Halo!

Kisah Dua Naga Di Pasundan - Chapter 19

Memuat...
Kisah Dua Naga Di Pasundan

Chapter 19

Sejak awal pertemuan, Ki Lurah Pramuji sudah menduga bahwa anak muda itu pasti punya kemampuan cukup tangguh. Ia duduk sebagai salah seorang juri dan melihat bagaimana Gajahmada dapat melayani permainan Prajoga, yang dikenalnya sebagai salah seorang prajurit yang punya kemampuan olah kanuragan cukup tinggi.

"Ternyata kawan kita cukup tangguh," berkata Galih kepada Branjang di sebelahnya, mengagumi Gajahmada yang dapat melayani prajurit penguji yang dilihatnya cukup tangguh.

"Aku sendiri belum yakin seandainya aku yang menghadapi prajurit itu, apakah aku dapat melayaninya," berkata Branjang dengan mata yang tidak lepas berkedip, terus mengamati jalannya pertempuran yang sangat seru dan mendebarkan hati itu.

Dan sebagaimana yang dilihat oleh semua orang di luar arena, pertempuran itu memang sangat seru serta mendebarkan hati dengan serang dan balas menyerang dengan gerakan mengagumkan.

Tidak terasa tiga puluh jurus telah berlalu, dan Gajahmada telah sedikit meningkatkan tataran ilmunya, meningkatkan kecepatan gerak dan kekuatan dirinya.

Brakk!!!

Dua tangan beradu. Terlihat Prajoga mundur beberapa langkah, merasakan tangannya seperti beradu dengan batu cadas yang kuat, merasakan ngilu seluruh sendi tangannya.

Dan Gajahmada sepertinya tidak memberikan kesempatan sedikit pun kepada Prajoga, langsung menyerang dengan sebuah tendangan keras dan cepat menerjang Prajoga.

Terlihat dengan susah payah Prajoga menghindar, sayang bahwa Gajahmada dengan cepat pula telah merubah serangannya dengan sebuah pukulan keras ke arah pinggang lawannya.

Akibatnya memang sangat merepotkan Prajoga, yang kembali harus menghindar, namun dengan cepat pula Gajahmada menyusuli dengan serangan lainnya.

Demikianlah, dalam beberapa jurus terakhir nampaknya Prajoga tidak dapat balas menyerang, telah menjadi bulan-bulanan Gajahmada yang terus menyerang dengan kecepatan melampaui kecepatan gerak Prajoga.

Dan akhirnya, sebuah pukulan nampaknya tidak mungkin lagi dapat dihindari oleh Prajoga, Beng!!!

Terlihat Prajoga terlempar oleh dua buah pukulan beruntun dari Gajahmada.

Terdengar suara riuh dari para pemuda calon prajurit. Mereka mengelu-elukan Gajahmada sebagai satu-satunya calon prajurit yang dapat menjatuhkan prajurit penguji.

Sementara itu para prajurit penonton semua seperti tersirep diam, mereka tidak sama sekali menyangka prajurit setangguh Prajoga dapat dijatuhkan oleh seorang anak muda calon prajurit.

"Maaf, Ki Lurah Pramuji telah mengangkat bendera putih," berkata seorang penengah kepada Prajoga yang telah bangkit berdiri.

Ternyata Ki Lurah Pramuji memang telah mengangkat bendera putih sebagai tanda pertandingan dianggap telah selesai.

"Selamat, kamu memang pantas menjadi seorang prajurit Kawali," berkata Prajoga kepada Gajahmada ketika mereka bersisipan jalan menuju tempat semula.

"Terima kasih," berkata Gajahmada kepada Prajoga sambil menganggukkan kepala sebagai sebuah penghormatan dan langsung melangkah menuju ke tempatnya semula.

"Kamu memang hebat, kawan," berkata Galih memberikan ucapan selamat kepada Gajahmada.

"Kamu bukan hanya melampaui tiga puluh jurus, tapi sudah dapat menjatuhkan lawanmu," berkata Branjang sambil menjulurkan tangannya memberikan ucapan selamat kepada kawannya itu.

Demikianlah, satu persatu para calon prajurit Kawali telah dipanggil untuk diuji. Mereka dengan semangat dan kesungguhan hati telah berusaha untuk memperlihatkan kemampuannya.

Seiring dengan perjalanan waktu, akhirnya semua calon prajurit itu sudah semuanya dipanggil di tengah arena menghadapi para prajurit penguji, termasuk Branjang dan Galih, dua orang kawan baru Gajahmada itu.

Bukan main gembiranya para calon prajurit itu manakala hasil pengumuman siapa yang telah dinyatakan lulus pada hari itu juga telah diumumkan.

Gajahmada, Branjang, dan Galih adalah tiga orang yang termasuk para calon prajurit yang dinyatakan telah lulus dari ujian pertama itu.

Dari sekitar tiga puluh orang pelamar calon prajurit Kawali, hanya ada dua orang anak muda yang bernasib kurang beruntung, mereka gagal dalam ujian hari itu.

"Kalian yang telah diumumkan lulus dalam ujian ini diwajibkan untuk melaksanakan pendadaran, bergabung dengan beberapa kesatuan prajurit yang ada di Kawali," berkata seorang perwira prajurit membacakan siapa saja para calon prajurit yang dipanggil bergabung dengan kesatuan prajurit Kawali.

"Kita ada dalam kesatuan prajurit yang sama," berkata Branjang kepada Gajahmada dan Galih.

Ternyata mereka bertiga telah mendengar hasil pengumuman di mana ditempatkan dalam masa pendadaran itu.

Bukan main terkejutnya Gajahmada ketika seorang prajurit yang pernah mengujinya datang menghampirinya.

"Selamat, selama masa pendadaran ini kamu berada dalam kesatuanku," berkata prajurit itu kepada Gajahmada yang tidak lain adalah Prajoga, seorang pemimpin dari sebuah kesatuan prajurit di Kawali.

"Aku mohon bimbinganmu," berkata Gajahmada kepada Prajoga.

"Justru akulah yang meminta bimbinganmu, bukankah kemampuan olah kanuraganku jelas-jelas berada di bawahmu?" berkata Prajoga kepada Gajahmada dengan senyum ramah.

"Tapi dalam urusan keprajuritan, aku belum tahu apa-apa," berkata Gajahmada kepada Prajoga.

"Aku yakin bahwa kamu akan cepat mengetahui dan mempelajarinya," berkata Prajoga kepada Gajahmada.

Demikianlah, mulai hari itu juga, Gajahmada, Branjang, dan Galih telah bergabung bersama di sebuah kesatuan yang berada di bawah pimpinan Prajoga, seorang lurah prajurit.

Dan malam itu juga mereka telah bergabung di barak yang sama.

"Persiapkan diri kalian, besok kita akan melakukan perjalanan cukup jauh," berkata Prajoga kepada Gajahmada, Branjang, dan Galih.

Gajahmada, Branjang, dan Galih tidak bertanya lebih jauh lagi, mereka hanya mempersiapkan diri sebagaimana para prajurit lain di barak itu, mempersiapkan kebutuhan dan perlengkapan sebagaimana layaknya para prajurit yang akan berangkat ke medan perang.

Sementara itu di padepokan Prabu Guru Darmasiksa malam itu telah terlihat sebuah percakapan mengenai suasana hari pengujian para calon prajurit yang sudah terdengar lewat beberapa cantrik Padepokan yang diam-diam ditugaskan mengawasi keadaan Gajahmada.

"Saatnya kalian berdua kembali ke istana," berkata Prabu Guru Darmasiksa kepada Pangeran Citraganda dan Dyah Rara Wulan.

"Kalian harus dapat menjelaskan kepada Raja Ragasuci tentang hilangnya Kujang Pangeran Muncang, juga untuk meluruskan Gajahmada agar dapat bertugas di sekitar Patih Argajaya," berkata kembali Prabu Guru Darmasiksa.

Terlihat wajah Dyah Rara Wulan berseri-seri membayangkan dapat bertemu kembali dengan pemuda yang telah mencuri hatinya, Gajahmada.

"Besok pagi kami akan berangkat, mohon doa restunya agar Ayahanda tidak salah sangka tentang penilaian kita terhadap Patih kesayangannya itu," berkata Pangeran Citraganda kepada Prabu Guru Darmasiksa.

"Aku yakin, Ayahandamu dapat menerima penjelasan dari putranya sendiri," berkata Prabu Guru Darmasiksa dengan penuh senyum terbayang wajah putranya Raja Ragasuci yang memang tidak mudah dipengaruhi.

"Sementara untuk dapat menugaskan Gajahmada di sekitar Patih Ragajaya akan cucunda usahakan, mudah-mudahan Ki Lurah Pramuji dapat membantu kita," berkata Pangeran Citraganda.

"Bila diijinkan, hamba berdua Pangeran Jayanagara ingin melihat-lihat suasana Kotaraja Kawali," berkata Putu Risang meminta sebuah usulan kepada Prabu Guru Darmasiksa.

"Bagus, kalian berdua memang dibutuhkan untuk dapat mendekati Gajahmada, membuat sebuah keputusan yang mungkin diperlukan," berkata Prabu Guru Darmasiksa menerima usulan Putu Risang.

"Besok pagi kami akan ikut berangkat, tapi dengan jalan terpisah tidak bersama-sama Pangeran Citraganda agar tidak mencurigakan orang-orang yang mungkin saja kaki tangan Patih Argajaya yang memang sedang mengawasi keadaan kita," berkata Putu Risang.

"Bagus, kita memang harus berhati-hati," berkata Prabu Guru Darmasiksa.

"Para orang muda akan meninggalkan Padepokan, apa tugas kita orang tua?" berkata Pendeta Gunakara sambil menyentuh bahu Jayakatwang yang ikut tersenyum.

"Kita para orang tua akan turun bila saatnya tiba," berkata Prabu Guru Darmasiksa kepada Pendeta Gunakara.

Sementara itu pikiran dan lamunan Dyah Rara Wulan sudah jauh melayang di Kotaraja Kawali, membayangkan hari-hari melihat Gajahmada lengkap dengan pakaian prajurit Kawali umumnya.

"Besok kalian pagi-pagi sudah harus berangkat, sekarang segeralah kalian untuk beristirahat," berkata Prabu Guru Darmasiksa.

Perkataan Prabu Guru Darmasiksa telah membuyarkan lamunan Dyah Rara Wulan, masih dengan senyum dikulum telah bangkit berdiri bersama untuk segera beristirahat di biliknya.

Temaram cahaya bulan menerangi malam sepi, dan hawa dingin di Padepokan Prabu Guru Darmasiksa yang berada di lereng Gunung Galunggung malam itu begitu dingin.

Temaram cahaya lembut pelita malam di bilik Dyah Rara Wulan telah menjadi kawan setia gadis manis itu yang masih juga belum dapat memejamkan matanya, lamunannya nampaknya telah jauh melambung ke hari-hari di Kotaraja Kawali.

Gadis manis itu bukan rindu kepada istana Kawali yang telah ditinggalkannya beberapa hari, tapi gadis itu ternyata sedang rindu kepada seorang pemuda yang saat itu sedang berada di Kotaraja Kawali.

Siapa lagi anak muda yang menghiasi lamunan gadis itu kalau bukan Gajahmada yang memang saat itu tengah berada di Kotaraja Kawali.

Dan gadis manis putri Raja Kawali itu akhirnya dapat tertidur pulas dengan bibir terlihat tersungging senyum begitu manis, mungkin tengah bermimpi bertemu dan bersenda gurau dengan pemuda impiannya itu.

Gadis manis itu memang sudah tertidur pulas meski semilir angin dingin kadang masuk di antara celah-celah bilik bambu kamarnya.

Gadis manis itu juga sudah tidak mendengar lagi suara kentongan dengan nada dara muluk terdengar sayup di malam sepi dari sebuah padukuhan yang jauh di bawah lereng Galunggung.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment