Chapter 16
Dengan sangat nakal dan beraninya, Gajahmada melenting tinggi ke atas sebuah pohon kelapa. Dan dengan penuh kepercayaan yang tinggi, terlihat Gajahmada dengan begitu beraninya turun dari ketinggian pohon kelapa. Mata orang biasa pasti akan terperangah penuh kekaguman melihat Gajahmada turun seperti sebuah kapas begitu ringannya.
Gajahmada tidak menyadari bahwa kemampuannya itu adalah berkat pengisian hawa sakti dari pendeta Darmayasa, yang dikenal oleh Putu Risang sebagai seorang pertapa dari Gunung Wilis yang ternyata adalah Ayah kandung dari Gajahmada sendiri. Terlihat Gajahmada telah menjejakkan kakinya di tanah seperti seekor Rajawali hinggap dengan kaki sedikit menekuk. Dan di tangan Gajahmada telah membawa tiga butir buah kelapa.
Ternyata Gajahmada belum dapat menyadari kekuatannya sendiri telah membuat buah kelapa itu hancur. "Aku harus dapat melihat sejauh mana puncak kekuatan di dalam diriku, agar dapat mengendalikannya sesuai dengan keinginanku sendiri," berkata Gajahmada sambil melihat kepingan batok buah kelapa yang berserakan.
Terlihat Gajahmada tengah mendekati sebuah gundukan semak belukar. Perlahan telah mengendapkan seluruh jiwanya lahir bathin, merasakan sebuah hawa murni mengalir di seluruh tubuhnya. Sebuah angin pukulan telah meluncur dari sebuah pukulan Gajahmada ke udara kosong. Dan Gajahmada telah melontarkannya dengan tenaga puncaknya.
Akibatnya sungguh luar biasa. Gundukan semak belukar itu terangkat bersama akar-akarnya terkena angin pukulan Gajahmada seperti sebuah angin putih beliung melemparkan apapun yang ada di sekitarnya. Ternyata Gajahmada belum juga puas dengan apa yang baru saja dilakukannya. Terlihat Gajahmada tengah mencari sebuah batu besar.
Akhirnya Gajahmada melihat sebuah batu sebesar seekor kerbau. Sungguh sangat luar biasa. Batu sebesar kerbau itu telah hancur berantakan terkena pukulan langsung tangan Gajahmada. "Dengan tenaga wadagku, mungkin aku hanya dapat menggetarkannya," berkata Gajahmada dalam hati sambil mengagumi sebuah kekuatan tenaga cadangan yang ada di dalam dirinya itu.
"Aku harus terus berlatih," berkata kembali Gajahmada dalam hati sambil melangkah ke arah tempat dimana dirinya meletakkan bungkusan bekalnya. Demikianlah, siang itu Gajahmada kembali melanjutkan perjalanannya menuju Kotaraja Kawali. Tidak seperti sebelumnya, kali ini Gajahmada terlihat berlari seperti terbang meluncur dan kadang melenting jauh dari sebuah batu besar ke batu besar lainnya.
Dan ketika di lihatnya ada sebuah padukuhan di depan matanya, terlihat Gajahmada telah menghentikan larinya, telah berjalan sebagaimana orang biasa. Saat itu hari masih jauh dari senja, Gajahmada tidak ada keinginan bermalam di Padukuhan itu. "Aku akan bermalam di atas puncak bukit itu," berkata Gajahmada ketika telah meninggalkan sebuah Padukuhan.
Ternyata di hadapan Gajahmada terbentang sebuah perbukitan berbatu sangat tandus. Di balik perbukitan itu Kotaraja Kawali berada. Memang ada dua jalan yang dapat mendekati arah menuju Kotaraja Kawali, sebuah hutan cukup lebat atau sebuah perbukitan berbatu cadas. Dan Gajahmada lebih condong memilih mendaki perbukitan berbatu cadas itu.
Perbukitan berbatu itu sangat sepi ketika Gajahmada sudah berada di kakinya. Dan dengan begitu mudahnya Gajahmada telah dapat mendakinya dengan hanya beberapa lompatan sampai di atas puncak perbukitan berbatu itu. Dan hari sudah terlihat menjelang awal senja ketika Gajahmada sudah berada di atas puncak perbukitan berbatu cadas itu.
Terlihat Gajahmada mencari sebuah tempat untuk dapat berlindung dari terpaan angin yang cukup kuat berhembus di atas puncak perbukitan itu. Syukurlah bahwa Gajahmada dapat menemui sebuah tempat berupa cekungan batu yang sangat cocok untuk tempat beristirahat, karena tidak lama kemudian hujan turun begitu deras seperti tertumpah dari langit.
"Besok aku akan turun ke Kotaraja Kawali," berkata Gajahmada dalam hati di dalam cekungan batu itu terlindung dari air hujan yang jatuh cukup deras. Ternyata Gajahmada telah memanfaatkan waktunya itu untuk berlatih olah laku diri. Terlihat Gajahmada sudah berada di dalam pemusatan hati dan pikirannya, dalam nafas yang seirama mengikuti gerak tubuhnya, sebuah laku rahasia pusaka pertapa dari Gunung Wilis.
Terlihat Gajahmada sudah berada dalam puncak kenikmatan olah laku dirinya, tidak menyadari bahwa hari sudah semakin gelap. Sementara hujan di atas puncak perbukitan berbatu itu sudah reda, langit di atasnya sudah ditemani kerlap kerlip bintang malam. "Kakang Putu Risang mengatakan bahwa dengan kekuatan tenaga cadangan yang ada di dalam diri dapat mengungkapkan hawa panas dan hawa dingin keluar dari dalam diri," berkata Gajahmada dalam hati mengingat kembali perkataan Putu Risang ketika mengajarkan dasar-dasar rahasia olah laku diri.
"Seraplah hawa dingin di sekitar dirimu, maka tenaga sakti di dalam dirimu akan keluar sebagai hawa panas tandingan. Begitu pun sebaliknya bila yang kamu inginkan adalah sebuah hawa dingin dari tenaga saktimu," terlintas dalam pikiran Gajahmada perkataan Putu Risang. "Perasaan ternyata mudah ditipu," berkata dalam hati Gajahmada sambil tersenyum telah dapat memahami dan membuka kunci-kunci rahasia ajaran Putu Risang kepadanya.
Terlihat Gajahmada sudah keluar dari batu cekungan duduk bersila di tempat terbuka di malam yang begitu dingin di atas puncak perbukitan itu. Dan dengan waktu yang begitu singkat, Gajahmada seperti terlepas dari rasa dingin itu. Tenaga sakti di dalam dirinya telah melindunginya dengan hawa panas. Gajahmada terus memusatkan pikirannya menyerap hawa dingin di luar dirinya kepada kesadaran dan perasaannya.
Maka semakin kuat daya serap pikirannya terhadap hawa dingin di luar dirinya, semakin besar pula hawa panas keluar melindungi dirinya. Terlihat asap tipis mengepul dari seluruh lubang di kulit tubuh Gajahmada. Dan di keremangan malam, Gajahmada dapat melihat rumput-rumput yang tumbuh di sela-sela batu cadas sudah terbakar hangus.
"Hawa panas dan hawa dingin dapat dikendalikan lewat kekuatan pemusatan akal pikiran kita sendiri," berkata Gajahmada dalam hati yang telah membuktikan dan membuka rahasia kepelikan hawa sakti di dalam dirinya. "Aku akan terus melatihnya hingga dapat mengendalikan kekuatan yang ada di dalam diriku ini," berkata Gajahmada sambil berdiri melangkah kembali ke arah cekungan batu.
Demikianlah, malam di atas puncak perbukitan itu sudah semakin larut dipayungi lengkungan langit penuh gemerlap jutaan bintang malam bertaburan seperti kepingan berlian menghiasi langit biru di malam itu. Dan Gajahmada tidak langsung beristirahat tidur, tapi telah melakukan olah laku diri sejenak hingga dirasakan seluruh tubuhnya merasakan kesegaran dan kebugaran kembali.
Setelah merasa latihan olah dirinya sudah cukup lama, barulah terlihat anak muda itu berbaring meluruskan tubuhnya di dalam cekungan batu itu. Sebagaimana seorang pengembara, Gajahmada tidak beristirahat sepenuhnya, kewaspadaannya selalu terjaga lewat pendengarannya yang dirasakan semakin hari semakin tajam.
Tidak satu suara pun yang luput dari pendengarannya, meski suara gesekan seekor ular sekalipun di atas sebuah batu licin yang tengah mendekati sebuah sarang tikus di sela-sela batu. Dan waktu pun terus berlalu, cahaya merah sang fajar telah membelah warna langit malam. Gajahmada telah mendengar sayup-sayup suara ayam jantan bersahutan dari tempat yang begitu jauh.
Akhirnya Gajahmada sudah mendengar suara ayam jantan begitu dekat di bawah kaki perbukitan bersama warna merah sang Fajar terlihat sudah menghiasi langit pagi. Sementara itu di langit pagi yang sama di Padepokan Prabu Guru Darmasiksa sudah terlihat banyak kesibukan di awal pagi itu.
Beberapa cantrik terlihat telah keluar membawa cangkul, nampaknya mereka akan berangkat ke sawah untuk membajak tanah di awal musim tanam itu. "Tunjukkan kepadaku kemampuan kalian sampai saat ini," berkata Prabu Guru Darmasiksa kepada Pangeran Citraganda dan Dyah Rara Wulan di dalam sanggar tertutup di Padepokannya.
Mendengar permintaan dari kakeknya itu, mereka berdua secara berpasangan berlatih tanding. Maka tidak lama berselang keduanya sudah terlibat dalam sebuah latihan yang sangat seru seperti sebuah pertempuran sungguhan. Nampaknya mereka berdua ingin menunjukkan puncak kemampuan mereka dalam olah kanuragan.
Sementara di pagi itu Putu Risang dan Pangeran Jayanagara sudah minta ijin kepada Prabu Guru Darmasiksa untuk keluar Padepokan mencari tempat yang sunyi dan terbuka di pinggir hutan sekitar lereng gunung Galunggung. Tidak sebagaimana Gajahmada yang mencoba berlatih sendiri kemampuan hawa saktinya, sementara Pangeran Jayanagara mendapat pengarahan langsung dari gurunya.
"Arahkan kekuatan tenaga cadanganmu ke gundukan semak-semak di depanmu," berkata Putu Risang kepada Pangeran Jayanagara yang ingin melihat kemampuan Pangeran Jayanagara melontarkan tenaga cadangannya. Mendengar permintaan Putu Risang, terlihat Pangeran Jayanagara langsung berdiri sekitar dua langkah dari gundukan semak-semak di depannya.
Terdengar angin pukulan dari tangan Pangeran Jayanagara telah membuat daun-daun dari semak belukar langsung seperti diterpa angin besar rontok beterbangan. "Bagus!!", berkata Putu Risang penuh kegembiraan melihat Pangeran Jayanagara sudah dapat melontarkan tenaga cadangan yang ada di dalam dirinya.
"Mahesa Muksa pasti mempunyai kekuatan yang lebih dahsyat lagi," berkata Putu Risang mengingat Gajahmada yang diketahui telah dititipkan tenaga sakti oleh ayah kandungnya sendiri, sang pertapa dari Gunung Wilis. "Dengan berlatih olah laku setiap hari, tenaga cadanganmu akan terus bertambah dan meningkat.
Kamu juga dapat mengembangkan tenaga sakti di dalam dirimu menjadi hawa panas atau hawa dingin. Seraplah hawa dingin di sekitar tubuhmu, maka tenaga saktimu akan keluar sebagai hawa panas.