Halo!

Kisah Dua Naga Di Pasundan - Chapter 18

Memuat...
Kisah Dua Naga Di Pasundan

Chapter 18

"Jangan memukul kepala, jangan memukul bagian di bawah pusar. Apakah kalian sudah siap?" tanya penengah itu kepada keduanya.

Ketika keduanya menganggukkan kepala sebagai tanda kesiapan, penengah tersebut memberikan aba-aba sebagai tanda dimulainya pertandingan.

Tampak prajurit berotot itu menyeringai menatap si anak muda seolah ingin menelannya bulat-bulat.

"Kuberi dirimu kesempatan untuk menyerang lebih dulu," kata prajurit itu dengan suara menantang kepada anak muda lawan tandingnya.

Mendengar tantangan itu, hati si anak muda semakin ciut dan wajahnya pucat pasi.

"Terlalu lama!" seru prajurit itu tidak sabar melihat si anak muda tak kunjung menyerang.

Akhirnya, prajurit itu menjadi semakin tidak sabar menanti serangan awal anak muda yang hanya berdiri bersiaga dengan kuda-kuda.

"Terimalah seranganku!" teriak prajurit itu yang sudah tidak sabar lagi dan langsung melancarkan serangan pertama.

Anak muda itu tergagap melihat sebuah tendangan meluncur ke arahnya. Dengan tergesa-gesa, ia berusaha bergeser. Ternyata serangan pertama itu hanyalah tendangan tipuan yang sudah diperhitungkan dengan matang oleh prajurit tersebut.

Prajurit itu memutar kaki lainnya, langsung mengincar kaki si anak muda yang telah bergeser dari posisi berdiri. Malang bagi si anak muda, gerakannya sudah terbaca dan ia seolah mati langkah, tidak dapat menghindari hantaman kaki berputar dari prajurit tersebut.

*Beng!*

Anak muda itu terbanting jatuh ke tanah. Gemuruh tawa para prajurit pecah melihat si anak muda sudah dijatuhkan pada jurus pertama.

"Anak itu masih demam panggung," ujar Branjang menilai.

"Benar, pikirannya tidak jernih lagi," sahut Galih ikut menilai.

"Kalian benar. Sehebat apa pun sebuah aliran kanuragan, tanpa jiwa dan pikiran yang jernih, ia akan seperti senjata tumpul," kata Gajah Mada sambil terus menatap ke arah arena, melihat si anak muda yang meringis kesakitan tengah berusaha bangkit berdiri.

"Apakah kamu masih sanggup bertanding?" tanya penengah kepada anak muda itu.

Anak muda itu menganggukkan kepala sebagai tanda masih sanggup melanjutkan pertandingan. Rupanya kejatuhan di awal pertandingan justru membangkitkan kepercayaan diri dalam hatinya. Saat itu, yang terpikir olehnya hanyalah kewaspadaan tinggi tanpa menghiraukan lagi puluhan pasang mata yang menatapnya.

"Ciaaat!"

Anak muda itu berteriak menghentakkan keberaniannya dan menyerang prajurit berotot gempal tersebut. Prajurit itu terkejut bukan main mendengar teriakan dan serangan mendadak itu. Namun, ia segera menguasai diri. Dengan tenang, ia bergeser setapak menghindari pukulan dan langsung membalas dengan tendangan tinggi.

Anak muda yang kini mulai percaya diri itu langsung menghindar dan balas menyerang. Akhirnya, tontonan menarik pun tersaji; sebuah pertandingan seru antara calon prajurit dan prajurit penguji. Ternyata anak muda itu cukup tangguh. Ia hanya sempat tertipu di awal karena demam panggung dan pikiran yang kurang jernih.

"Anak itu telah menguasai perasaannya sendiri," kata Gajah Mada kepada Galih di sampingnya sambil tetap mengamati jalannya pertempuran.

"Dia cukup tangguh," puji Galih.

Sebagaimana yang dilihat Galih, anak muda itu tampak semakin percaya diri. Serangannya semakin gencar dengan perhitungan matang. Kini justru prajurit penguji yang tertekan saat menghindari serangan-serangannya. Untungnya, prajurit berotot itu kaya pengalaman dan sangat matang, sehingga selalu dapat berkelit dan membalas dengan serangan keras dan cepat.

Tak terasa tiga puluh jurus telah berlalu, namun keduanya masih saling menyerang. Pertandingan semakin seru tanpa ada tanda-tanda siapa yang akan menang. Salah seorang juri yang duduk di deretan kursi terdepan kemudian mengibarkan bendera putih sebagai tanda pertandingan harus dihentikan.

"Berhenti!" teriak penengah saat melihat bendera putih tersebut. Mendengar aba-aba itu, si anak muda dan prajurit penguji segera menghentikan serangan.

"Kembali ke tempat masing-masing," perintah penengah.

Terdengar suara gaduh dari para penonton yang merasa kecewa karena pertandingan dihentikan sebelum ada pemenang. Namun, tiga juri yang duduk di deretan utama tidak memedulikan protes penonton. Mereka memerintahkan seorang prajurit masuk ke arena untuk memanggil peserta selanjutnya.

Satu per satu calon prajurit Kawali dipanggil untuk bertanding melawan prajurit penguji. Sementara itu, matahari di atas arena ujian semakin terang. Tujuh anak muda telah tampil menunjukkan kebolehan mereka. Hanya dua orang yang gagal melampaui tiga puluh jurus, sedangkan lima lainnya mampu mengimbangi prajurit penguji lebih dari tiga puluh jurus meskipun tidak berhasil menang.

"Mahesa Muksa!" teriak seorang prajurit dari tengah arena memanggil sebuah nama.

"Namamu dipanggil," kata Branjang kepada Gajah Mada.

"Aku berdoa untukmu, kawan," ujar Galih sambil menepuk bahu Gajah Mada.

Gajah Mada keluar dari kerumunan calon prajurit dan langsung masuk ke tengah arena. Terdengar riuh teriakan penuh semangat dari kerumunan prajurit. Seorang prajurit penguji keluar dari kerumunan dan masuk ke arena. Tampaknya prajurit itu sangat dikagumi oleh rekan-rekannya. Ia terlihat sangat tangguh dengan pembawaan tenang, langkah kaki yang teratur, dan berirama sebagai tanda kemampuan kanuragan yang matang.

Sorot mata prajurit itu seolah ingin mengukur tingkat kemampuan Gajah Mada. Namun, dengan tenang Gajah Mada mengadu pandangan. Diam-diam, prajurit itu merasa tergetar; ia merasa seolah menatap mata yang begitu kuat dan penuh kepercayaan diri. Gajah Mada tersenyum ke arah lawannya—seorang prajurit bertubuh sedang, berkulit hitam namun bersih, dengan kumis tebal yang menambah kewibawaannya.

"Hidup Prajoga!" teriak beberapa penonton dari luar arena.

Ternyata prajurit penguji itu bernama Prajoga. Ia memang dikagumi karena kemampuan kanuragannya yang tinggi.

"Bersiaplah," kata penengah kepada Gajah Mada dan Prajoga.

Prajoga segera memasang kuda-kuda sebagai isyarat siap menerima serangan. Melihat hal itu, Gajah Mada bersiap melakukan serangan awal. Ia melepaskan pukulan biasa, sekadar gebrakan uji coba yang mengarah ke dada lawan. Prajoga menyadari bahwa itu bukan serangan yang sebenarnya.

"Anak pintar," gumam Prajoga sambil berkelit lincah, tahu bahwa serangan itu hanya pancingan.

Gerakan awal Gajah Mada memang bertujuan agar lawannya membalas serangan. Prajoga sangat terkejut ketika ia berkelit ke samping dan membalas dengan pukulan ke arah pinggang; ternyata Gajah Mada sudah bisa membaca arah gerakannya.

"Anak cerdas," puji Prajoga sambil melompat cepat menghindari serangan Gajah Mada yang seolah tahu ke mana ia akan melangkah.

Sebagai prajurit berpengalaman, Prajoga tidak ingin didikte oleh lawan. Ia segera mengatur siasat serangan balik. Saling serang pun bergulir antara Gajah Mada dan Prajoga, semakin lama semakin seru menjadi tontonan yang mengasyikkan. Mereka seperti dua petarung tangguh yang penuh kejutan, membuat debar jantung penonton berpacu.

Para prajurit yang mengetahui ketangguhan Prajoga tampak terkesima. Mereka tidak menyangka ada calon prajurit yang mampu mengimbangi kemampuan tinggi Prajoga. Sebenarnya, jika mau, Gajah Mada bisa menggunakan kecepatan gerak yang melampaui manusia biasa. Namun, ia memilih untuk mengimbangi permainan lawannya dengan hanya bergerak sedikit lebih cepat. Meski begitu, kecepatan Gajah Mada tetap membuat Prajoga panik. Hampir semua serangan Prajoga dielakkan dengan mudah dan cepat, sementara serangan balik Gajah Mada mulai menguras tenaga sang prajurit penguji.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment