Chapter 17
Semuanya tergantung pada bagaimana kamu dapat mengendalikan akal, pikiran, dan perasaanmu sendiri.
"Apabila kamu sudah dapat melontarkan hawa panas dan mengendalikan kekuatannya, kini saatnya kamu dapat pula melatih kekuatan hawa dinginmu dengan cara terbalik, sebagaimana kamu melontarkan hawa panas dari dalam dirimu," kata Putu Risang, memberikan dasar-dasar pengendalian tenaga sakti di dalam tubuh Pangeran Jayanagara.
"Lihatlah rumput kering di dalam genggamanku ini," kata Putu Risang sambil mengangkat tinggi-tinggi rumput kering yang berada di dalam genggamannya.
Pangeran Jayanagara sangat terkejut melihat rumput-rumput kering itu dilemparkan ke udara oleh Putu Risang dalam keadaan terbakar hangus dan beterbangan.
Mata Pangeran Jayanagara masih terus memandang ke arah Putu Risang yang telah berdiri sekitar sepuluh langkah, dengan sebuah batu besar di depannya.
Perasaan Pangeran Jayanagara kembali berdetak penuh kekaguman melihat apa yang telah dilakukan gurunya itu.
Pangeran Jayanagara sangat terperanjat saat melihat dengan sebuah pukulan jarak jauh, Putu Risang dapat menghancurkan batu besar di depannya hingga hancur berkeping-keping.
Putu Risang memang sengaja ingin menunjukkan kepada Jayanagara kemampuannya, meski hanya dengan separuh tenaga puncaknya.
"Bersabarlah, kamu pasti dapat melakukannya, bahkan jauh melampaui dari apa yang telah kutunjukkan ini," kata Putu Risang kepada Pangeran Jayanagara.
Demikianlah, hari itu Pangeran Jayanagara dengan pengarahan langsung dari gurunya telah berlatih melontarkan kemampuan tenaga cadangannya di tepi hutan sekitar lereng Gunung Galunggung itu.
"Besok kita lihat lagi sejauh mana kemampuanmu berkembang," kata Putu Risang kepada Pangeran Jayanagara, mengajaknya kembali ke Padepokan Prabu Guru Darmasiksa ketika dilihatnya matahari di tepi hutan sunyi itu telah bergeser sedikit dari puncaknya.
Langit biru di atas tepi hutan itu sudah terang dan begitu cerah.
Sementara itu, di langit siang yang sama, Gajah Mada sudah berada di Kotaraja Kawali.
Sesuai dengan beberapa petunjuk dari Prabu Guru Darmasiksa, terlihat Gajah Mada tengah mencari sebuah barak prajurit yang tidak begitu jauh dari alun-alun Kotaraja.
"Ada keperluan apakah wahai anak muda?" bertanya seorang prajurit tua kepada Gajah Mada di depan pintu gerbang barak prajurit Kawali.
"Aku ingin mengabdikan diriku sebagai seorang prajurit," kata Gajah Mada kepada prajurit itu.
"Temuilah Ki Lurah Pamuji di dalam, kami memang perlu banyak anak muda sepertimu," kata prajurit tua itu, meminta Gajah Mada terus masuk ke dalam menemui atasannya.
Tidak susah memang untuk menemui Ki Lurah Pamuji; di sebuah ruangan khusus, Gajah Mada telah menghadapnya langsung.
"Bergabunglah bersama kawan-kawanmu, besok kami akan membuat sebuah ujian khusus untuk kalian, aku berharap kamu dapat lulus dalam ujian itu," kata Ki Lurah Pamuji kepada Gajah Mada setelah bertanya beberapa hal tentang jati diri Gajah Mada.
"Seandainya semua calon prajurit Kawali punya tubuh seperti anak muda itu," kata Ki Lurah Pamuji dalam hati ketika melihat Gajah Mada yang telah keluar dari pintu, diantar oleh seorang prajurit ke sebuah barak khusus.
Ternyata di barak khusus itu, Gajah Mada telah melihat beberapa orang anak muda.
"Genap tiga puluh anak muda di barak ini, termasuk dirimu, persiapkan dirimu untuk ujian besok," kata prajurit itu kepada Gajah Mada.
"Terima kasih," kata Gajah Mada kepada prajurit yang mengantarnya itu.
Ketika prajurit yang mengantarnya sudah pergi meninggalkannya di barak itu, terlihat Gajah Mada menghampiri salah satu balai bambu kosong dan meletakkan bungkusan barang bawaannya.
"Selamat datang, kawan baru," kata seorang anak muda di balai bambu sebelahnya kepada Gajah Mada.
"Sudah berapa lama kamu di barak ini?" kata Gajah Mada kepada anak muda yang menyapanya itu.
"Aku datang tiga hari yang lalu, bosan rasanya menunggu hari pengujian," kata anak muda itu.
"Namaku Mahesa Muksa," kata Gajah Mada memperkenalkan dirinya kepada anak muda itu.
"Namaku Branjang, aku dari Kademangan Jatiwangi. Kamu sendiri dari mana?" kata anak muda itu memperkenalkan dirinya dan tempat asalnya.
"Aku dari Kademangan Ruyung di bawah kaki Gunung Galunggung," kata Gajah Mada kepada anak muda yang bernama Branjang itu.
"Logat bahasamu seperti bukan dari sana," kata Branjang yang dapat membedakan logat bahasa Gajah Mada tidak seperti logat Sunda umumnya yang biasa didengar.
"Aku lama besar di daerah Tanah Ujung Galuh. Baru sepekan ini aku tinggal bersama ayahku di Kademangan Ruyung," kata Gajah Mada kepada Branjang.
Nampaknya Branjang tidak bertanya lebih jauh lagi kepada Gajah Mada, hanya bertanya beberapa hal tentang kesiapannya menghadapi ujian permulaan besok.
"Mereka akan menguji kemampuan olah kanuragan kita, bersiaplah menghadapi seorang prajurit yang ditunjuk untuk mengujimu," kata Branjang kepada Gajah Mada.
"Dari mana kamu mengetahui bahwa ujian awal penerimaan prajurit seperti itu?" kata Gajah Mada kepada Branjang.
"Kakakku seorang prajurit, dialah yang memintaku menjadi prajurit seperti dirinya," kata Branjang penuh kebanggaan mempunyai seorang kakak seorang prajurit.
"Apakah kamu sudah siap menghadapi seorang prajurit?" bertanya Gajah Mada kepada Branjang.
"Kakakku meyakinkan, bahwa aku dapat mengalahkan dua orang prajurit biasa," kata Branjang dengan penuh keyakinan.
"Jangan terlalu yakin, mungkin kakakmu hanya membesarkan hatimu saja," kata seorang anak muda di sebelah lain dekat mereka.
Gajah Mada dan Branjang langsung menoleh kepada anak muda itu.
Gajah Mada dan Branjang melihat anak muda itu dengan wajah tidak suka.
"Mengapa kalian memandangku seperti itu?" kata anak muda itu dengan senyum getir salah tingkah.
"Jangan salah artikan perkataanku, bukan maksudku meremehkanmu. Aku hanya sekadar mengingatkan bahwa dua tahun yang lalu aku juga punya keyakinan yang besar sepertimu, namun ternyata aku tidak lulus dalam ujian pertama," kata kembali anak muda itu.
"Terima kasih telah mengingatkan," kata Branjang sambil menarik napas panjang, mungkin tiga hari menunggu di barak itu telah membuat dirinya mudah terbakar kemarahannya.
"Namaku Galih, aku dari Padepokan Jati Abang," kata anak muda itu memperkenalkan dirinya kepada Gajah Mada dan Branjang.
"Apakah para prajurit penguji begitu tangguh?" bertanya Gajah Mada kepada Galih.
"Dua tahun lalu, dari dua puluh lima orang yang diuji, hanya lima belas orang yang dinyatakan lulus dalam ujian pertama itu," kata Galih. "Bagaimana cara mereka menilai?" bertanya kembali Gajah Mada. "Kita harus dapat mengalahkan mereka, atau dapat bertahan hingga tiga puluh jurus," kata Galih yang punya pengalaman pernah gugur dalam ujian pertama dua tahun itu.
"Mudah-mudahan aku dapat bertahan tiga puluh jurus lebih," kata Branjang penuh harapan.
"Berdoalah, semoga kita lulus dalam ujian itu, juga ujian tahap lainnya," kata Gajah Mada membesarkan hati kedua kawan barunya itu.
Sementara itu, beberapa anak muda di dalam barak itu terlihat berkelompok.
Gajah Mada telah mempunyai dua orang kawan di barak itu, yaitu Galih dan Branjang.
"Sebentar lagi kita akan mendapat kiriman ransum malam," kata Branjang yang sudah tiga hari di dalam barak karantina itu.
Demikianlah, tidak lama berselang, datanglah petugas yang membawa ransum makan malam untuk mereka.
"Ternyata nikmat jadi seorang prajurit, kerjanya cuma menunggu ransum," kata Galih sambil menatap ransum makannya.
"Selama tidak ada perang," kata Gajah Mada sambil tersenyum.
"Benar, selama kerajaan tidak ada gangguan keamanan, selama itu para prajurit jadi pengangguran yang bergaji," kata Branjang sambil mengunyah ransumnya.
Sementara itu, waktu di dalam barak sepertinya berjalan perlahan, tidak terasa malam telah merayap dan telah menjadi senyap.
"Beristirahatlah, besok kita akan menempuh ujian pertama," kata Gajah Mada sambil meluruskan tubuhnya di atas balai bambu di dalam barak itu.
Pagi itu, di halaman muka barak prajurit Kawali yang berdekatan dengan alun-alun Kotaraja, sudah terlihat cukup ramai dipenuhi banyak prajurit. Mereka hari itu akan menyaksikan langsung sebuah ujian para prajurit baru yang akan bergabung dengan kesatuan-kesatuan khusus di keprajuritan Kawali.
Ada sebuah tajuk khusus untuk para juri dan tamu undangan, di hadapannya sebuah arena yang sudah dibatasi oleh patok-patok dan tali tambang.
Gajah Mada, Branjang, dan Galih sudah berada di antara tiga puluh orang anak muda calon prajurit yang pagi itu akan diuji apakah layak untuk menjadi seorang prajurit Kawali.
Terlihat mereka berdiri berkumpul berseberangan dengan tajuk.
Akhirnya acara yang ditunggu-tunggu itu nampaknya akan segera dimulai. Terlihat seorang perwira masuk ke tengah-tengah arena menyampaikan sepatah dua patah kata pembukaan sekaligus menyampaikan beberapa aturan dalam pelaksanaan pertandingan.
Gajah Mada, Branjang, dan Galih terlihat begitu tegang manakala salah seorang anak muda calon prajurit dipanggil untuk masuk ke arena.
"Prajurit itulah yang telah mengalahkanku dua tahun yang lalu," kata Galih kepada Gajah Mada sambil menunjuk ke seorang prajurit Kawali yang telah masuk ke arena berhadapan dengan seorang anak muda calon prajurit.
"Otot tubuh prajurit itu nampaknya sangat kuat," kata Gajah Mada kepada Galih menilai penampilan tubuh prajurit penguji itu.
"Benar, orang itu tahan pukul," kata Galih mengingat kembali ketika pernah berhadapan dengan prajurit itu.
"Anak itu sepertinya sudah kalah sebelum bertanding," kata Branjang menilai penampilan anak muda yang tengah berdiri di tengah arena yang memang sudah turun pamor melihat lawan tandingnya yang tampak kuat berotot itu.
Terlihat seorang penengah memberikan beberapa aturan, mengingatkan kembali kepada kedua orang yang akan bertanding itu.