Chapter 20
Gadis manis itu tidak lagi mendengar suara rintik gerimis hujan yang mulai turun di pertengahan malam itu hingga menjelang pagi. Gerimis hujan merata membasahi bumi Pasundan sepanjang malam, juga membasahi bumi Kotaraja Kawali.
"Kamu sangat gagah dengan pakaian prajuritmu," kata Galih kepada Gajahmada di pagi itu ketika mereka bersiap diri untuk berangkat ke sebuah tempat tugas.
"Kita akan melakukan perjalanan cukup jauh, sekitar daerah Gunung Papandayan. Ada kabar bahwa di beberapa padukuhan di bawah kaki gunung itu sering terjadi perampokan," kata Prajoga, pemimpin kesatuan prajurit yang ditugaskan ke daerah Gunung Papandayan, kepada pasukannya yang berkumpul untuk bersiap diri di pagi itu.
Pagi itu udara cukup cerah. Di atas tanah basah bekas guyuran gerimis sepanjang malam, terlihat dua puluh orang prajurit Kawali keluar dari batas gerbang kota sebelah selatan. Wajah mereka tampak cerah, mungkin sebagian mereka sudah lama jenuh tinggal berhari-hari di barak tanpa tugas selain berkumpul dan berlatih.
"Setahuku, daerah sekitar Gunung Papandayan adalah tempat yang aman. Apa yang didapat para perampok itu dari penduduknya yang sangat sederhana?" tanya seorang prajurit tua kepada kawannya yang berjalan di depan Gajahmada, Branjang, dan Galih.
"Jangan-jangan ini cara untuk menghancurkan Prajoga dan pasukannya," bisik kawan prajurit tua itu pelan.
"Aku tidak mengerti maksud perkataanmu," kata prajurit tua itu kepada kawannya dengan penuh ketidakmengertian.
"Aku akan menjelaskan kepadamu di suatu tempat," kata kawannya masih berbisik.
Pembicaraan prajurit tua dan kawannya itu ternyata dapat didengar oleh Gajahmada yang diam-diam menyimak. Ketika ada perintah untuk beristirahat, Gajahmada mencari tempat yang tidak jauh dari mereka berdua. Terlihat sebuah pasukan kecil beristirahat di pinggir hutan di sebuah jalan simpang.
"Kalau kutahu tugas seorang prajurit hanya membawa beban yang banyak, tidak perlu aku berlatih kanuragan," kata Galih sambil melemparkan tubuhnya duduk bersandar di pohon rindang kepada kawannya, Branjang. Sepanjang jalan mereka memang diperintahkan membawa beban berupa perbekalan pasukan.
"Bersabarlah, kita masih dalam tahap pendadaran. Setidaknya ini menjadi kenangan tak terlupakan bila kelak kamu bisa menjadi seorang Senapati," kata Branjang kepada Galih sambil tersenyum.
"Bila aku jadi seorang Senapati, kuangkat kamu jadi pengawalku," kata Galih kembali tersenyum kepada Branjang.
"Kamu salah. Ketika kamu jadi seorang senapati, aku sudah menjadi seorang Tumenggung," kata Branjang masih tertawa.
"Kenapa kamu lebih tinggi dariku?" tanya Galih dengan wajah penasaran.
"Karena aku lebih baik darimu," kata Branjang dengan suara datar.
"Siapa bilang kamu lebih baik dariku?" tanya Galih kepada Branjang.
"Kataku sendiri," kata Branjang dengan tawa yang lebih panjang.
Namun, pembicaraan mereka terhenti ketika seorang prajurit membawa ransum.
"Ini ransum untuk kalian," kata prajurit itu kepada Galih dan Branjang.
Sementara itu, Gajahmada duduk beristirahat tidak begitu jauh dari prajurit tua dan kawannya. Diam-diam ia berusaha mencuri dengar pembicaraan mereka.
"Coba jelaskan, apa yang terjadi pada diri Lurah Prajoga," kata prajurit tua kepada kawannya dengan suara pelan, setengah berbisik.
"Lurah Prajoga bercerita kepadaku telah mendapat tugas langsung dari Patih Ranggajaya. Entah tugas macam apa, tidak diceritakan. Yang diceritakan adalah Lurah Prajoga telah menolak tugas itu," kata kawan prajurit tua itu juga berbisik.
"Aku sudah mengerti. Pasti tugas yang tidak sesuai dengan hati nurani Lurah Prajoga," kata prajurit tua itu sambil mengunyah ransumnya.
"Tadi sewaktu akan berangkat, Lurah Prajoga berpesan kepadaku untuk berhati-hati sepanjang perjalanan. Mungkin dirinya telah menangkap isyarat yang tidak baik," kata kawan prajurit itu masih berbisik.
Matahari terlihat mulai bergeser ke barat, terhalang kerimbunan dahan dan cabang pepohonan hutan. Sementara itu, pasukan Prajoga telah bergerak kembali.
"Sebentar lagi kita akan memasuki kawasan hutan Mayambong," kata prajurit tua kepada kawannya yang tampaknya mengenal betul arah perjalanan mereka.
Sebagaimana dikatakan prajurit tua, mereka akhirnya memang mendekati hutan yang cukup lebat. Cahaya matahari semakin redup terhalang kerimbunan pohon. Suasana pinggir hutan itu memang sepi.
"Berhati-hatilah!!" kata Prajoga kepada pasukannya. Prajoga adalah prajurit yang sangat berpengalaman. Suara banyak burung yang mencicit dan terbang dari dalam hutan Mayambong mengisyaratkan kepadanya untuk waspada. Pasti ada sesuatu yang mengagetkan kumpulan burung-burung di sana.
Namun, suasana tepi hutan Mayambong masih sepi ketika pasukan itu semakin mendekat. Wajah semua prajurit Kawali semakin menegang manakala mereka mendekati kesunyian hutan Mayambong. Akhirnya, kecurigaan Prajoga ternyata menjadi kenyataan. Terlihat sebuah gerombolan orang keluar menghadang pasukan prajurit Kawali yang berjumlah sekitar dua puluh orang.
Kedua puluh prajurit itu langsung berhenti, menunggu perintah pimpinan mereka, Prajoga. Gerombolan orang yang muncul dari hutan Mayambong terus berjalan mendekati pasukan Prajoga.
"Agar kami tidak salah orang, apakah pasukan ini berada di bawah pimpinan Ki Lurah Prajoga?" tanya salah seorang dari mereka yang tampaknya pemimpin gerombolan itu. Ia terlihat berwibawa dari suara dan wajah kerasnya dengan kumis tebal melintang.
"Aku Prajoga. Apa keinginan kalian menghadang pasukanku?" tanya Prajoga sambil maju mendekati orang itu.
Orang yang mewakili gerombolan itu tertawa panjang sambil memperhatikan Prajoga dari kaki hingga kepala. "Ternyata Ki Lurah Prajoga hanya seorang muda," katanya sambil tertawa.
"Katakan, apakah kalian sengaja menghadang pasukanku?" tanya Prajoga kembali kepada orang itu dengan suara keras dan percaya diri.
"Siapa yang mau diam di dalam hutan penuh nyamuk tanpa bayaran yang menggiurkan?" kata orang itu tertawa panjang, diikuti kawan-kawannya.
"Siapa gerangan yang membayarmu?" tanya Prajoga kepada orang itu.
Orang itu tidak langsung menjawab, hanya memperlihatkan senyum sinis merendahkan. "Aku juga dibayar untuk merahasiakan hal itu," katanya masih dengan senyum sinisnya.
"Aku tidak akan bertanya lagi, karena aku sudah tahu siapa gerangan orang yang telah mengupahmu," kata Prajoga kepada orang itu.
"Bagus kalau kamu sudah tahu siapa yang mengupahku. Sekarang bersiaplah untuk menerima penumpasan pasukanmu, termasuk dirimu," kata orang itu sambil melepas golok dari sarungnya, diikuti semua gerombolannya yang rata-rata bersenjata sama.
"Beri aku kesempatan berbicara dengan pasukanku," kata Prajoga sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
"Silakan," kata orang itu sambil bertolak pinggang, tangan lainnya sudah memegang golok terhunus.
"Dengarlah, wahai pasukanku. Ini adalah urusan pribadi diriku dengan seseorang. Jadi, segeralah kalian menyingkir, tidak perlu ikut campur membela diriku," kata Prajoga lantang di hadapan pasukannya.
"Urusan Ki Lurah adalah urusan kami. Kami tidak akan menyingkir setapak pun meninggalkan Ki Lurah," kata seorang prajurit tua di dekat Gajahmada, juga dengan suara lantang sekeras ucapan Prajoga.
"Benar, kami tidak akan menyingkir setapak pun," kata kawannya sambil melepas pedang, mengacungkannya tinggi-tinggi di atas kepalanya.
Ucapan dan sikap kedua prajurit itu langsung diikuti oleh semua prajurit Kawali yang berada di pinggir hutan Mayambong. Semua prajurit telah melepas pedang dari sarungnya. Terharu Prajoga melihat sikap prajurit pasukannya yang dengan penuh keberanian memilih membela dirinya, meskipun telah disampaikan bahwa urusan itu adalah masalah pribadi yang harus ditanggung sendiri.
"Terima kasih untuk kesetiaan kalian," kata Prajoga dengan wajah penuh haru menatap pasukannya.
"Ternyata pasukanmu sangat setia mengantarmu bersama ke alam kubur," kata orang yang menjadi pemimpin gerombolan itu dengan wajah dan bibir penuh senyum mengejek, merendahkan kekuatan pasukan Kawali yang setengah dari kekuatannya.
"Jangan terlalu percaya dengan kekuatan banyak orang," kata Prajoga sambil menarik pedangnya dari sarung.
Pimpinan gerombolan itu memberi tanda kepada orang-orangnya untuk segera mengepung pasukan Kawali. Melihat tanda perintah dari pimpinannya, gerombolan itu bergerak mengepung para prajurit di muka Hutan Mayambong. Sementara itu, Ki Lurah Prajoga memberi tanda kepada prajuritnya agar berperang secara berkelompok. Dengan cepat, kedua puluh prajurit itu terpecah dalam dua kelompok yang sama.
"Jangan terpisah dari kami," kata seorang prajurit mengingatkan Gajahmada, Branjang, dan Galih sebagai prajurit baru.
"Aku belum pernah bertempur dengan orang yang belum kukenal sama sekali. Siapakah gerangan dirimu?" kata Ki Lurah Prajoga kepada pimpinan gerombolan itu.