Chapter 22
"Hanya ada satu orang kita yang tidak dapat diselamatkan, lukanya terlalu parah," lapor seorang prajurit tua kepada Prajoga.
"Kita kubur mereka di sini. Perintahkan semua prajurit untuk beristirahat di depan hutan ini," kata Prajoga kepada prajurit tua itu.
Demikianlah, malam itu para prajurit Kawali menginap dan beristirahat di depan Hutan Mayangbong. Tidak ada kejadian apa pun malam itu. Meski begitu, para prajurit tetap berjaga-jaga sepanjang malam karena khawatir akan kemungkinan yang terjadi tanpa terduga. Namun, ketika langit di atas Hutan Mayangbong telah berubah menjadi fajar, tidak ada apa pun yang terjadi.
"Di sebelah barat hutan ini ada sebuah padukuhan kecil. Kami akan membawa Ki Anas ke sana dan menitipkannya kepada penduduk setempat," kata Prajoga kepada Ki Anas yang masih berbaring.
"Aku menjadi malu dengan kalian. Semula kalian akan kami celakai, namun justru kamilah yang harus dikasihani karena menjadi orang tidak berdaya," kata Ki Anas pelan.
"Ki Anas hanya orang suruhan, aku sudah mengetahui siapa di balik semua ini," kata Prajoga dengan wajah ramah tanpa sedikit pun terlihat dendam kepada orang yang datang ingin mencelakainya itu.
"Jiwa Ki Lurah begitu lapang, aku menjadi semakin malu," kata Ki Anas sambil memandang wajah Prajoga.
"Di luar perang, kita adalah saudara," kata Prajoga masih dengan senyum ramahnya.
"Berhati-hatilah, jiwamu akan selalu terancam oleh seseorang yang tidak senang dengan dirimu," kata Ki Anas kepada Prajoga.
"Selama kita percaya dengan jalan kebenaran yang kita pilih, selama itu pula perlindungan berada di pihak kita," kata Prajoga kepada Ki Anas yang terlihat sudah kembali segar karena semalaman telah diberi jamu penguat diri dan beristirahat.
Maka ketika pagi sudah terang tanah, terlihat iring-iringan prajurit bergerak ke arah barat dari depan Hutan Mayangbong itu. Sebagaimana yang dikatakan oleh Prajoga, ternyata tidak begitu jauh mereka berjalan sebelum menemui beberapa pematang sawah sebagai tanda adanya sebuah padukuhan.
"Kami menitipkan beberapa orang yang terluka. Ada segerombolan orang yang bermaksud merampok mereka," kata Prajoga kepada Ki Jagaraga dan beberapa warga padukuhan tanpa sedikit pun mengungkit kejadian sebenarnya di depan Hutan Mayangbong kemarin.
"Kami akan menjaga dan merawatnya," kata Ki Jagaraga kepada Prajoga.
Demikianlah, setelah menitipkan orang-orang yang terluka termasuk Ki Anas di padukuhan itu, Prajoga dan pasukannya berpamitan untuk kembali ke Kotaraja Kawali. Terlihat iring-iringan prajurit Kawali berjalan keluar dari gerbang gapura padukuhan kecil itu. Ketika mereka sudah cukup jauh dari arah padukuhan, Prajoga memerintahkan pasukannya untuk berhenti.
"Aku mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas kesetiaan kalian. Namun, aku akan lebih berterima kasih manakala apa yang menimpa kita di depan Hutan Mayangbong ini dikubur selamanya," kata Prajoga sambil memandang wajah prajuritnya satu per satu.
"Istana Kawali saat ini seperti telur di ujung tanduk. Hanya kitalah, dari sekian banyak prajurit Kotaraja Kawali, yang belum tercemar untuk selalu setia membela Raja dan keluarganya. Ibarat arus sungai yang deras, kita mungkin tidak mampu bertahan melawan tarikan airnya. Namun dengan semangat dan doa bersama, kita pasti akan mendapatkan perlindungan dari Gusti Yang Maha Agung, pemilik kebenaran itu. Berjanjilah kalian untuk saling menjaga di antara derasnya arus yang melanda Istana Kawali saat ini," sambung Prajoga lagi.
Gajahmada menarik napas panjang. Ternyata dirinya mengakui kejelian Prabu Guru Darmasiksa tentang keadaan Istana Kawali saat itu. Namun Gajahmada tetap diam, hanya mendengarkan perkataan Prajoga agar selalu berhati-hati ketika berada di Kotaraja Kawali serta merahasiakan apa yang sebenarnya terjadi di depan Hutan Mayangbong.
"Kita tidak perlu ke kaki Gunung Papandayan. Namun, agar satu suara, kita katakan bahwa kita sudah sampai di sana dan telah menumpas gerombolan pengganggu penduduk," kata Prajoga kepada para prajuritnya.
"Maaf Ki Lurah, aku mendengar kabar bahwa Ki Lurah telah menolak sebuah tugas langsung dari Patih Anggajaya. Setahuku Ki Lurah selalu menjalankan semua perintah. Apakah perintah itu pula yang berkaitan dengan persoalan pribadi antara Ki Lurah dengan Patih Anggajaya?" tanya seorang prajurit tua yang memberanikan diri.
Lama Prajoga tidak langsung menjawab, namun akhirnya ia merasa tidak enak hati jika harus merahasiakannya kepada prajurit yang telah setia membelanya. Maka dengan perlahan Prajoga bercerita tentang tugas rahasia dari Patih Anggajaya.
"Aku diperintahkan untuk menjadi seorang prajurit pembelot yang melakukan penyerangan mendadak di saat Baginda Raja sedang melakukan perburuan," ungkap Prajoga akhirnya.
Demikianlah, rombongan prajurit itu tidak langsung pulang ke Kotaraja. Mereka menunggu beberapa malam agar tidak mencurigakan dan tampak seolah-olah memang baru saja membasmi perampok di kaki Gunung Papandayan.
Sementara itu, sudah dua malam Putu Risang bersama Pangeran Jayanagara berada di Kotaraja Kawali. Mereka mengaku sebagai pengembara dan menumpang di rumah seorang penduduk yang merasa kasihan kepada mereka.
"Sudah dua malam kita di Kotaraja ini, tapi belum juga mengetahui keberadaan Mahesa Muksa," kata Putu Risang kepada Pangeran Jayanagara di sebuah kedai yang berada di tengah pasar Kotaraja Kawali.
"Semoga ada kabar dari Pangeran Citraganda tentang keadaan Mahesa Muksa," kata Pangeran Jayanagara sambil mencari-cari kalau saja ia melihat kedatangan Pangeran Citraganda.
Pandangan Pangeran Jayanagara tiba-tiba tertuju pada wajah gadis manis yang dikenalnya, Dyah Rara Wulan, yang muncul di depan pintu kedai. Dengan senyum manis, gadis itu melangkah masuk ke dalam kedai dan duduk di dekat Putu Risang dan Pangeran Jayanagara.
"Hari ini aku sudah mendapat berita tentang Mahesa Muksa. Ternyata dirinya telah ikut bersama sebuah pasukan dalam sebuah tugas ke daerah Gunung Papandayan," bisik Dyah Rara Wulan.
"Pantas saja sudah dua malam ini kami tidak berhasil menemuinya," kata Pangeran Jayanagara.
"Aku tidak bisa terlalu lama di kedai ini, banyak yang mengenalku di sini," pamit Dyah Rara Wulan.
"Mari kita kembali ke pondokan kita," kata Putu Risang kepada Pangeran Jayanagara ketika Dyah Rara Wulan telah menghilang di antara kerumunan orang di pasar.
"Seingatku ini bukan jalan menuju ke pondokan kita?" tanya Pangeran Jayanagara heran.
"Kita memang tidak kembali ke pondokan, tapi sedang menuju ke sebuah sungai," kata Putu Risang sambil tersenyum.
Pangeran Jayanagara tidak bertanya lagi. Ia dapat menebak bahwa mereka akan melakukan latihan khusus di pinggir sungai yang sunyi. Ternyata benar, Putu Risang membawanya ke sebuah tepian sungai yang sepi di siang itu.
"Aku ingin kamu dapat semakin mengenal perkembangan kekuatanmu sendiri," kata Putu Risang.
Pangeran Jayanagara pun memulai latihannya dengan olah pernapasan. Setelah cukup, Putu Risang meminta Pangeran Jayanagara menguji kecepatan geraknya. Putu Risang sangat gembira melihat Pangeran Jayanagara dapat melesat ke sana kemari seperti bayangan yang berkelebat. Jayanagara juga telah mampu mengeluarkan hawa panas dan hawa dingin dari dalam tubuhnya sesuai keinginan. Dalam latihan terakhir, Jayanagara memperlihatkan kekuatan tenaga cadangannya dengan menghancurkan batu besar menggunakan pukulan jarak jauh.
Sementara itu, di sebuah hutan yang sunyi, terlihat seorang pemuda tengah berlatih. Anak muda itu adalah Gajahmada yang telah meminta izin kepada Prajoga untuk melihat-lihat keadaan hutan. Itulah cara Gajahmada berlatih di tengah kesehariannya sebagai seorang prajurit yang masih dalam masa pendadaran.
Sebagaimana Pangeran Jayanagara, Gajahmada juga memulai latihannya dengan olah pernapasan rahasia yang berbeda.
"Gerakanku sudah menjadi lebih cepat dari sebelumnya," batin Gajahmada dalam hati sambil berlari dan meloncat ke sana kemari. "Ternyata angin pukulanku dapat menebas apa pun dalam jarak jauh," katanya lagi sambil memainkan sebilah pedang, menguji jangkauan angin tebasannya.
Demikianlah Gajahmada mencoba mengenal kekuatannya sendiri dan mengendalikan tenaga cadangannya.
"Seekor kijang," gumam Gajahmada dalam hati. Ia segera melesat ke arah seekor kijang yang tengah berjalan. Naluri kijang dewasa itu sangat peka. Kijang itu terkejut melihat Gajahmada yang tiba-tiba sudah berdiri di depannya. Dengan gerakan lincah, kijang itu melompat ke samping untuk kabur. Namun, ternyata gerakan Gajahmada jauh lebih cepat daripada lari seekor kijang sekalipun.