Halo!

Kisah Dua Naga Di Pasundan - Chapter 23

Memuat...
Kisah Dua Naga Di Pasundan

Chapter 23

Seperti seorang pemburu, pedang di tangan Gajahmada telah mampu mendekati leher sang kijang. Nasib nahas untuk kijang itu yang langsung terkapar dengan leher setengah menganga, terkena angin sambaran pedang Gajahmada.

"Malam ini kita dapat ganjalan perut seekor kijang," kata seorang prajurit, menerima seekor kijang dari punggung Gajahmada yang telah kembali ke pasukannya.

Malam itu, para prajurit memang terlihat berpesta menikmati daging panggang hasil tangkapan Gajahmada.

"Daging panggang paling nikmat di dunia," kata Branjang sambil mengunyah daging kijang.

Malam itu, para prajurit Kawali pimpinan Ki Lurah Prajoga terlihat telah beristirahat. Seharian mereka tidak melakukan apa pun, hanya sekadar memperlambat waktu kepulangan mereka. Malam itu adalah malam ketiga, di mana besok pagi-pagi mereka akan melanjutkan kembali perjalanan mereka ke Kotaraja Kawali.

Demikianlah, ketika pagi tiba, pasukan itu memang telah bergerak menuju Kotaraja Kawali. Selama perjalanan mereka menuju Kotaraja Kawali, tidak ada kejadian apa pun yang menghalangi perjalanan mereka.

Akhirnya, ketika hari telah berada di ujung senja, terlihat mereka sudah memasuki gerbang Kotaraja.

"Beristirahatlah kalian malam ini. Besok kalian dibebastugaskan selama satu hari," kata Prajoga kepada prajuritnya ketika mereka sudah berada di barak prajurit di Kotaraja Kawali.

"Besok aku akan singgah ke rumah pamanku di Kotaraja ini," kata Galih kepada Gajahmada dan Branjang di barak mereka.

"Perlu sehari perjalanan untuk sampai ke rumah orang tuaku, jadi besok aku mungkin akan menemui kakakku yang tinggal tidak begitu jauh dari Kotaraja," kata Branjang merencanakan hari bebas tugas mereka selama satu hari itu.

"Aku mungkin hanya jalan-jalan ke pasar Kotaraja," kata Gajahmada sambil tersenyum.

"Aku tidak berkeberatan memperkenalkan dirimu dengan kakakku," kata Branjang menawarkan Gajahmada ikut bersamanya.

"Terima kasih, aku hanya ingin menikmati suasana di Kotaraja ini," kata Gajahmada menolak dengan halus tawaran Branjang itu.

Malam itu mereka bertiga masih bermalam di barak prajurit. Hingga ketika pagi telah tiba, terlihat Branjang dan Galih sudah bersiap diri untuk berangkat ke rumah saudaranya masing-masing.

"Nanti malam kalian sudah harus berada di barak ini. Ingat, kalian belum mendapat kekancingan sebagai seorang prajurit seutuhnya," kata Gajahmada mengingatkan kedua kawannya itu.

Terlihat mereka bertiga keluar bersama dari pintu regol barak prajurit. Namun, di sebuah persimpangan jalan mereka harus berpisah.

"Sampai bertemu kembali nanti malam," kata Gajahmada kepada Galih dan Branjang ketika mereka berjalan berpisah.

Terlihat Gajahmada telah sendiri berjalan ke arah barat menuju pasar Kotaraja Kawali.

Bukan main terkejutnya Gajahmada ketika melihat sebuah kereta kencana berhenti di dekatnya. Terlihat seorang gadis manis turun dari kereta kencana itu dan memerintahkan sang kusir untuk membawa kereta kencana itu kembali tanpa dirinya.

"Selamat datang di Kotaraja Kawali," kata gadis manis itu kepada Gajahmada.

"Ternyata kamu Tuan Putri," kata Gajahmada kepada gadis manis yang turun dari kereta kencana itu, yang tidak lain adalah Dyah Rara Wulan.

"Aku akan mengantarmu ke dua orang sahabatmu," kata Dyah Rara Wulan kepada Gajahmada, bercerita singkat bahwa Putu Risang dan Pangeran Jayanagara tengah menunggu kabar tentangnya.

"Biasanya menjelang siang ini, mereka berdua ada di kedai tengah pasar," kata Dyah Rara Wulan sambil mengajak Gajahmada ke pasar Kotaraja.

Benar apa yang dikatakan oleh Dyah Rara Wulan, mereka bertemu dengan Putu Risang dan Pangeran Jayanagara di kedai tengah pasar. Bukan main gembiranya Putu Risang dan Pangeran Jayanagara ketika bertemu dengan Gajahmada. Terlihat mereka berempat sudah langsung menikmati hidangan di kedai tengah pasar itu.

"Ternyata penilaian Prabu Guru Darmasiksa tentang suasana Istana Kawali tidak jauh meleset. Ada sebuah rencana jahat dari Patih Anggajaya," kata Gajahmada bercerita tentang kejadian yang menimpa Ki Lurah Prajoga di muka hutan Mayambong.

"Langkah kita harus cepat, jangan sampai rencana mereka terjadi," kata Putu Risang setelah mendengar cerita dari Gajahmada.

"Aku bersama Kakang Citraganda telah menemui Ki Lurah Pramuji agar segera menempatkan Mahesa Muksa bertugas sebagai prajurit pengawal Patih Anggajaya," kata Dyah Rara Wulan bercerita tentang usahanya menyusupkan Gajahmada di sekitar Patih Anggajaya.

Terlihat Pangeran Jayanagara memandang bergantian antara Dyah Rara Wulan dan Gajahmada.

"Mengapa kamu memandangku seperti itu?" kata Dyah Rara Wulan dengan gaya merajuk kepada sepupunya itu.

"Maaf, pikiranku tengah membayangkan bila saja Mahesa Muksa bertugas sebagai prajurit pengawal putri Istana Kawali," kata Pangeran Jayanagara dengan senyum dikulum.

Terlihat wajah Dyah Rara Wulan menjadi merah berseri dengan senyum menawan, tidak merasa malu atas godaan sepupunya itu.

"Aku harus segera kembali ke istana, tidak perlu ada yang mengantar," kata Dyah Rara Wulan sambil berdiri tersenyum.

Maka, tidak lama berselang, gadis manis itu tidak terlihat lagi, menghilang di antara orang-orang yang masih berlalu-lalang di pasar siang itu.

"Bukankah hari ini kamu bebas tugas?" kata Putu Risang kepada Gajahmada.

Terlihat Gajahmada membenarkan dengan sedikit menganggukkan kepalanya.

"Ada waktu untuk melihat perkembangan ilmumu," kata Putu Risang kepada Gajahmada sambil berdiri.

Seperti kemarin, Putu Risang telah mengajak kedua muridnya itu ke tepian sebuah sungai yang sepi.

"Aku ingin melihat sejauh mana perkembangan ilmumu," kata Putu Risang kepada Gajahmada.

Gajahmada tahu apa yang diinginkan oleh Putu Risang. Terlihat Gajahmada sudah langsung melangkah mencari tempat yang agak lapang. Gajahmada telah bergerak merangkaikan jurus-jurusnya. Namun, semakin lama terlihat semakin cepat bergerak hingga gerakan Gajahmada mirip sebuah bayangan yang berkelebat ke sana kemari. Setelah sekian lama menunjukkan kecepatannya bergerak, tiba-tiba saja Gajahmada diam berdiri di depan sebuah batu besar, sekitar tujuh langkah darinya.

Bukan main terkejutnya Pangeran Jayanagara melihat langsung dengan mata kepalanya sendiri bahwa batu sebesar tubuh seekor kerbau itu hancur berkeping-keping berhamburan oleh sebuah pukulan jarak jauh dari Gajahmada.

"Aku hanya dapat memecahkannya," kata Pangeran Jayanagara dalam hati, mengakui kekuatan tenaga sakti saudara seperguruannya itu.

Diam-diam, Putu Risang dapat menangkap apa yang ada dalam pikiran Pangeran Jayanagara.

"Kemarilah," kata Putu Risang memanggil Gajahmada untuk mendekat.

Maka, terlihat tiga orang telah mengambil tempat untuk duduk dengan saling menghadap.

"Sebagai seorang guru, tidak ada sedikit pun di dalam diriku ini untuk membeda-bedakan di antara kalian. Namun, sebelumnya aku mohon maaf bila telah memberikan sebuah warisan ilmu yang berbeda. Perlu kalian ketahui bahwa aku memiliki dua jalur ilmu yang berbeda. Satu jalur ilmu kudapat dari Senapati Mahesa Amping, dan satu lagi dari seorang pertapa dari Gunung Wilis. Kepada Pangeran Jayanagara, aku telah mewariskan sebuah olah laku yang berasal dari jalur Senapati Mahesa Amping, yang juga dimiliki oleh Ayahmu sendiri, Baginda Raja Sanggrama Wijaya. Sementara itu, kepada Gajahmada, aku telah mewariskan sebuah olah laku dari seorang pertapa Gunung Wilis," kata Putu Risang kepada kedua muridnya sambil memandang ke arah kedua muridnya itu.

Terlihat Putu Risang menarik napas panjang. Sudah lama sekali perkataan itu ingin disampaikan dan didengar langsung oleh kedua muridnya itu. Putu Risang, sebagai seorang guru, tidak ingin ada kecemburuan dan salah prasangka di antara keduanya.

"Ketika di Goa Kembar, tanpa sepengetahuanmu, ayahmu sendiri telah membantu memberikan tenaga saktinya kepadamu," kata Putu Risang kepada Gajahmada. "Itulah sebabnya kekuatanmu telah berlipat selayaknya orang yang berlatih puluhan tahun lamanya," kata Putu Risang kembali, mencoba menjelaskan apa yang ada di balik kekuatan Gajahmada agar Pangeran Jayanagara tidak salah sangka.

"Siapa ayahku?" kata Gajahmada, belum dapat mengerti mendengar Putu Risang menyebut ayahnya.

"Seorang pertapa sakti dari Gunung Wilis, itulah ayahmu," kata Putu Risang perlahan.

Terlihat wajah Gajahmada begitu berseri-seri. Bukan main gembiranya hati Gajahmada ketika mengetahui ayahnya telah datang menemuinya meski tanpa sepengetahuan dirinya. Sudah lama pertanyaan itu selalu tersimpan di hatinya. Pernah pada suatu hari Gajahmada bertanya langsung kepada ibunya tentang ayahnya, namun Nyi Nari Ratih diam seribu bahasa, bahkan terlihat air mata menetes di pipi ibunya itu.

Maka sejak saat itu, Gajahmada tidak pernah bertanya lagi kepada ibunya tentang ayahnya. Namun, hari ini ia mendengar berita tentang ayahnya dari gurunya sendiri, Putu Risang.

"Aku pernah bertanya tentang ayahku kepada ibuku, tetapi itu membuat ibuku bersedih dan tidak ada satu kata pun keluar dari ibuku," kata Gajahmada. "Apakah Kakang dapat mengetahui di mana aku dapat menemui ayahku itu?" tanya Gajahmada kepada Putu Risang.

"Pertapa dari Gunung Wilis itu adalah seorang pendeta bernama Darmayasa. Hanya itu yang kuketahui tentang dirinya. Terakhir aku menemuinya di Goa Kembar itu," kata Putu Risang menyampaikan sebatas yang diketahuinya tentang ayah kandung Gajahmada.

Terlihat Gajahmada tercenung diam, membayangkan seorang ayah kandung yang entah di mana, dan apakah dirinya suatu saat dapat bertemu.

Akhirnya, Putu Risang mencoba menggeser pembicaraan tentang kekuatan tenaga cadangan yang dapat diungkapkan lewat seluruh anggota pancaindra, juga dapat disalurkan lewat senjata masing-masing.

"Selama ada kesempatan, teruslah kalian berlatih agar mengenal sejati kekuatan sendiri."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment