmada mulai mengerahkan tenaga cadangannya, ternyata dengan penuh kegembiraan Gajahmada dapat merasakan tenaganya tidak berkurang, namun gerakannya menjadi begitu ringan dan cepat.
Demikianlah, Gajahmada sudah mulai melatih mengerahkan tenaga cadangannya, mencoba lebih mengenal dan menguasainya yang akhirnya dapat mengendalikan kecepatannya bergerak.
"Tenagaku menjadi seperti bertambah, lebih kuat dan lebih cepat," berkata Gajahmada dalam hati sambil terus berlatih mengenal dan mengendalikan kekuatan cadangan di dalam dirinya itu.
Demikianlah, dua orang pemuda masing-masing telah mencoba berlatih di malam itu.
Mereka satu guru namun mewarisi sebuah laku yang berbeda.
"Nampaknya semua orang masih tertidur," berkata Gajahmada yang mencoba menyelusup kembali masuk ke Padepokan di malam yang telah menjadi begitu sunyi itu.
Hari memang sudah berlalu sepertiga malam, masih ada waktu untuk Gajahmada beristirahat tidur sejenak di biliknya.
Sebentar saja anak muda itu sudah nyenyak tertidur.
Hanya sebentar saja Gajahmada berbaring beristirahat, karena tidak begitu lama sudah terdengar suara ayam jantan saling bersahutan sayup terdengar dari tempat yang jauh.
Dan cahaya bening pagi sudah terlihat jelas manakala terlihat Gajahmada keluar dari Pakiwan setelah bersih-bersih menuju ke pendapa Padepokan.
"Selamat jalan wahai calon prajurit Kawali," berkata Dyah Rara Wulan menggoda ketika mereka bertemu bersisipan jalan menuju pakiwan.
Demikianlah, pagi itu Gajahmada memang tengah bersiap diri untuk berangkat ke Kotaraja Kediri untuk ikut mendaftarkan dirinya menjadi seorang prajurit Kawali.
Agar penyamarannya menjadi sempurna, maka Gajahmada harus datang sendiri sebagaimana para calon prajurit lainnya.
Setelah mendapatkan beberapa pesan dan nasehat dari Prabu Guru Darmasiksa, terlihat Gajahmada bermaksud pamit diri untuk berangkat ke Kotaraja Kawali.
"Semoga keselamatan selalu menyertaimu," berkata Prabu Guru Darmasiksa kepada Gajahmada yang telah menuruni anak tangga pendapa Padepokan.
Diiringi pandangan mata semua orang dari pendapa Padepokan, terlihat Gajahmada telah keluar dari regol gerbang Padepokan.
Semilir angin pagi yang sejuk telah mengiringi langkah kaki Gajahmada yang terus berjalan menuruni lereng gunung Galunggung.
Hari belum begitu siang, cahaya matahari masih belum tinggi ketika Gajahmada telah berada di bawah kaki gunung Galunggung.
"Aku akan berlatih sebentar," berkata Gajahmada ketika melihat sebuah sungai kecil berbatu di sebuah pinggir hutan dekat dengan jalan setapak.
Suasana di atas sungai kecil berbatu itu memang sangat sepi dan sunyi.
Dan Gajahmada sudah turun berlatih di atas sungai kecil berbatu itu.
Terlihat Gajahmada tengah melompat dari satu batu ke batu lain dengan penuh kelincahan.
Begitu ringan dan cepatnya gerakan Gajahmada.
Ternyata Gajahmada bukan hanya melompat dari satu batu ke batu lainnya di atas sungai kecil itu, tapi telah melompat lebih jauh lagi dari tepian sungai ke tepian lainnya dengan begitu ringan dan lincah.
Seperti seorang anak kecil yang mendapatkan sebuah permainan baru, terlihat Gajahmada terus berlatih mengendalikan kecepatan tubuhnya melenting ke tempat yang diinginkan dengan begitu ringannya.
Hup!!